Jari telunjukku bergeser ke atas. Garis hijau itu mengikuti gerakanku, membelah layar menjadi dua, sebelum akhirnya seluruh antarmuka berubah.
Bunyi dering yang melengking itu seketika mati. Digantikan oleh suara statis pelan, lalu dengungan khas saat koneksi internet sedang mencoba menautkan dua ujung dunia yang berbeda. Layar ponsel Bagas sempat menghitam selama sekian detik. Detik-detik yang terasa merentang menjadi keabadian.
Tanganku yang memegang ponsel itu masih gemetar hebat. Kabel charger putih yang menjuntai dari bagian bawah ponsel sedikit menegang karena aku mengangkatnya terlalu tinggi dari atas meja kaca. Di belakangku, suara air shower di kamar mandi masih terus menderas. Bagas masih di sana. Suamiku masih di sana, tidak tahu bahwa di ruang tengah ini, istrinya baru saja membuka pintu menuju neraka.
Layar yang tadinya hitam kini mulai memunculkan piksel-piksel warna. Kotak demi kotak gambar mulai menyatu, membentuk sebuah visual yang perlahan menjernih.
Hal pertama yang tertangkap oleh mataku adalah pendaran cahaya lampu neon berwarna merah muda keunguan yang mendominasi latar belakang. Sebuah kamar. Tidak terlalu besar, tapi tertata dengan gaya yang sangat... berani. Ada gorden beludru tebal di belakang sana, dan sebuah bantal berbulu putih yang bersandar di kepala ranjang.
Lalu, sosok itu muncul.
Napasku tercekat di tenggorokan. Udara di sekitarku seakan tersedot habis ke dalam ruang hampa.
Seorang perempuan.
Ia tidak sedang duduk kaku menatap kamera. Ia sedang berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan yang dihiasi kuku-kuku akrilik merah panjang. Rambutnya panjang bergelombang, dicat cokelat terang, menjuntai acak-acakan di atas bahunya yang telanjang.
Bukan telanjang seutuhnya, tapi ia hanya mengenakan sebuah lingerie berbahan satin hitam yang sangat tipis. Potongan kain itu begitu rendah hingga nyaris tidak menyembunyikan apa pun dari dadanya. Tali kecil yang menahan kain itu di bahunya terlihat seperti bisa putus kapan saja.
Perempuan itu menatap ke arah kamera—ke arahku—dengan tatapan sayu yang dibuat-buat, bibir penuhnya yang dipoles lip gloss mengkilap melengkung membentuk senyuman manja.
Tubuhku membeku. Mataku membelalak, mencoba memproses pemandangan yang terasa begitu asing dan surealis ini berada di dalam ponsel suamiku. Ponsel laki-laki yang setengah jam lalu baru saja tertawa bersamaku dan anak kami di atas karpet rumah ini.
Aku menahan napas, tidak berani mengeluarkan suara sekecil apa pun. Ruang tengah rumahku remang-remang karena aku hanya menyalakan lampu kuning yang teduh. Ditambah lagi, aku memegang ponsel itu sedikit lebih rendah dari wajahku, sehingga kamera depan mungkin hanya menangkap bayangan gelap langit-langit rumah dan siluet daguku.
Perempuan di layar itu mengerutkan kening. Ia mendekatkan wajahnya ke arah kameranya sendiri.
"Kok gelap, Mas?"
Suaranya.
Ya Tuhan, suaranya.
Suara itu terdengar melengking pelan, sarat akan kemanjaan yang menjijikkan, mendayu-dayu layaknya seorang perempuan yang sedang merajuk pada kekasihnya. Tidak ada kecanggungan. Tidak ada jarak. Ia menyebut kata 'Mas' dengan kefasihan yang hanya dimiliki oleh seseorang yang sudah mengucapkannya ribuan kali.
Tubuhku mulai menggigil. Rasa dingin merayap dari ujung jari kaki, menjalar naik ke tulang belakangku. Aku ingin melempar ponsel ini ke dinding. Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya sampai kaca jendela rumah ini pecah berkeping-keping. Aku ingin mendobrak pintu kamar mandi dan menampar wajah laki-laki itu.
Tapi suaraku hilang. Tenagaku menguap. Aku hanya bisa berdiri mematung, menjadi penonton bisu dari kehancuran hidupku sendiri.
"Mas Bagas... kamu di mana sih? Kok kameranya ditutupin?" rajuk perempuan itu lagi. Ia mengubah posisinya, berguling telentang sehingga kain satin hitam itu semakin merosot ke bawah. Ia menghela napas panjang yang sengaja dibuat terdengar berat, memamerkan lekuk tubuhnya dengan sengaja ke depan lensa.
Bagas. Ia memanggil suamiku dengan namanya. Bukan klien. Bukan orang kantor. Bukan salah sambung. Ia tahu siapa yang ia hubungi.
Aku menelan ludah yang terasa seperti pecahan kaca di tenggorokanku. Tanganku yang bebas tanpa sadar meremas ujung kaus panjangku sendiri. Kaus rumahan yang sudah sedikit pudar warnanya karena terlalu sering dicuci. Kaus yang kupakai saat memasak untuknya, saat menyetrika bajunya, saat merawat anaknya.
Kontras antara diriku yang lusuh di tengah malam dan perempuan bersatin hitam di layar itu menamparku dengan sangat keras. Menghancurkan sisa-sisa harga diri yang masih coba kupertahankan.
Kamu bodoh, Raras, suara di dalam kepalaku berbisik kejam. Tiga hari kamu membohongi dirimu sendiri. Kamu membela laki-laki brengsek itu padahal instingmu sudah menjeritkan kebenaran.
Di layar ponsel, perempuan itu mulai terlihat tidak sabar. Ia memainkan tali lingerie-nya dengan ujung jari berakrilik merah itu, memutarnya perlahan. Matanya menatap lurus menembus layar, seolah ia sedang menatap langsung ke dalam mata suamiku. Tatapan yang mengisyaratkan sebuah keintiman yang kotor.
"Mas... dari tadi aku nunggu, lho," desahnya manja, bibirnya sedikit mengerucut. "Kamu bilang kelar main sama anakmu mau langsung telepon aku. Tadi aku chat di WA nggak dibalas-balas. Sibuk banget ya?"
Main sama anakmu. Kata-kata itu menghunjam tepat di ulu hatiku layaknya pisau daging. Mataku memanas. Pandanganku mulai kabur oleh genangan air mata yang tidak bisa lagi kubendung.
Bagas menceritakan tentang Raka padanya? Ia menggunakan waktu bermain bersama anak kami sebagai alasan untuk membuat perempuan jalang ini menunggu? Ia menjadikan rutinitas keluarga kami sebagai jadwal pengatur waktu perselingkuhannya?
Tanganku mulai gemetar semakin hebat hingga gambar di layar ikut berguncang.
"Mas? Kamu denger aku nggak sih?" Perempuan itu mulai terlihat kesal. Ia bangun dari posisi berbaringnya, duduk dan menyandarkan punggungnya ke bantal berbulu putih. Ia memperbaiki letak rambutnya yang jatuh ke dada.
Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku harus mematikan panggilan ini sebelum pertahananku benar-benar runtuh dan aku menjerit histeris. Ibu jariku yang gemetar bergerak perlahan menuju ikon tombol merah bergambar gagang telepon di layar.
Namun, tepat sebelum jariku menyentuh layar, perempuan itu kembali berbicara. Kali ini, suaranya turun menjadi setengah berbisik. Nada suaranya berubah, lebih pelan, lebih nakal, dan penuh kemenangan. Sebuah kalimat yang menghancurkan seluruh sisa kewarasanku malam ini.
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan kamera, tersenyum miring, dan berbisik,
"Istrimu udah tidur, kan?"
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar