Pagi itu, Kamar 402 terasa lebih dingin dari biasanya. Aroma bubur ayam rumah sakit yang hambar menguar di udara, namun nampan plastik di atas meja lipat Zian masih tertutup rapat. Plastik penutupnya bahkan belum berembun, tanda makanan itu sama sekali tidak disentuh sejak diantarkan satu jam yang lalu.

"Zian, sayang... makan sedikit ya? Dua suap saja. Bunda suapi, pakai kerupuk kesukaanmu," bujuk Maya dengan suara yang serak. Matanya yang sembab menatap lekat-lekat pada putranya.

Zian memalingkan wajah ke arah jendela, menatap burung-burung gereja yang hinggap di dahan pohon kamboja di halaman rumah sakit. "Zian nggak lapar, Bun. Perut Zian rasanya penuh."

"Tapi kamu harus minum obat, Nak. Obat itu keras, lambungmu bisa luka kalau kosong," Maya mengaduk bubur itu dengan tangan gemetar. Ia mencoba menyodorkan satu sendok kecil ke bibir Zian.

Zian tetap mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Bun... satu porsi makanan ini harganya berapa di tagihan?"

Pertanyaan itu membuat sendok di tangan Maya berhenti di udara. Ia tertegun. "Zian, kenapa tanya begitu? Makan ini sudah masuk fasilitas kamar. Jangan dipikirkan."

"Zian lihat di TV, kalau kita nggak pesan makan, biayanya bisa dipotong. Zian mau Bunda saja yang makan. Bunda belum sarapan, kan?" Zian menatap ibunya dengan tatapan yang terlalu tajam untuk anak seusianya. "Bunda makin kurus. Zian nggak mau Bunda sakit gara-gara Zian."

"Bunda nggak apa-apa, Zian! Bunda kuat!" Suara Maya meninggi karena frustrasi, namun sedetik kemudian ia menutup mulutnya, menyesali nada bicaranya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga, jatuh tepat ke dalam mangkuk bubur hambar itu.

Zian tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata. Dalam benaknya, ia sedang berhitung: Satu porsi makan rumah sakit mungkin lima puluh ribu. Kalau tiga kali sehari, berarti seratus lima puluh ribu. Dalam sebulan, Ayah bisa simpan banyak uang untuk bayar kontrakan rumah kita yang menunggak.


Di koridor, Adrian sedang berbicara dengan Dokter Gunawan. Wajah Adrian pucat pasi. Ia baru saja menerima kabar bahwa dosis obat baru harus segera dimulai karena pengerasan otot di area punggung Zian mulai menekan saraf tulang belakangnya.

"Pak Adrian, Zian mulai menunjukkan tanda-tanda depresi klinis. Dia menolak makan, detak jantungnya sering melambat saat tidur karena dia sengaja menahan napas. Ini berbahaya," ucap Dokter Gunawan sambil menunjukkan grafik medis di tabletnya.

Adrian menyisir rambutnya dengan jemari yang kasar. "Dia cuma anak-anak, Dok. Mana mungkin dia mengerti soal depresi?"

"Zian bukan anak-anak biasa, Pak. Dia anak yang tumbuh di antara jarum suntik. Dia terlalu peka terhadap keadaan ekonomi Anda berdua. Saya sarankan Anda bicara padanya, beri dia alasan untuk tetap ingin hidup."

Adrian masuk ke kamar dengan hati yang hancur. Ia melihat Maya sedang menangis di kursi pojok, dan Zian yang pura-pura tidur. Adrian mendekat, lalu duduk di kursi plastik di samping brankar.

"Zian," panggil Adrian lembut. "Ayah baru dapat kabar bagus."

Zian membuka matanya sedikit. "Apa, Yah?"

"Ayah... Ayah dapat promosi di kantor. Sekarang Ayah jadi koordinator, nggak perlu keliling pakai motor lagi. Gajinya besar sekali, Zian. Jadi, Zian nggak perlu khawatir soal biaya lagi, ya? Makan yang banyak, biar kita bisa cepat pulang."

Kebohongan itu meluncur begitu saja dari bibir Adrian. Kenyataannya, ia baru saja ditegur karena motornya rusak dan ia terlambat mengantar paket. Ia terancam dipecat jika hal itu terulang lagi.

Zian menatap Ayahnya lama sekali, mencari kebohongan di mata pria itu. "Beneran, Yah? Ayah nggak perlu jatuh dari motor lagi?"

"Beneran, Sayang. Ayah janji," Adrian mengecup tangan Zian yang terasa semakin kaku.

Namun, sore itu, petaka terjadi. Tubuh Zian tiba-tiba kejang. Alarm di mesin pemantau jantung berbunyi nyaring, memecah kesunyian lantai empat. Tiiit... tiiit... tiiit...

"Suster! Dokter! Zian kejang!" teriak Maya histeris.

Para perawat berlarian masuk. Zian kekurangan glukosa drastis karena perutnya kosong, ditambah reaksi kimia dari obat yang ia minum tanpa alas makanan. Wajahnya membiru, tubuhnya melengkung kaku seperti busur panah. Di tengah kesadarannya yang menipis, Zian hanya membisikkan satu kata yang membuat Suster Sarah yang sedang memegang tabung oksigen jatuh terduduk.

"Biarkan... Zian... tidur... saja..."

Zian tidak ingin diselamatkan. Ia ingin "lampion" kecilnya padam, agar Ayah dan Bundanya tidak perlu lagi terbakar untuk menjaganya tetap menyala.