Tiga hari berlalu sejak kejadian dini hari itu, dan segalanya kembali berjalan dengan ritme yang menenangkan. Tidak ada lagi telepon aneh. Tidak ada lagi sikap kaku di meja makan. Mas Bagas kembali menjadi suami dan ayah yang hangat.
Malam ini adalah malam Sabtu. Cuaca di luar sedang turun hujan gerimis, menciptakan suasana dingin yang membuat kami betah bergelung di ruang keluarga.
"Awas, Kak! Dinosaurusnya mau gigit jembatannya! Roaaarrr!"
Bagas merangkak di atas karpet berbulu, memegang boneka T-Rex plastik dan mengarahkannya ke susunan balok lego milik Raka. Kemeja kerjanya sudah ia lepas, menyisakan kaus oblong putih tipis yang basah oleh peluh. Celana bahannya sudah digulung hingga selutut.
Raka menjerit girang bercampur panik. "Jangan! Pesawat Raka mau nembak Dinosaurusnya! Pew! Pew! Pew!"
Aku duduk bersila di atas sofa, tersenyum menatap interaksi dua jagoan kesayanganku itu sambil mengupas apel fuji. Sesekali aku menyuapkan potongan apel ke mulut Raka, lalu menyuapkannya ke mulut Bagas yang langsung dilahapnya tanpa mengalihkan pandangan dari 'pertempuran' legonya.
"Mas, kamu itu baru pulang kerja bukannya istirahat dulu. Liat tuh, keringatmu udah sebesar biji jagung. Bau asem lagi," godaku sambil memberikan selembar tisu padanya.
Bagas mengambil tisu itu dan mengelap dahinya sekilas. Ia tertawa, matanya menyipit hingga membentuk bulan sabit. "Nanggung, Dek. Ini T-Rex-nya lagi sekarat kena tembak Kapten Raka. Lagian seharian di kantor duduk terus, kaku badanku. Main sama Raka hitung-hitung olahraga."
"Olahraga sih olahraga, tapi karpetnya nanti bau keringat semua lho. Sana mandi dulu, air hangatnya udah aku nyalain dari tadi," ujarku sambil menyodorkan potongan apel terakhir ke mulutnya.
"Iya, iya, bawel." Bagas mencubit pipiku sekilas, membuatku mendengus tapi tak bisa menahan senyum. Ia lalu menoleh pada Raka. "Kapten Raka, Dinosaurusnya menyerah dulu ya. Ayah mau mandi kilat. Paling cuma sepuluh menit. Habis itu kita lanjut perang lagi. Oke?"
Raka memanyunkan bibirnya sedikit, tapi akhirnya mengangguk. "Oke. Tapi Ayah cepat ya! Kalau lama, kastilnya Raka bongkar lagi."
"Siap, Kapten!" Bagas berdiri, meregangkan otot-otot tubuhnya yang berbunyi berderak. Ia mengusap lehernya yang lengket.
"Dek, tolong sekalian buangin sampah di dapur dong, tadi aku lihat udah penuh," kata Bagas sambil melangkah menuju arah dapur dan kamar mandi.
"Iya, nanti aku buang sekalian cuci piring," jawabku santai.
Bagas terus berjalan. Ia merogoh saku celana kerjanya yang tergeletak di ujung karpet, mengambil ponselnya. Aku memperhatikannya tanpa niat khusus. Biasanya ia akan membawa benda itu bersamanya ke kamar mandi.
Namun, kali ini, tepat sebelum ia melangkah melewati ruang TV, ia berhenti sejenak. Ia melihat layar ponselnya, jarinya menari cepat di atas layar—mungkin membalas satu pesan singkat—lalu...
Ia meletakkan ponsel itu di atas meja kaca di depan sofa. Begitu saja.
"Tumben nggak dibawa konser ke kamar mandi?" celetukku, setengah bercanda.
Bagas menoleh, tersenyum santai. "Lagi di-charge, baterainya sisa lima persen. Jangan dimainin ya Kak, HP Ayah lagi capek," pesannya pada Raka, lalu ia masuk ke kamar mandi.
Tak lama, terdengar suara kucuran air shower dari balik pintu.
Aku menghela napas lega. Lihat kan? Pikiranku membatin. Ia tidak selalu menyembunyikan ponselnya. Ia meninggalkannya begitu saja di ruang keluarga, bersamaku dan Raka. Bukti tak terbantahkan bahwa ia tidak punya rahasia apa pun dariku. Perasaanku yang sempat waswas di awal minggu ini benar-benar terasa seperti lelucon sekarang.
"Bunda, Raka mau ambil robot yang warna biru di kamar atas ya," Raka tiba-tiba berdiri, membuang sisa legonya ke dalam kotak.
"Jangan lari-lari ya, Nak! Tangganya licin!" teriakku memperingatkan saat bocah itu melesat cepat ke lantai dua.
"Iya, Bunda!"
Kini, aku benar-benar sendirian di ruang tengah. Hanya ditemani suara derai hujan di kaca jendela dan gemericik air dari kamar mandi.
Aku bangkit dari sofa, mengumpulkan piring kotor bekas potongan apel, dan berniat membawanya ke dapur. Namun, saat aku membungkuk untuk mengambil pisau buah yang tergeletak di dekat meja kaca, mataku tertuju pada benda pipih berwarna hitam itu.
Ponsel Bagas.
Benda itu tergeletak dengan posisi layar menghadap ke atas. Kabel charger putih tersambung dari stop kontak di bawah meja ke ujung ponselnya.
Aku berdiri tegak. Piring kotor di tanganku terasa ringan, tapi kakiku tiba-tiba terasa terpaku ke lantai karpet.
Hanya ponsel biasa. Suamiku meletakkannya di situ karena kehabisan baterai. Sangat logis. Sangat wajar.
Tapi mengapa mataku tidak bisa lepas dari sana?
Sesuatu dalam diriku—insting liar yang sempat kutidurkan paksa selama beberapa hari terakhir—tiba-tiba terbangun kembali. Telingaku menangkap suara air shower yang masih menderas stabil. Bagas baru saja mulai mandi. Biasanya butuh waktu setidaknya sepuluh hingga lima belas menit sebelum ia keluar.
Tidak, Raras. Jangan mulai lagi. Aku membentak diriku sendiri di dalam hati. Kamu sudah berjanji untuk percaya padanya. Jangan jadi istri pengintai.
Aku memalingkan wajah, melangkah ke arah dapur dengan tegas. Kutaruh piring kotor di wastafel. Kubuka keran air dan mulai mencuci. Aku berusaha fokus pada sabun cuci piring beraroma jeruk nipis. Aku berusaha menyibukkan tanganku.
Tring!
Sebuah bunyi notifikasi singkat menembus suara gemericik air di wastafel. Bunyi itu berasal dari ruang tengah.
Tanganku berhenti menggosok piring.
Tring!
Bunyi kedua. Menyusul dengan cepat.
Otakku mencoba memproses. Itu nada dering WhatsApp standar. Siapa pun bisa mengirim pesan. Teman kantor. Grup RT. Operator seluler.
Tapi kakiku tanpa kusadari sudah melangkah kembali ke ruang tengah, seolah ditarik oleh magnet kasat mata. Aku berdiri tepat di depan meja kaca.
Layar ponsel itu menyala.
Dan karena diletakkan begitu saja sehabis ia gunakan, benda itu... tidak terkunci.
Jantungku berpacu seperti kuda liar. Dadaku berdebar begitu keras hingga aku bisa mendengarnya memukul-mukul tulang rusukku. Tanganku yang masih sedikit basah oleh air wastafel mulai gemetar.
Dari tempatku berdiri, huruf-huruf di layar pop-up itu terlalu kecil untuk dibaca dengan jelas. Aku harus menunduk. Atau mengambilnya.
Ini salah. Kamu merusak privasinya. Logikaku berteriak putus asa.
Namun bayangan nama "Klien Project 🌙" yang menelepon pukul dua pagi tiba-tiba berkelebat di depan mataku. Bayangan wajah panik Bagas saat merebut ponsel itu kembali terputar dengan sangat jelas. Bayangan tangannya yang membawa ponsel ke kamar mandi hanya untuk sikat gigi.
Semua rasionalisasi yang kubangun susah payah selama tiga hari ini runtuh dalam satu kedipan mata.
Napas memburu. Pandanganku menyapu ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Suara air masih mengalir deras. Raka masih di lantai atas, terdengar suara kakinya berlarian mencari mainan.
Waktuku tidak banyak.
Aku menunduk. Tanganku terulur dengan gerakan patah-patah, seolah sedang mendekati bongkahan es yang bisa membakar kulitku. Ujung jari telunjuk dan ibu jariku menyentuh tepian logam ponsel itu. Terasa dingin.
Aku mengangkatnya perlahan, membiarkan kabel chargernya sedikit tertarik. Layarnya yang terang benderang kini berhadapan langsung dengan mataku.
Ada dua pesan WhatsApp baru dari kotak pop-up di bagian atas layar.
Dan tepat di bawah notifikasi itu, terbuka sebuah aplikasi yang sama sekali tidak aku kenali. Warnanya merah muda terang, dengan ikon yang terlihat terlalu... menggoda. Itu bukan WhatsApp. Itu bukan Telegram.
Pesan pop-up dari WhatsApp perlahan menghilang ke atas, tapi ikon aplikasi merah muda itu masih terbuka di layar utama. Tanganku semakin gemetar. Ibu jariku, digerakkan oleh dorongan yang tidak bisa kukendalikan, menyentuh ikon aplikasi tersebut.
Layar berganti. Hitam sejenak, lalu muncul antarmuka yang penuh dengan deretan foto profil perempuan-perempuan dengan riasan tebal.
Dan sebelum aku bisa memproses apa yang sedang kulihat...
Layar ponsel itu tiba-tiba berubah. Tampilan aplikasi merah muda itu tertutup oleh layar panggilan masuk yang memenuhi seluruh ukuran ponsel.
Sebuah Video Call.
Bukan dari WhatsApp. Dari aplikasi merah muda itu.
Tidak ada nomor. Tidak ada nama yang jelas. Hanya ada sebuah username: Kitten_99.
Suara dering panggilan itu melengking pelan, bernada riang yang terdengar sangat tidak pantas di tengah ruang keluargaku yang hening.
Aku membeku. Mataku membelalak ngeri melihat layar yang terus berkedip, menampilkan tombol hijau dan merah.
Di kamar mandi, suara air shower tiba-tiba dimatikan.
Keheningan yang memekakkan telinga seketika menyergap rumah ini. Suara dering dari ponsel di tanganku kini terdengar seratus kali lipat lebih keras.
Langkah kaki basah terdengar di balik pintu kamar mandi.
Bagas akan segera keluar.
Tanganku basah oleh keringat dingin. Aku harus meletakkan ponsel ini. Aku harus mengembalikannya ke posisi semula, berjalan ke dapur, dan pura-pura tidak tahu apa-apa.
Tapi jariku tidak bergerak ke arah tombol merah.
Jariku, yang bergetar hebat, justru meluncur ke atas. Menggeser tombol hijau itu.
Panggilan terhubung.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar