Minggu ini Ardan pergi ke rumah Siska tiga kali.
Aku menghitungnya. Bukan karena aku perempuan yang posesif dan suka mengawasi gerak-gerik suami — tapi karena tiga kali dalam tujuh hari adalah frekuensi yang tidak bisa disebut wajar dengan alasan apapun.
Senin malam: Cinta katanya tidak mau makan dan hanya mau Ayahnya yang menemani makan malam.
Rabu sore: Ada surat dari sekolah Cinta yang perlu ditandatangani kedua orang tua.
Sabtu pagi: Siska bilang ada keran kamar mandi yang bocor dan tidak ada yang bisa memperbaiki.
Yang terakhir itu yang paling menguras kesabaranku.
"Mas, ada tukang servis. Ada tetangga. Ada adik ipar. Ada Google yang bisa mengajarkan cara memperbaiki keran bocor. Kenapa harus mantan suaminya yang dipanggil?"
"Ran, aku hanya membantu."
"Membantu mantan istri memperbaiki keran di hari Sabtu pagi, sementara istrimu yang sekarang minta bantuan Mas pasangin rak buku sejak dua minggu lalu dan belum juga dikerjakan."
Ardan terdiam.
Aku menarik napas. "Aku tidak marah, Mas. Aku hanya ingin Mas konsisten. Kalau Mas punya waktu dan tenaga untuk membantu Siska, semestinya Mas juga punya waktu dan tenaga untuk membantu aku."
***
Bu Wulan meneleponku Senin berikutnya.
Beliau memang lebih sering meneleponku daripada menelepon Ardan — mungkin karena merasa lebih mudah berbicara perempuan ke perempuan, atau mungkin karena beliau sudah lama mengenali kelemahan anaknya sendiri dan memilih jalur yang lebih langsung.
"Gimana kabarnya, Nduk?" sapanya dengan suara yang hangat seperti biasa.
"Baik, Bu. Alhamdulillah."
"Ardan gimana?"
"Baik juga, Bu."
Hening sebentar. Aku tahu Bu Wulan tidak hanya menelepon untuk basa-basi.
"Siska masih sering ganggu, Nduk?"
Kata 'ganggu' itu yang membuatku sedikit tergetar. Bu Wulan menyebutnya ganggu — bukan 'menghubungi', bukan 'berkabar', tapi ganggu. Artinya beliau sendiri sudah melihat apa yang sesungguhnya terjadi.
"Masih, Bu," jawabku jujur.
"Ardan?"
"Sulit menolak, Bu. Mas Ardan memang begitu orangnya."
Bu Wulan menghela napas panjang di ujung telepon. "Ibu tahu, Nduk. Itu kelemahan dia sejak dulu. Tidak bisa bilang tidak. Sama persis seperti almarhum bapaknya." Ada nada sayang sekaligus lelah dalam suaranya. "Ibu minta maaf ya, Nduk. Sudah repot."
"Tidak, Bu. Ini bukan salah Ibu."
"Salah siapa pun tidak penting, Nduk. Yang penting kamu kuat. Kamu tidak boleh menyerah. Ardan itu laki-laki yang baik — dia hanya butuh istri yang sabar dan cerdas untuk membantunya belajar berkata tidak."
Kata-kata itu terus kuingat sampai malam. Bukan karena ia menyelesaikan masalah — ia tidak menyelesaikan apa pun. Tapi karena dalam kalimat sederhana itu, aku merasa tidak sendirian.
***
Jumat malam, Ardan pulang membawa oleh-oleh dari kantor — sebungkus bakpia dan sebotol sirup yang tidak kami pesan.
"Dari klien," katanya sambil meletakkannya di meja.
Aku memeriksa bungkusnya. Di sudut kotak bakpia ada tulisan tangan kecil: *Untuk Mas Ardan sekeluarga. — S*
S.
Satu huruf yang sudah cukup untuk mengacaukan malamku.
"Ini dari Siska?" tanyaku, meskipun jawaban sudah ada di depan mataku.
Ardan menoleh. Sepertinya baru sadar bahwa ada tulisan tangan di sana. "Oh. Kayaknya iya. Tadi Cinta yang menitipkan ke kantor. Katanya mau berterima kasih karena kemarin aku bantu antar Cinta periksa gigi."
Aku mengangguk. Menaruh kotak bakpia kembali ke meja.
"Aku tidak mau makan oleh-oleh dari Siska, Mas," kataku dengan suara yang kujaga agar tidak bergetar. "Dan aku harap Mas mengerti alasannya tanpa harus aku jelaskan panjang lebar."
Ardan menatapku beberapa detik. Lalu mengangguk.
"Maaf," katanya pendek.
Satu kata yang tidak menyelesaikan apa pun, tapi setidaknya ia mengatakannya.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar