Monitor Kholid menampilkan deretan kode yang tidak lagi bisa dicerna oleh otaknya. Kursor putih berkedip-kedip di baris ke-405, menunggu perintah yang tak kunjung diketikkan. Jam di pojok kanan bawah layar laptopnya menunjukkan pukul 02:45.
Ia tidak bisa tidur. Sejak kembali ke kamarnya setelah melihat tombol terkutuk itu, Kholid mengunci pintunya dua kali dan menyeret meja belajarnya untuk menahan daun pintu. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia berhalusinasi. Bahwa ia terlalu lelah. Bahwa stres dari pekerjaannya mulai memengaruhi kewarasannya.
Tapi logika itu hancur setiap kali ia mengingat tekstur cahaya merah yang memancar dari tombol angka 4. Itu terlalu nyata.
Kholid meraih cangkir kopinya, tangannya gemetar pelan hingga permukaan cairan hitam pekat di dalamnya beriak. Pukul 02:50.
Kos-kosan ini kembali ke dalam mode sunyi senyapnya. Keheningan yang tidak wajar. Kholid menyadari bahwa ia bahkan tidak mendengar suara embusan angin di luar jendela. Bangunan ini seolah terisolasi dalam gelembung kedap suara, memutuskan dirinya dari dunia luar saat malam larut.
Ia melirik jam lagi. 02:55.
Ada pola di sini, pikir Kholid. Otak programmernya mulai bekerja mengidentifikasi bug dalam realitas ini. Semalam, lift itu bergerak dan menunjukkan angka 4 di sekitar waktu yang sama. Jika malam ini hal yang sama terjadi... berarti ada pemicunya. Entah sistem mekanik yang diatur oleh timer, atau... hal lain yang lebih tidak masuk akal.
02:58.
Napas Kholid mulai memberat. Ia mematikan musik di laptopnya. Menghentikan semua bunyi di dalam kamarnya. Ia menajamkan pendengaran, memfokuskan seluruh indranya ke arah luar pintu kamarnya.
02:59.
Tik. Tok. Detak jam dinding murah di kamarnya bergema seperti pukulan palu. Keringat dingin mengucur di pelipisnya.
03:00.
Tepat saat angka di layar berubah, suara itu datang.
GRRRKKK.
Suara mesin lift menderu dari dalam porosnya. Kabel baja besar bergesekan dengan katrol raksasa di atas sana, menghasilkan suara rintihan logam yang panjang dan menyakitkan telinga. Kholid menelan ludah yang terasa tajam di tenggorokan.
Lift itu tidak naik dari lantai satu. Ia turun dari atas.
Logika Kholid menjerit. Ia ada di lantai tiga, lantai teratas. Tidak ada apa pun di atas sana selain atap genteng dan tangki air. Tapi suara mesin itu jelas berasal dari atas kepalanya, perlahan-lahan merambat turun, membawa beban yang berat di dalam kotaknya.
Kluk... Kluk... Kluk...
Itu suara rel pemandu lift yang bergesekan. Lift itu semakin dekat ke lantainya. Kholid bangkit berdiri dari kursinya dengan gerakan kaku seperti robot. Matanya terkunci pada pintunya sendiri. Rasa takut memintanya untuk tetap diam di dalam kamar, bersembunyi di bawah selimut hingga pagi tiba. Namun rasa penasarannya—insting manusianya untuk mencari tahu sumber ancaman—lebih kuat.
Ia menyingkirkan meja yang menghalangi pintu dengan susah payah. Tangannya yang dingin menggenggam kenop pintu, memutarnya perlahan agar engsel yang berkarat tidak berdecit. Ia menarik pintu terbuka.
Lorong itu kosong. Lampu neon di ujung lorong berkedip lebih cepat, seolah kehilangan daya listriknya. Suhu udara anjlok drastis, membuat napas Kholid membentuk uap putih tipis di udara.
Ia melangkah keluar dari kamarnya, berdiri tepat di depan pintu lift.
Layar digital di atas lift menyala terang. Warnanya bukan lagi merah, melainkan putih kebiruan yang dingin. Angkanya berubah-ubah dengan cepat, acak, sebelum akhirnya berhenti.
Ting.
Bel lift berbunyi. Kali ini suaranya tidak nyaring, melainkan teredam, seperti lonceng yang dipukul di dalam air.
Kholid mundur satu langkah. Otot kakinya menegang, siap untuk berlari kapan saja.
Pintu lift itu bergetar pelan. Lalu, dengan suara logam berat yang bergesekan dengan lantai beton, kedua daun pintunya mulai membuka secara perlahan. Sangat pelan. Membutuhkan waktu sepuluh detik penuh untuk terbuka sepenuhnya.
Kholid menahan napasnya. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat isi di dalam kotak besi itu.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa di dalam lift. Lampu kuning kusam di langit-langit lift menyala redup, menerangi dinding baja panel yang penuh dengan goresan-goresan panjang, seperti bekas kuku yang menggaruk paksa.
Namun bukan dinding lift itu yang membuat perut Kholid melilit ketakutan.
Melainkan cermin besar yang menempel di dinding belakang lift. Cermin itu memantulkan lorong lantai tiga yang sepi, memantulkan Kholid yang berdiri membeku dengan wajah pucat pasi. Tapi, ada sesuatu yang salah dengan pantulan itu.
Di dalam cermin, pintu kamar Kholid yang berada di belakangnya terbuka lebar. Dan di ambang pintu kamarnya, dalam pantulan cermin itu, berdiri sosok wanita dengan daster pudar bermotif bunga. Maemunah. Ia berdiri membelakangi Kholid, kepalanya menunduk, bahunya bergetar pelan.
Kholid tercekat. Dengan gerakan patah-patah dan lambat, ia memutar kepalanya ke belakang, melihat ke arah kamarnya sendiri.
Pintu kamarnya tertutup rapat. Tidak ada siapa-siapa di sana.
Ketika Kholid kembali menatap ke dalam cermin di dalam lift, pantulan Maemunah perlahan mengangkat kepalanya. Wajah wanita di dalam cermin itu tersenyum menyeringai ke arah Kholid, sementara tangannya perlahan terangkat, menunjuk lurus ke arah Kholid.
Bukan... sosok itu tidak menunjuk Kholid.
Di dalam cermin, di atas kepala Kholid, panel indikator lantai yang seharusnya menampilkan angka 3, kini menyala terang. Angka 4.
Dan saat Kholid masih membeku dalam kengeriannya, dari dalam lift yang kosong secara fisik itu, terdengar bisikan serak yang membelah udara dingin lorong, menyebut namanya.
"Kholid... masuklah..."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar