Aroma bawang putih dan irisan sosis yang menumis di atas wajan biasanya menjadi aroma favoritku di pagi hari. Memasak sarapan selalu menjadi semacam terapi untukku sebelum menghadapi hiruk-pikuk hari. Namun pagi ini, spatulaku bergerak tanpa ritme. Mataku menatap nasi goreng di dalam wajan, tapi pikiranku masih tertinggal di pukul dua dini hari tadi.
"Bunda, telur dadarnya jangan sampai gosong kayak minggu lalu, ya!"
Suara celoteh Raka dari meja makan menarikku kembali ke realita. Aku mengerjap, buru-buru mengecilkan api kompor.
"Iya, Sayang. Ini telurnya cantik kok, kuning keemasan," balasku, mencoba memaksakan nada riang seperti biasa.
Aku menyalin nasi goreng ke dalam tiga piring. Satu porsi kecil untuk Raka, satu porsi sedang untukku, dan satu porsi penuh untuk Bagas. Aku menuangkan kopi hitam ke dalam cangkir keramik kesukaan suamiku, meletakkannya di ujung meja tepat di mana ia biasanya duduk.
Langkah kaki berat terdengar menuruni tangga kayu rumah kami. Aku menoleh.
Bagas muncul. Ia sudah mengenakan kemeja biru muda yang disetrika rapi, celana bahan hitam, dan—yang paling aneh—sepatu pantofelnya sudah terpasang. Padahal biasanya ia sarapan dengan bertelanjang kaki dan baru memakai sepatu di teras depan sambil memanaskan mobil.
Tapi bukan sepatu itu yang membuat darahku berdesir.
Itu tangan kanannya.
Tangan kanannya menggenggam ponselnya erat-erat. Ponsel yang sama yang semalam ia sembunyikan di bawah bantal.
"Pagi, Mas," sapaku, mengusap serbet ke tanganku.
"Pagi," jawabnya singkat. Ia tidak berjalan mendekatiku. Biasanya, rutinitas pagi kami adalah ia akan menghampiriku di dekat kitchen sink, memeluk pinggangku dari belakang, menyandarkan dagunya di bahuku, dan menghirup aroma masakan sebelum mengecup pipiku. Pagi ini, rutinitas itu menguap begitu saja.
Bagas langsung menarik kursi dan duduk di meja makan, tepat di sebelah Raka.
"Ayah kok udah pakai sepatu? Raka kan belum mandi!" protes anak lima tahun itu sambil mengunyah sosisnya.
"Ayah ada meeting pagi banget, Kak. Nanti yang mandi sama siapin sekolah biar Bunda aja ya," jawab Bagas sambil mengusap puncak kepala Raka. Tapi matanya... matanya tidak lepas dari layar ponsel di tangannya. Ibu jarinya terus bergerak menggulir layar ke bawah.
Aku mengambil posisi duduk di seberangnya. Kuamati wajahnya. Ada kantung mata yang cukup jelas di sana. Ia benar-benar tidak tidur setelah kejadian semalam.
"Mas, kopinya diminum mumpung hangat," ujarku, memecah keheningan yang terasa aneh di meja makan kami.
"Oh, iya. Makasih, Dek." Bagas meraih gagang cangkir dengan tangan kiri. Tangan kanannya masih memegang ponsel. Ia menyeruput kopinya pelan, pandangannya tetap terpaku pada layar bercahaya itu.
"Sibuk banget, Mas? Sampai nggak bisa taruh HP sebentar buat makan?" tanyaku. Nada bicaraku terdengar santai, tapi ada selidik yang tak bisa kusembunyikan.
Gerakan ibu jari Bagas mendadak berhenti. Ia mengangkat wajahnya lambat-lambat, menatapku. Untuk sejenak, aku menangkap kilat rasa tidak nyaman di matanya sebelum ia buru-buru memasang wajah datar.
"Ini lagi koordinasi sama tim di gudang. Ada barang klien semalam yang harus segera di-clearance," jawabnya, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar kasual. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, tapi dengan layar menghadap ke bawah. Tertelungkup.
Layar menghadap ke bawah. Sejak kapan Bagas punya kebiasaan menelungkupkan ponselnya? Laki-laki itu selalu menaruh ponselnya asal-asalan. Terkadang layarnya dibiarkan menyala berjam-jam sampai baterainya habis sendiri. Terkadang diletakkan di dekat kompor sampai aku yang harus memindahkannya karena takut kepanasan. Tapi pagi ini, posisi ponsel itu sengaja dibalik. Seolah layar itu memuat rahasia negara.
"Oh, klien yang telepon jam dua pagi itu?" Aku tersenyum tipis. Sebuah senyum yang sama sekali tidak mencapai mataku.
Bagas berdeham. Ia mengambil sendok dan mulai menyendok nasi gorengnya dengan gerakan agak kaku. "Iya. Ribet orangnya. Udahlah, nggak usah bahas kerjaan. Nasi gorengnya enak."
Ia mengalihkan pembicaraan dengan kasar. Dan aku, yang tidak ingin merusak mood Raka sebelum sekolah, memilih untuk menelan sisa kata-kataku bersama rasa nasi goreng yang tiba-tiba terasa hambar seperti kardus.
Setelah menghabiskan setengah porsi makanannya dengan terburu-buru, Bagas berdiri.
"Aku sikat gigi dulu," pamitnya.
Ia mengambil cangkir kopinya yang tinggal separuh. Dan tangan satunya lagi... menyambar ponsel yang tertelungkup itu.
Mataku tak berkedip mengikuti pergerakannya.
"Lho, Mas? HP-nya dibawa ke kamar mandi?" tanyaku tanpa sadar. Suaraku agak melengking.
Bagas menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar mandi dekat dapur. Ia menoleh. Bahunya terlihat kaku.
"Kenapa emangnya? Biasa juga aku bawa sambil dengerin podcast," kilahnya cepat.
"Biasa apanya? Kamu biasanya taruh di atas meja rias kalau mau sikat gigi. Lagian ini kan cuma mau kumur-kumur," balasku. Aku menatapnya lurus. Menantang kebohongannya.
"Ya ini kan lagi nunggu update dari gudang, Ras. Kalau orangnya nebak-nebak email terus akunya nggak respons, kan repot. Kamu hari ini kenapa sih, kok merhatiin detail banget? Lagi PMS?"
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Tajam. Menyerang.
Aku terbungkam. Bagas, suamiku yang penyabar, yang tidak pernah sekalipun menggunakan nada tinggi padaku, baru saja menggunakan 'PMS' sebagai senjata untuk mendiskreditkan pertanyaanku.
Sebelum aku sempat menjawab, ia sudah masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya rapat-rapat. Terdengar bunyi klik. Pintu itu dikunci dari dalam.
Hanya untuk sikat gigi.
Aku meletakkan sendokku secara perlahan. Nafsu makanku menguap tanpa sisa. Raka yang tidak mengerti apa-apa masih asyik mengunyah sosis sambil bersenandung kecil.
Kukumpulkan piring-piring kotor dan melangkah menuju tempat cuci piring. Posisinya tepat berada di dinding yang bersebelahan dengan kamar mandi. Aku membuka keran air, membiarkannya mengalir kecil agar tidak berisik.
Aku berdiri di sana, terdiam. Tanganku memegang spons yang penuh busa, tapi gerakanku terhenti. Kutempelkan telingaku perlahan ke arah ubin dinding.
Di dalam sana, terdengar suara air keran wastafel yang mengalir deras. Sengaja dihidupkan untuk menutupi suara apa pun di baliknya. Tapi telingaku cukup tajam. Di sela-sela suara gemericik air itu, aku bisa mendengar suara lain.
Suara taptaptaptaptap yang sangat cepat.
Suara kuku yang sedang mengetik di layar kaca.
Aku memejamkan mata erat-erat. Dadaku terasa sesak. Ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam sana. Sesuatu yang sengaja disembunyikan dariku, istrinya.
Tok tok tok! Aku mengetuk pintu kamar mandi secara impulsif.
Suara ketikan di dalam sana langsung berhenti. Suara air keran pun tiba-tiba dimatikan. Hening sesaat.
"Mas?" panggilku.
"Y-ya? Kenapa?" Suaranya terdengar terkejut, sedikit bergema di dalam ruang berubin itu.
"Handukmu belum dibawa. Nanti basah semua itu lantai keluar-keluar," ujarku, mengarang alasan. Handuknya sebenarnya ada di kamarnya di lantai atas. Aku hanya ingin menguji reaksinya.
"Nggak apa-apa! Nanti aku ambil tisu aja buat lap muka. Udah kamu urusin Raka aja, aku udah mau jalan ini!"
Aku melangkah mundur. Ada jarak yang tidak terlihat, namun terasa sangat nyata membentang di antara kami pagi ini. Bagas bukan hanya menutup pintu kamar mandi. Ia sedang membangun tembok di sekelilingnya.
Sepuluh menit kemudian, Bagas keluar. Ia langsung mengambil tas kerjanya di sofa. Wajahnya menghindari kontak mata denganku. Ia mencium pipi Raka sekilas, lalu menghampiriku.
Bagas mendekatkan wajahnya, mengecup dahiku secepat kilat. Ciuman yang rasanya hampa. Dingin. Seperti stempel rutinitas tanpa jiwa.
"Aku berangkat ya," ucapnya, matanya menatap melewati bahuku, fokus pada pintu depan.
"Hati-hati, Mas," balasku pelan.
"Iya."
Ia berbalik dan melangkah keluar rumah dengan tergesa-gesa. Aku mengikutinya sampai ke ambang pintu. Mataku tertuju pada saku celana kirinya yang sedikit menonjol. Di sanalah ponsel itu kini berada. Aman. Melekat pada tubuhnya.
Aku menatap mobil SUV hitamnya mundur keluar dari garasi, melaju, dan perlahan menghilang di belokan jalan kompleks. Pagi itu matahari bersinar cukup cerah, menyapu halaman depan rumah kami yang rapi dan dihiasi pot-pot monstera rawatanku. Tetangga sebelah menyapaku dari jauh, dan aku membalasnya dengan senyum simpul yang kupaksakan.
Dari luar, keluarga kami terlihat sempurna. Suami mapan, istri yang berdedikasi merawat rumah, dan anak yang cerdas. Tidak ada yang salah.
Tapi saat aku kembali masuk ke dalam rumah dan menutup pintu, keheningan yang menyambutku terasa sangat asing. Aku berdiri di ruang tamu, melihat ke arah meja makan tempat Bagas baru saja duduk.
Laki-laki itu... suamiku. Aku mengenalnya luar dalam. Aku tahu ia tidak suka kopi yang terlalu manis. Aku tahu ia alergi udang. Aku tahu ia selalu melipat kaus kakinya menjadi bulatan kecil.
Tapi pagi ini, aku sadar ada satu hal yang tidak aku tahu.
Aku tidak tahu apa yang sedang ia sembunyikan di dalam benda pipih bercahaya itu. Dan instingku sebagai seorang perempuan, sebagai seorang istri yang telah mendampinginya dari titik nol... meneriakkan peringatan bahaya yang membuat seluruh tubuhku merinding kedinginan.
Pernikahanku sedang tidak baik-baik saja. Sesuatu sedang retak, dan aku tidak tahu harus mulai menambalnya dari mana.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar