Malam itu terasa seperti malam-malam lainnya selama tujuh tahun terakhir. Suara dengungan halus dari AC di sudut kamar berpadu dengan ritme napas teratur Raka, jagoan kecil kami yang malam ini merengek minta tidur di tengah-tengah ayah dan bundanya. Di sebelah kiriku, punggung lebar Bagas naik turun dengan tenang. Ia selalu tidur menghadap tembok jika sedang kelelahan. Dan malam ini, setelah lembur hingga pukul sembilan malam, ia langsung terlelap bahkan sebelum kepalanya benar-benar pas berada di atas bantal.

Aku baru saja memejamkan mata, masih meresapi rasa pegal di betis setelah seharian mengurus rumah tanpa asisten, ketika suara itu memecah keheningan.

Drrrt… Drrrt… Drrrt…

Getaran panjang. Berturut-turut. Diikuti pendaran cahaya kebiruan yang tiba-tiba menerangi nakas kayu di sebelah kanan ranjang, tepat di sisi Bagas.

Mataku terbuka perlahan. Aku melirik jam dinding digital di atas meja rias. Angka berwarna merah terang menunjukkan pukul 02:14 dini hari.

Siapa yang menelepon selarut ini? batinku.

Keluarga? Ibu di kampung sakit? Atau ada masalah darurat di kantor Mas Bagas? Perasaanku mulai tidak enak. Aku beringsut pelan, mencoba tidak membangunkan Raka yang sedang memeluk gulingnya erat.

"Mas," panggilku dengan suara berbisik, menyentuh pelan bahunya. "Mas Bagas, HP-mu bunyi."

Tidak ada respons. Punggung itu tetap bergeming.

Layar ponselnya meredup sejenak, lalu kembali menyala terang benderang. Kali ini getarannya bergeser sedikit di atas kaca nakas, menimbulkan suara berderak yang mengganggu.

"Mas," panggilku lagi, sedikit lebih keras. Aku mengguncang bahunya. "Bangun dulu, itu ada telepon. Takutnya penting."

Bagas hanya bergumam pelan, menarik selimutnya lebih tinggi hingga menutupi leher, seolah menolak diganggu dari bunga tidurnya.

Karena khawatir itu adalah kabar darurat dari mertuaku, aku akhirnya mencondongkan tubuhku melewati Raka, meregangkan tanganku ke arah nakas di sisi suamiku. Cahaya layar itu menyilaukan mataku yang baru terbiasa dengan kegelapan. Aku menyipitkan mata, mencoba membaca deretan huruf di layar yang terus berkedip.

Bukan nama ibunya. Bukan pula nama bosnya.

Di sana, di tengah layar yang menyala, tertera sebuah nama kontak yang membuat keningku berkerut dalam.

Klien Project 🌙

Klien? Pukul dua pagi? Dengan emoji bulan sabit?

Aku terdiam dengan tangan melayang beberapa sentimeter dari layar ponsel itu. Ada sesuatu yang tidak sinkron di kepalaku. Mas Bagas adalah seorang manajer operasional di perusahaan logistik. Kliennya kebanyakan adalah pemilik pabrik atau distributor barang. Ia memang sering mengurus komplain, tapi tidak pernah ada sejarahnya seorang klien menelepon melalui panggilan WhatsApp pada pukul dua pagi. Apalagi dengan tambahan emoji manis yang terasa sangat tidak profesional.

Rasa penasaran mengalahkan logikaku. Aku menurunkan jari telunjukku, berniat menggeser tombol hijau ke atas untuk memastikan siapa manusia tidak tahu waktu di seberang sana.

Namun, tepat sebelum ujung kukuku menyentuh layar kaca itu—

Srett!

Sebuah tangan besar dan hangat tiba-tiba menyambar ponsel tersebut dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk seseorang yang sedang terlelap.

Aku terkesiap, menarik tanganku mundur secara refleks. Jantungku melonjak ke tenggorokan.

Bagas sudah dalam posisi setengah duduk. Matanya membelalak, menatapku dengan napas yang memburu. Rambutnya berantakan, tapi tidak ada sisa-sisa kantuk di wajahnya. Yang ada hanya kepanikan. Kepanikan yang sangat telanjang dan tak sempat ia sembunyikan.

"Kamu ngapain, Ras?!" Suaranya tertahan, setengah berbisik tapi sarat akan ketegangan. Ia menyembunyikan ponsel itu di balik punggungnya, menekannya ke atas kasur dengan genggaman yang begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Aku menatapnya, membeku. "Aku... aku cuma mau angkat teleponnya, Mas. Berisik, takut Raka bangun."

Bagas menelan ludah. Jakunnya naik turun. Dalam keremangan kamar, aku bisa melihat keringat halus tiba-tiba bermunculan di pelipisnya.

"Nggak usah," potongnya cepat. Terlalu cepat. "Nggak usah diangkat."

"Itu siapa, Mas? Jam dua pagi lho." Aku mencoba menjaga nada suaraku tetap datar, meski dadaku mulai bergemuruh.

Bagas tidak langsung menjawab. Matanya bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan, seolah mencari jawaban yang berserakan di udara. "Itu... orang kantor."

"Orang kantor? Klien?" tanyaku, memancing.

"Iya. Klien." Ia buru-buru mengangguk, jarinya dengan cepat menekan tombol power di sisi ponselnya untuk mematikan layar. Cahaya di ruangan itu langsung padam, menyisakan kegelapan yang tiba-tiba terasa mencekik.

"Klien siapa yang telepon pakai WA jam dua pagi, Mas? Emangnya ada masalah kargo masuk jam segini? Terus kenapa namanya pakai gambar bulan?"

Rentetan pertanyaanku meluncur begitu saja. Aku tipe perempuan yang tidak suka menyimpan rasa mengganjal. Tujuh tahun menikah, komunikasi kami selalu terbuka. Aku tahu password ponselnya, meski nyaris tidak pernah memeriksanya karena aku sangat mempercayainya. Tapi malam ini, gerak-geriknya menghancurkan rasa percaya itu seketika.

"Bukan gambar bulan, ah. Kamu salah lihat kali, orang gelap begini," elaknya. Nada suaranya kini berubah. Ada sentuhan defensif di sana. Sedikit meninggi.

"Aku belum rabun, Mas. Mataku jelas-jelas baca."

"Itu salah ketik aja dari sananya! Udah sih, Dek, jangan dibesar-besarin. Cuma klien panik barangnya nyangkut di pelabuhan. Besok pagi juga aku urus."

"Kalau cuma klien panik, kenapa kamu yang lebih panik waktu aku mau angkat?"

Pertanyaanku mengudara, tajam dan dingin.

Bagas terdiam. Selama beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam, hanya terdengar suara napas Raka yang terlelap di antara kami. Aku menatap lurus ke arah siluet wajah suamiku dalam gelap. Menunggu. Menuntut penjelasan dari laki-laki yang selalu kukenal rasional dan tenang ini.

Bagas membuang napas kasar. Ia mengusap wajahnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya perlahan menyelipkan ponsel itu... ke bawah bantalnya. Bukan mengembalikannya ke atas nakas seperti biasa. Ke bawah bantalnya.

"Aku kaget, Ras," ucapnya akhirnya, suaranya dipelankan, mencoba terdengar lembut namun terasa sangat kaku. "Aku lagi mimpi buruk, tiba-tiba kamu bangunin, terus tanganku refleks ambil HP karena kaget ada suara. Lagian kamu ngapain sih ngecek-ngecek HP orang? Tumben banget."

Ngecek HP orang? Kalimat itu menamparku. Sejak kapan posisiku berubah dari 'istri yang peduli' menjadi 'orang yang mengecek HP'?

"Aku nggak ngecek, Mas," kataku pelan. Tenggorokanku terasa kering. "HP-mu nyala terus dari tadi."

"Ya udah, besok-besok aku silent. Maaf ya udah ganggu tidur kamu." Bagas segera membaringkan tubuhnya kembali. Ia menarik selimut, memunggungi diriku dan Raka. "Tidur lagi, Dek. Aku capek banget, besok ada meeting pagi sama direksi."

Percakapan ditutup secara sepihak.

Aku masih duduk membeku di posisiku. Mataku menatap punggung suamiku. Laki-laki yang setiap pagi mengecup keningku sebelum berangkat kerja. Laki-laki yang sabar merakit mainan Lego Raka berjam-jam. Malam ini, punggung itu terasa membentangkan dinding tak kasat mata yang sangat tebal.

Aku kembali berbaring dengan hati-hati. Menarik selimut menutupi dadaku yang terasa dingin.

Kupejamkan mataku, mencoba memaksa otakku untuk percaya pada kata-katanya. Itu cuma klien. Dia cuma kaget. Jangan hancurkan pernikahan bahagia ini hanya karena pikiran negatifmu sendiri, Ras. Aku mensugesti diriku sendiri berulang kali.

Namun, di tengah kesunyian malam yang kembali merayap, pendengaranku menangkap sesuatu.

Napas Bagas.

Napasnya tidak beraturan. Jauh berbeda dengan ritme napas tenangnya sebelum telepon itu berbunyi. Bahunya sesekali menegang. Ia tidak sedang tidur. Ia sama terjaganya denganku.

Dan di bawah bantal tempat kepalanya bersandar, ponsel itu bersemayam seperti sebuah bom waktu.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun pernikahanku... aku merasa tidur dengan orang asing.