Siang itu, koridor rumah sakit terasa lebih sibuk dari biasanya. Bunyi roda brankar yang didorong terburu-buru dan aroma makanan rumah sakit yang hambar memenuhi udara. Suster Sarah masuk ke kamar 402 untuk mengganti cairan infus Zian. Di antara semua staf medis, Suster Sarah adalah favorit Zian. Wanita itu selalu membawa aroma melati yang menenangkan, berbeda dengan bau obat-obatan yang membosankan.

"Sus, kalau orang meninggal itu... biayanya mahal juga nggak?" tanya Zian tiba-tiba saat Sarah sedang menyesuaikan kecepatan tetesan infus.

Suster Sarah hampir saja menjatuhkan kapas alkohol yang ia pegang. Ia menatap Zian dengan mata bulat penuh keterkejutan. "Zian, kenapa bicaranya begitu? Kita kan mau sembuh. Kita mau main bola lagi nanti kalau sudah kuat."

Zian tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung kedewasaan yang menyakitkan. "Zian tahu Zian nggak akan bisa main bola, Sus. Kaki Zian sudah nggak bisa ditekuk. Zian cuma baca di koran bekas yang dibawa Ayah kemarin. Katanya, biaya pemakaman dan sewa tanah itu mahal sekali sampai jutaan rupiah."

Zian menghela napas, dadanya yang sempit naik turun dengan berat. "Zian jadi kepikiran. Kalau nanti Zian mati, apa Ayah harus kerja lembur lagi buat bayar tanahnya? Zian pengennya... dibuang ke laut saja atau jadi pohon, biar gratis. Biar uang Ayah sisa buat beli kado ulang tahun buat Bunda. Tahun lalu Bunda nggak beli apa-apa."

Suster Sarah terduduk di kursi di samping tempat tidur. Ia memegang tangan Zian yang kecil dan dingin. Air mata hampir saja meluncur dari sudut matanya, namun ia menahannya sekuat tenaga. "Zian, dengar Suster. Ayah dan Bundamu itu tidak butuh kado, tidak butuh baju baru, apalagi motor baru. Mereka cuma butuh kamu ada di sini, bernapas bersama mereka. Itu bayaran paling mahal yang pernah mereka terima setiap harinya."

Zian terdiam, tidak sepenuhnya percaya. Baginya, cinta orang tuanya adalah sesuatu yang nyata, tapi penderitaan mereka juga jauh lebih nyata.

"Sus, boleh minta tolong?" Zian merogoh sesuatu dari bawah bantalnya yang sedikit agak keras. Sebuah kertas buku tulis yang sudah kumal, penuh dengan coretan krayon warna-warni yang tidak rapi karena tangan Zian sudah sulit digerakkan dengan presisi.

"Ini apa, Sayang?" tanya Sarah lembut.

"Ini surat buat Ayah dan Bunda. Tapi... tolong kasih ini kalau Zian sudah 'tidur lama' saja ya, Sus? Jangan sekarang. Kalau sekarang, nanti Bunda nangis lagi, Zian nggak suka lihat mata Bunda bengkak."

Sarah menerima kertas itu dengan tangan yang gemetar hebat. Ia bisa melihat judul besar di depan kertas itu: "TERIMA KASIH AYAH BUNDA, MAAF ZIAN MAHAL."

Di sudut ruangan, Maya yang baru saja kembali dari menebus obat di apotek bawah, berdiri mematung di balik pintu. Ia mendengar percakapan itu. Maya menyandarkan kepalanya di tembok rumah sakit yang dingin, menutup mulutnya dengan kedua tangan agar isakannya tidak pecah dan mengganggu momen itu.

Hatinya hancur berkeping-keping. Putranya yang baru berusia sepuluh tahun, yang seharusnya sibuk memikirkan mainan atau PR sekolah, justru sedang menghitung biaya kematiannya sendiri agar orang tuanya bisa hidup nyaman.

"Zian," bisik Maya dari balik pintu dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Bunda rela jadi miskin seumur hidup, asal Bunda tidak kehilangan kamu."

Malam itu, saat Zian akhirnya terlelap, Maya dan Adrian duduk berhadapan di kursi kayu sempit di luar kamar. Mereka tidak bicara. Hanya saling menggenggam tangan yang sama-sama kasar dan lelah. Di dalam kamar, di bawah bantal Zian, rahasia tentang seorang anak yang ingin "pergi" demi cinta mulai tumbuh menjadi duri yang paling tajam.