Langkah gontai Larasati menyusuri jalanan aspal perumahan elit yang menanjak itu terasa bagaikan perjalanan menuju tiang gantungan. Matahari yang tadinya hanya menghangatkan, kini bersinar terik, seolah ikut menelanjangi kekalahannya. Keringat membasahi seragam hitam putihnya, membuat kain itu menempel lengket di punggungnya yang terasa kaku. Setiap kali telapak kakinya yang lecet bergesekan dengan bahan kaku sepatu pantofel murahan, rasa perih menjalar hingga ke ubun-ubun. Namun, rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan badai keputusasaan yang kini memorak-porandakan hatinya.

Ia pulang dengan tangan kosong. Tidak ada es teler, tidak ada mangkuk kemenangan, dan yang paling parah, tidak ada lagi harapan untuk mempertahankan pekerjaannya.

Saat Larasati akhirnya tiba di ambang pintu belakang kediaman megah Dewantara, lututnya nyaris tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Ia menyandarkan bahunya pada kusen pintu, napasnya tersengal-sengal, sementara matanya menatap kosong ke arah lantai keramik dapur yang mengkilap.

Maya, yang sedang memotong buah-buahan di meja pantri, langsung menjatuhkan pisaunya begitu melihat kondisi mengenaskan sahabat barunya itu. Wajah Larasati memerah seperti udang rebus, rambutnya acak-acakan karena keringat, dan matanya memancarkan kepedihan yang sangat dalam.

"Ya Tuhan, Laras! Kamu dari mana saja?! Kenapa kondisimu kacau begini?" seru Maya panik. Gadis itu berlari menghampiri Larasati, merangkul pundaknya, dan menuntunnya untuk duduk di salah satu kursi kayu di sudut dapur. Maya segera mengambilkan segelas air es dan menyodorkannya ke bibir Larasati. "Minum dulu, Ras. Minum. Kamu kelihatan seperti mau pingsan."

Larasati meneguk air itu dengan rakus, tangannya bergetar hebat memegangi gelas kaca tersebut. Setelah air membasahi tenggorokannya yang kering, barulah ia bisa bersuara, meski hanya berupa bisikan parau yang menyayat hati. "Aku gagal, May. Aku benar-benar gagal."

Maya mengerutkan keningnya, mengambil sapu tangan dari sakunya dan menyeka keringat di dahi Larasati. "Gagal apa? Tadi Bu Inggit bilang kamu dipanggil Tuan Muda Arjuna. Apa yang dia suruh sampai kamu harus lari-larian di tengah hari bolong begini?"

"Dia menyuruhku membeli es teler di pasar bawah sana... dalam waktu lima belas menit... dengan berjalan kaki," Larasati tertawa sumbang, tawa yang terdengar lebih menyedihkan daripada isak tangis. "Dan aku tidak bawa dompet. Es telernya juga sudah habis dibeli ibu hamil yang ngidam. Aku tidak punya apa-apa untuk dibawa kembali padanya, May. Ini sudah lewat setengah jam dari batas waktu yang dia berikan. Aku... aku pasti akan dipecat sekarang."

Mata Maya membulat tak percaya. Ia tahu Tuan Muda Arjuna kadang bisa bersikap tegas, tapi menyuruh seorang pelayan wanita berlari ke pasar yang jaraknya berkilo-kilometer dalam waktu lima belas menit di siang bolong adalah bentuk penyiksaan yang tidak masuk akal. "Astaga, Ras... Kenapa Tuan Muda melakukan itu padamu? Apa salahmu sampai dia setega itu?"

Sebelum Larasati sempat menjawab atau menjelaskan lebih jauh tentang insiden "gayung toilet" yang menjadi pemicu semua ini, suara derap langkah kaki yang tegas terdengar mendekat. Bu Inggit memasuki dapur dengan wajah kaku. Matanya langsung tertuju pada Larasati yang sedang duduk terkulai lemas di kursi.

"Larasati," suara Bu Inggit memecah keheningan, dingin dan penuh otoritas. "Tuan Muda sudah menunggumu di ruang kerjanya. Beliau menanyakan pesanan es telernya. Mengapa kamu kembali lewat dari waktu yang ditentukan, dan di mana barang yang beliau minta?"

Larasati menelan ludah dengan susah payah. Ia menatap Bu Inggit dengan pandangan memelas, namun wanita paruh baya itu sudah diajarkan untuk tidak mencampuri urusan pribadi majikannya, betapa pun ia merasa kasihan pada pelayan asuhannya.

"S-saya tidak membawanya, Bu Inggit. Saya gagal memenuhi perintah Tuan Muda," jawab Larasati dengan suara bergetar menahan tangis.

Bu Inggit menghela napas panjang, sorot matanya melembut sesaat, menampakkan kilat simpati sebelum kembali menjadi dinding profesionalisme yang kokoh. "Kalau begitu, bersiaplah menghadapi konsekuensinya. Naik ke atas sekarang. Beliau tidak suka menunggu lebih lama lagi."

Dengan sisa-sisa tenaga dan harga diri yang telah hancur lebur, Larasati memaksa dirinya untuk berdiri. Maya memegang tangannya erat, memberikan remasan penyemangat, meski mata gadis itu juga berkaca-kaca karena cemas. Larasati membalas remasan itu sejenak, lalu berjalan gontai meninggalkan dapur, menaiki tangga marmer menuju lantai dua layaknya seorang pesakitan yang berjalan menuju ruang eksekusi mati.

Setibanya di depan pintu kayu jati berukir yang megah itu, Larasati bahkan tidak memiliki tenaga lagi untuk mengetuk dengan benar. Ia hanya mengetuk pelan, dan tanpa menunggu jawaban, mendorong pintu itu terbuka.

Ruang kerja itu terasa dingin karena pendingin ruangan yang dipasang pada suhu rendah. Di balik meja kerjanya yang luas, Arjuna Dewantara duduk bersandar dengan santai. Pria itu sudah berganti pakaian dengan kemeja polo berwarna hitam yang mencetak jelas dada bidangnya. Di tangannya terdapat sebuah majalah bisnis yang sedang ia baca dengan ekspresi bosan. Saat mendengar suara decit pintu, Arjuna perlahan menurunkan majalahnya.

Mata cokelat tajam itu langsung mengunci sosok Larasati yang berdiri gemetar di ambang pintu. Pakaian gadis itu berantakan, wajahnya kuyu, kakinya tampak tidak stabil, danβ€”yang paling penting bagi Arjunaβ€”kedua tangannya kosong.

Sebuah seringai lebar, lambang kemenangan mutlak, mengembang di wajah tampan pria itu. Arjuna meletakkan majalahnya di atas meja, menautkan jari-jarinya, dan menatap Larasati dengan kilatan kepuasan yang sadis.

"Tiga puluh lima menit," ucap Arjuna, suaranya mengalun pelan namun menggema di ruangan yang sunyi itu. Ia melirik jam tangan Rolex-nya. "Kamu terlambat dua puluh menit dari batas waktu yang aku tentukan. Dan setelah membuang-buang waktuku, kamu berani kembali dengan tangan kosong? Di mana es teler spesial pesananku, Nona Larasati?"

Larasati melangkah maju dengan kaki terseret, berhenti sekitar dua meter dari meja Arjuna. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak sanggup menatap mata pria yang telah menghancurkan mentanya hari ini.

"S-saya minta maaf, Tuan Muda," bisik Larasati. "Saya sudah berlari secepat yang saya bisa. Tapi porsi terakhir sudah dibeli oleh seorang ibu hamil yang sedang ngidam. Dan... saya juga lupa membawa dompet saya. Saya sama sekali tidak memegang uang untuk membelinya. Saya mohon ampun, Tuan. Saya gagal."

Arjuna tertawa pelan. Tawa yang sangat renyah, maskulin, namun terdengar sangat mengerikan di telinga Larasati. Tawa itu adalah tawa seorang pemangsa yang sedang menikmati rintihan mangsanya.

"Alasan yang sangat menyentuh," cibir Arjuna dengan nada sarkas yang kental. "Ibu hamil yang ngidam? Lupa bawa dompet? Alasan klasik dari seorang pecundang yang tidak kompeten. Apa kamu pikir aku peduli dengan drama jalananmu itu? Di rumah ini, di bawah kepemimpinanku, tidak ada ruang untuk kegagalan dan alasan, Larasati. Kamu gagal memenuhi tugas paling sederhana yang kuberikan. Kamu tahu apa artinya itu?"

Larasati memejamkan matanya rapat-rapat, air mata penyesalan dan keputusasaan akhirnya lolos dan mengalir membasahi pipinya yang kotor oleh debu dan keringat. "A-artinya saya dipecat, Tuan."

"Tepat sekali," Arjuna menjentikkan jarinya. "Kamu bisa segera kembali ke asrama, mengemasi barang-barang murahmu, dan angkat kaki dari rumahku sekarang juga."

Kata-kata itu menghantam dada Larasati bagaikan godam baja. Bayangan rentenir bertampang sangar yang menggedor pintu rumah petaknya, bayangan tagihan listrik dan air yang menunggak, bayangan dirinya yang harus luntang-lantung mencari pekerjaan di jalanan keras ibukota, semuanya berkelebat dengan cepat di pelupuk matanya. Tidak. Ia tidak boleh menyerah begitu saja. Harga dirinya memang sudah diinjak-injak, tapi ia harus bertahan demi perutnya dan nyawanya.

Dengan gerakan tiba-tiba, Larasati menjatuhkan dirinya ke lantai marmer yang dingin, bersimpuh tepat di depan meja kerja Arjuna.

"Tuan Muda, saya mohon... saya mohon dengan sangat," Larasati menangis tersedu-sedu, menengadahkan wajahnya yang basah oleh air mata, menatap Arjuna dengan penuh keputusasaan. "Hukum saya dengan cara lain. Beri saya tugas yang paling berat, suruh saya membersihkan seluruh toilet di rumah ini sendirian, suruh saya menyikat lantai kolam renang, apa saja! Tapi tolong jangan pecat saya. Saya punya banyak hutang peninggalan almarhum ayah saya yang harus segera dilunasi. Kalau saya kehilangan pekerjaan ini, rentenir itu akan membunuh saya. Saya mohon, Tuan Arjuna, beri saya satu kesempatan lagi!"

Arjuna terdiam melihat reaksi histeris gadis di hadapannya. Ia tidak menyangka Larasati akan sampai berlutut dan memohon seperti pengemis. Sejenak, ada kilatan keterkejutan di matanya, namun hal itu segera tertutupi oleh lapisan kebencian yang masih bercokol di hatinya akibat insiden pemukulan di toilet kafe itu. Namun, memecat gadis ini sekarang sepertinya terlalu mudah. Drama ini terlalu singkat untuk memuaskan hasrat balas dendamnya.

Arjuna perlahan bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja kerja besarnya, dan berdiri menjulang tepat di hadapan Larasati yang masih bersimpuh menangis. Ia menatap gadis itu dari atas ke bawah.

"Kamu bilang kamu bersedia dihukum apa saja asalkan tidak dipecat?" tanya Arjuna dengan nada suara yang merendah, namun penuh dengan ancaman terselubung.

Larasati mengangguk cepat, "I-iya, Tuan. Apa saja."

"Bagus," Arjuna tersenyum miring. Ia berjalan menuju sebuah lemari kabinet di sudut ruangan, membuka laci paling bawah, dan mengeluarkan sebuah bungkusan tas belanja berwarna cokelat. Pria itu kembali berjalan mendekati Larasati dan melemparkan bungkusan itu ke lantai, tepat di depan lutut gadis tersebut.

"Buka," perintah Arjuna singkat.

Dengan tangan gemetar, Larasati meraih bungkusan itu. Ia mengintip ke dalamnya, dan napasnya seketika tercekat. Matanya membelalak lebar, seolah baru saja melihat hantu di siang bolong. Perlahan, ia mengeluarkan isi bungkusan itu.

Sebuah gayung mandi berbahan plastik murahan. Warnanya merah muda menyala, sangat mencolok dan norak. Namun yang membuatnya semakin absurd adalah, bagian bawah gayung itu telah dibolongi sedemikian rupa, dan di kedua sisi ujungnya telah diikatkan pita kain satin berwarna senada. Itu bukan lagi sekadar alat mandi; itu adalah sebuah hiasan kepala, sebuah topi dadakan yang dirancang secara khusus untuk mempermalukan pemakainya.

Larasati menatap gayung merah muda di tangannya, lalu mendongak menatap Arjuna dengan tatapan tidak percaya. "T-tuan... ini... apa maksudnya ini?"

Arjuna melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Larasati dengan tatapan meremehkan yang mematikan. "Karena kamu sangat menyukai gayung plastik berwarna merah muda hingga menggunakannya sebagai senjata untuk memukuli kepalaku, aku pikir benda itu sangat cocok untuk menjadi mahkotamu, Larasati."

Pria itu kemudian membungkukkan badannya, menyejajarkan wajahnya dengan Larasati yang mematung. "Malam ini, keluargaku akan mengadakan pesta penyambutan besar-besaran di aula utama. Para kolega bisnis ayahku, sosialita, dan teman-temanku akan hadir. Tugasmu malam ini sangat mudah. Kamu hanya perlu berkeliling membagikan minuman dan makanan kecil kepada para tamu."

Arjuna menjeda kalimatnya sengaja untuk menciptakan ketegangan, sebelum melanjutkan dengan bisikan yang lebih tajam dari silet, "Sambil memakai topi gayung itu di kepalamu sepanjang malam. Tanpa boleh dilepas sedetik pun. Dan kamu harus melayani semua tamu dengan senyuman paling manis yang kamu miliki."

Dunia Larasati serasa runtuh untuk ketiga kalinya hari ini. Memakai topi berbentuk gayung mandi berwarna pink menyala di tengah pesta kaum konglomerat yang elegan? Itu bukan sekadar hukuman; itu adalah pembunuhan karakter, penelanjangan harga diri di depan publik, sebuah penghinaan kasta yang sangat kejam. Ia akan menjadi badut, bahan tertawaan, bahan gunjingan seluruh tamu undangan dan sesama pelayan.

"T-tuan... saya mohon," suara Larasati nyaris hilang, air mata kembali mengalir deras. "Tolong jangan suruh saya memakai ini di depan banyak orang. Ini sangat memalukan. Tuan bisa potong gaji saya, Tuan bisa suruh saya kerja lembur tanpa dibayar, tapi tolong... jangan permalukan saya seperti ini."

Wajah Arjuna mengeras. Rahangnya mengatup rapat. "Pilihanmu hanya ada dua, Larasati. Pakai gayung itu di kepalamu malam ini dan jadilah babu yang patuh, atau keluar dari rumah ini sekarang juga dan serahkan lehermu pada rentenir yang mengejarmu itu. Aku hitung sampai tiga. Satu..."

Larasati memeluk gayung pink itu ke dadanya. Hatinya menjerit, memberontak melawan ketidakadilan ini. Namun realita kehidupannya yang miskin dan penuh hutang menampar kewarasannya dengan keras. Harga diri tidak bisa dibelikan beras. Harga diri tidak bisa membayar hutang Bang Jali.

"Dua..." suara Arjuna terdengar semakin tidak sabar.

"S-saya akan memakainya!" jerit Larasati dengan mata terpejam kuat, air mata membasahi pipinya yang kotor. "Saya akan memakainya, Tuan. Saya tidak akan keluar dari rumah ini."

Arjuna menegakkan tubuhnya kembali. Seringai puas dan arogan itu kembali menghiasi wajah tampannya. "Pilihan yang sangat cerdas. Pastikan kamu tampil maksimal malam ini, Nona Gayung. Aku akan sangat menantikan pertunjukanmu. Sekarang, keluar dari ruanganku. Kamu merusak pemandangan."


Malam pun tiba, membungkus kediaman Dewantara dengan kemewahan yang gilang-gemilang. Aula utama yang besarnya menyamai lobi hotel bintang lima itu telah disulap menjadi tempat pesta yang menakjubkan. Lampu kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan yang hangat, memantul dari lantai marmer yang dipoles hingga mengkilap sempurna. Alunan musik klasik dari kuartet gesek yang disewa khusus mengalun lembut, memberikan atmosfer elegan nan eksklusif.

Para tamu mulai berdatangan. Pria-pria mengenakan setelan jas tuxedo mahal hasil karya desainer ternama, sementara para wanita memamerkan gaun-gaun malam bertabur payet, perhiasan berlian yang menyilaukan mata, dan parfum yang aromanya langsung memenuhi seisi ruangan. Bapak Surya Dewantara dan istrinya, Nyonya Anggun, berdiri di dekat pintu masuk, menyambut para tamu kehormatan dengan senyum ramah sang tuan rumah.

Di sudut lain, Arjuna Dewantara berdiri dengan segelas sampanye di tangannya. Ia mengenakan setelan jas berwarna biru navy yang pas di badannya, membuatnya terlihat luar biasa tampan bak bintang film papan atas. Ia dikelilingi oleh teman-temannya sesama anak konglomerat, tertawa dan berbincang dengan gaya aristokrat yang kental.

Sementara itu, di balik pintu dapur yang tertutup rapat, suasana terasa sangat berbeda. Ketegangan menyelimuti para pelayan yang sedang bersiap. Dan di sudut ruangan, Larasati berdiri mematung di depan sebuah cermin panjang.

Ia mengenakan seragam pelayan hitam putihnya yang telah disetrika rapi, apron putihnya bersih tanpa noda, dan rambut panjangnya diikat rapi ke belakang. Namun, di atas kepalanya, bertengger sebuah mimpi buruk berwarna merah muda. Gayung plastik itu telah diikat kencang dengan pita satin di bawah dagunya. Benda itu terlihat sangat besar, norak, dan benar-benar merusak pemandangan, kontras dengan seragamnya yang formal.

Maya berdiri di sampingnya, memegangi kedua tangan Larasati dengan mata yang berkaca-kaca. "Ras, kamu yakin mau keluar dengan benda itu di kepalamu? Ini terlalu kejam. Tuan Muda sudah kelewatan."

Larasati menatap pantulan dirinya sendiri di cermin dengan pandangan kosong. Wajah cantiknya terlihat pucat, bibirnya gemetar menahan tangis yang sudah habis ia curahkan sepanjang sore tadi. "Aku harus, May. Aku tidak punya pilihan lain. Anggap saja... anggap saja aku sedang ikut acara karnaval 17 Agustusan. Iya, karnaval. Tidak apa-apa."

Meski mulutnya berkata demikian, hatinya menjerit pedih. Ia mengambil napas panjang, merapikan celemeknya, lalu mengangkat nampan perak berisi gelas-gelas champagne yang telah disediakan.

"Doakan aku tidak pingsan di tengah aula, May," bisik Larasati getir.

Dengan langkah pelan dan kepala yang terasa seberat beton, Larasati mendorong pintu ayun dapur dan melangkah keluar menuju aula utama yang terang benderang.

Begitu ia melangkah masuk ke area pesta, waktu seolah berhenti berdetak.

Awalnya, hanya beberapa tamu di dekat pintu dapur yang menyadari kehadirannya. Percakapan mereka seketika terhenti. Mata mereka membulat, menatap tak percaya pada sosok pelayan wanita yang mengenakan gayung mandi berwarna neon di atas kepalanya. Pemandangan surealis itu begitu kontras dengan kemewahan pesta sehingga dalam hitungan detik, perhatian orang-orang mulai beralih padanya.

Bisik-bisik mulai terdengar, menyebar seperti virus di seluruh penjuru ruangan.

"Astaga, lihat pelayan itu! Apa yang ada di kepalanya?" "Itu gayung mandi, bukan? Ya ampun, apa itu semacam fashion statement pelayan masa kini?" "Kampungan sekali! Bagaimana bisa Nyonya Anggun membiarkan ada badut berkeliaran di pesta elit ini?" "Hahaha, sungguh pemandangan yang menggelikan!"

Setiap pasang mata kini menatap ke arah Larasati. Suara tawa yang tertahan, tatapan jijik, jari-jari yang menunjuk-nunjuk, dan bisikan tajam menusuk gendang telinga Larasati. Gadis itu merasa dirinya ditelanjangi di depan ratusan orang. Wajahnya memerah padam, terbakar oleh rasa malu yang tak tertahankan. Tangannya yang memegang nampan perak bergetar hebat hingga gelas-gelas champagne itu berdenting satu sama lain. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam, berharap lantai marmer ini tiba-tiba terbelah dan menelannya hidup-hidup.

Di tengah kerumunan, Arjuna yang sedang berbincang dengan teman-temannya menyadari kehebohan itu. Ia menoleh, dan matanya langsung menemukan sosok Larasati yang sedang berjalan gontai menembus lautan manusia dengan topi gayung merah mudanya.

Seringai puas mengembang di wajah Arjuna. Rencananya berhasil sempurna. Ia telah menghancurkan ego dan harga diri gadis bar-bar itu hingga tak bersisa. Untuk memastikan penderitaan Larasati semakin lengkap, Arjuna mengangkat tangannya dan melambai ke arah pelayan malang itu.

"Hei, pelayan! Bawa minumanmu ke sini!" seru Arjuna dengan suara lantang yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh orang-orang di sekitarnya.

Larasati membeku. Mendengar suara bariton yang sangat ia benci itu, rasanya ia ingin melemparkan nampan perak di tangannya tepat ke wajah tampan Arjuna. Namun, ia kembali menekan egonya. Dengan langkah tertatih dan wajah tertunduk menahan malu yang luar biasa, Larasati berjalan menghampiri kumpulan pemuda kaya raya tersebut.

"Ya ampun, Jun! Siapa pelayan aneh ini? Apa rumahmu sekarang mengpekerjakan badut sirkus?" tanya salah satu teman Arjuna, Riko, yang langsung tertawa terbahak-bahak melihat penampilan Larasati dari dekat.

"Bukan, ini bukan badut," jawab Arjuna santai, menatap Larasati dengan kilat mata mengejek yang kejam. "Ini adalah pelayan khususku. Dia sedang menjalani hukuman kecil karena kelancangan dan kebodohannya. Benar begitu, Larasati?"

Larasati menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga terasa asin darah. Ia menyodorkan nampan peraknya ke arah Arjuna tanpa berani menatap wajah pria itu. "S-silakan minumannya, Tuan Muda," ucapnya dengan suara bergetar parah.

Teman-teman Arjuna kembali meledak dalam tawa. Mereka mengeluarkan ponsel cerdas masing-masing dan mulai memotret serta merekam Larasati tanpa izin. Kilatan flash kamera menyilaukan mata gadis itu, mengabadikan momen paling memalukan dalam hidupnya untuk dijadikan bahan tertawaan di media sosial kaum elit.

"Coba senyum sedikit, Nona Gayung! Tuan Muda Arjuna sudah berbaik hati memberimu topi yang sangat fashionable," ejek Riko sambil terus merekam.

Larasati hanya bisa diam, mematung dengan dada yang terasa sesak oleh isakan tangis yang tertahan di tenggorokan. Ia melayani para pemuda arogan itu dengan tangan gemetar. Setiap kali ia melangkah menjauh, suara tawa dan cemoohan terus mengiringinya.

Sepanjang malam itu, Larasati harus berkeliling melayani ratusan tamu dengan topi gayung di kepalanya. Ia menjadi tontonan, bahan ejekan, dan lelucon gratis bagi para kaum berduit yang tidak memiliki empati. Kakinya yang lecet terasa semakin hancur, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih menyiksa.

Saat pesta akhirnya usai menjelang tengah malam, dan ia diperbolehkan kembali ke asrama, Larasati melepas topi gayung itu dan membantingnya ke dinding kamarnya hingga pecah berkeping-keping. Ia menjatuhkan diri ke atas kasur tipisnya dan menangis sejadi-jadinya, menumpahkan seluruh rasa frustrasi, marah, dan dendam yang membara di dalam dadanya.

Malam itu, di tengah isak tangisnya yang memilukan, Larasati bersumpah pada dirinya sendiri. Ia tidak akan membiarkan iblis berwajah malaikat bernama Arjuna Dewantara itu terus menginjak-injaknya. Ia akan bertahan di rumah ini, dan ia akan mencari cara untuk membalas dendam atas kehancuran harga dirinya malam ini. Arjuna boleh saja memenangkan pertempuran pertama, namun Larasati pastikan, perang sesungguhnya baru saja dimulai.

Dan senjata balasan pertamanya, mungkin ada di dapur, bersama sebungkus obat urus-urus alias obat pencahar yang sangat manjur.