Aroma pelembut pakaian beraroma lavender menguar dari keranjang rotan di hadapanku. Tanganku bergerak mekanis, melipat kemeja-kemeja kerja milik Mas Bagas. Satu lipatan di lengan kiri, satu lipatan di lengan kanan, lalu kutumpuk rapi di atas tumpukan lainnya.
Biasanya, melipat baju adalah caraku bermeditasi. Namun siang ini, pikiranku menolak untuk diam. Mataku menatap kerah kemeja biru muda yang sering ia pakai. Bersih. Tidak ada noda lipstik murahan, tidak ada bau parfum asing yang menyengat. Semuanya normal. Semuanya tepat seperti seharusnya.
"Bunda! Liat deh, robot Raka bisa berubah jadi pesawat!"
Seruan nyaring dari arah karpet ruang TV mengalihkan pandanganku. Raka, jagoan kecilku, sedang mengangkat tinggi-tinggi mainan plastik berwarna merahnya. Matanya berbinar bangga.
Aku memaksakan sebuah senyum lebar. "Wah, hebat banget! Siapa dulu dong yang rakit? Anak Bunda emang pintar."
"Ayah yang ajarin semalam, Bunda! Kata Ayah, kalau Raka bisa rakit sendiri, besok weekend kita mau ke kebun binatang. Beneran kan, Bunda?"
Deg.
Senyum di wajahku sedikit goyah, tapi aku buru-buru menutupi. "Iya, dong. Ayah kan nggak pernah bohong sama Raka."
Ayah nggak pernah bohong.
Kalimat itu kuucapkan untuk anakku, tapi sebenarnya bergema keras di dalam kepalaku sendiri. Kuusap dadaku yang terasa berat. Benar. Bagas tidak pernah berbohong. Selama tujuh tahun ini, ia selalu menepati janjinya pada kami.
Ingatanku melayang ke masa-masa awal pernikahan kami. Saat itu, Bagas hanyalah staf biasa dengan gaji pas-pasan. Kami tinggal di kontrakan petak yang atapnya bocor setiap kali hujan deras. Aku ingat suatu malam, air hujan merembes deras hingga membasahi kasur tipis kami. Bagas, alih-alih mengeluh karena lelah bekerja seharian, justru tertawa. Ia menarikku ke sudut ruangan yang kering, memelukku erat, dan berbisik, "Sabar ya, Dek. Mas janji, suatu hari nanti Mas bakal beliin kamu rumah yang atapnya nggak bocor. Rumah yang halamannya luas buat anak kita lari-lari."
Dan ia menepati janji itu. Rumah yang kami tinggali sekarang adalah bukti keringat dan kerja kerasnya. Ia rela mengambil jam lembur, proyek tambahan, hingga pulang larut malam demi melunasi cicilan rumah ini lebih cepat.
Drrrt… Drrrt…
Getaran ponsel di atas meja setrika mengejutkanku. Jantungku seketika berdetak lebih cepat, sebuah refleks konyol gara-gara trauma notifikasi jam dua pagi. Aku meraih ponselku.
Layar menampilkan nama "Mas Bagas ❤️".
Aku menarik napas panjang, menenangkan diri, lalu menggeser tombol hijau.
"Halo, Mas?" sapaku, berusaha membuat nadaku senormal mungkin.
"Halo, Sayang. Lagi apa?" Suara baritonnya terdengar hangat di seberang sana. Tidak ada jejak ketegangan seperti tadi pagi. Ia terdengar seperti Mas Bagas yang kukenal.
"Lagi lipat baju nih. Kamu udah makan siang?"
"Udah, barusan. Makan di kantin bawah aja sama anak-anak sales. Oh ya, Dek, barusan Mas transfer uang ya ke rekening kamu."
Alisku bertaut. "Transfer? Bukannya uang bulanan baru minggu depan, Mas?"
Terdengar suara kekehan kecil dari seberang. Suara tawa renyah yang selalu berhasil membuat perutku menghangat. "Iya, tahu. Ini ada bonus kecil dari proyek bulan lalu yang baru cair. Tadi Mas potong sedikit buat benerin AC mobil yang kurang dingin, sisanya Mas transfer semua ke kamu. Buat jajan kamu sama Raka. Atau kalau kamu mau beli skincare yang kemarin kamu bilang habis itu lho."
Dadaku tiba-tiba terasa sesak. Bukan karena marah, tapi karena rasa bersalah yang tiba-tiba mengalir deras seperti air bah.
"Mas..." suaraku sedikit bergetar. "Kok dikasih ke aku semua? Kamu nggak pegang buat pegangan kamu sendiri?"
"Pegangan apa sih? Kan makan siang Mas udah kamu bekalin dari rumah. Bensin juga masih ada reimburse dari kantor. Udah, pakai aja buat kamu. Kamu kan jarang banget belanja buat diri sendiri. Bulan ini kamu capek banget urus rumah gara-gara Mbak Nur mudik kelamaan."
Mataku mulai memanas. Aku menunduk, mencengkeram kemeja yang sedang kulipat hingga kusut kembali.
"Makasih ya, Mas," ucapku pelan, menahan agar suaraku tidak pecah.
"Sama-sama, Sayang. Oh ya, nanti malam Mas pulangnya agak telat ya. Bos minta revisi laporan buat meeting besok pagi. Kamu sama Raka makan malam duluan aja, nggak usah nungguin Mas."
Ada jeda sejenak di otakku. Pulang telat. Rapat. Kata-kata itu berputar, mencoba memancing kembali rasa curigaku. Tapi dengan cepat aku menepisnya.
"Iya, nggak apa-apa. Nanti makanannya aku tutupin tudung saji. Kamu jangan telat makan lho, Mas. Nanti maag-mu kambuh lagi."
"Siap, Bos! Yaudah, Mas lanjut kerja dulu ya. Cium buat jagoan."
"Iya. Semangat, Mas."
Sambungan terputus.
Aku menatap layar ponselku yang kembali gelap. Hening menyelimuti ruang tengah, hanya tersisa suara efek tembakan dari mainan Raka.
Kuusap setitik air mata yang tanpa sadar lolos di sudut mataku. Betapa bodohnya aku. Betapa jahatnya aku.
Laki-laki itu banting tulang dari pagi sampai malam. Laki-laki itu memberikan seluruh sisa gajinya untukku dan anak kami. Laki-laki itu mengingat skincare-ku yang habis padahal aku hanya menyebutkannya sepintas minggu lalu.
Dan apa balasanku? Aku mencurigainya hanya karena sebuah panggilan tak terjawab dari klien yang tak tahu waktu. Aku mencurigainya menyembunyikan sesuatu di ponselnya, padahal mungkin ia hanya sedang stres dan butuh pelarian sesaat dengan menonton video atau membaca berita di kamar mandi.
Pantas saja ia marah saat kutegur pagi tadi. Pantas saja ia merasa terusik. Ia lelah, dan aku malah menambah beban pikirannya dengan kecurigaan yang tidak berdasar.
"Bunda nangis?"
Sebuah tangan mungil yang hangat menyentuh lututku. Aku tersentak. Raka sudah berdiri di sebelahku, menatap wajahku dengan alis bertaut bingung. Mata bundarnya—mata yang sangat mirip dengan milik ayahnya—menatapku penuh kekhawatiran polos.
Aku buru-buru tertawa kecil, menghapus sudut mataku dengan punggung tangan. "Eh? Enggak, Sayang. Bunda kelilipan debu tadi pas kibas baju."
"Debunya nakal ya? Sini Raka tiupin!" Raka memajukan bibirnya dan meniup mataku dengan serius. Hembusan napasnya yang berbau susu stroberi menyapu wajahku.
Aku tertawa, kali ini tertawa lepas, dan menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukanku. Kuhirup aroma rambutnya dalam-dalam. "Udah, udah sembuh. Makasih ya, pahlawan Bunda."
"Bunda, tadi Ayah telepon ya?" tanyanya dalam pelukanku.
"Iya. Ayah bilang, uang buat ke kebun binatang udah siap. Jadi Raka harus rajin panggang… eh, rakit mainannya!"
Raka bersorak kegirangan dan langsung berlari kembali ke tumpukan balok legonya.
Aku menarik napas panjang, mengisi paru-paruku dengan udara segar. Perasaanku jauh lebih ringan sekarang. Kabut hitam yang sejak dini hari tadi menggelayuti kepalaku perlahan menguap.
Aku meyakinkan diriku sekali lagi. Tidak ada yang salah dengan suamiku. Tidak ada rahasia kotor di rumah ini. Semua ketakutanku hanyalah ilusi dari pikiranku sendiri yang mungkin terlalu banyak membaca kisah perselingkuhan di media sosial.
Aku adalah istri yang beruntung. Dan aku tidak akan membiarkan pikiran negatif menghancurkan apa yang sudah kami bangun dengan susah payah.
Mas Bagas adalah suami yang setia. Titik.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar