Napas Larasati masih memburu, naik turun dengan ritme yang tidak beraturan meski ia sudah berlari secepat kilat meninggalkan pelataran depan rumah utama keluarga Dewantara menuju area belakang, tempat para pelayan biasanya berkumpul dan beristirahat. Jantungnya berdebar sangat kencang, seolah-olah ada ribuan genderang perang yang sedang ditabuh serentak di dalam rongga dadanya. Wajahnya yang semula bersemu merah karena sengatan matahari pagi, kini berubah pucat pasi, nyaris tanpa darah.
Di sudut dapur bersih yang dipenuhi dengan perabotan baja tahan karat berkilauan, Larasati menyandarkan tubuhnya yang mendadak lemas pada tepi meja pantri. Tangannya yang gemetar mencengkeram erat ujung celemek putih yang membalut seragam hitamnya. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, merutuki nasib sial yang sepertinya tidak pernah lelah membuntutinya ke mana pun ia pergi.
"Ras? Larasati? Kamu kenapa, heh? Kok mukanya pucat kayak habis lihat setan begitu?"
Sebuah suara lembut namun penuh keheranan memecah lamunan Larasati yang kalut. Itu adalah Maya, sesama pelayan muda yang baru beberapa minggu bekerja di kediaman ini. Maya sedang membawa nampan berisi gelas-gelas kristal yang baru saja selesai dipolesnya. Ia meletakkan nampan itu dengan hati-hati ke atas meja sebelum menghampiri Larasati dengan raut wajah cemas.
Larasati menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. "May... aku... aku kayaknya bakal dipecat hari ini juga," bisik Larasati dengan suara bergetar, nyaris seperti isakan tertahan. Matanya mulai berkaca-kaca membayangkan hutang mendiang ayahnya yang menumpuk di rumah, dan kini ia terancam kehilangan pekerjaan bergaji tinggi yang baru saja dipegangnya selama beberapa hari.
Maya mengerutkan keningnya, tidak mengerti. "Dipecat? Bicara apa sih kamu ini? Kita kan baru saja selesai acara penyambutan Tuan Muda Arjuna di depan. Kamu belum melakukan kesalahan apa-apa, kan? Lagipula, Tuan Muda kelihatan ramah banget kok tadi. Kok kamu bisa mikir aneh-aneh sampai bilang mau dipecat segala?"
Larasati memejamkan matanya erat-erat. Ramah? Ya, pria itu memang terlihat seperti malaikat penyayang di mata semua orang. Tapi di mata Larasati, Arjuna Dewantara saat ini tak ubahnya seperti iblis berwajah malaikat yang siap mencabut nyawanya kapan saja. Bagaimana mungkin ia bisa menceritakan kepada Maya bahwa pangeran idaman semua pelayan di rumah ini adalah pria berengsek yang pernah ia pukuli habis-habisan menggunakan gayung plastik berwarna merah muda di toilet umum sebuah kafe? Membayangkan kejadian itu saja sudah membuat Larasati ingin menenggelamkan dirinya ke dasar Samudra Hindia.
"Ceritanya panjang, May. Sangat amat panjang dan... memalukan. Intinya, aku punya sejarah buruk dengan Tuan Muda sebelum aku bekerja di sini. Dan buruknya lagi, dia ingat siapa aku," Larasati mengerang frustrasi, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya.
Belum sempat Maya menanyakan detail lebih lanjut dari pengakuan mengejutkan sahabat barunya itu, suara ketukan keras dari arah pintu dapur menghentikan percakapan mereka. Keduanya menoleh serentak dan mendapati sosok Bu Inggit berdiri di ambang pintu dengan postur tubuhnya yang selalu tegap dan berwibawa. Raut wajah wanita paruh baya itu tampak lebih kaku dari biasanya, memancarkan aura ketegasan yang membuat nyali siapa saja menciut.
"Larasati," panggil Bu Inggit dengan nada suaranya yang datar namun menggelegar di ruangan berkeramik putih tersebut.
Larasati tersentak, refleks berdiri tegak dengan sikap sempurna. "I-iya, Bu Inggit?" sahutnya terbata-bata.
"Tinggalkan apa pun yang sedang kamu kerjakan sekarang. Tuan Muda Arjuna memintamu untuk segera menghadapnya secara pribadi di ruang kerja lantai dua," perintah Bu Inggit tanpa basa-basi. Mata tajam wanita itu menatap Larasati dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah mencari tahu kesalahan apa yang telah diperbuat oleh pelayan baru rekrutannya ini hingga mendapat panggilan khusus dari sang tuan muda di hari pertama kedatangannya. "Jangan membuat beliau menunggu. Cepat ke sana, dan pastikan kamu bersikap sangat sopan. Ingat tata krama yang sudah saya ajarkan!"
Larasati merasa bumi tempatnya berpijak tiba-tiba bergoyang. Ruang kerja lantai dua. Secara pribadi. Kalimat itu terdengar seperti vonis hukuman mati yang baru saja dibacakan oleh seorang hakim agung. Larasati menoleh sejenak ke arah Maya yang hanya bisa memberikan tatapan iba campur bingung, sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya dengan pasrah ke arah Bu Inggit.
"Baik, Bu. Saya akan segera ke sana," jawab Larasati dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Langkah kaki Larasati terasa sangat berat saat ia menyusuri lorong-lorong megah kediaman Dewantara. Rumah ini terlampau besar, dengan lantai marmer Italia yang memantulkan bayangan dirinya, serta lampu kristal gantung raksasa yang menerangi setiap sudut ruangan. Dinding-dindingnya dihiasi oleh lukisan-lukisan klasik bernilai ratusan juta rupiah, dan berbagai ornamen antik peninggalan leluhur keluarga. Namun, segala kemewahan dan keindahan arsitektur itu sama sekali tidak mampu menenangkan hati Larasati yang sedang dilanda badai ketakutan.
Setibanya di lantai dua, Larasati berhenti di depan sebuah pintu kayu jati ganda yang diukir dengan sangat indah. Jantungnya kembali berontak, memukul-mukul tulang rusuknya dengan brutal. Ia menarik napas dalam-dalam, menahannya selama beberapa detik, lalu menghembuskannya perlahan untuk menstabilkan detak jantungnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Larasati mengangkat tangannya dan mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali dengan ketukan yang cukup pelan.
Tok... tok... tok...
Keheningan melingkupi lorong itu selama beberapa detik, sebelum sebuah suara bariton yang berat, dalam, dan mengintimidasi terdengar dari balik pintu. "Masuk."
Larasati memutar kenop pintu perlahan dan mendorongnya masuk. Ruang kerja itu sangat luas, didominasi oleh perabotan kayu berwarna gelap dan rak-rak buku yang menjulang tinggi hingga menyentuh langit-langit. Aroma peppermint yang segar bercampur dengan wangi maskulin khas parfum mahal langsung menyapa indera penciumannya. Di ujung ruangan, di balik sebuah meja kerja kayu ek berukuran raksasa, duduklah Arjuna Dewantara. Pria itu menyandarkan punggung tegapnya pada kursi kulit kebesarannya, dengan satu kaki disilangkan di atas lutut kakinya yang lain. Jari-jarinya yang panjang dan kokoh saling bertaut di atas perutnya.
Mata cokelat tajam milik Arjuna langsung mengunci pergerakan Larasati sejak gadis itu melangkah masuk. Ada sebuah seringai tipis, sangat tipis, yang tersungging di sudut bibirnyaβseringai yang membuat bulu kuduk Larasati meremang seketika. Pria itu sengaja tidak berbicara, membiarkan keheningan yang mencekam itu menyiksa batin sang pelayan.
Larasati berjalan mendekat dengan kepala tertunduk, lalu berhenti sekitar dua meter di depan meja kerja Arjuna. Ia tidak berani menatap mata pria itu secara langsung, memilih untuk menatap ujung sepatu pantofel hitamnya sendiri seolah benda itu adalah hal paling menarik di dunia.
"S-saya menghadap, Tuan Muda," ucap Larasati, berusaha keras agar suaranya tidak terdengar bergetar meski usahanya sia-sia.
Arjuna mengubah posisi duduknya, mencondongkan tubuhnya ke depan, dan menumpukan kedua sikunya di atas meja kayu. Ia menatap lekat-lekat gadis di hadapannya itu, memperhatikan setiap detail wajah Larasati yang ketakutan.
"Jadi...," Arjuna memulai dengan nada bicara yang sengaja dipelankan, penuh penekanan pada setiap suku kata. "Gadis bar-bar yang berani-beraninya memukuli kepalaku secara brutal pakai gayung murahan, kini berdiri di ruanganku dengan seragam pelayan keluargaku. Betapa kecilnya dunia ini, Nona... siapa namamu tadi? Ah, iya. Larasati."
Mendengar sindiran tajam itu, Larasati tidak tahan lagi untuk tidak membela diri. Ia memberanikan diri mendongakkan kepalanya sedikit, meski matanya masih berkaca-kaca. "T-tuan, mengenai kejadian hari itu, saya sungguh-sungguh meminta maaf yang sebesar-besarnya. Saya benar-benar tidak tahu kalau Anda adalah... Anda. Lagipula, saat itu Tuan secara tiba-tiba mendobrak bilik toilet wanita tempat saya berada. S-siapa pun perempuan normal di posisi saya pasti akan panik dan refleks melindungi diri."
Mata Arjuna memicing tajam. "Oh? Jadi menurutmu, akulah yang sepenuhnya bersalah dalam insiden memalukan itu? Kamu menyalahkan aku karena toilet pria saat itu rusak dan aku sedang dalam keadaan mendesak hingga salah masuk ke bilikmu?" Suara Arjuna meninggi satu oktaf, menunjukkan ketidaksukaannya yang nyata.
"B-bukan begitu maksud saya, Tuan. Saya hanya... saya panik. Tolong maafkan kelancangan dan kebodohan saya, Tuan Muda. Saya berjanji akan bekerja dengan sangat baik di sini untuk menebus kesalahan saya. Mohon jangan pecat saya. Saya benar-benar sangat membutuhkan pekerjaan ini," Larasati memohon dengan tulus, kedua tangannya bertaut di depan perutnya, nyaris meremas jari-jarinya sendiri karena kalut.
Arjuna terdiam. Matanya meneliti wajah Larasati yang memelas. Di dalam hati terdalamnya, ia tahu gadis itu tidak sepenuhnya bersalah. Namun, harga diri dan ego maskulinnya sebagai putra mahkota keluarga Dewantara yang sangat dihormati telah terluka parah. Tidak pernah ada seorang pun sepanjang hidupnya yang berani memperlakukannya dengan begitu kasar dan tidak hormat, apalagi dipukuli menggunakan benda sehina gayung plastik berwarna merah muda di fasilitas umum. Pukulan fisik itu mungkin hanya meninggalkan benjol kecil yang sudah hilang dalam dua hari, tetapi pukulan terhadap harga dirinya masih membekas hingga detik ini.
Seringai licik kembali menghiasi wajah tampan Arjuna. Ia tidak akan melepaskan mangsanya semudah itu. Dipecat? Itu terlalu cepat dan membosankan. Memecat gadis ini tidak akan memberikan kepuasan apa pun baginya. Ia ingin bermain-main sebentar, memberikan pelajaran berharga pada Larasati tentang siapa bos sesungguhnya di sini.
"Minta maaf saja tidak akan cukup untuk menebus rasa sakit dan rasa maluku hari itu, Larasati," ucap Arjuna dingin, suaranya sedingin es di kutub utara. "Tapi, karena kamu bilang kamu sangat membutuhkan pekerjaan ini, aku akan memberikanmu satu kesempatan kecil. Satu tes, untuk melihat apakah kamu benar-benar layak dipertahankan di rumah ini atau tidak."
Mata Larasati sedikit berbinar mendengar kata 'kesempatan'. Harapan kecil mulai tumbuh di dalam hatinya. "Apa pun itu, Tuan! Saya akan melakukan apa pun tugas yang Tuan berikan. Saya berjanji tidak akan mengecewakan Tuan."
"Bagus," Arjuna tersenyum miring, senyuman predator yang telah menjebak mangsanya. Pria itu menyandarkan kembali punggungnya ke kursi dengan santai. "Aku haus. Perjalanan dari bandara ke rumah membuat tenggorokanku kering. Aku mau kamu membelikan aku es teler."
Larasati mengerjapkan matanya, sedikit bingung. "Es teler, Tuan? Baik, saya akan segera meminta koki dapur utama untuk membuatkan es teler spesial yang paling enak untuk Tuan Muda sekarang juga."
"Tunggu dulu, aku belum selesai bicara," potong Arjuna cepat, menghentikan Larasati yang baru saja hendak berbalik pergi. "Aku tidak mau es teler buatan koki istanaku. Aku mau es teler dari gerobak Mang Udin yang biasa mangkal di pertigaan jalan raya dekat pasar tradisional di bawah sana. Ingat pesananku baik-baik: alpukatnya harus banyak tapi jangan yang terlalu lembek, nangkanya harus yang kuning cerah dan manis, es serutnya jangan terlalu halus, dan sirup merahnya dikurangi setengah. Jangan pakai susu kental manis putih, tapi pakai yang cokelat. Mengerti?"
Larasati melongo. Mulutnya sedikit terbuka mencerna rentetan pesanan yang sangat spesifik dan aneh itu. Ia baru beberapa hari tinggal di lingkungan ini dan sama sekali tidak tahu menahu di mana letak pertigaan pasar tradisional yang dimaksud, apalagi sosok pedagang bernama Mang Udin. Tapi ia tidak punya waktu untuk berdebat. Ini adalah ujiannya.
"B-baik, Tuan. Akan segera saya belikan," jawab Larasati patuh.
Arjuna mengangkat pergelangan tangan kirinya, melirik jam tangan Rolex mahal yang melingkar di sana dengan gaya yang sangat teatrikal. "Aku berikan kamu waktu persis lima belas menit dari... sekarang. Lewat dari lima belas menit, apalagi kalau kamu gagal membawa es teler pesanan dengan spesifikasi tepat seperti yang aku minta, kamu boleh langsung berkemas dan keluar dari pintu gerbang rumah ini. Oh, satu lagi... karena kamu hanya pelayan rendahan, kamu dilarang keras menggunakan fasilitas kendaraan apa pun dari rumah ini. Menggunakan mobil operasional atau meminta tolong supir adalah sebuah pelanggaran. Kamu harus jalan kaki. Berangkat!"
Dunia Larasati runtuh seketika. Lima belas menit? Berjalan kaki? Bahkan untuk keluar dari gerbang utama rumah keluarga Dewantara yang memiliki halaman depan seluas lapangan sepak bola ini saja memakan waktu setidaknya tiga menit berlari. Belum lagi jalan raya menuju pasar tradisional dari perumahan elit ini yang konturnya menurun tajam dan cukup jauh. Itu adalah sebuah misi yang sangat mustahil. Misi bunuh diri.
Namun, Arjuna tidak memberinya kesempatan untuk protes. Pria itu sudah mengibaskan tangannya, mengusir Larasati layaknya mengusir lalat yang mengganggu.
Dengan langkah gontai yang dipaksakan, Larasati keluar dari ruang kerja itu. Begitu pintu tertutup di belakangnya, insting bertahannya mengambil alih. Ia tidak boleh menyerah tanpa perlawanan. Larasati langsung berlari sekencang mungkin menyusuri lorong lantai dua, menuruni tangga marmer yang melingkar dengan tergesa-gesa tanpa mempedulikan teriakan kaget dari beberapa pelayan lain yang berpapasan dengannya.
"Permisi! Minggir!" teriak Larasati saat melewati pintu dapur, terus berlari keluar menuju halaman belakang.
Matahari menjelang siang bersinar dengan sangat garang, memanggang aspal jalanan perumahan elit itu tanpa ampun. Larasati berlari bagai kesetanan. Sepatu pantofel hitam kaku yang ia kenakan mulai terasa menyiksa tumitnya, menggesek kulitnya hingga lecet, namun ia mengabaikan rasa perih itu. Keringat sebesar biji jagung mulai mengucur deras dari dahi dan lehernya, membasahi kerah seragamnya yang berwarna putih. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak seolah kehabisan oksigen.
Dalam kepalanya, timer lima belas menit itu terus berdenting dengan sangat kejam. Ia mengutuk Arjuna Dewantara sepanjang jalan. Dasar pria sinting, diktator, gila hormat, arogan! batin Larasati memaki dengan sumpah serapah terburuk yang bisa dipikirkannya. Dia sengaja melakukan ini! Ini bukan ujian, ini murni balas dendam murahan!
Setelah berlari tanpa henti selama hampir delapan menit yang terasa seperti delapan tahun di neraka, Larasati akhirnya melihat keramaian pasar tradisional di kejauhan. Matanya yang pedih karena keringat memicing, mencari-cari keberadaan gerobak es teler di sekitar pertigaan yang disebutkan oleh Arjuna. Dan di sana! Di bawah pohon beringin rindang, ia melihat sebuah gerobak cat hijau muda dengan tulisan mencolok 'ES TELER MANG UDIN'.
Larasati mengerahkan seluruh sisa tenaga di kakinya yang sudah kebas. Ia menyeberang jalan tanpa mempedulikan klakson kendaraan yang memekakkan telinga. Ia tiba di depan gerobak itu dengan napas tersengal-sengal parah, membungkukkan badan sambil memegangi kedua lututnya.
"Mang... Mang Udin?" panggil Larasati terputus-putus.
Penjual es teler paruh baya yang sedang mengelap gerobaknya itu menoleh kaget. "Eh, iya Neng? Ya ampun, Neng kenapa lari-lari begitu kayak habis dikejar anjing gila? Duduk dulu Neng, duduk."
"Gak usah, Mang... hah... hah... saya pesen es teler satu. Porsinya: alpukat banyak gak lembek, nangka kuning manis, es serutnya kasar aja, sirup merah setengah, susunya wajib cokelat bukan putih. Cepet, Mang! Waktu saya sisa empat menit!" perintah Larasati kalap, meracau dalam satu tarikan napas sambil terus menatap jam tangan murah di pergelangan tangannya.
Mang Udin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya terlihat sangat menyesal. "Aduh, gimana ya Neng... Neng telat banget. Ini porsi terakhir baru aja saya buatin buat Ibu yang duduk di sana itu. Alpukatnya juga udah habis tak bersisa, Neng."
Jantung Larasati serasa berhenti berdetak sesaat. Ia menoleh dengan patah patah ke arah bangku kayu panjang di samping gerobak. Di sana, duduk seorang wanita yang tengah hamil besar, perutnya buncit membundar. Wanita itu sedang memegang mangkuk plastik berisi es teler dengan wajah berbinar-binar penuh kebahagiaan.
Dunia Larasati runtuh untuk kedua kalinya hari ini. Mangkuk itu adalah nyawanya. Pekerjaannya bergantung pada mangkuk berisi es serut dan buah-buahan tersebut.
Dikendalikan oleh kepanikan yang luar biasa, Larasati nekat menghampiri wanita hamil itu. "Ibu... maaf, maafkan saya, Bu," ucap Larasati dengan suara bergetar memelas, ia menjatuhkan lututnya di tanah berdebu, setengah bersimpuh di depan wanita hamil tersebut. "Bu, tolong saya. Boleh tidak es telernya buat saya saja? Saya akan bayar dua kali lipat, tiga kali lipat! Kalau saya tidak bawa es teler itu sekarang, saya akan dipecat dari pekerjaan saya, Bu. Ayah saya baru meninggal, saya punya banyak hutang. Saya mohon, Bu... hidup saya hancur kalau saya dipecat."
Wanita hamil itu sangat terkejut melihat seorang gadis berseragam pelayan tiba-tiba bersimpuh dan memohon di hadapannya. Sendok di tangannya terhenti di udara. Raut wajah wanita itu langsung berubah sedih, matanya berkaca-kaca menatap Larasati.
"Mbak... aduh, jangan begini, Mbak," ucap wanita hamil itu dengan suara parau yang menahan tangis. Tiba-tiba, air mata wanita itu menetes membasahi pipinya. "Saya... hiks... saya sudah ngidam es teler Mang Udin ini dari seminggu yang lalu, Mbak. Suami saya lagi di luar kota gak bisa beliin. Kalau saya gak makan ini sekarang, nanti anak saya pas lahir ileran gimana, Mbak? Hiks... saya pengen banget, dedek bayinya di dalem nendang-nendang minta es teler..."
Wanita hamil itu menangis tersedu-sedu sembari mengusap perut besarnya secara dramatis. Beberapa pejalan kaki dan pedagang di sekitar mulai menoleh, memperhatikan adegan menyedihkan antara pelayan yang memohon pekerjaan dan ibu hamil yang menangis karena ngidam.
Larasati terdiam kaku bak patung es. Ia menatap wajah wanita hamil yang menangis tersedu itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ada pekerjaannya, masa depannya, dan ancaman rentenir yang menunggunya. Di sisi lain, ada seorang ibu hamil yang sedang ngidam parah hingga menangis karena permintaannya terancam direbut. Hati nurani Larasati, yang meski sering ceplas-ceplos namun pada dasarnya sangat lembut dan penyayang, perlahan mulai terkoyak. Ia tidak bisa sejahat ini. Ia tidak bisa merebut makanan dari seorang ibu yang sedang mengandung. Dosa besar macam apa yang akan ia tanggung jika ia memaksakan ego demi seorang majikan arogan di atas bukit sana?
Larasati menundukkan kepalanya, menghela napas panjang yang terdengar seperti embusan keputusasaan yang absolut. Bahunya merosot lemas. Kekalahannya telah nyata.
"Ya sudah, Bu... Ibu makan saja. Jangan menangis lagi. Kasihan bayinya," ucap Larasati pelan, suaranya parau dan bergetar hebat. Ia memaksakan sebuah senyum tipis yang getir di wajahnya.
Wanita hamil itu mengusap air matanya dan tersenyum lega. "Makasih ya, Mbak. Semoga Mbak diberikan rezeki yang lebih baik."
Larasati mengangguk lemah. Ia bangkit berdiri dengan susah payah. Kakinya terasa seperti agar-agar. Ia membalikkan badan, berniat untuk setidaknya memberikan kompensasi kepada Mang Udin atas keributan yang ia buat. Tangannya secara refleks merogoh saku rok seragam hitamnya.
Kosong.
Ia merogoh saku sebelahnya. Kosong juga.
Sebuah kenyataan baru yang jauh lebih menyakitkan menampar kesadaran Larasati bagai bongkahan beton. Matanya membelalak lebar, menatap kedua tangannya yang gemetar. Dalam kepanikannya saat dipanggil oleh Bu Inggit dan diusir dari ruang kerja Arjuna, ia sama sekali tidak sempat mengambil dompetnya di loker asrama. Jangankan untuk menyogok ibu hamil itu dengan bayaran tiga kali lipat, uang sepeser pun untuk membeli es teler seharga lima belas ribu perak itu saja ia tidak punya.
Larasati tertawa sumbang. Tawa hambar yang lebih terdengar seperti ringkisan tangis keputusasaan. Semua usahanya berlari di bawah terik matahari, kulitnya yang lecet, peluhnya yang mengucur, semuanya sia-sia. Bahkan jika wanita hamil itu bersedia menyerahkan es telernya, Larasati tidak akan pernah bisa membawanya pulang karena ia tidak bisa membayarnya.
Ia telah kalah telak. Skenario gila ini memang sejak awal sudah dirancang secara sempurna oleh sang tuan muda pendendam itu untuk memastikan kegagalan dan kehancurannya.
Larasati membalikkan badannya menghadap jalanan menanjak yang mengarah kembali ke kediaman megah Dewantara. Sinar matahari yang membakar terasa semakin menyengat kulitnya. Dengan sisa-sisa tenaga dan harga diri yang telah hancur lebur berserakan di jalanan berdebu itu, Larasati menyeret kakinya untuk berjalan kembali. Tidak ada gunanya berlari lagi. Waktu lima belas menit itu sudah habis beberapa menit yang lalu.
Tinggal menunggu waktu hingga ia berdiri di hadapan sang tiran itu dengan tangan kosong, dan mendengar vonis pemecatan resmi keluar dari mulut sombongnya. Langit biru di atas Kota Hujan itu seolah menertawakan penderitaan dan kebodohan seorang Larasati di hari pertama kerjanya. Dendam es teler ini benar-benar telah menghancurkan hidupnya tak bersisa.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar