Satu jam yang terasa seperti satu abad berlalu dengan sangat lambat di dalam kamar mandi pelayan yang pengap itu. Larasati duduk meringkuk di sudut ruangan, memeluk kedua lututnya yang gemetar dengan sisa tenaga yang ia miliki. Keringat dingin telah mengering di keningnya, meninggalkan rasa lengket yang tak nyaman, bercampur dengan sisa-sisa air mata keputusasaan yang mengering di pipinya. Udara di sekitarnya terasa sangat berat dan mencekik, sementara perutnya masih sesekali mengeluarkan bunyi gemuruh samar, meski seluruh isinya seolah sudah terkuras habis tak bersisa.
Di tengah kesunyian yang menyiksa itu, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat dari arah lorong luar, disusul oleh suara panggilan yang terdengar sangat familier dan melegakan.
"Laras? Larasati! Kamu di dalam, Ras?" Suara Maya yang melengking panik terdengar teredam dari balik pintu kayu tebal tersebut.
"May... Maya... tolong aku, May," suara Larasati terdengar sangat parau, nyaris seperti cicitan tikus yang tercekik. Ia memukul pintu dengan sisa tenaga di telapak tangannya. "Tolong buka pintunya. Airnya mati, May."
Terdengar suara dentingan kunci gembok dan tuas yang diputar paksa dari luar. Pintu akhirnya terbuka lebar, membawa serta embusan udara segar dari lorong yang terasa bak oksigen murni bagi paru-paru Larasati. Maya berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat pasi dan mata membulat sempurna melihat kondisi sahabat barunya yang sangat mengenaskan. Tanpa memedulikan aroma tak sedap yang menguar dari dalam, Maya segera menerobos masuk dan berlutut di samping Larasati.
"Ya Tuhan, Laras! Kamu kenapa bisa sampai begini? Aku mencarimu ke mana-mana dari tadi! Kulihat pintu area belakang dikunci dari luar, dan Bu Inggit bilang ada penyemprotan bahan kimia, tapi aku merasa ada yang tidak beres karena aku tidak melihat satu pun petugas kebersihan," cerocos Maya dengan nada cemas yang kental sambil membantu Larasati berdiri. Maya memapah tubuh Larasati yang kini seringan kapas.
"Aku... aku dikerjai lagi, May," bisik Larasati dengan sisa napasnya. "Nanti kuceritakan. Tolong, bawakan aku seember air dari depan. Aku harus membersihkan diri. Aku merasa sangat kotor dan menjijikkan."
Maya mengangguk cepat, air mata ikut menggenang di pelupuk matanya melihat penderitaan Larasati. "Tunggu di sini sebentar, Ras. Jangan ke mana-mana. Aku akan ambilkan air dan pakaian gantimu."
Sore itu, setelah berhasil membersihkan diri dan diselundupkan kembali ke kamar asramanya oleh Maya tanpa ketahuan pelayan lain, Larasati terbaring tak berdaya di atas ranjang kasur busanya yang tipis. Tubuhnya menggigil pelan, efek dari dehidrasi ringan akibat terkurasnya cairan tubuh oleh obat pencahar sialan itu. Maya telah memberikannya segelas besar teh manis hangat dan sepotong roti tawar gandum untuk mengembalikan staminanya.
Larasati menatap langit-langit kamar asrama dengan pandangan kosong. Rasa sakit di perutnya perlahan mulai mereda, namun luka di harga dirinya akibat penghinaan demi penghinaan yang dilakukan oleh Arjuna Dewantara semakin menganga lebar. Pria itu bukan sekadar arogan; ia adalah seorang sosiopat yang menikmati penderitaan orang lain. Namun, kejadian hari ini telah memberikannya sebuah pelajaran yang sangat berharga. Jika ia ingin melawan monster, ia tidak bisa menggunakan cara-cara bodoh dan impulsif seperti meracuni makanan. Ia harus jauh lebih pintar, lebih licik, dan lebih sabar. Ia akan menunggu saat yang tepat, saat di mana Arjuna lengah, dan di saat itulah ia akan memukul telak tepat di titik terlemah pria itu.
Keesokan paginya, suasana di kediaman Dewantara terasa sedikit berbeda. Sejak pukul enam pagi, para pelayan sudah sibuk berlalu-lalang menyiapkan segala keperluan sang tuan muda yang akan memulai hari pertamanya bekerja di perusahaan sang ayah.
Di lantai dua, Arjuna Dewantara melangkah keluar dari kamar pribadinya dengan aura wibawa yang memancar kuat. Pria tampan itu mengenakan setelan jas three-piece khusus rancangan desainer ternama dari Italia. Warna biru navy gelap pada jasnya sangat kontras dengan kemeja putih bersih di bagian dalam, dipadukan dengan dasi sutra berwarna marun yang diikat dengan simpul Windsor yang sempurna. Rambutnya disisir rapi ke belakang dengan gel pomade mahal yang menebarkan aroma maskulin yang segar dan elegan. Hari ini, ia bukan lagi sekadar pemuda pewaris harta kekayaan; hari ini ia adalah calon raja yang akan segera menduduki singgasananya.
Sebuah mobil sedan mewah keluaran terbaru asal Jerman warna hitam legam telah menunggunya di pelataran depan, lengkap dengan supir pribadi yang membukakan pintu untuknya. Perjalanan menuju kawasan pusat bisnis Sudirman, Jakarta, di mana kantor pusat Dewantara Heavy Equipment berada, memakan waktu sekitar empat puluh lima menit. Gedung pencakar langit yang seluruh dinding luarnya dilapisi kaca reflektif itu berdiri angkuh, memantulkan sinar matahari pagi dan menjadi simbol kekuasaan keluarga Dewantara di industri alat berat nasional.
Setibanya di lobi utama yang berlapis marmer mewah, kedatangan Arjuna disambut dengan barisan para jajaran direksi dan manajer tingkat atas yang menunduk hormat. Suasananya persis seperti penyambutan di rumah, hanya saja kali ini dalam skala korporat yang jauh lebih formal dan kaku. Arjuna membalas sapaan mereka dengan anggukan singkat dan senyuman tipis yang sangat profesional. Langkah tegapnya menggema di seluruh lobi hingga ia memasuki lift VIP khusus yang langsung membawanya melesat ke lantai paling atas, lantai penthouse eksekutif.
Di ruang kerja utama yang luasnya menyamai sebuah lapangan basket indoor itu, Bapak Surya Dewantara sudah menunggu di balik meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni langka. Pria paruh baya itu masih terlihat sangat gagah dan berwibawa meski guratan usia mulai tampak di wajahnya. Mata tajam Bapak Surya menatap putranya dari atas ke bawah, menilai penampilan dan kesiapan sang pewaris tunggal.
"Kamu terlihat siap, Juna," ucap Bapak Surya dengan suaranya yang berat dan menggelegar, khas seorang pemimpin perusahaan raksasa.
"Tentu saja, Ayah. Aku sudah mempersiapkan diri untuk hari ini sejak bertahun-tahun yang lalu selama masa studiku di London," jawab Arjuna penuh percaya diri. Ia melangkah mendekat dan duduk di kursi kulit mewah berhadapan dengan ayahnya.
Bapak Surya mengangguk puas. "Bagus. Mulai hari ini, kamu akan menjabat sebagai Wakil Direktur Utama. Kamu akan mengambil alih pengawasan langsung untuk proyek-proyek ekspansi tambang kita di Kalimantan dan Sumatera. Ini bukan tugas yang mudah. Banyak rekan bisnis, pemegang saham, dan lawan politik yang akan mencari celah untuk menjatuhkanmu karena mereka menganggapmu terlalu muda dan belum berpengalaman."
"Mereka boleh mencoba, Ayah. Aku akan pastikan mereka tahu bahwa darah Dewantara mengalir deras di nadiku," sahut Arjuna dengan sorot mata yang menajam, memancarkan ambisi yang sangat besar.
"Aku tidak meragukan kemampuan bisnismu, Juna. Otakmu cemerlang," Bapak Surya menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangannya di depan perut. "Namun, dalam dunia bisnis tingkat tinggi, kecerdasan saja tidak cukup. Kamu butuh relasi, koneksi, dan sekutu yang kuat. Untuk itulah, hari ini aku telah menyiapkan sebuah 'hadiah' khusus untuk membantu memuluskan langkah pertamamu di kantor ini."
Arjuna mengerutkan keningnya, sedikit penasaran dengan apa yang dimaksud oleh ayahnya. "Hadiah? Ayah memberikanku asisten senior yang berpengalaman? Atau mungkin tim analis pasar yang baru?"
Sebelum Bapak Surya sempat menjawab, pintu ganda ruang kerja itu tiba-tiba terbuka dari luar, tanpa ada ketukan terlebih dahulu. Hal itu sontak membuat Arjuna terkejut karena tingkat keamanan di lantai ini seharusnya sangat ketat.
Dari balik pintu, melangkah masuk seorang wanita muda dengan penampilan yang... sangat menyilaukan mata. Wanita itu memiliki rambut cokelat pirang hasil pewarnaan salon mahal yang digerai bergelombang sempurna menuruni punggungnya. Ia mengenakan dress ketat sebatas paha berwarna merah menyala yang mencetak lekuk tubuhnya dengan sangat jelas, dipadukan dengan sepatu hak tinggi stiletto Christian Louboutin yang berbunyi tajam saat beradu dengan lantai marmer. Aroma parfum Baccarat Rouge yang disemprotkan secara berlebihan seketika menyerbu seisi ruangan, mengalahkan wangi pengharum ruangan alami yang ada di sana.
"Surpriseee!! Juna baby! Aku merindukanmu!" jerit wanita itu dengan suara melengking tinggi yang sangat menyakitkan telinga. Tanpa peduli dengan keberadaan Bapak Surya dan suasana kantor yang seharusnya formal, wanita itu setengah berlari menghampiri Arjuna dan langsung mengalungkan kedua lengannya ke leher pria itu dari belakang.
Arjuna tersentak mundur, menahan napas karena aroma parfum yang mencekik hidungnya, dan dengan cepat, namun tetap berusaha sopan, melepaskan lengan wanita itu dari lehernya. Ia menatap sosok wanita menor di hadapannya dengan ekspresi horor yang tidak bisa disembunyikan.
"Felicia?!" desis Arjuna kaget.
Felicia tersenyum manja, memamerkan deretan giginya yang putih bersih dengan polesan lipstik merah merona yang sangat tebal. "Iya, ini aku, sayang! Ya ampun, kamu makin tampan saja setelah pulang dari London. Aku sampai nyaris tidak bisa tidur semalaman membayangkan hari ini."
Arjuna menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan menuntut penjelasan, alisnya bertaut tajam. "Ayah... apa maksudnya ini? Kenapa Felicia ada di kantorku di hari pertama aku bekerja?"
Bapak Surya berdehem pelan, berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi sangat canggung. Ia menatap putranya dengan tatapan penuh arti, tatapan seorang pebisnis yang sedang memaksakan sebuah kesepakatan politik.
"Juna, perkenalkan, ini adalah Felicia Handoko. Dia akan menjadi Sekretaris Pribadimu mulai hari ini," ucap Bapak Surya dengan nada datar namun tidak menerima bantahan.
Arjuna merasa kepalanya baru saja dihantam palu godam raksasa. "Sekretaris pribadi?! Ayah, ini pasti lelucon yang sangat buruk! Aku butuh sekretaris profesional yang paham membaca laporan neraca keuangan, menganalisis fluktuasi saham, dan mengatur jadwal meeting eksekutif. Bukan... bukan seseorang yang datang ke kantor memakai gaun pesta seperti ini!" protes Arjuna dengan suara yang ditekan, berusaha menjaga volume suaranya agar tidak membentak di depan Felicia.
Senyum manja Felicia seketika luntur. Ia memanyunkan bibirnya dengan gaya kekanak-kanakan, merengek ke arah Bapak Surya. "Om Surya... lihat tuh Juna! Masa dia bilang penampilanku kayak mau ke pesta? Ini kan baju desainer asli dari Paris, Om. Spesial aku beli buat hari pertamaku kerja dampingin Juna."
Bapak Surya memijat pelipisnya perlahan, lalu memberikan isyarat dengan matanya agar Felicia keluar sebentar. "Felicia, nak, tolong kamu tunggu di ruangan Juna di sebelah ya. Ruangannya sudah disiapkan lengkap dengan meja kerja barumu. Om mau bicara berdua dulu dengan Juna sebentar."
"Baiklah, Om. Juna, aku tunggu di sebelah ya, sayang. Jangan lama-lama!" Felicia mengedipkan sebelah matanya ke arah Arjuna, meniupkan ciuman jauh, lalu berjalan keluar ruangan dengan lenggak-lenggok pinggul yang sengaja dilebih-lebihkan.
Begitu pintu tertutup rapat, Arjuna langsung menggebrak meja kerja ayahnya dengan kedua telapak tangannya. "Ayah, apa-apaan ini?! Ayah tahu sendiri aku paling tidak suka dengan Felicia sejak kita masih remaja! Dia itu anak manja, agresif, dan sama sekali tidak punya otak bisnis. Bagaimana bisa Ayah menempatkannya sebagai sekretaris pribadiku? Ini akan menghancurkan citra profesionalku di hari pertama!"
Bapak Surya menatap putranya dengan tajam, auranya sebagai sang penguasa tertinggi kembali menguar. "Duduk, Juna! Jangan meninggikan suaramu padaku di kantorku sendiri!"
Arjuna mendengus kasar, namun ia terpaksa menuruti perintah ayahnya dan kembali menjatuhkan dirinya ke atas kursi dengan kasar.
"Dengarkan aku baik-baik, Arjuna," Bapak Surya mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya merendah menjadi bisikan penuh rahasia dan taktik. "Ayah Felicia, Pak Handoko, adalah pemegang konsesi lahan terbesar di proyek tambang Kalimantan yang akan kamu pimpin. Perusahaannya menyuntikkan dana investasi sebesar tiga puluh persen dari total modal awal kita. Pak Handoko baru saja mengajukan syarat pertambahan investasi dengan satu klausul khusus: dia ingin putrinya, Felicia, bekerja di bawah bimbinganmu langsung."
"Itu pemerasan, Ayah! Dia hanya ingin mendekatkan putrinya yang gila harta itu denganku," desis Arjuna penuh kebencian.
"Itu namanya diplomasi bisnis, Juna!" potong Bapak Surya tegas. "Pak Handoko sangat menyukaimu dan berharap suatu hari nanti kedua perusahaan raksasa ini bisa bergabung lewat jalur pernikahan. Aku tidak menyuruhmu menikahinya besok. Aku hanya menyuruhmu menerimanya sebagai sekretaris agar proyek triliunan rupiah kita di Kalimantan berjalan lancar tanpa hambatan regulasi dari pihak Pak Handoko. Bersikaplah manis padanya di depan publik. Anggap saja dia pajangan di kantormu. Urusan dokumen penting, kau bisa serahkan pada asisten manajermu yang lain. Mengerti?"
Arjuna memejamkan matanya rapat-rapat, mengusap wajahnya dengan kasar. Ia terperangkap. Ia tidak punya pilihan lain selain menurut jika ia tidak ingin dituduh sebagai anak yang menghancurkan megaproyek perusahaan di hari pertamanya bekerja. Dengan berat hati, ego yang terluka, dan perasaan muak yang luar biasa, Arjuna menganggukkan kepalanya perlahan.
"Baik. Aku akan menerimanya sebagai sekretaris. Tapi Ayah harus ingat, aku tidak berjanji akan bersikap lemah lembut padanya jika dia sudah mulai melewati batas urusan pribadiku," ancam Arjuna dingin, sebelum ia berdiri dan melangkah keluar dari ruangan ayahnya dengan perasaan dongkol yang menggunung.
Setibanya di ruang kerja pribadinya sendiri yang letaknya bersebelahan dengan ruangan ayahnya, Arjuna mendapati Felicia sudah duduk dengan sangat tidak sopan di atas meja kerja mahalnya. Wanita itu sedang asyik mengikir kukunya yang panjang, kaki jenjangnya disilangkan dan diayun-ayunkan dengan santai.
Begitu melihat Arjuna masuk, Felicia langsung melompat turun dan menghampirinya. "Juna! Akhirnya kamu datang juga. Lihat deh, ruanganmu besar banget! Tapi agak terlalu kaku ya warnanya gelap semua. Nanti aku mau pesen bunga mawar merah yang banyak buat ditaruh di sini biar lebih romantis suasananya."
"Ini kantor, Felicia, bukan hotel bintang lima," ketus Arjuna seraya berjalan menghindari wanita itu, lalu duduk di kursi kebesarannya. Ia menghidupkan layar komputernya dan berusaha memfokuskan pandangannya pada grafik penjualan, mengabaikan eksistensi wanita di ruangan itu.
Namun, Felicia bukanlah tipe wanita yang bisa diabaikan begitu saja. Ia tidak mengerti arti kata 'penolakan' atau 'ruang personal'. Bukannya duduk di meja sekretaris yang sudah disiapkan untuknya di sudut ruangan, Felicia justru menarik sebuah kursi tamu dan duduk tepat di samping Arjuna. Sangat dekat, hingga lengan mereka nyaris bersentuhan.
"Juna, kamu lagi lihat apa sih? Pusing banget lihat angka-angka begitu," rengek Felicia sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Arjuna, dengan sengaja memamerkan belahan dadanya yang mengintip dari balik gaun ketatnya. "Gimana kalau kita pergi lunch sekarang? Aku kenal restoran Prancis baru yang makanannya enak banget. Caviar-nya juara loh!"
"Ini baru jam sepuluh pagi, Felicia. Jam makan siang masih dua jam lagi. Dan aku punya setumpuk laporan yang harus kubaca. Kalau kamu memang sekretarisku, cobalah bersikap berguna. Tolong ambilkan berkas laporan kuartal ketiga dari lemari arsip itu," perintah Arjuna tanpa menoleh, suaranya sangat dingin.
Felicia mengerucutkan bibirnya. "Ih, kamu kok kaku banget sih jadi cowok. Berkas yang mana? Warnanya apa? Aduh, kuku aku baru aja di-manicure nih, nanti patah kalau buka-buka map tebal."
Arjuna menghentikan ketikan jarinya di atas keyboard. Ia menoleh menatap Felicia dengan rahang yang mengeras. Ia menarik napas panjang, sangat panjang, mencoba mengontrol emosinya agar tidak meledak dan mencekik wanita di sebelahnya ini. Bayangan wajah Pak Handoko dan nilai proyek triliunan rupiah berkelebat di benaknya, menahan laju amarahnya.
"Lupakan saja. Biar aku yang ambil sendiri nanti," desah Arjuna frustrasi.
Sepanjang sisa hari itu, kehidupan Arjuna di kantor berubah menjadi neraka jahanam. Felicia sama sekali tidak melakukan pekerjaan apa pun. Wanita itu hanya sibuk menelepon teman-teman sosialitanya, memesan kopi mahal, menyemprotkan parfum setiap setengah jam sekali yang membuat Arjuna nyaris muntah karena pusing, dan yang paling parah, terus-menerus mencari kesempatan untuk menyentuh fisik Arjunaβmulai dari memijat pundaknya secara tiba-tiba, hingga mencoba menyuapkan buah anggur saat Arjuna sedang fokus membaca dokumen.
Sikap agresif Felicia ini bukan hanya membuat Arjuna kesal, tapi juga memicu trauma psikologis tersembunyi yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Jauh di masa lalu, Arjuna pernah memiliki pengalaman yang sangat buruk dengan seorang wanita bernama Siska, mantan kekasihnya yang juga sangat agresif namun ternyata diam-diam berselingkuh dan mengkhianatinya dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Arjuna memiliki semacam fobia atau rasa jijik yang berlebihan terhadap wanita yang bertingkah terlalu murahan dan menempel padanya. Dan Felicia adalah wujud nyata dari segala hal yang ia benci pada sosok seorang wanita.
Pukul lima sore teng, Arjuna sudah tidak tahan lagi. Ia menyambar jas dan tas kerjanya, bergegas keluar ruangan sebelum Felicia sempat merengek minta diantar pulang.
"Aku ada urusan mendadak. Kamu pulang sendiri naik taksi," ucap Arjuna singkat tanpa menoleh ke belakang, meninggalkan Felicia yang berteriak memanggil namanya di koridor kantor.
Dalam perjalanan pulang menuju kediaman Dewantara, Arjuna menyandarkan kepalanya yang berdenyut hebat pada sandaran jok mobil yang empuk. Ia memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening akibat kombinasi stres pekerjaan dan teror parfum Felicia. Ia harus mencari cara untuk menyingkirkan wanita itu secepatnya. Jika ia memecatnya langsung, ayahnya akan murka dan proyek tambang akan terancam. Ia tidak bisa melawannya dengan kekerasan atau kata-kata kasar karena Felicia memiliki tameng tebal bernama "Putri Kesayangan Investor Utama".
Satu-satunya cara untuk membuat wanita agresif seperti Felicia mundur secara teratur adalah dengan menghancurkan egonya sebagai seorang wanita. Felicia adalah tipe wanita yang menganggap dirinya paling cantik, paling seksi, dan tidak ada pria yang bisa menolaknya. Bagaimana jika... bagaimana jika Arjuna menunjukkan pada Felicia bahwa ada wanita lain yang jauh lebih menarik perhatian Arjuna? Wanita yang statusnya bahkan jauh di bawah Felicia, sehingga membuat Felicia merasa terhina luar biasa karena dikalahkan oleh seseorang yang sangat tidak sepadan?
Mobil mewah Arjuna perlahan memasuki gerbang utama kediaman Dewantara dan berhenti dengan mulus di teras. Arjuna melangkah turun dari mobil, masih memikirkan ide kasarnya tersebut.
Saat ia berjalan melewati area taman samping menuju pintu samping rumah, pandangan matanya tanpa sengaja menangkap sebuah pemandangan yang seketika menghentikan langkah kakinya.
Di bawah rimbunnya pohon kamboja, agak jauh dari keramaian pelayan lain, tampak sosok Larasati. Gadis itu sedang berjongkok di dekat keran air taman, mencuci beberapa lap kotor bekas membersihkan debu. Larasati tampak sangat lelah setelah penderitaan panjangnya kemarin. Seragam hitam putihnya sedikit basah oleh cipratan air. Rambut panjangnya yang biasa diikat rapi kini dibiarkan dicepol asal-asalan dengan sebuah pensil kayu, membiarkan beberapa helai anak rambut jatuh membingkai wajah cantiknya yang tidak dipoles makeup sama sekali. Kulit wajah Larasati yang bersih, dengan hidung bangir dan bibir yang secara alami berwarna merah muda pucat, terlihat sangat kontras di mata Arjuna jika dibandingkan dengan wajah Felicia yang tertutup dempul bedak tebal dan riasan menor.
Meskipun status Larasati hanyalah seorang pelayan rendahan, seorang gadis miskin yang terjerat hutang, bahkan seorang gadis barbar yang pernah memukulinya dengan gayung... Arjuna tidak bisa menampik sebuah fakta objektif: gadis itu memiliki kecantikan natural yang sangat memikat.
Arjuna menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia mengamati setiap pergerakan Larasati dari kejauhan dengan tatapan mata elang yang tajam. Sebuah senyum miring, licik dan penuh perhitungan, perlahan terkembang di bibir sang tuan muda. Roda-roda gigi di otaknya yang jenius dan manipulatif mulai berputar menyusun sebuah skenario yang brilian.
Ia butuh sebuah tameng untuk menghalau Felicia. Ia butuh seorang wanita yang bisa ia kendalikan sepenuhnya, seorang wanita yang tidak memiliki kekuatan untuk menolak perintahnya karena terikat pada sebuah perjanjian atau hutang. Dan siapa lagi kandidat yang paling sempurna untuk peran itu selain pelayan rendahan yang saat ini nasibnya berada di ujung telunjuk Arjuna?
Larasati tidak menyadari bahwa dirinya sedang diamati. Gadis itu sedang mengeluh pelan, merutuki nasibnya sambil memeras lap kotor tersebut. Ia sama sekali tidak tahu bahwa badai yang jauh lebih besar dari sekadar hukuman es teler, topi gayung, atau insiden kamar mandi, kini sedang bergerak mendekatinya.
"Nona Gayung," gumam Arjuna pelan pada dirinya sendiri, senyum di bibirnya semakin melebar. "Sepertinya, mulai besok, kamu akan menjadi orang yang sangat berguna untukku. Mari kita lihat seberapa pintar kamu memainkan peran baru dalam sandiwara besarku ini."
Arjuna membalikkan badannya dan melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah yang jauh lebih ringan. Rasa sakit di kepalanya menguap begitu saja. Hari esok di kantor sepertinya tidak akan seburuk hari ini. Lagipula, apa gunanya memiliki kekuasaan penuh atas seorang pelayan yang keras kepala jika tidak dimanfaatkan untuk menyelamatkan hidup majikannya sendiri? Permainan babak baru antara sang tuan muda arogan dan gadis dapur yang tangguh itu pun kini bersiap untuk dimulai
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar