Bagas datang dari Semarang setiap akhir pekan. Ia kuliah di salah satu universitas negeri di sana, mengambil jurusan Teknik Informatika tahun ketiga. Setiap Jumat sore ia tiba, dan setiap Minggu malam ia kembali. Rutinitasnya di rumah kami selalu sama: makan bersama, bermain dengan Naya dan Nisa, bercengkerama dengan Tiara, dan menghabiskan Sabtu pagi dengan joging di sekitar Prambanan.
Aku menyukainya. Bagas adalah anak yang dewasa untuk usianya — tenang, tidak banyak bicara, tapi punya kepekaan yang jarang kumiliki bahkan di usiaku sendiri.
Tiara berbeda. Ia ekspresif, mudah tertawa, tapi juga mudah tersinggung. Ia sekarang kelas sebelas SMA, dan pergolakan emosi remajanya membuatnya kadang bersikap hangat padaku, kadang dingin tanpa alasan yang jelas.
Hubunganku dengan keduanya baik-baik saja — tidak sempurna, tidak selalu mulus, tapi kami saling menghormati. Itu sudah lebih dari cukup bagiku.
Yang aku tidak tahu adalah seberapa dalam bayangan Siska masih hidup di benak mereka.
***
Sabtu sore, Bagas membantu Ardan memperbaiki teras belakang yang sebagian tiangnya mulai rapuh. Aku duduk di kursi tidak jauh dari mereka, menemani Naya yang sedang menggambar di atas kertas.
Di tengah pekerjaan itu, ponsel Ardan berdering.
Ia mengangkat, menjawab sebentar, lalu menutup telepon. Wajahnya berubah.
"Siapa, Yah?" tanya Bagas tanpa menoleh dari pekerjaan tangannya.
"Cinta," jawab Ardan. "Minta dijemput besok pagi."
"Oh."
Bagas tidak berkata lagi. Tapi aku melihat rahangnya mengeras sedikit — ekspresi yang biasanya muncul ketika seseorang mencoba menahan komentar yang tidak ingin diucapkan.
"Kamu oke, Bagas?" tanyaku pelan.
Ia menatapku sebentar, lalu kembali pada pekerjaannya. "Oke kok, Bu Ran."
Aku tidak mendesak. Tapi ada sesuatu yang ingin ia katakan — aku bisa merasakannya.
Malam itu, setelah Ardan dan Tiara masuk ke kamar masing-masing, Bagas masih duduk di ruang keluarga dengan laptop terbuka. Aku keluar dari dapur membawa segelas teh dan duduk di sofa sebelahnya.
"Mau?" aku menawari teh.
"Makasih, Bu."
Hening sebentar.
"Bas," aku memulai dengan hati-hati, "kalau ada yang ingin kamu bilang, kamu bisa bilang."
Bagas menutup laptop-nya. Menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca — antara ragu dan lega karena akhirnya ada yang membuka pintu.
"Bu Rania pernah ketemu langsung sama Tante Siska?" tanyanya.
"Beberapa kali."
"Gimana kesan Bu Rania?"
Aku memilih kata-kataku dengan hati-hati. "Dia perempuan yang... tidak mudah menerima bahwa sesuatu sudah berakhir."
Bagas mengangguk pelan. Lambat. Seperti orang yang baru mendapat konfirmasi atas sesuatu yang sudah lama ia duga.
"Waktu Ayah masih nikah sama dia," kata Bagas akhirnya, suaranya turun setengah nada, "rumah ini tidak pernah benar-benar tenang. Tiara sering nangis malam-malam. Aku sering pura-pura tidur padahal sebetulnya mendengar pertengkaran mereka dari balik dinding."
Aku mendengarkan tanpa menyela.
"Dia tidak suka sama kami," lanjut Bagas. "Aku dan Tiara. Bukan tidak suka dalam artian kasar atau jahat secara langsung. Tapi ada cara-cara kecil yang dia lakukan — mengabaikan kami waktu makan, tidak pernah mau antar kami ke sekolah, selalu mengeluh kalau Ayah lebih perhatian sama kami daripada sama dia." Ia berhenti sejenak. "Aku senang Ayah sekarang sama Bu Rania."
Dadaku terasa hangat.
"Makasih, Bas."
"Tapi aku khawatir," sambungnya. "Tante Siska... dia tidak akan berhenti begitu saja. Aku kenal dia. Dia tidak pernah menyerah kalau sudah mau sesuatu."
Aku menatap pemuda itu — anaknya Ardan, bukan darah dagingku, tapi entah mengapa terasa seperti bagian dari hidupku yang nyata.
"Aku tahu," kataku pelan.
"Dan Ayah..." Bagas menggantung kalimatnya.
"Ayahmu terlalu baik hatinya," aku melanjutkan untuknya. "Aku tahu itu juga."
Bagas mengangguk. Ada kelegaan kecil di wajahnya — kelegaan orang yang akhirnya merasa dimengerti.
"Bu Rania harus kuat," katanya akhirnya, dengan nada yang terdengar lebih tua dari usianya.
"Aku berusaha, Bas," jawabku dengan jujur. "Setiap hari."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar