Suara klakson yang bersahut-sahutan di perempatan jalan Sudirman terasa seperti ribuan jarum yang menusuk gendang telinga Adrian. Jaket kurirnya yang berwarna hijau kusam sudah basah kuyup, bukan oleh hujan, melainkan oleh keringat yang mengucur di bawah terik matahari Jakarta yang mencapai 34°C.

Adrian melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul dua siang. Ia harus mengantarkan lima paket lagi dalam satu jam jika ingin mendapatkan bonus harian. Bonus itu hanya seratus ribu rupiah—angka yang bagi orang lain mungkin hanya cukup untuk sekali makan siang di mal, tapi bagi Adrian, itu adalah harga dua botol cairan infus untuk Zian.

"Ayo, sedikit lagi," bisiknya pada mesin motornya yang sudah mulai batuk-batuk.

Namun, nasib buruk seolah punya cara sendiri untuk menyapa mereka yang sedang berada di titik terendah. Saat mencoba menyalip di antara deretan mobil mewah, motor Adrian tiba-tiba mati total. Ia terpaksa menepi, mendorong motornya di atas aspal yang panas membara.

Ia membongkar bagasi dengan tangan gemetar. Nihil. Mesinnya terlalu lelah, sama seperti pemiliknya. Adrian terduduk di pinggir trotoar, menatap tumpukan paket yang harus sampai tepat waktu. Di saat itulah, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari Maya masuk.

“Mas, apotek menelepon. Obat penghambat osifikasi Zian sudah datang, tapi mereka tidak bisa menahan stoknya lebih dari sore ini kalau belum dibayar muka. Bisa kirim uangnya sekarang?”

Adrian memejamkan mata. Dunianya serasa runtuh. Di kantongnya hanya ada uang bensin dan sisa recehan. Uang bonus yang ia kejar baru akan cair malam nanti, itu pun jika motornya hidup kembali.

Rasa putus asa itu tiba-tiba berubah menjadi kemarahan yang liar. Adrian memukul stang motornya hingga tangannya memar. Mengapa dunia begitu kejam? Mengapa tulang-tulang anaknya harus mengeras sementara hatinya sendiri harus hancur berkeping-keping setiap hari?


Sementara itu, di Kamar 402, Zian sedang melakukan rencananya sendiri.

Ia tahu hari ini adalah jadwal suster untuk memberikan vitamin tambahan lewat infus. Vitamin itu mahal, Zian pernah melihat label harganya saat Maya membuang struknya ke tempat sampah.

"Suster Sarah," panggil Zian saat suster itu masuk membawa baki medis.

"Iya, Sayang? Waktunya vitamin biar Zian makin kuat, ya."

Zian menggeleng pelan. "Sus, hari ini nggak usah pakai vitamin ya? Zian merasa... sudah kuat sekali. Beneran. Lihat, tangan Zian bisa gerak sedikit lebih banyak hari ini."

Sarah tersenyum sedih. Ia tahu itu hanya usaha Zian. "Tidak bisa, Zian. Ini perintah dokter. Harus masuk ke tubuh Zian."

"Tapi kalau Zian nggak pakai, rumah sakit nggak akan tagih ke Ayah, kan? Ayah lagi kesulitan, Sus. Tadi pagi Ayah nggak sarapan karena uangnya dipakai buat bayar parkir RS." Zian menatap Sarah dengan mata besarnya yang berkaca-kaca. "Tolong, Sus. Buang saja vitaminnya, bilang ke Dokter kalau sudah masuk ke infus Zian. Biar Ayah nggak usah bayar itu."

Sarah terdiam di tempatnya. Ia telah bekerja sebagai perawat anak selama sepuluh tahun, tapi tidak pernah ada pasien yang memintanya untuk membuang obat demi menghemat uang orang tuanya. Keheningan di kamar itu terasa begitu menyesakkan.

"Zian..." suara Sarah bergetar. "Suster nggak boleh bohong soal medis."

"Berarti Suster mau lihat Ayah Zian jatuh dari motor lagi karena cari uang buat ini?" Zian mulai menangis tanpa suara. Air matanya mengalir melewati selang oksigen di hidungnya. "Zian lebih sakit lihat Ayah capek daripada sakit disuntik, Sus."

Sarah tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia mendekat dan memeluk tubuh mungil yang kaku itu. Ia menangis bersama Zian. Di balik punggung Sarah, Zian menatap botol vitamin itu dengan benci. Baginya, cairan bening itu bukanlah kehidupan—itu adalah racun yang membunuh perlahan masa depan Ayah dan Bundanya.

Sore itu, untuk pertama kalinya, Suster Sarah melakukan sesuatu yang melanggar protokol rumah sakit. Ia tidak membuang obatnya, tapi ia mencatatnya sebagai "sampel dari distributor" agar tagihan itu tidak masuk ke akun Adrian. Sebuah kebohongan kecil yang ia lakukan untuk menyelamatkan hati seorang anak sepuluh tahun.


Di luar RS, Adrian akhirnya sampai setelah mendorong motornya sejauh tiga kilometer. Ia masuk ke apotek dengan langkah terseok.

"Mbak... obat untuk Zian. Ini uang mukanya," ucap Adrian sambil menyodorkan beberapa lembar uang lecek yang ia dapat dari meminjam ke teman sesama kurir.

Ia tidak tahu bahwa di dalam sana, anaknya juga sedang berjuang dengan caranya sendiri—berusaha menghilang perlahan agar beban itu tidak lagi seberat ini.