Bau itu selalu sama. Campuran antara pembersih lantai yang tajam, aroma obat-obatan yang menguap, dan bau kematian yang berusaha disembunyikan oleh bunga-bunga plastik di lobi. Bagi Zian, bau karbol adalah aroma "pulang". Di usianya yang kesepuluh, ia lebih hafal jadwal kontrol suster daripada jadwal kartun di televisi.

"Zian, hari ini kita ganti perban di kaki kiri, ya? Jagoan harus tahan sedikit," ucap Suster Sarah dengan nada riang yang terdengar dipaksakan.

Zian hanya mengangguk kecil. Tubuhnya yang kurus tampak tenggelam di balik selimut putih rumah sakit yang kasar. Kulitnya pucat, hampir transparan, menonjolkan urat-urat biru yang berkelok seperti peta penderitaan. Di dadanya, sebuah alat bantu napas bekerja dengan suara klik-stt yang ritmisβ€”sebuah simfoni mekanis yang menjaga jantungnya tetap berdetak.

"Ayah dan Bunda belum datang, Sus?" tanya Zian pelan. Suaranya serak, seolah setiap kata harus melewati kerikil tajam di tenggorokannya.

Suster Sarah terhenti sejenak, tangannya yang terbungkus sarung tangan lateks sempat ragu. "Tadi Bunda telepon, katanya ada lembur di kantor. Ayah juga sedang menjemput kiriman barang di luar kota. Mereka pasti datang, Zian. Kamu tahu kan mereka sedang berjuang untukmu?"

Zian tersenyum tipis. Senyum yang terlalu tua untuk anak seusianya. "Iya, Sus. Berjuang mencari uang. Uang yang nantinya masuk ke botol infus ini, kan?"

Suster Sarah tidak menjawab. Ia hanya mempercepat gerakannya, seolah jika ia bergerak cukup cepat, ia bisa lari dari kenyataan pahit yang diucapkan pasien kecilnya itu.

Di luar jendela kamar 402, langit Jakarta mulai meredup, berubah menjadi warna ungu yang memar. Zian menatap keluar. Ia benci jendela itu. Bukan karena pemandangannya, tapi karena jendela itu mengingatkannya bahwa di luar sana ada dunia yang terus bergerak tanpa rasa sakit. Ada anak-anak yang berlari tanpa takut sendinya akan mengeras menjadi tulang. Ada orang tua yang tertawa tanpa harus menghitung sisa saldo di tabungan saat tagihan apotek datang.

Penyakit Zian adalah anomali genetika yang langka. Dalam istilah medis, itu adalah deretan bahasa Latin yang rumit, namun bagi Zian, itu hanyalah sebuah proses menjadi patung. Otot dan jaringan ikatnya perlahan-lahan berubah menjadi tulang. Ia adalah penjara bagi dirinya sendiri.

Dua jam kemudian, pintu kamar terbuka perlahan. Maya masuk dengan langkah gontai. Rambutnya berantakan, dan lingkaran hitam di bawah matanya tampak seperti luka lebam yang permanen. Ia berusaha tersenyum saat melihat anaknya masih terjaga.

"Sayang... maaf Bunda telat," bisik Maya, mencium kening Zian yang dingin.

"Bunda capek?" Zian balik bertanya, tangannya yang kaku berusaha mengusap pipi ibunya.

Maya menggeleng cepat, meski bahunya bergetar. "Enggak, Nak. Bunda cuma senang akhirnya bisa ketemu kamu. Tadi Bunda bawakan buku gambar baru. Kita gambar lagi, yuk?"

Zian melihat tas ibunya yang terbuka. Di dalamnya, ia melihat secarik kertas merahβ€”surat peringatan dari administrasi rumah sakit. Zian memalingkan wajah. Ia merasa dadanya sesak, bukan karena penyakitnya, tapi karena rasa bersalah yang mencekik.

Setiap tetes obat yang masuk ke tubuhnya adalah keringat ayahnya yang mengucur di bawah terik matahari. Setiap malam ia tidur di kasur empuk rumah sakit adalah malam-malam ibunya terjaga di depan layar komputer, mengejar target demi bonus yang tak seberapa.

Andai aku tidak ada, pikir Zian sambil menatap langit-langit plafon yang retak. Bunda bisa beli baju bagus. Ayah tidak perlu bekerja sampai batuk darah. Mereka bisa hidup normal.

"Zian? Kok melamun?" tanya Maya lembut.

"Bun... kalau nanti Zian tidur lama sekali, Bunda jangan sedih, ya? Bunda harus liburan ke pantai yang pernah Bunda ceritakan. Tanpa bawa botol infus, tanpa bawa kursi roda Zian."

Tangis Maya pecah saat itu juga, meski ia berusaha membungkamnya dengan telapak tangan. Di koridor rumah sakit, Adrianβ€”ayah Zianβ€”berdiri mematung di balik pintu yang sedikit terbuka. Ia baru saja tiba, masih mengenakan seragam kurirnya yang basah oleh sisa hujan. Ia mendengar ucapan anaknya. Adrian mengepalkan tangan hingga kukunya memutih.

Bagi dunia, Zian mungkin adalah sebuah kasus medis yang mustahil. Tapi bagi Adrian dan Maya, Zian adalah seluruh semesta mereka. Masalahnya, semesta itu perlahan-lahan runtuh, dan mereka tidak tahu sampai kapan sanggup menahannya agar tidak hancur sepenuhnya.

Malam itu, di kamar 402, hanya ada suara mesin napas yang terus berbunyi. Sebuah pengingat bahwa hidup itu mahal, dan bagi sebagian orang, bernapas adalah sebuah kemewahan yang harus dibayar dengan air mata