Aroma karbol murahan dan cat dinding yang mengelupas menjadi sambutan pertama saat Kholid melangkahkan kaki melewati gerbang besi berkarat itu. Matahari sore Jakarta sedang terik-teriknya, memanggang aspal jalanan di luar sana, namun begitu ia memijak teras ubin abu-abu bangunan ini, udara mendadak turun beberapa derajat. Terasa sejuk. Terlalu sejuk, mungkin, untuk sebuah bangunan tanpa ventilasi udara yang memadai.

Kholid menyeka keringat di pelipisnya, menarik koper hitam besarnya yang roda kirinya sudah macet. Suara gesekan plastik dan ubin menggema di lorong lantai dasar yang sepi. Bangunan ini hanya terdiri dari tiga lantai, berbentuk huruf U dengan sebuah pelataran semen di tengahnya. Sepi. Tidak ada suara televisi dari dalam kamar, tidak ada jemuran pakaian yang biasanya menghiasi pagar balkon, tidak ada bau masakan.

"Mas Kholid, ya?"

Kholid terkesiap. Ia menoleh dengan cepat ke arah meja kayu kecil di dekat tangga. Seorang pria paruh baya mengenakan kemeja batik pudar dan celana bahan warna gelap duduk di sana, memegang sapu lidi yang ujungnya sudah menipis. Pria itu tersenyum lebar. Terlalu lebar.

"Iya, Pak. Saya yang kemarin hubungi lewat pesan," jawab Kholid, berusaha menetralkan degup jantungnya. Ia sama sekali tidak mendengar langkah kaki pria itu mendekat, atau mungkin ia yang terlalu fokus pada kopernya.

"Panggil saja Tejo, Mas. Nggak usah pakai Pak," kekeh pria itu. Ia meletakkan sapunya dan berjalan mendekati Kholid. Langkahnya ringan, nyaris tanpa suara. "Kamar Mas Kholid di lantai tiga. Nomor 302. Pas di depan lift. Biar gampang kalau mau naik turun bawa barang. Mari, saya antar."

Kholid mengangguk, mengekor di belakang Tejo. Matanya tertuju pada pintu besi berwarna perak kusam di ujung lorong—sebuah lift. Untuk ukuran kosan tiga lantai dengan harga sewa di bawah standar pasar, keberadaan lift adalah sebuah kemewahan yang ganjil.

"Wah, ada liftnya juga ya, Mas Tejo. Lumayan buat saya yang sering bawa perlengkapan server," kata Kholid berbasa-basi sambil menunggu Tejo menekan tombol panah ke atas.

"Iya, Mas. Bekas bangunan lama ini. Pemilik yang dulu orangnya agak malas naik tangga," jawab Tejo santai. Senyum itu tidak pernah lepas dari wajahnya, seolah dipahat di sana.

Pintu lift terbuka dengan suara decitan logam yang ngilu di telinga. Kholid melangkah masuk. Ruangan di dalam lift itu sempit, lampunya berkedip pelan dengan cahaya kuning yang redup. Di panel tombol, hanya ada angka 1, 2, dan 3. Serta tombol buka-tutup pintu. Sederhana.

Begitu pintu tertutup, lift bergerak naik dengan lambat. Suara kabel baja yang menarik kotak besi itu berderit-derit, memecah kesunyian di antara mereka. Kholid menatap angka digital di atas pintu yang menunjukkan perpindahan lantai. Satu... Dua... Tiga.

Ting.

Pintu terbuka di lantai tiga. Lorongnya identik dengan lantai dasar. Sunyi, remang-remang, dan berbau kelembapan yang tertahan. Saat Kholid menarik kopernya keluar, ekor matanya menangkap sebuah pergerakan di ujung lorong.

Di depan kamar 308, seorang wanita berdiri mematung. Rambutnya lurus sebahu, sedikit berantakan. Ia mengenakan daster pudar bermotif bunga. Yang membuat langkah Kholid terhenti adalah tatapan wanita itu. Matanya cekung, gelap, dan menatap lurus ke arah Kholid dengan kekosongan yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia tidak berkedip. Tangannya mencengkeram kenop pintu kamarnya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Oh, itu Mbak Maemunah," suara Tejo memecah lamunan Kholid. Pria itu sudah berdiri di depan kamar 302, memasukkan kunci ke dalam lubangnya. "Penghuni lama. Orangnya memang agak pendiam, Mas. Jangan terlalu dipikirkan."

Kholid menoleh kembali ke ujung lorong, tapi wanita itu sudah tidak ada. Pintu kamarnya tertutup rapat. Hanya kesunyian yang tersisa.

"Ini kamarnya, Mas," Tejo mendorong pintu kayu itu terbuka. "Kalau ada apa-apa, saya biasanya ada di bawah. Atau ketuk saja kamar saya di ujung dekat tangga lantai dasar."

"Terima kasih, Mas Tejo."

"Sama-sama. Istirahat yang tenang ya, Mas." Tejo berbalik pergi, namun sebelum ia melangkah lebih jauh, ia menoleh sedikit melewati bahunya. "Di sini udaranya memang enak buat tidur nyenyak."

Kholid menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Sebagai seorang programmer freelance yang terbiasa berpikir logis, ia mencoba menepis perasaan tidak nyaman yang sejak tadi merayap di tengkuknya. Ini hanya kosan tua, pikirnya. Wajar kalau penghuninya sedikit aneh dan bangunannya berbau lembap. Harga sewa yang murah adalah kompensasi yang sepadan.

Malam pun turun dengan cepat. Kholid menghabiskan waktu berjam-jam menyusun setup kerjanya—dua monitor besar, keyboard mekanik, dan sebuah laptop. Ia menyeduh kopi hitam pekat, bersiap untuk lembur mengejar tenggat waktu sebuah proyek aplikasi web klien dari luar negeri.

Pukul 02:15 pagi. Jari-jari Kholid menari di atas keyboard. Suara ketikan yang berisik adalah satu-satunya hal yang menemani kesunyian kamarnya. Entah kenapa, kosan ini terasa mati. Bahkan suara jangkrik atau deru motor dari jalan raya tidak terdengar sama sekali. Hanya hening yang berdengung di telinga.

Kholid meregangkan punggungnya yang kaku, mengambil cangkir kopinya yang sudah dingin, dan menegaknya hingga tandas. Ia melirik ke arah pintu kamarnya. Celah di bawah pintu tidak menampakkan cahaya dari lorong. Mungkin lampu lorong dimatikan saat tengah malam, pikirnya.

Lalu, suara itu terdengar.

Dengungan mesin tua. Gesekan kabel baja.

Kholid menghentikan gerakan tangannya. Matanya menatap tajam ke arah pintu. Suara itu berasal dari luar kamarnya, tepat di seberang lorong. Suara lift yang sedang bergerak.

Bulu kuduknya meremang. Siapa yang menggunakan lift jam dua pagi? Mungkin penghuni lantai dua yang baru pulang kerja, pikir Kholid mencoba rasional. Tapi suara derit kabel itu terus berlanjut. Tidak berhenti di lantai dua. Suaranya semakin jelas, semakin dekat, membawa getaran halus yang bisa dirasakan Kholid melalui lantai kamarnya.

Mesin itu menarik kotak besi perlahan menuju lantai tiga.

Kholid menahan napas. Ia berdiri dari kursinya tanpa menimbulkan suara. Entah dorongan dari mana, rasa penasarannya mengalahkan rasa lelahnya. Ia melangkah perlahan menuju pintu kamarnya, memutar kenop dengan sangat hati-hati, dan menarik pintu itu terbuka beberapa sentimeter. Ia mengintip keluar.

Lorong lantai tiga temaram, hanya diterangi satu lampu neon yang ujungnya menghitam, berkedip ritmis.

Di seberang kamarnya, pintu lift tertutup rapat. Namun layar digital di atasnya menyala merah. Angka itu bergerak.

Satu... Dua... Tiga.

Mesin lift berhenti berderit.

Ting.

Suara bel lift itu memecah keheningan dengan sangat nyaring, seolah sengaja diperkeras. Kholid menatap pintu lift itu tanpa berkedip. Menunggu siapa yang akan keluar. Lima detik berlalu. Sepuluh detik.

Pintu lift tidak terbuka.

Kholid mengerutkan kening. Apakah liftnya rusak? Ia membuka pintu kamarnya lebih lebar dan melangkah keluar dengan bertelanjang kaki. Udara lorong terasa menusuk kulit, jauh lebih dingin daripada sore tadi. Ia berjalan mendekati pintu lift yang diam itu.

Saat ia berdiri tepat di depan pintu lift, matanya tertuju pada panel display digital yang menempel di atas pintu. Napas Kholid seketika tercekat. Udara seakan ditarik paksa dari paru-parunya.

Angka di layar digital itu tidak menunjukkan angka 3.

Di sana, menyala dengan warna merah darah yang terang benderang, menembus kegelapan lorong yang temaram.

Angka 4.