Matahari pagi menembus celah gorden kamar Kholid, menyilaukan matanya yang merah karena kurang tidur. Ia duduk di tepi kasur, mengusap wajahnya dengan kasar. Pikirannya masih berputar pada kejadian semalam. Angka 4. Ia yakin sekali melihat angka itu menyala di panel digital lift.

Tapi itu tidak masuk akal. Secara fisik, bangunan ini diakhiri oleh atap cor di atas lantai tiga. Kholid sendiri yang melihat bangunan ini dari luar saat pertama kali datang.

"Glitch," gumam Kholid pada dirinya sendiri. Sebagai programmer, ia tahu betul bagaimana sistem digital yang sudah berumur bisa menampilkan output yang kacau akibat korsleting atau error pada mikrokontrolernya. "Itu cuma layar LED yang rusak."

Mengandalkan logika tersebut, Kholid bangkit, membasuh wajahnya, dan keluar dari kamar. Ia butuh sarapan dan udara segar untuk mengusir sisa-sisa halusinasi semalam.

Lorong lantai tiga tampak normal di bawah cahaya pagi. Debu-debu halus menari di udara yang tersorot sinar matahari dari jendela ujung lorong. Kholid berjalan menuju lift. Langkahnya terhenti di depan pintu besi itu.

Ia menekan tombol panah ke bawah. Pintu lift terbuka seketika—lift itu ternyata sudah berada di lantai tiga sejak semalam. Kholid melangkah masuk. Hal pertama yang ia lakukan adalah menatap panel tombol di dinding lift.

Ada empat tombol berjejer vertikal. Tombol panah ganda untuk buka-tutup pintu, lalu angka 1, angka 2, dan angka 3 di paling atas.

Kholid meraba permukaan pelat logam di atas tombol angka 3. Halus. Rata. Tidak ada bekas tambalan, tidak ada ruang kosong yang disembunyikan. Secara desain pabrik, panel ini memang hanya dibuat untuk tiga lantai. Tidak ada tombol 4. Tidak ada instalasi kabel tambahan. Tidak mungkin ada lantai 4.

Ia menekan tombol 1 dengan perasaan lega sekaligus bodoh. Ia menertawakan dirinya sendiri yang sempat merinding semalam. Imajinasi memang liar jika tubuh kurang istirahat.

Lift membawanya turun. Di pelataran lantai dasar, ia melihat Tejo sedang duduk di kursi plastiknya, menyeruput kopi hitam dari gelas kaca sambil mendengarkan radio transistor tua yang menyiarkan lagu keroncong sayup-sayup.

"Pagi, Mas Kholid. Sudah bangun?" sapa Tejo riang. Matanya menyipit saat tersenyum.

"Pagi, Mas Tejo. Mau cari sarapan dulu ke depan," jawab Kholid. Ia menghentikan langkahnya sejenak, menoleh ke arah lift yang baru saja ia tinggalkan. "Oh ya, Mas. Liftnya itu memang sering error ya layarnya?"

Tejo meletakkan gelas kopinya dengan perlahan. Senyumnya tidak pudar, tapi Kholid bisa melihat ada jeda sepersekian detik sebelum pria itu menjawab.

"Error bagaimana maksudnya, Mas?"

"Semalam, sekitar jam dua atau jam tiga, saya dengar liftnya naik. Terus pas saya cek, layar di atas pintunya itu nunjukin angka 4. Padahal kan gedung ini cuma tiga lantai," Kholid tertawa kecil, berusaha membuat ceritanya terdengar seperti lelucon. "Kaget juga saya kirain ada lantai rahasia."

Tejo ikut tertawa. Suara tawanya serak dan kering, seperti daun bergesekan. "Oh, itu. Iya, Mas. Kabelnya konslet paling. Namanya juga barang tua, kadang layarnya suka ngaco nampilin garis atau angka yang nggak jelas. Biarin aja, Mas Kholid. Nggak usah dipikirin. Yang penting mesinnya masih kuat buat naik turun."

Kholid mengangguk pelan. Jawaban Tejo masuk akal, persis seperti hipotesisnya. Namun ada sesuatu pada cara Tejo menatapnya saat mengatakan itu—sebuah tatapan menilai, seolah Tejo sedang mengukur seberapa jauh Kholid mempercayai kebohongannya.

"Ya sudah, saya ke depan dulu ya, Mas," pamit Kholid, memutuskan untuk mengabaikan perasaan ganjil tersebut.

Sepanjang siang, Kholid menenggelamkan dirinya dalam barisan kode HTML, CSS, dan JavaScript. Layar monitornya penuh dengan sintaks berwarna-warni. Ia memakai headphone peredam bising, memutar musik instrumen lo-fi dengan volume maksimal. Ia ingin mengisolasi dirinya dari kesunyian bangunan ini.

Waktu berlalu tanpa terasa. Cahaya matahari di luar jendelanya perlahan meredup, digantikan oleh semburat jingga kemerahan, lalu akhirnya tertutup pekatnya malam. Pukul delapan malam. Kholid melepas headphone-nya dan merenggangkan leher. Perutnya berbunyi menuntut jatah makan malam.

Kamar kosnya terasa sumpek. Ia memutuskan untuk turun mencari makan malam sekalian merokok di teras bawah.

Ia membuka pintu kamarnya. Lampu neon lorong yang berkedip-kedip sudah menyala. Suasana kembali seperti semalam—sepi, lembap, dan dingin yang menusuk tulang. Kholid berjalan santai menuju lift.

Ia berdiri di depan pintu lift tertutup, mengangkat tangannya untuk menekan tombol panah ke bawah. Namun, jari telunjuknya terhenti di udara. Jaraknya hanya beberapa milimeter dari tombol plastik kusam itu.

Mata Kholid terpaku pada celah sempit di antara dua daun pintu lift. Ada udara dingin yang berhembus keluar dari celah itu, membawa aroma yang asing. Bukan bau karbol atau debu. Melainkan bau tanah basah. Bau bunga melati yang sudah layu. Bau kuburan.

Jantungnya mulai memompa darah lebih cepat. Ia menelan ludah, memaksa matanya bergerak naik, melewati pintu perak kusam itu, menuju panel layar digital di bagian atas.

Layar itu mati. Hitam pekat.

Kholid membuang napas panjang. Ia terlalu parno. Ia menekan tombol panah ke bawah.

Lampu di dalam tombol itu tidak menyala. Dan lift tidak memberikan respons suara derit mesin yang biasanya terdengar. Mesinnya mati.

"Sial, rusak beneran nih lift," umpatnya pelan.

Ia berbalik, bersiap berjalan menuju tangga di ujung lorong. Namun, saat tubuhnya berputar, ekor matanya menangkap sebuah cahaya merah yang tiba-tiba menyala dari arah panel di dalam lift. Kholid mengernyit. Bukankah pintunya tertutup? Bagaimana ia bisa melihat cahaya dari dalam?

Ia kembali menghadap ke lift. Pintu perak itu masih tertutup rapat. Tapi panel tombol panggilan di dinding sebelahnya—panel yang biasa ia tekan untuk memanggil lift—telah berubah.

Tubuh Kholid membeku. Darahnya terasa seperti es yang mengalir di pembuluhnya.

Di atas tombol panah ke atas dan ke bawah, tepat di bagian pelat baja yang seharusnya kosong... ada sebuah tombol baru.

Tombol bulat dari plastik mika, dengan lampu LED merah yang menyala perlahan, berkedip layaknya detak jantung yang lemah. Dan di tengah cahaya merah itu, tercetak jelas sebuah angka berwarna hitam.

Angka 4.

Tombol itu ada di sana. Timbul. Nyata. Kholid secara refleks memundurkan langkahnya hingga punggungnya menabrak pintu kamarnya sendiri. Matanya melebar, menatap tombol mustahil itu. Itu bukan glitch layar digital. Itu wujud fisik.

Dan seolah merespons ketakutan Kholid, dari balik pintu baja lift yang tertutup itu, terdengar suara tawa pelan. Suara seorang wanita. Lirih, parau, dan sangat dekat.