Orang-orang terdekatku sudah memperingatkanku.
Ibuku, dengan caranya yang halus tapi menusuk, bilang: "Ran, menikah dengan duda itu bukan sekadar menikah dengan seorang laki-laki. Kamu menikah dengan seluruh sejarahnya."
Tanteku lebih to the point: "Apa kamu tidak bisa cari yang belum pernah menikah? Umurmu masih dua puluh delapan, masih banyak pilihan."
Dan sahabatku Lia, yang biasanya paling kupercaya, justru hanya berkata: "Kalau kamu memang cinta, ya sudah. Tapi siapkan dirimu, Ran. Jalan ke depan tidak akan semulus yang kamu bayangkan."
Aku tetap menikah dengan Ardan.
Bukan karena tidak mendengar mereka. Tapi karena ada sesuatu dalam diri Ardan yang membuatku percaya ia adalah laki-laki yang layak diperjuangkan. Ia lembut tanpa menjadi lemah, ia bertanggung jawab tanpa harus pamer, dan di matanya aku melihat kesungguhan yang jarang kutemui pada laki-laki lain.
Aku juga punya bekalku sendiri. Dafa, anakku dari pernikahan pertama yang kandas ketika ia baru berumur dua tahun. Mantan suamiku, Rizwan, pergi bukan karena ada orang ketiga — ia pergi karena ternyata kami memang tidak pernah benar-benar saling mengenal sebelum menikah. Pernikahan kilat yang berakhir dengan cerai yang bahkan lebih kilat.
Jadi aku tahu rasanya membawa anak ke dalam pernikahan baru. Aku tahu betapa rumitnya membangun rasa percaya, membangun rutinitas baru, dan membangun rumah dari serpihan-serpihan yang ditinggalkan oleh hubungan sebelumnya.
Yang tidak kuperhitungkan adalah Siska.
***
Ardan menikahi Siska hampir setahun setelah Salma meninggal. Aku tidak pernah bertanya terlalu dalam soal alasannya — karena bagaimana pun, itu adalah babab hidupnya yang sudah berlalu. Yang aku tahu adalah pernikahan mereka hanya bertahan dua tahun, dan perceraian itu meninggalkan Cinta di tangan Siska.
Bu Wulan, ibu mertua yang kukenal sebagai perempuan bijak dan tidak banyak bicara, pernah menyinggung soal ini dengan cara yang tidak langsung.
"Siska itu... orangnya susah, Nduk," kata Bu Wulan suatu sore saat kami duduk di teras belakang rumahnya di Sleman. "Bukan susah dalam arti jahat. Tapi susah menerima kenyataan bahwa sesuatu sudah berakhir."
Aku hanya mengangguk waktu itu. Belum benar-benar memahami maksudnya.
Sekarang aku mengerti.
***
Siska Paramita adalah perempuan yang cantik. Aku harus jujur soal itu. Kulitnya kuning langsat, rambutnya hitam panjang, dan caranya berpakaian selalu rapi seperti orang yang tidak pernah terburu-buru. Ia berasal dari keluarga yang dulunya cukup berada — ayahnya pernah punya usaha peternakan yang lumayan besar di daerah Magelang, meski sekarang semuanya sudah bangkrut.
Cinta, anaknya yang berumur sembilan tahun itu, mewarisi kecantikan ibunya. Matanya besar, senyumnya manis, dan setiap kali ia datang ke rumah kami untuk bertemu Ardan, aku selalu merasa luluh. Anak itu tidak bersalah. Ia hanya ingin bertemu ayahnya, dan itu adalah haknya yang paling hakiki.
Yang menjadi masalah adalah ibunya yang selalu ikut nimbrung di setiap pertemuan itu.
Jika Cinta yang telepon Ardan, pesan berikutnya selalu dari Siska. Jika Cinta yang datang, Siska selalu mengantar dan tidak pernah langsung pulang. Dan jika Ardan yang menjemput Cinta, Siska selalu punya alasan untuk mengajaknya masuk, duduk sebentar, minum teh, dan membicarakan ini-itu yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Cinta sama sekali.
***
Malam ini, setelah Ardan tertidur, aku berbaring di sebelahnya dengan mata yang tidak mau terpejam.
Kuingat pesan yang tadi kubaca di ponsel Ardan — tidak sengaja, ia menaruhnya di meja makan dan layarnya menyala ketika notifikasi masuk.
Pesannya dari nomor yang sudah kusimpan dalam ingatanku meski belum pernah kusimpan di kontakku:
"Mas Ardan, besok bisa tidak antar Cinta ke dokter? Aku ada urusan mendadak dan tidak ada yang bisa menemaninya. Sendirian saja tidak perlu ngajak siapa-siapa, supaya Cinta tidak malu."
Tidak perlu ngajak siapa-siapa.
Tidak perlu ngajak istri barumu.
Aku menghela napas panjang dalam gelap. Di luar, hujan rintik-rintik mulai turun membasahi halaman. Suara tetesannya yang teratur di atap terasa seperti irama yang menenangkan, padahal hatiku sedang tidak tenang sama sekali.
"Ardan," bisikku pada sosok yang tidur di sebelahku.
Ia tidak mendengar. Napasnya teratur — napas orang yang tidur nyenyak, tanpa beban, tanpa curiga bahwa perempuan di sebelahnya sedang berjuang keras untuk tidak merasa kalah.
Aku memejamkan mata.
Besok. Aku akan bicara besok.
Tapi aku sudah terlalu sering berkata begitu.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar