Sinar mentari pagi kembali menyusup melalui celah gorden kamar asrama pelayan, menembakkan cahaya keemasan yang tepat mengenai wajah Larasati. Gadis itu mengerang pelan, menarik selimut tipisnya untuk menutupi kepala. Kepalanya berdenyut nyeri, sisa-sisa dari tangisan semalaman suntuk yang telah menguras seluruh air mata dan energinya. Matanya membengkak, terasa perih saat ia memaksakan diri untuk membukanya.

Dengan gerakan lamban bak zombie yang baru bangkit dari kubur, Larasati menyingkap selimut dan duduk di tepi ranjang. Pandangannya langsung tertuju pada sudut ruangan. Di sana, tergeletak kepingan-kepingan plastik berwarna merah muda terang—sisa-sisa dari 'topi gayung' sialan yang telah ia hancurkan semalam. Pemandangan itu bagaikan pemantik api yang langsung menyulut kembali bara kemarahan di dalam dadanya. Rasa malu, terhina, dan dendam kesumat yang ia rasakan di pesta malam tadi kembali mengalir deras dalam aliran darahnya.

"Gila. Laki-laki itu benar-benar iblis titisan," gumam Larasati dengan suara serak. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Dia pikir dia bisa terus-terusan menginjak harga diriku tanpa balasan? Dia salah besar memilih lawan."

Larasati bangkit berdiri, melangkah ke kamar mandi asrama untuk membasuh wajahnya yang kusut masai. Sambil menatap pantulan dirinya di cermin yang sedikit buram, ia memutar otak. Ia tidak bisa melawan Arjuna Dewantara secara frontal. Pria itu punya kekuasaan, uang, dan otoritas penuh untuk memecatnya atau bahkan menghancurkan hidupnya. Jika Larasati ingin membalas dendam, ia harus melakukannya dengan cara yang halus, licik, dan tidak meninggalkan jejak. Sebuah gerilya dari dalam dapur.

Ide liar itu tiba-tiba melintas di kepalanya saat ia mengingat percakapannya dengan Maya beberapa hari yang lalu. Maya pernah bercerita bahwa ia menyimpan sebotol obat pencahar cair dosis tinggi di kotak P3K asrama. Maya biasa menggunakannya jika ia mengalami sembelit parah.

Seringai tipis, sebuah seringai yang mungkin menyaingi kelicikan Arjuna, perlahan terbentuk di bibir pucat Larasati. "Mari kita lihat, Tuan Muda yang terhormat. Seberapa angkuh dan wibawanya dirimu saat kau harus bolak-balik mencium aroma kloset seharian penuh."

Tanpa membuang waktu, Larasati segera mandi, mengenakan seragam hitam putihnya yang telah disetrika rapi, dan menyelinap ke ruang kesehatan asrama. Dengan tangan sedikit gemetar karena perpaduan antara gugup dan antusiasme, ia menuangkan hampir setengah botol kecil obat pencahar cair bening itu ke dalam sebuah botol tetes mata kosong yang sudah ia cuci bersih. Ia menyembunyikan botol kecil itu dengan aman di dalam saku celemeknya. Senjata rahasianya sudah siap.

Sesampainya di dapur utama kediaman Dewantara, suasana sudah sangat sibuk. Aroma mentega, bawang putih, dan berbagai rempah mahal menguar memenuhi udara. Koki kepala, Chef Anton, sedang sibuk meneriakkan instruksi kepada para asistennya.

"Larasati! Kebetulan kamu sudah datang," panggil Bu Inggit yang tiba-tiba muncul dari arah ruang makan. Wanita paruh baya itu menatap Larasati dengan saksama, sejenak memperhatikan kantung mata gadis itu yang menghitam, sebelum kembali ke mode profesional. "Kamu ditugaskan untuk mengantar sarapan Tuan Muda Arjuna pagi ini. Chef Anton sedang menyiapkan nasi goreng seafood kesukaannya. Siapkan nampan dan minumannya sekarang."

Jantung Larasati berdegup kencang. Pucuk dicinta ulam pun tiba, batinnya bersorak kegirangan. Semesta seolah sedang berkonspirasi untuk memuluskan rencana balas dendamnya.

"Baik, Bu Inggit," jawab Larasati dengan nada seringan mungkin, berusaha menyembunyikan nada kemenangannya.

Ia bergegas menyiapkan nampan perak, meletakkan segelas jus jeruk segar, serbet linen yang dilipat membentuk angsa, dan sendok garpu perak yang telah dipoles. Tak lama kemudian, Chef Anton meletakkan sepiring nasi goreng seafood yang masih mengepulkan asap harum ke atas nampan tersebut. Potongan udang besar, cumi, dan taburan kaviar di atasnya membuat hidangan itu terlihat sangat menggugah selera.

"Tolong antarkan ke balkon lantai dua. Tuan Muda sedang bersantai di sana. Jangan sampai tumpah," pesan Chef Anton.

Larasati mengangguk patuh. Ia mengangkat nampan itu dan berjalan keluar dari dapur. Saat ia melewati lorong sepi yang menghubungkan dapur dengan tangga utama, Larasati berhenti. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada CCTV atau pelayan lain yang melintas.

Dengan kecepatan kilat, tangannya merogoh saku celemek, mengeluarkan botol tetes mata berisi cairan pencahar itu. Tanpa ragu sedikit pun, Larasati meneteskan cairan bening itu dalam jumlah yang sangat banyak—jauh melebihi dosis yang dianjurkan untuk manusia normal—ke atas nasi goreng seafood yang malang tersebut. Cairan itu meresap ke dalam butiran nasi tanpa merusak warna atau mengeluarkan aroma mencurigakan. Ia juga meneteskan sisa cairan ke dalam segelas jus jeruk segar.

"Makanlah yang banyak, Tuan Muda. Ini adalah hidangan spesial dari Nona Gayung untuk melancarkan saluran pencernaan sekaligus saluran arogansimu," bisik Larasati dengan tawa tertahan. Ia menyimpan kembali botol kosong itu, lalu melanjutkan langkahnya menaiki tangga dengan perasaan riang gembira yang luar biasa.

Setibanya di balkon lantai dua, Larasati mendapati Arjuna sedang duduk bersandar di kursi rotan mewah. Pria itu mengenakan jubah mandi berbahan sutra berwarna biru tua yang dibiarkan sedikit terbuka di bagian dada, memperlihatkan kulitnya yang kecokelatan dan ototnya yang terbentuk sempurna. Ia sedang membaca berita bisnis dari tabletnya dengan kacamata baca berbingkai tipis yang membuatnya terlihat semakin cerdas dan... tampan. Larasati buru-buru menepis pikiran konyol itu. Tampan atau tidak, pria itu tetaplah iblis.

"Permisi, Tuan Muda. Sarapan Anda sudah siap," ucap Larasati dengan suara yang sengaja dilembutkan, sangat sopan, dan diiringi dengan senyuman yang ia buat semanis mungkin.

Arjuna mengalihkan pandangannya dari layar tablet. Ia menurunkan kacamatanya sedikit, menatap Larasati dari ujung kaki hingga ujung kepala. Alisnya yang tebal terangkat sebelah. Ia mengharapkan gadis itu akan datang dengan wajah ditekuk, mata sembab, dan memancarkan aura permusuhan yang kental setelah kejadian memalukan semalam. Namun, yang ia dapati justru Larasati yang tersenyum cerah, seolah kejadian memalukan yang menghancurkan harga dirinya itu tidak pernah terjadi.

"Oh, pelayan kesayanganku rupanya," sapa Arjuna dengan nada menyindir. "Bagaimana tidurmu semalam? Apakah kepalamu terasa ringan setelah melepaskan mahkota kebesaranmu? Sayang sekali kamu tidak memakainya pagi ini. Padahal aku sudah mulai terbiasa dengan gaya fashion kampunganmu itu."

Kata-kata itu bagaikan jarum yang menusuk tepat di ulu hati Larasati. Senyum di wajahnya nyaris luntur, namun ia buru-buru menahannya. Ia menarik napas dalam-dalam, mensugesti dirinya sendiri bahwa pria ini sebentar lagi akan menangis memeluk kloset.

"Tidur saya sangat nyenyak, Tuan," jawab Larasati dengan kebohongan yang lancar. Ia meletakkan nampan perak itu ke atas meja kaca di hadapan Arjuna. "Ini nasi goreng seafood spesial buatan Chef Anton untuk Anda. Dan jus jeruk segar untuk memulai hari. Silakan dinikmati selagi masih hangat, Tuan."

Arjuna meletakkan tabletnya di atas meja. Ia menatap piring nasi goreng itu, lalu menatap wajah Larasati secara bergantian. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menyilangkan tangannya di atas meja. Insting predatornya yang tajam—yang telah diasah bertahun-tahun dalam dunia bisnis yang kejam—merasakan ada sesuatu yang sangat tidak beres.

Gadis di hadapannya ini terlalu patuh. Terlalu manis. Terlalu bersemangat melihatnya makan. Mata Larasati yang berbinar penuh antisipasi tak bisa sepenuhnya disembunyikan.

"Kamu terlihat sangat bahagia pagi ini, Larasati," ucap Arjuna pelan, suaranya berat dan mengintimidasi. "Padahal semalam kamu menangis tersedu-sedu seperti anak kucing yang dibuang ke selokan. Apakah ada sesuatu yang membuat suasana hatimu mendadak sangat baik? Atau... apakah ada sesuatu di dalam sarapanku ini yang membuatmu begitu antusias?"

Tubuh Larasati menegang kaku. Darahnya seakan berhenti mengalir sesaat. Apakah ketahuan? Tidak mungkin! Cairan itu tidak berbau dan tidak berwarna. Ia berusaha keras menjaga ekspresi wajahnya agar tetap netral, meski telapak tangannya mulai berkeringat dingin.

"M-maksud Tuan apa? Saya tentu saja bahagia bisa melayani Tuan Muda dengan baik. B-bukankah itu memang tugas saya?" jawab Larasati sedikit terbata, senyumannya mulai terlihat dipaksakan.

Arjuna menyeringai. Ia mengambil garpu peraknya, memutar-mutarnya dengan santai di udara, namun matanya tak lepas sedetik pun dari Larasati bak elang yang mengunci mangsanya. "Di keluargaku, sejak zaman kakekku dulu, ada sebuah tradisi tua yang cukup unik. Karena kami memiliki banyak saingan bisnis yang mungkin berniat jahat, kami kadang meminta pelayan kepercayaan kami untuk 'mencicipi' hidangan kami terlebih dahulu. Untuk memastikan tidak ada racun... atau hal-hal tidak menyenangkan lainnya yang masuk ke dalam perut keluarga Dewantara."

Mata Larasati membulat sempurna. Kepanikannya kini tidak bisa disembunyikan lagi. "T-tapi Tuan, ini rumah Anda sendiri. Chef Anton yang memasaknya langsung. Tidak mungkin ada yang berani meracuni Anda di rumah ini."

"Aku tidak mencurigai Chef Anton," potong Arjuna cepat, suaranya setajam belati. "Aku mencurigaimu, Nona Gayung."

Arjuna mendorong piring nasi goreng itu hingga bergeser ke tepi meja, tepat di depan Larasati. "Makanlah."

"A-apa?" Larasati tersentak mundur selangkah. Kepalanya menggeleng cepat. "T-tidak, Tuan. Saya tidak berani lancang memakan makanan majikan saya. Lagipula... lagipula saya sudah sarapan di asrama tadi. Perut saya sudah sangat kenyang, Tuan. Sungguh!"

"Jangan membantah perintahku," desis Arjuna, aura dominannya menguar kuat, membuat udara di balkon itu terasa menipis. "Aku memerintahkanmu untuk memakan hidangan itu sekarang juga. Habiskan. Jangan sisakan satu butir nasi pun. Jika kamu menolak, itu membuktikan bahwa kamu memang menaruh sesuatu di dalamnya. Dan jika terbukti kamu mencoba meracuni atau mencelakaiku, aku tidak hanya akan memecatmu, tapi aku akan memanggil polisi dan menjebloskanmu ke penjara atas tuduhan percobaan pembunuhan. Pilih mana? Penjara, atau sarapan gratis yang enak ini?"

Skakmat.

Larasati serasa disambar petir di pagi yang cerah ini. Rencana balas dendamnya hancur lebur, berbalik menghantam wajahnya sendiri dengan telak. Ia menatap piring nasi goreng seafood yang mewah itu seolah hidangan itu adalah tumpukan paku berkarat. Ia tahu persis seberapa banyak dosis obat urus-urus yang ia tuangkan ke sana. Jika ia memakannya, ususnya mungkin akan berontak hebat. Namun jika ia menolak, penjara adalah akhir dari segalanya. Hutang ayahnya tak akan terbayar, dan hidupnya akan hancur di balik jeruji besi.

Dengan tangan yang kini bergetar sangat hebat, Larasati meraih sendok dan garpu itu. Air mata keputusasaan kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia menatap Arjuna dengan tatapan memohon, namun pria itu hanya menyandarkan punggungnya di kursi dengan ekspresi datar yang sangat menikmati pertunjukan.

"T-Tuan... saya... saya mohon," cicit Larasati parau.

"Makan. Sekarang." Perintah Arjuna tak terbantahkan.

Sambil meneteskan air mata hangat, Larasati menyendok nasi goreng itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasanya luar biasa enak, bumbu Chef Anton memang juara. Namun di lidah Larasati, nasi goreng itu terasa seperti pasir berduri. Setiap kunyahan adalah siksaan batin. Ia terus menyendok, mengunyah, dan menelan dengan cepat sambil terisak pelan.

Arjuna memperhatikan dalam diam. Ia tidak tahu apa persisnya yang dimasukkan Larasati ke dalam makanan itu—mungkin ludah, mungkin kotoran, atau mungkin obat-obatan. Tapi melihat gadis itu ketakutan setengah mati untuk memakannya sendiri, Arjuna tahu instingnya seratus persen benar. Gadis ini berniat mengerjainya lagi.

"Minum juga jusnya. Sampai habis," titah Arjuna tak kenal ampun saat Larasati berhasil mengosongkan piring tersebut.

Larasati meraih gelas jus jeruk itu dan menegaknya rakus bagai orang kehausan di padang pasir, padahal dalam hati ia merutuki kebodohannya sendiri yang juga meneteskan obat pencahar ke dalam minuman tersebut. Selesai. Semuanya masuk sempurna ke dalam sistem pencernaannya. Bom waktu telah dipasang di dalam perutnya sendiri.

"Bagus," Arjuna tersenyum tipis, senyuman mematikan. "Ternyata kamu doyan juga. Karena kamu sudah memakan sarapanku, sekarang pergilah ke dapur dan suruh Chef Anton membuatkan porsi yang baru untukku. Dan ingat, Larasati, jangan pernah berpikir untuk bermain api denganku. Kamu hanya akan membakar dirimu sendiri. Pergi sana."

Larasati tidak menjawab. Ia buru-buru meletakkan gelas kosong itu ke atas nampan, membungkuk sekilas dengan kaku, lalu membalikkan badan dan berlari keluar dari balkon secepat kilat.

Saat menuruni tangga, Larasati sudah merasakan perutnya bergolak. Sensasi hangat dan mulas yang aneh mulai menjalar di area perut bawahnya. "Gawat... gawat, gawat, gawat! Obatnya bereaksi cepat banget!" gumamnya panik sambil memegangi perutnya.

Ia langsung berlari menuju dapur, meneriakkan pesanan baru kepada Chef Anton dengan tergesa-gesa. "Chef! Nasi goreng satu lagi buat Tuan Muda! Agak cepet ya, Chef!"

Setelah itu, Larasati melesat menuju lorong belakang dapur, tempat di mana terdapat sebuah kamar mandi khusus untuk para pelayan yang sedang bertugas. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai mengucur dari dahinya. Perutnya berbunyi nyaring, "Krucuk... krucuk... blup... blup..."—suara mengerikan bagaikan monster raksasa yang sedang mengamuk di dalam ususnya.

Larasati menerjang pintu kamar mandi, masuk ke dalam, dan mengunci pintunya rapat-rapat. Ia langsung mendudukkan dirinya di atas kloset duduk tersebut tepat pada waktunya.

"Aaaarghh... mati aku!" jerit Larasati tertahan, mencengkeram erat pinggiran kloset saat gelombang pertama dari efek obat pencahar itu menyerang sistem pembuangannya dengan brutal. Rasa sakit di perutnya luar biasa melilit, seolah ususnya sedang dipelintir dan diperas. Ia merintih, berkeringat, dan mengutuki kebodohannya berulang kali. Ini benar-benar definisi dari senjata makan tuan. Ia berniat menyiksa sang tiran, namun ia sendirilah yang kini meregang nyawa di atas kloset sempit ini.

Lima belas menit berlalu. Gelombang pertama akhirnya mereda. Larasati mengatur napasnya yang tersengal. Seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga. Rasanya separuh dari cairan tubuhnya telah terkuras habis.

"Ugh... akhirnya selesai juga. Cukup, aku tidak mau balas dendam lagi. Setidaknya hari ini," gumamnya dengan suara sangat lemah. Ia memutar tubuhnya dan menekan tuas flush pada kloset.

Tidak terjadi apa-apa.

Larasati mengerutkan kening. Ia menekan tuas itu lagi, kali ini lebih keras. Masih tidak ada air yang keluar. Tidak ada suara gemericik. Kloset itu mati total.

Panik mulai merayapi benaknya. Ia buru-buru meraih selang bidet di samping kloset dan menekan gagangnya. Kosong. Hanya terdengar suara desisan angin kecil. Ia berdiri, meski lututnya gemetar, lalu melangkah ke wastafel kecil di sudut kamar mandi dan memutar kerannya hingga maksimal.

Kering. Tidak setetes pun air yang menetes dari keran tersebut.

"T-tidak mungkin... jangan bilang airnya mati," Larasati bergumam dengan mata membelalak lebar penuh teror. Ia terjebak di dalam kamar mandi pelayan yang pengap, dengan kotorannya sendiri yang belum disiram di dalam kloset, dan tanpa air setetes pun untuk membersihkan dirinya. Ini adalah skenario terburuk dari mimpi paling buruk.

Larasati mulai menggedor pintu kamar mandi dengan panik. "Tolong! Ada orang di luar? Tolong! Airnya mati! Maya! Bu Inggit! Tolong ambilkan air seember!" teriaknya histeris.

Namun, yang terdengar dari balik pintu bukanlah suara Maya atau pelayan lainnya. Melainkan suara langkah kaki pria yang tegas, berat, dan tenang. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamar mandi tempat Larasati terkurung.

"Tidak ada yang akan membantumu, Nona Gayung."

Suara bariton yang berat, dalam, dan diiringi nada ejekan yang sangat kental itu menembus pintu kayu, membekukan darah di nadi Larasati seketika. Itu suara Arjuna Dewantara.

Larasati terkesiap. Ia menempelkan telinganya ke pintu. "T-Tuan Muda? Apa yang Anda lakukan di sini? Kenapa airnya mati, Tuan?"

Terdengar suara tawa pelan dari luar. Arjuna berdiri dengan santai di depan pintu kamar mandi, menyandarkan sebelah bahunya ke dinding lorong. Setelah memaksa Larasati memakan hidangan itu, instingnya mengatakan bahwa gadis itu akan segera membutuhkan toilet. Arjuna turun dari lantai dua dengan tenang, menuju ke ruang utilitas di bagian belakang rumah, dan dengan sangat sengaja mematikan keran saluran air utama yang mengalir khusus ke blok kamar mandi pelayan dan area pencucian kotor.

"Kenapa airnya mati? Pertanyaan yang sangat bodoh," jawab Arjuna santai. "Bukankah sebulan yang lalu kamu juga sangat marah padaku di kafe karena aku masuk ke bilikmu dengan alasan air di toilet pria mati? Jadi, aku pikir, aku akan memberikanmu pengalaman nostalgia yang sangat otentik. Air di kamar mandi itu mati karena aku yang memutar tuas utamanya dari luar."

Dada Larasati sesak luar biasa. Rasa malu, marah, dan jijik pada dirinya sendiri bercampur aduk menjadi satu. Pria ini tidak hanya cerdas membaca rencananya, tapi juga satu langkah lebih kejam dalam membalas dendam. Pria ini telah merencanakan penyiksaan mental dan fisik ini dengan sempurna.

"T-Tuan! Tolong nyalakan lagi airnya! Saya mohon! Di dalam sini sangat bau, dan... dan saya harus membersihkan diri! Saya janji tidak akan pernah mencoba mengerjai Anda lagi. Saya bersumpah!" Larasati menangis histeris, menggedor-gedor pintu dengan sisa tenaga di kedua tangannya yang gemetar.

"Menyalakan airnya? Hmm, biarkan aku berpikir sebentar," ucap Arjuna dengan nada mengejek yang dibuat-buat, berpura-pura sedang menimbang-nimbang sebuah keputusan besar. "Tidak mau. Aku lebih suka mendengarmu mengemis dan membusuk di dalam sana. Anggap saja ini balasan yang setimpal untuk pukulan gayungmu dan obat pencahar murahan yang kau taruh di sarapanku."

"Tuan Arjuna, Anda gila! Anda iblis! Tolong keluarkan saya dari sini!" jerit Larasati putus asa, kakinya menyerah dan ia jatuh terduduk di lantai kamar mandi yang dingin, menangis tersedu-sedu sambil menutupi hidungnya.

"Nikmatilah aromamu sendiri, Larasati. Mungkin kamu bisa merenungkan kesalahanmu di dalam sana selama satu atau dua jam ke depan. Jangan khawatir, aku sudah memberitahu Bu Inggit bahwa area belakang ini sedang dibersihkan dengan bahan kimia berbahaya, jadi tidak akan ada pelayan yang berani lewat sini untuk menolongmu," jelas Arjuna dengan nada kemenangan absolut.

Setelah menyampaikan kalimat perpisahan yang kejam itu, terdengar derap langkah kaki Arjuna yang berjalan menjauh, kembali ke ruang utamanya dengan perasaan puas yang luar biasa. Hatinya bersorak. Pagi ini benar-benar pagi yang indah bagi sang tuan muda.

Di dalam kamar mandi sempit yang pengap itu, Larasati menangis sesenggukan sendirian. Perutnya kembali bergejolak, menandakan gelombang kedua dari obat pencahar itu bersiap untuk menyerang. Larasati menyeret tubuhnya kembali ke atas kloset. Di tengah rasa sakit perut yang menyiksa, ketiadaan air, dan aroma yang mencekik, Larasati mengutuk hari di mana ia dilahirkan.

Ia telah kalah telak. Senjatanya sendiri telah merobek ulu hatinya. Namun, di antara isak tangis dan rintihannya di atas kloset itu, sebersit kebencian yang jauh lebih besar tertanam di hatinya. Perang ini belum usai. Arjuna Dewantara telah memenangkan dua pertempuran berturut-turut, namun Larasati bersumpah dengan segenap sisa nyawanya, ia akan membuat pria arogan itu bertekuk lutut memohon ampun padanya suatu hari nanti. Apa pun caranya.