Matahari Jakarta baru saja merayap naik, tapi suhu di dapur Hani sudah menyentuh angka yang cukup untuk mematangkan telur di atas jidat seseorang. Aroma ragi dan mentega menyeruak, bertabrakan dengan bau asap knalpot dari arah pagar depan.

"HANIII! ITU ROTI APA BAN SEREP? BAU GOSONGNYA SAMPE RUMAH GUE!"

Hani, dengan daster batik yang bercak tepung di sana-sini, mendengus. Ia mematikan oven dengan kasar. "Berisik, Haikal! Ini namanya caramelized crust! Lo mana paham seni kuliner, taunya cuma ganti oli!"

Hani melongok dari jendela dapur. Di depan pagarnya, Haikal sedang nangkring di atas sebuah mobil bak terbuka yang entah dimodifikasi jadi apa. Ada lampu kelap-kelip dan speaker sebesar gaban di bak belakangnya.

"Seni kuliner matamu," Haikal melompat turun, giginya putih cemerlang kontras dengan kulitnya yang sedikit terbakar matahari. "Gue ke sini mau jemput Aleya. Tapi karena gue baik hati dan tidak sombong, gue mampir mau minta jatah preman. Mana rotinya?"

"Nggak ada! Gue lagi nggak mood jualan. Ini buat dimakan sendiri," ketus Hani, meski tangannya tetap cekatan memasukkan tiga buah cinnamon roll ke dalam plastik.

Tepat saat itu, sebuah mobil sedan putih yang mengkilapβ€”jenis mobil yang sepertinya dicuci tiga kali sehariβ€”berhenti di depan rumah sebelah. Soela turun dengan anggun. Rambutnya yang wavy tertata sempurna, kontras dengan Hani yang rambutnya dicepol asal-asalan menggunakan sumpit bambu.

"Pagi, Hani! Pagi, Kal!" sapa Soela dengan suara selembut sutra Amerika. "Ada apa sih pagi-pagi sudah simulasi kebakaran?"

Hani langsung meleleh. "Lala! Ih, baru balik dari butik atau mau ke sana? Cantik banget sih, heran gue. Kayak bukan temen main kelereng gue dulu."

"Baru mau berangkat, Han. Oh iya, ini ada oleh-oleh cokelat dari klien kemarin," Soela menyodorkan kotak cantik.

"Tuh, Kal! Belajar dari Lala! Sopan, baik, tidak menghina hasil karya orang," sindir Hani sambil menyambar cokelat itu.

"Halah, Lala mah emang bidadari nyasar di Rancamaya Indah. Kalau lo mah, Han, lebih ke... penjaga gerbang neraka bagian dapur," balas Haikal telak.

"KAL!" teriak Hani.

Tiba-tiba, suasana yang riuh itu mendadak hening. Seorang gadis mungil dengan kulit putih pucat keluar dari rumah di seberang. Ia memakai kemeja kerjanya yang rapi, tas laptop tersampir di bahu, dan wajah yang... datar. Sangat datar. Seolah-olah dia baru saja melihat hantu dan mutuskan untuk mengabaikannya.

Itu Aleya. Si anak tengah (secara fungsional) di geng mereka.

"Bisa pelankan volumenya? Saya sedang baca jurnal di jalan," ucap Aleya dingin. Matanya yang tajam menatap Haikal.

Haikal yang tadinya hebring langsung tegak gerak. "Eh, Ayang Aleya! Sudah siap? Yuk, naik 'Ksatria Baja Hitam' gue. Aman, rodanya enam, nggak bakal goyang kalau kena lubang Jakarta."

Aleya melirik kendaraan Haikal yang lebih mirip truk mini itu. "Haikal, secara aerodinamika, mobil ini tidak efisien. Secara estetika, ini bencana. Dan secara hukum, saya ragu ini punya izin trayek."

Hani tertawa terpingkal-pingkal. "Mampus lo, Kal! Skakmat!"

"Tapi solusinya," Aleya melanjutkan, membuat semua orang terdiam, "Kalau kita lewat jalan tikus di belakang pasar, kita bisa menghindari razia polisi dan sampai di kantormu dalam dua belas menit. Haikal, ambil kunci pas di jok belakang, baut kiri kamu longgar. Bahaya."

Haikal melongo, lalu memeriksa ban kirinya. "Anjir, bener! Kok lo tau, Al?"

Aleya hanya menaikkan kacamata dengan jari tengahnya (yang terlihat sangat tidak sengaja). "Bunyi frekuensinya beda. Ayo berangkat."

Sebelum mereka sempat bergerak, sebuah motor sport hitam berhenti dengan suara mesin yang halus namun bertenaga. Pengendaranya membuka helm, menyingkap wajah blasteran dengan rahang tegas dan mata yang dingin.

Vernon. Si bule Batak yang argumennya lebih tajam dari silet.

"Pagi-pagi sudah kumpul. Rapat RT atau mau demo?" tanya Vernon datar. Matanya langsung tertuju pada Soela. "La, butik lo hari ini tutup aja. Jalanan macet parah karena ada perbaikan pipa. Lo mending gue anter pake motor."

Hani berdehem kencang. "Ehem! Ada yang modus tapi gayanya sok asik nih."

Vernon melirik Hani dengan tatapan 'apa-lo-liat-liat'. "Kak Hani, mending urusin tuh roti yang baunya kayak ban kebakar. Polusi udara itu nggak baik buat paru-paru warga Rancamaya."

"Heh, Bule Nyasar! Ini tuh wangi karamel!" seru Hani tak terima.

Soela tersenyum canggung. "Makasih, Vernon. Tapi aku harus bawa mobil, banyak manekin yang mau dipindah."

"Gue bantuin. Gue pindahin manekinnya, lo duduk manis aja. Argumen ditolak, nggak ada negosiasi," ucap Vernon telak. Dia adalah pawang Soela, satu-satunya orang yang bisa membuat Soela yang lembut itu menurut (atau lebih tepatnya pasrah).

Hani memperhatikan mereka semua. Teman-temannya sejak kecil. Di Komplek Rancamaya Indah ini, mereka tumbuh besar. Dari zaman main petak umpet sampai sekarang main petak umpet dengan perasaan masing-masing.

"Eh, denger-denger," Haikal memulai gosip pagi dengan wajah misterius, "Miguel mau mampir ke sini nanti sore. Katanya mau balikin wadah bekel nyokap gue."

Mendengar nama Miguel, wajah Hani mendadak berubah. Dari yang tadinya 'preman dapur' jadi 'gadis remaja yang lagi jatuh cinta'. Pipinya merona, tangannya mendadak sibuk merapikan daster.

"Miguel? Si TTM-an abadi sama Si Noe itu?" Vernon menyela sambil menyandarkan motornya. "Han, saran gue sih, mending lo cari cowok yang punya pendirian. Miguel itu kayak statistik yang nggak punya standard deviation. Nggak jelas ujungnya."

"Sok tau lo! Dia itu baik, ganteng, mapan lagi!" bela Hani.

Aleya, yang sudah duduk di samping Haikal di mobil bak, menyahut pelan. "Hani, secara logika, pria yang terjebak dalam hubungan tanpa status selama lima tahun adalah pria yang takut akan komitmen atau memang tidak cukup menyukaimu untuk berubah. Kamu hanya buang-buang waktu."

Hani terdiam. Solusi Aleya selalu benar, tapi selalu menyakitkan.

"Udah, udah!" sapa Soela menengahi. "Semua orang punya waktunya masing-masing. Yuk, berangkat kerja. Han, semangat ya manggangnya!"

Satu per satu mereka bubar. Haikal dengan mobil anehnya yang mengeluarkan bunyi 'telolet', Vernon yang dengan protektif mengikuti mobil Soela dari belakang, dan Aleya yang tetap asyik membaca jurnal di tengah guncangan mobil Haikal.

Hani berdiri di depan pagarnya, memegang plastik roti gosong.

"Miguel ya..." gumamnya.

Ia tidak tahu, bahwa hari ini bukan hanya Miguel yang akan mengubah hidupnya. Di sebuah kafe di pusat kota, seorang pria bernama Ardiwinata sedang menyesap kopi hitamnya, melihat jadwal pertemuan, dan tanpa sengaja melihat foto profil sebuah usaha bakery kecil bernama "Hani’s Mood-Bread" di sebuah aplikasi pesan antar.

"Roti mood-moodan? Menarik," gumam Ardi dengan senyum tipis yang bisa membuat wanita usia berapa pun pingsan di tempat.

Kekacauan di Komplek Rancamaya Indah baru saja dimulai.