Peringatan Maemunah terus berputar di kepala Kholid layaknya baris kode infinite loop yang membuat komputernya crash. Jangan keluar kalau lift berhenti. Wanita itu melepaskan cengkeramannya sedetik setelah mengucapkan kalimat itu, lalu memungut plastik kapur barusnya dan berjalan tergesa-gesa menaiki tangga tanpa menoleh lagi, meninggalkan Kholid yang mematung dengan memar kebiruan yang mulai terbentuk di lengannya.
Kini, Kholid duduk di depan laptopnya. Layar menampilkan struktur database yang seharusnya ia selesaikan hari ini, tapi matanya tidak benar-benar membaca tulisan tersebut. Logikanya sedang bertarung hebat dengan instingnya.
Sebagai seorang pembuat sistem, ia percaya pada pola. Jika ada bug dalam sebuah program, tugasnya adalah melacak log aktivitas, melihat di mana titik kegagalannya, dan memperbaiki kodenya. Kosan ini punya bug. Angka 4 yang tidak seharusnya ada, lift yang bergerak sendiri pukul tiga pagi, dan penghuni yang bertingkah seolah mereka sedang diintai oleh sesuatu yang tak kasat mata.
Kholid mendongak, menatap ke arah ventilasi kamarnya. Di ujung lorong lantai tiga, tepat di atas tangga darurat, ia ingat pernah melihat sebuah kubah plastik hitam berdebu menempel di plafon. Sebuah kamera CCTV.
Jika Tejo bisa melihat rekaman itu, maka Kholid juga harus bisa melihatnya. Ia harus membuktikan bahwa apa yang ia alami semalam, bayangan di cermin lift itu, hanyalah ilusi optik atau orang jahil. Ia butuh bukti visual. Objektif. Tanpa distorsi ketakutan.
Pukul 14.30. Waktu yang tepat. Di jam-jam segini, suhu Jakarta sedang berada di puncak tertingginya, dan Tejo biasanya tidak ada di mejanya. Pria penjaga kos itu sering kali tidur siang di kamar kecilnya di belakang pos, atau pergi ke warung kopi di ujung gang depan.
Kholid keluar dari kamarnya, berjalan mengendap-endap menuruni tangga. Ia menengok ke area pelataran lantai dasar. Kosong. Sapu lidi Tejo tersandar di dinding, dan kursi plastiknya kosong. Pintu kamar Tejo yang berada lima meter dari meja itu tampak tertutup rapat.
Ini kesempatannya.
Kholid bergegas menuju meja kayu Tejo. Di balik meja itu, tersembunyi dari pandangan orang yang lewat, terdapat sebuah monitor tabung CRT tua berukuran 14 inci dan sebuah kotak DVR hitam yang tertutup lapisan debu tebal. Kholid berjongkok, menyalakan tombol power monitor yang berbunyi ktek pelan.
Layar cembung itu menyala, menampilkan empat kotak grid kamera. Kamera 1: Lorong lantai dasar. Kamera 2: Lorong lantai dua. Kamera 3: Lorong lantai tiga. Kamera 4: Area parkir depan.
Semuanya menampilkan gambar real-time berwarna kusam. Resolusinya rendah, dipenuhi semut digital, tapi cukup jelas untuk melihat siapa yang lewat.
Kholid melirik ke arah pintu kamar Tejo. Masih aman. Tangannya dengan cepat meraih mouse optik murah yang scroll wheel-nya sudah berkarat. Ia mengklik kanan pada layar, memilih opsi 'Playback'. Tidak ada password. Tejo jelas bukan orang yang peduli dengan keamanan siber.
Layar berubah menampilkan garis waktu (timeline) berwarna hijau di bagian bawah. Kholid memilih Kamera 3—lorong lantai tiga yang menghadap lurus ke arah kamarnya dan lift. Ia mengatur tanggal ke malam sebelumnya. Tepatnya, hari ini, dini hari.
Ia menggeser kursor ke pukul 02:45.
Layar menampilkan lorong lantai tiga yang sepi. Pintu kamar 302 (kamarnya) tertutup. Pintu lift tertutup. Lampu neon berkedip seperti biasa. Semua tampak normal.
Kholid mempercepat pemutaran videonya (fast forward 4x). Angka detik di pojok kanan atas layar berjalan cepat.
02:50... 02:55... 02:58...
Ia mengembalikan kecepatan video ke mode normal. Napas Kholid tertahan. Ia mencondongkan wajahnya mendekati layar tabung itu, matanya menyipit memperhatikan setiap piksel di lorong digital tersebut.
02:59:45...
02:59:50...
02:59:55...
Tidak ada pergerakan. Pintu lift masih tertutup. Pintu kamarnya juga tertutup.
03:00:00
BZZZZT.
Tepat saat angka mencapai pukul tiga pas, kotak gambar Kamera 3 tiba-tiba berubah menjadi abu-abu statis. Berkedip kasar, seperti kehilangan sinyal video sepenuhnya. Noise digital memenuhi layar.
Kholid mengerutkan kening. Apakah kabelnya bermasalah? Ia mengeklik Kamera 1 dan Kamera 2 di jam yang sama. Sama. Semuanya mati tepat pada pukul 03:00.
Ini bukan kebetulan mekanis. Ini pemutusan daya yang terkoordinasi, atau... sesuatu mengganggu frekuensi sinyal kamera secara ekstrem.
Kholid memeriksa timeline. Kapan kamera ini menyala kembali? Ia menggeser kursor jauh ke depan.
Kamera kembali merekam gambar pada pukul 03:05:00. Tepat lima menit blank spot. Dan di rekaman pukul 03:05 itu, layar menampilkan pintu kamar Kholid yang sudah terbuka, dan Kholid (dalam rekaman) sedang berdiri mematung di lorong dengan wajah pucat, menatap ke dalam lift yang pintunya terbuka.
Berarti, selama lima menit kamera itu mati, itulah momen di mana lift turun, pintu terbuka, dan Kholid melihat sosok di cermin.
"Pasti ada frame yang tertangkap sebelum putus," gumam Kholid pada dirinya sendiri. Tangannya yang sedikit gemetar menggeser kursor kembali ke pukul 02:59:55.
Ia menggunakan tombol panah di keyboard DVR untuk memajukan rekaman frame demi frame. Perlahan. Sangat lambat.
02:59:57... Normal.
02:59:58... Normal.
02:59:59...
Tunggu. Kholid menekan tombol panah kiri, mundur satu frame.
Di frame 02:59:59, sepersekian detik sebelum rekaman berubah menjadi statis abu-abu, ada distorsi pada gambar. Lampu neon di lorong dalam video itu tampak mati total dalam satu frame itu, membuat lorong menjadi gelap gulita.
Kholid menyipitkan mata. Ia mengatur kecerahan monitor (brightness) hingga maksimal. Layar tabung itu menjadi sangat terang hingga menyilaukan.
Kini ia bisa melihatnya. Di dalam kegelapan lorong pada frame terakhir itu, pintu lift tidak tertutup. Pintunya terbuka separuh. Dan dari celah lift yang gelap itu, menjulur sebuah bayangan.
Namun itu bukan bayangan manusia.
Proporsinya salah total. Bayangan itu tinggi, menyentuh langit-langit lorong yang tingginya hampir tiga meter. Bentuknya kurus memanjang seperti ranting pohon yang hangus terbakar, dengan lengan yang menjuntai nyaris menyentuh lantai. Dan yang membuat darah Kholid terasa berhenti mengalir adalah... kepala bayangan itu. Kepalanya menengok ke atas, mengarah lurus, tepat menatap lensa kamera CCTV.
Seolah ia tahu sedang direkam. Seolah ia sengaja mematikan kamera itu sedetik setelah menampakkan diri.
Kholid mundur hingga jatuh terduduk di lantai pelataran. Jantungnya memukul tulang rusuknya dengan brutal. Keringat dingin mengucur deras di punggungnya. Itu bukan manusia. Itu bukan glitch. Sesuatu yang sangat salah tinggal di dalam poros lift bangunan ini.
"Mas Kholid?"
Kholid terkesiap. Ia mendongak dengan panik. Tejo berdiri menjulang di depannya, menghalangi cahaya matahari dari luar. Wajah Tejo tidak tersenyum. Untuk pertama kalinya, otot-otot di wajah penjaga kos itu mengendur, menampilkan ekspresi datar yang luar biasa dingin. Matanya menatap tajam ke arah layar monitor yang masih menampilkan siluet bayangan mengerikan itu.
"Lagi cari apa, Mas?" suara Tejo terdengar berat, tidak seramah biasanya.
Kholid buru-buru berdiri, kakinya lemas. Ia dengan cepat menekan tombol menu, mengembalikan layar ke tampilan live 4 grid kamera.
"E-eh, anu, Mas. Enggak. Ini... tadi saya mau nanya, paket saya ada yang dititipin di sini nggak? Terus layarnya nyala, saya penasaran aja lihat," Kholid berbohong dengan payah, suaranya bergetar.
Tejo terdiam selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Ia menatap mata Kholid, mengupas segala lapisan kebohongan yang Kholid coba bangun. Lalu, perlahan, senyum lebar yang mengerikan itu kembali merekah di wajah Tejo.
"Nggak ada paket, Mas," kata Tejo lembut. "Lain kali, nggak usah repot-repot ngecek mesin tua itu. Rekamannya sering ngaco. Banyak semutnya. Nanti Mas malah lihat yang enggak-enggak."
Tejo melangkah mendekati meja, mengulurkan tangannya. Kholid mengira Tejo akan memarahinya, namun pria itu hanya menekan tombol power mematikan monitor.
Layar berubah hitam pekat.
"Di sini aman kok, Mas. Selama Mas di kamar saja." Tejo menoleh ke arah Kholid, senyumnya menyeringai.
Kholid tidak menjawab. Ia berbalik dan berjalan cepat menaiki tangga. Ia harus kembali ke kamarnya. Ia tidak peduli lagi dengan pekerjaannya. Pikirannya dipenuhi satu dorongan primal: ia harus mengemas barang-barangnya dan pergi dari tempat terkutuk ini besok pagi.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar