Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai rumah sakit yang kaku, menyinari butiran debu yang menari di atas brankar besi yang catnya mulai mengelupas. Zian baru saja terbangun, namun ia memilih untuk tetap memejamkan mata. Ia sudah hafal suasananya: bunyi detak jam dinding yang monoton, aroma antiseptik yang menusuk hidung, dan yang paling beratβ€”suara bisikan tajam dari balik pintu kamarnya.

Itu suara Ayahnya, Adrian. Suara yang biasanya tegas, kini terdengar pecah dan memohon.

"Tiga puluh juta? Tapi minggu lalu saya baru saja menyetor sepuluh juta hasil jual motor, Dok," bisik Adrian. Ada nada putus asa yang tertahan, seolah ia sedang menelan duri agar tidak berteriak di koridor rumah sakit yang sunyi.

"Saya mengerti, Pak Adrian," jawab Dokter Gunawan dengan nada datar namun penuh simpati profesional. "Sepuluh juta itu untuk biaya ruang isolasi dan fisioterapi intensif bulan lalu. Tapi obat Palovarotene yang baru didatangkan dari Singapura itu harganya melonjak mengikuti kurs. Kita tidak bisa menunda dosis berikutnya. Jika otot Zian mengeras di area diafragma, dia akan kesulitan bernapas secara mandiri. Kita berkejaran dengan waktu."

Zian meremas pinggiran selimutnya yang kasar. Ia pura-pura masih terlelap, mengatur napasnya agar tetap teratur meski jantungnya berdegup kencang. Di balik kelopak matanya, ia membayangkan wajah Ayahnya yang kusut. Pasti Adrian sedang meremas topi kurirnya yang sudah luntur warnanya, atau mungkin sedang memijat keningnya yang penuh kerutan prematur.

Setiap kali angka-angka itu disebutkanβ€”sepuluh juta, tiga puluh juta, seratus jutaβ€”Zian merasa tubuhnya semakin berat. Bukan hanya karena penyakit Fibrodysplasia Ossificans Progressiva (FOP) yang perlahan mengubah ototnya menjadi tulang, tapi karena beban rasa bersalah yang seolah menumpuk di atas dadanya seperti bongkahan batu besar. Ia merasa seperti sebuah lubang hitam yang terus-menerus menelan keringat, darah, dan air mata orang tuanya.

Pintu terbuka perlahan, mengeluarkan bunyi derit yang khas. Adrian masuk dengan langkah yang dipaksakan ringan. Ia berhenti sejenak di depan cermin kecil dekat wastafel, mengusap wajahnya dengan kasar seolah ingin menghapus jejak kelelahan sebelum menghadapi anaknya.

"Hei, Jagoan Ayah sudah bangun?" Adrian duduk di tepi kasur, mengusap rambut Zian yang mulai menipis akibat efek samping berbagai obat.

Zian membuka mata, menatap mata Ayahnya yang kemerahan dan berair. "Ayah... tadi Zian dengar suara Dokter. Apa Zian mahal sekali ya, Yah?"

Pertanyaan polos itu menghantam Adrian tepat di ulu hati. Ia terdiam cukup lama, tangannya gemetar saat menggenggam jemari Zian yang mulai kaku di bagian persendiannya. "Zian... tidak ada yang mahal untuk nyawa Ayah. Kamu itu investasi surga buat Ayah dan Bunda."

"Tapi Ayah jadi jarang pulang," bisik Zian. "Bunda juga sering nangis di kamar mandi. Zian tahu, Bun. Zian dengar suaranya lewat celah pintu."

Adrian memaksakan senyum, meski senyum itu tampak seperti luka yang dipaksa menutup. "Ayah cuma lagi banyak kerjaan, Sayang. Tadi Ayah lihat ada penjual es krim cokelat di depan RS. Nanti kalau dokter izinkan setelah pemeriksaan lab, Ayah belikan yang paling besar, ya?"

Zian menatap memar biru di lengan Ayahnya yang tersingkap dari balik jaket kurir. "Ayah jatuh lagi dari motor?"

Adrian cepat-cepat menarik lengan jaketnya. "Hanya terpeleset sedikit karena hujan semalam. Tidak apa-apa. Ayah kan kuat."

Zian memalingkan wajah ke jendela. Di luar sana, langit Jakarta tampak abu-abu, seolah ikut berduka. Dalam hati kecilnya, Zian mulai merangkai sebuah pikiran yang gelap namun logis bagi anak seusianya: Jika aku tidak ada, Ayah tidak perlu jatuh dari motor lagi. Bunda bisa beli baju baru, bukan terus-menerus memakai daster yang sudah robek di bagian ketiaknya.