Sinar matahari menembus celah gorden, menyengat wajah Kholid hingga ia mengerjap bangun. Punggungnya terasa kaku dan nyeri. Ia baru menyadari bahwa ia tertidur di lantai, dengan punggung bersandar pada daun pintu kamarnya sendiri, kedua tangan masih memeluk lutut.

Ingatan semalam menghantamnya seperti pukulan godam. Layar menyala. Pintu lift terbuka lambat. Lift yang kosong. Dan pantulan di cermin—sosok Maemunah di ambang pintunya, tersenyum, dengan angka 4 menyala di atas kepala.

Kholid terlonjak berdiri. Ia memutar tubuhnya dan menatap pintu kayunya sendiri. Terkunci rapat. Meja belajarnya bahkan masih melintang menahan pintu dari dalam, persis seperti yang ia posisikan semalam sebelum rasa lelah dan teror menidurkannya secara paksa. Tidak ada yang masuk. Ia aman.

Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, menarik napas panjang. Udara di dalam kamar terasa pengap. Kholid melangkah menuju jendela, menyingkap gorden, dan membuka kaca nako lebar-lebar. Suara bising kendaraan dari jalan raya yang berjarak seratus meter dari kosan akhirnya terdengar samar-samar. Suara kehidupan. Suara realitas.

Namun, saat ia menoleh ke arah luar kamar, melalui celah ventilasi di atas pintu, kesunyian kosan ini kembali menyergapnya.

Kholid memutuskan untuk mandi, mencuci wajahnya dengan air dingin yang menggigit kulit, lalu berpakaian sekadarnya. Ia butuh kopi hitam dari warung depan, dan ia butuh melihat manusia lain untuk meyakinkan dirinya bahwa ia belum gila.

Ia menggeser meja belajarnya, membuka kunci, dan melangkah ke lorong lantai tiga.

Cahaya matahari pagi memang menerangi lorong itu, namun entah mengapa, tidak mampu mengusir nuansa suram yang menempel pada dinding-dindingnya yang mengelupas. Kholid berjalan menyusuri lorong menuju tangga, sengaja tidak menoleh ke arah pintu lift perak di seberang kamarnya.

Sambil berjalan, matanya mengamati deretan pintu kamar di lantai tiga. 301, 303, 304, 305... hingga 310. Kholid menghentikan langkahnya sejenak. Ia menyadari sebuah kejanggalan yang luput dari perhatiannya di hari pertama.

Tidak ada keset di depan pintu-pintu itu. Tidak ada rak sepatu plastik, tidak ada sandal jepit yang berserakan, tidak ada payung yang digantung di gagang pintu. Di kosan murah mana pun di Jakarta, lorong biasanya dipenuhi oleh barang-barang pribadi penghuninya yang meluber keluar kamar. Tapi di sini? Bersih. Terlalu bersih, seperti lorong rumah sakit yang sudah tidak beroperasi.

Ia turun ke lantai dua. Pemandangannya identik. Pintu-pintu tertutup rapat, sunyi senyap. Tidak ada suara gemercik air dari kamar mandi dalam, tidak ada alunan musik, tidak ada bau mie instan yang diseduh.

Apakah ia satu-satunya penghuni di bangunan sebesar ini?

Saat kakinya memijak anak tangga terakhir di lantai dasar, ia melihat Tejo. Pria paruh baya itu sedang mengelap meja kayunya dengan lap basah yang sudah menghitam. Radio transistor tuanya kembali menyala, menyiarkan tembang lawas yang suaranya timbul tenggelam karena sinyal yang buruk.

"Pagi, Mas Kholid. Tumben siang baru turun. Begadang kerjaan ya?" sapa Tejo riang, tidak repot-repot menatap Kholid dan terus menggosok noda tak kasat mata di mejanya.

"Pagi, Mas Tejo. Iya, ngejar deadline," jawab Kholid berbasa-basi. Ia berdiri di dekat meja Tejo, mengamati sekeliling pelataran bawah. Hanya ada satu motor matic terparkir di sana, dan itu miliknya. "Mas, saya mau nanya deh. Ini kosan... penghuninya pada ke mana ya? Sepi banget perasaan dari kemarin."

Gerakan tangan Tejo terhenti sejenak. Sangat singkat, hampir tidak terlihat, sebelum ia kembali mengelap meja dengan tempo yang sedikit lebih lambat.

"Oh, pada kerja, Mas," jawab Tejo santai. Senyum lebarnya kembali terpasang. "Banyak yang kerjanya shift malam, jadi siang pada tidur. Ada juga yang lagi dinas luar kota. Namanya juga orang merantau, jarang ada di kamar."

Logika Kholid menolak mentah-mentah jawaban itu. Sekalipun mereka tidur siang, tidak mungkin tidak ada jejak kehidupan sama sekali di depan kamar mereka. Dan satu gedung bekerja shift malam secara bersamaan?

"Gitu ya..." gumam Kholid, memutuskan untuk tidak mendesak. "Mbak Maemunah yang kemarin di lantai tiga, itu juga kerja malam?"

Tejo perlahan mengangkat wajahnya. Senyumnya masih ada, tapi matanya menatap Kholid dengan sorot yang sulit dibaca. Kosong, namun mengintimidasi.

"Mbak Maemunah itu... beda, Mas. Dia jarang keluar. Kalau bisa, Mas Kholid nggak usah terlalu sering ngajak ngobrol. Orangnya gampang kaget." Tejo memeras lap basahnya ke dalam ember kecil di bawah meja. Air keruh menetes dengan suara berisik. "Udah, Mas sarapan dulu sana. Nanti keburu siang panasnya minta ampun."

Kholid mengangguk pelan dan berjalan keluar gerbang. Perasaan tidak nyamannya semakin menebal.

Setelah menghabiskan seporsi bubur ayam di depan gang dan menenangkan sarafnya dengan sebatang rokok, Kholid kembali ke kosan. Udara di luar sudah sangat panas, namun begitu ia melewati gerbang besi itu, suhu kembali anjlok. Seolah bangunan ini memiliki iklim mikro sendiri yang menolak kehangatan matahari.

Ia menaiki tangga perlahan. Di lantai dua, langkahnya terhenti.

Di ujung lorong lantai dua, dekat tangga darurat yang jarang digunakan, berdiri seorang wanita. Daster bermotif bunga yang pudar. Rambut sebahu yang berantakan. Maemunah.

Wanita itu sedang memegang sebuah kantong plastik hitam kecil, menatap kosong ke arah dinding di depannya. Ia berdiri sangat kaku, nyaris seperti patung lilin yang diletakkan sembarangan.

Kholid ragu sejenak. Peringatan Tejo terngiang di kepalanya, tapi rasa penasarannya jauh lebih besar. Ia butuh jawaban dari penghuni lain. Ia melangkah perlahan mendekati wanita itu.

"Mbak... Maemunah?" sapa Kholid pelan, menjaga jarak sekitar dua meter.

Wanita itu tidak merespons. Bahunya pun tidak bergerak untuk bernapas.

"Mbak? Saya Kholid, penghuni baru di lantai tiga. Kamar 302." Kholid mencoba tersenyum, meski wajahnya pasti terlihat kaku.

Perlahan, sangat perlahan, kepala Maemunah menoleh. Suara tulang lehernya yang berderak halus seakan bisa terdengar di lorong yang sunyi itu. Ia menatap Kholid. Mata wanita itu tidak sekadar cekung; kantung matanya menghitam pekat seperti memar, dan pupil matanya membesar, nyaris menelan seluruh bagian putih matanya. Ekspresinya adalah perwujudan dari kelelahan yang absolut. Kelelahan yang bukan berasal dari kurang tidur, melainkan dari ketakutan yang menggerogoti jiwanya setiap detik.

"Kamu... di 302?" suaranya parau, serak, seolah pita suaranya jarang digunakan.

"Iya, Mbak. Tepat di depan lift," Kholid memaksakan tawa kecil yang terdengar sumbang. "Liftnya lumayan berisik ya kalau malam."

Begitu kata 'lift' keluar dari mulut Kholid, raut wajah Maemunah berubah drastis. Matanya melebar, napasnya tiba-tiba tersengal pendek. Kantong plastik di tangannya terjatuh ke lantai beton dengan bunyi berdesir pelan, menumpahkan beberapa butir kapur barus putih yang menggelinding ke arah sepatu Kholid.

Maemunah melangkah maju dengan cepat, memangkas jarak di antara mereka. Bau apak dan aroma tanah kering menguar dari pakaiannya. Kholid secara refleks memundurkan badannya, namun wanita itu tiba-tiba mengulurkan tangan kirinya yang kurus pucat, mencengkeram lengan kemeja Kholid dengan kekuatan yang tidak masuk akal untuk tubuh sekurus itu.

"Mbak—"

"Kamu dengar," bisik Maemunah. Suaranya bergetar hebat, matanya menatap liar ke sekeliling lorong seolah takut ada yang menguping. "Kamu sudah dengar mesinnya."

"M-maksudnya?" Kholid berusaha melepaskan cengkeraman itu, tapi jari-jari Maemunah sedingin es dan sekaku besi.

Maemunah menarik Kholid sedikit lebih dekat, wajahnya kini hanya berjarak satu jengkal. Kholid bisa melihat pembuluh darah halus yang pecah di bola mata wanita itu.

"Jangan pernah menatap layarnya kalau sudah lewat tengah malam," bisik Maemunah dengan nada yang nyaris seperti rintihan putus asa. "Dan kalau kamu dengar lift itu berhenti di lantaimu..."

Cengkeraman di lengan Kholid semakin menguat hingga ia meringis kesakitan.

"...jangan keluar kalau lift berhenti."