Sinar matahari pagi baru saja menyembul dari ufuk timur, memancarkan kehangatan yang seharusnya membawa kedamaian dan semangat baru untuk memulai hari. Namun, suasana di pelataran kediaman megah nan mewah milik keluarga konglomerat Dewantara justru dipenuhi dengan ketegangan yang sangat nyata. Kediaman yang lebih pantas disebut sebagai sebuah istana ini berdiri angkuh dengan pilar-pilar marmer raksasa bergaya Eropa klasik. Di halaman depan yang luasnya bisa digunakan untuk memarkir belasan mobil mewah sekaligus, para pekerja telah berbaris sangat rapi. Mulai dari tukang kebun, petugas keamanan, hingga jajaran pelayan wanita berseragam hitam putih, semuanya berdiri tegak bak prajurit yang bersiap menyambut kedatangan jenderal besar mereka.
Mereka diinstruksikan untuk menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan yang sangat dijunjung tinggi di keluarga aristokrat ini. Masalahnya, sosok pangeran mahkota yang ditunggu-tunggu kedatangannya dari luar negeri itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Sudah hampir setengah jam mereka berdiri mematung di sana, melawan rasa pegal yang mulai menjalar di area betis dan tumit.
"Duh, ngapain sih kita udah nunduk-nunduk begini dari tadi? Kan orangnya belum nongol juga," sungut Larasati—atau yang akrab dipanggil Laras—sambil menyikut pelan lengan rekan kerja yang berdiri mematung di sebelah kanannya.
Gadis berusia dua puluh dua tahun itu mendesah pelan, raut wajah cantiknya yang polos namun keras kepala itu tampak ditekuk kesal. Laras menggaruk-garuk betisnya dengan ujung sepatu pantofel hitam yang baru saja ia semir semalam. Sepatu jatah seragam itu terasa kaku dan mulai menyiksa tumitnya. Dalam hati, ia terus menggerutu merutuki situasi konyol yang sedang dihadapinya saat ini. Menurut Laras, apa yang dilakukan semua orang di teras ini—termasuk dirinya sendiri—adalah sebuah perbuatan yang sangat bodoh dan membuang-buang waktu. Buat apa menunduk memberikan penghormatan pada angin kosong?
"Ssstt, udah kamu ikutin aja, Laras! Kamu itu pelayan baru di sini, jangan pernah berani membantah apa yang sudah menjadi tradisi turun-temurun keluarga Dewantara," bisik rekannya dengan suara sepelan mungkin, matanya melirik awas ke arah depan, memperingatkan agar gadis itu tidak mencari masalah di hari-hari pertamanya bekerja.
Larasati menghela napas pasrah. Ia tidak punya pilihan lain selain menuruti aturan main di rumah ini. Pekerjaan ini adalah tali penyelamat hidupnya. Mengingat kembali alasan mengapa ia bisa berakhir menjadi seorang jongos dengan seragam hitam putih ini selalu sukses membuat dadanya terasa sesak. Ayahnya meninggal dunia bukan dengan meninggalkan harta warisan, tanah, atau kenangan indah, melainkan tumpukan hutang akibat kebiasaan buruknya berjudi semasa hidup. Beban finansial yang teramat berat itu jatuh ke pundak Laras yang hidup sebatang kara. Rentenir terus mengejarnya, dan gaji dari pekerjaannya yang lama sebagai pelayan di sebuah kafe pinggiran tidak akan pernah cukup untuk menutupi bunga hutang yang terus membengkak setiap bulannya.
Di tengah keputusasaan itu, Bu Inggit—kepala pelayan keluarga Dewantara sekaligus sahabat baik mendiang ibunya—datang menawarkan bantuan. Bu Inggit merekomendasikan Laras untuk bekerja di kediaman Dewantara, di mana gajinya jauh lebih besar dan ia bisa tinggal di asrama pegawai, sehingga bisa menghemat biaya kos dan makan. Meski awalnya sempat sangat ragu dan berniat menolak karena takut mendapat majikan yang tiran, galak, dan kejam seperti di sinetron, Laras akhirnya menerima. Sejauh ini, Bapak Surya Dewantara dan nyonya besar adalah orang yang cukup baik. Namun hari ini, putra tunggal keluarga itu, sang pewaris tahta perusahaan, pulang ke Tanah Air.
Setelah lebih dari sepuluh menit kembali berlalu dalam keheningan yang menyiksa, akhirnya deru mesin mobil terdengar memecah keheningan dari arah gerbang utama. Suara mesin yang halus namun bertenaga itu menandakan bahwa kendaraan yang datang bukanlah mobil sembarangan. Laras masih mempertahankan posisi menunduknya, namun matanya melirik dari balik poni rambutnya yang sedikit berantakan. Sebuah mobil sport mewah berwarna gelap berhenti mulus tepat di depan teras utama tempat penyambutan.
Suara pintu mobil ditutup terdengar mantap. Disusul oleh derap langkah sepatu kulit yang tegap dan berwibawa menapaki lantai marmer pelataran. Suasana tiba-tiba menjadi riuh rendah dengan paduan suara "Selamat datang, Tuan Muda" dari para pekerja pria yang berdiri di barisan depan.
Lelaki itu muncul dengan aura dominan yang langsung menyedot seluruh perhatian. Ia mengenakan kemeja berlengan panjang berwarna abu-abu gelap. Alih-alih tampil kaku dan formal, lengan kemejanya digulung rapi hingga sebatas siku, memperlihatkan lengannya yang kokoh. Tubuhnya jangkung, tegap, dengan postur tubuh yang sangat atletis. Ia menebarkan senyuman maskulin dan menyapa ramah para tukang kebun serta petugas keamanan. Tidak ada kesan sombong dari gesturnya, malah terkesan sangat bersahabat.
Langkah tegapnya kemudian berhenti di depan barisan para pelayan wanita. Di sana, Bu Inggit—perempuan paruh baya dengan rambut yang selalu dicepol rapi tanpa cela—sudah berdiri menyambutnya. Tanpa diduga oleh Laras yang masih asyik mengintip dari bawah, sang tuan muda itu merentangkan tangannya dan memeluk Bu Inggit dengan pelukan yang sangat hangat, layaknya seorang anak yang sudah lama tak berjumpa dengan ibunya.
"Ibu Inggit, apa kabar?" sapa si tuan muda pada kepala pelayan yang telah mengasuhnya sejak kecil itu.
Suara baritonnya berat, dalam, dan mencerminkan wibawa seorang pemimpin sejati. Suara itu terdengar begitu indah dan mengalun merdu, menelusup ke telinga para pelayan wanita yang sedari tadi menantikan kehadirannya dengan jantung berdebar. Termasuk Larasati. Meskipun ia belum berani mendongak sepenuhnya untuk melihat secara langsung bagaimana rupa sang tuan muda, namun dari apa yang baru saja ditangkap oleh indera pendengarannya, Laras merasa sangat yakin. Lelaki tersebut pastilah sosok pria yang sangat menyenangkan, bijaksana, lembut, juga sopan.
"Kabar baik, Den Arjuna," jawab Bu Inggit dengan suara bergetar menahan haru. Wanita paruh baya itu membalas pelukan anak asuhnya sejenak sebelum melepaskannya perlahan. Ia kemudian memberikan usapan lembut yang penuh kasih sayang pada bahu lebar pria itu.
Berpaling dari pimpinan pelayan, tuan muda Arjuna kemudian melanjutkan langkahnya. Ia berjalan menyusuri barisan, menyapa satu per satu pekerja lainnya dengan anggukan atau sapaan singkat. Langkahnya perlahan menyusuri barisan hingga akhirnya sampai dan berhenti tepat di hadapan Larasati.
"Aku sepertinya baru melihatmu. Kamu pelayan baru, ya?"
Suara bariton itu terdengar sangat dekat, seolah diucapkan tepat di atas kepala Larasati. Namun, Laras bergeming. Gadis itu sedang sibuk berkelana di alam khayalnya sendiri. Ia asyik melamunkan sosok tuan muda Arjuna yang dalam imajinasi liarnya pasti setampan pangeran, segagah namanya, berbudi luhur, dan sangat dermawan. Membayangkan betapa baiknya pria itu menyapa para pekerja kecil membuat bibir Laras melengkung ke atas. Dengan wajah yang masih tertunduk menatap ujung sepatu pantofelnya, wanita muda itu senyum-senyum sendiri seperti orang yang sedang kasmaran. Pujiannya akan suara bijaksana dari sang tuan muda terus bertambah di dalam otaknya karena keramahan pria itu.
Sungguh, Laras tak menyangka jika tuan muda keluarga kaya raya ini ternyata orang yang begitu baik. Terdengar jelas dari nada bicaranya yang sopan dan tidak merendahkan. Keraguannya selama ini ternyata tidak terbukti.
"Hei, Nona! Aku sedang bicara sama kamu. Kenapa kamu diam terus dan senyum-senyum begitu?" tegur Arjuna lagi. Kali ini, pria itu memajukan wajahnya sedikit dan menjentikkan dua jarinya, memunculkan bunyi petikan yang cukup keras tepat di depan wajah Larasati yang masih setia menunduk.
Melihat kelancangan anak asuh barunya yang berani mengabaikan sang tuan muda, Bu Inggit seketika dihinggapi perasaan tidak enak. Dengan langkah tergesa, kepala pelayan itu segera menghampiri Laras dan menepuk pundak wanita itu agak keras, mencoba mengembalikannya ke dunia nyata.
"Larasati! Tuan muda sedang bicara sama kamu!" kata Bu Inggit dengan suara ketus yang ditekan, mencoba menyelamatkan situasi sebelum sang tuan muda tersinggung oleh sikap pelayannya.
Larasati yang sedang asyik melamun sontak terkejut luar biasa. Tepukan keras di pundaknya dan suara teguran Bu Inggit menghempaskannya kembali ke bumi. Dengan gelagapan, napas tertahan, dan mata membulat panik, gadis itu mendongakkan kepalanya dengan cepat. "Eh, i-iya, Tuan! Maaf—"
Ucapan Larasati terhenti di udara, tersangkut di tenggorokannya yang tiba-tiba terasa sekering gurun pasir.
Dua pasang mata itu bersirobok. Tatapan mereka terkunci satu sama lain.
Larasati merasa jantungnya baru saja berhenti berdetak selama beberapa detik, lalu kemudian dipompa dengan kecepatan gila-gilaan. Matanya terbelalak teramat sangat lebar menatap wajah tampan dengan rahang tegas di hadapannya. Manik mata cokelat pekat yang dihiasi bulu mata lentik itu... Laras sangat mengenalinya!
Laras seketika menjadi kalap. Darahnya berdesir hebat, dan suhu tubuhnya seakan turun drastis meninggalkan rasa dingin yang membekukan persendiannya. Pemilik mata cokelat dan wajah tampan yang kini berdiri tegak sebagai majikannya itu, tidak lain dan tidak bukan adalah seseorang yang pernah ia pukuli habis-habisan menggunakan gayung!
Ingatan Larasati bagai kaset rusak yang diputar paksa ke kejadian sebulan yang lalu. Hari itu adalah hari yang sangat sibuk di kafe tempatnya bekerja. Insiden mengerikan itu terjadi gara-gara keteledoran pria di hadapannya ini. Saat itu, Laras yang kelelahan berlari tergesa-gesa menuju toilet. Ia masuk ke salah satu bilik toilet wanita.
Laras baru saja menyelesaikan buang hajat dan sedang berdiri, tangannya bersiap untuk menurunkan kembali rok mini seragam kerja kafenya yang tadinya ia singkap ke atas. Tiba-tiba, tanpa aba-aba, pria ini menerobos masuk ke dalam toilet wanita, dan parahnya lagi, mendobrak masuk tepat ke bilik di mana Larasati berada!
Larasati yang berada dalam posisi canggung dan memalukan itu dibuat terkejut setengah mati. Insting pertahanan dirinya langsung mengambil alih. Dengan refleks yang mengalahkan kecepatan cahaya, tangan Laras menyambar sebuah gayung plastik yang tergeletak di tepian bak mandi kecil di sudut bilik.
Tanpa banyak bertanya dan tanpa ragu sedikit pun, Laras mengayunkan gayung itu dan memukuli kepala pria itu tanpa ampun.
"Kurang ajar kamu, ya! Dasar cowok mesum! Ngapain kamu nerobos masuk, hah?!" teriak Larasati kalap sambil terus menghujani pria itu dengan pukulan bertubi-tubi.
"Aduh! Cewek gila! Aw... aw... sakit tahu! Kesambet setan kali ya ni cewek, gak ada angin gak ada ujan mukulin orang gak jelas!" pria itu berteriak kesakitan sambil berusaha menangkis pukulan Laras dengan kedua lengannya.
"Ini toilet cewek, bego! Emang lu kagak lihat papan keterangannya di depan, hah?!" omel Larasati yang urat lehernya sudah menonjol karena emosi memuncak, tak peduli betapa tampannya pria di hadapannya.
"Kamu cek sana ke toilet cowok, rusak! Airnya mati!" pria itu—yang kini ia ketahui bernama Arjuna—mencoba membela diri sambil terus mundur terdesak oleh serangan brutal gayung tersebut.
"Ah, alasan!" Larasati tidak mau mendengar dalih apa pun. Ia kembali mengayunkan gayungnya dengan sisa tenaga yang ia miliki, memukul mundur Arjuna hingga pemuda malang itu terpaksa mundur dan berhasil keluar dari bilik toilet.
"Awas lu kalau berani-berani lagi nerobos masuk toilet cewek, gue lapor satpam nanti biar diseret ke polisi! Dasar cowok mesum!" teriak Laras menggelegar, memaki Arjuna yang akhirnya melarikan diri dengan memegangi kepalanya.
Memori itu berhenti berputar. Kembali ke masa sekarang, di halaman marmer kediaman Dewantara, Larasati merasa pasokan oksigen di sekitarnya menipis. Wajahnya memucat pasi.
Melihat Larasati yang kini berdiri mematung dengan wajah syok, mata terbelalak ketakutan, dan salah tingkah yang tak bisa disembunyikan, Arjuna perlahan menyunggingkan sebuah senyuman. Namun, itu bukan senyum hangat. Itu adalah senyum aneh yang memancarkan kilat kepuasan dan rencana balas dendam.
Lelaki bertubuh jangkung itu kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Larasati. Dengan suara baritonnya yang sengaja direndahkan hingga menjadi gumaman pelan yang hanya bisa didengar oleh telinga Laras, Arjuna berbisik, "Kebetulan yang sangat menyenangkan... akhirnya kita bisa ketemu lagi. Urusan kita belum selesai, Nona gayung."
Mendengar bisikan mematikan itu, Larasati buru-buru menundukkan wajahnya lagi. Ia meraup wajahnya dengan kasar menggunakan sebelah tangan. Batinnya menjerit merana, memohon dan berdoa kepada Tuhan agar dirinya dibuat pingsan saja saat ini juga, supaya ia bisa menghindari cecaran dan tatapan intimidasi dari si tuan muda mesum ini, meski hanya untuk sesaat. Namun kesadarannya tetap penuh, mengharuskannya menelan pil pahit kenyataan.
Arjuna menarik tubuhnya kembali tegak. Ia mengalihkan pandangannya dari Larasati yang sedang dilanda serangan panik internal, lalu menoleh ke arah Bu Inggit.
"Siapa yang merekrutnya, Bu?" tanya Arjuna dengan nada suara yang kembali berwibawa namun terdengar dingin. "Emm, siapa namanya pelayan baru ini?"
Bu Inggit, yang sudah sangat berpengalaman, dengan cepat bisa menangkap gelagat tidak baik dan atmosfer permusuhan di antara Larasati dan sang tuan muda. Ia menjawab pertanyaan Arjuna dengan suara yang sedikit berat karena merasa cemas. "Saya yang merekrutnya langsung, Mas. Namanya Larasati."
"Sebagai apa dia dipekerjakan di sini?" selidik Arjuna, matanya kembali melirik tajam ke arah gadis di hadapannya.
"Masih training, Mas. Rencananya akan ditugaskan khusus untuk bagian laundry dan pakaian," jawab Bu Inggit.
Mendengar hal itu, Arjuna menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Matanya memicing tajam, menatap lurus pada sosok Larasati yang kini sudah benar-benar mati kutu dengan wajah sepucat mayat.
"Gak cocok dia ditempatkan di laundry," ucap Arjuna seenaknya, mematahkan rencana Bu Inggit.
Bu Inggit tampak terkejut namun tetap bersikap profesional. "Kalau begitu, baiknya Laras ditempatkan di mana, Mas? Biar saya nanti atur ulang jadwalnya sesuai dengan perintah Mas Juna."
Arjuna kembali menyeringai, membayangkan sebuah skenario hukuman yang sangat menghibur di kepalanya. "Dia itu bagusnya dijadikan bodyguard atau security saja, Bu. Tapi ingat, dengan senjata bukan pentungan besi, tapi... gayung."
Usai melontarkan kalimat bernada ejekan telak itu, Arjuna berbalik badan. Dengan langkah santai ia berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Bu Inggit dan barisan pelayan lainnya yang hanya bisa melongo kebingungan. Mereka menatap silih berganti ke arah punggung sang tuan muda yang menghilang di balik pintu, lalu beralih menatap Larasati yang kini berdiri mematung dengan wajah cemberut menahan amarah, rasa malu, dan teror ketakutan yang bercampur aduk menjadi satu.
Tamatlah sudah riwayat Larasati di rumah ini!
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar