Tanganku sedang menjahit luka di pelipis seorang anak laki-laki berusia enam tahun ketika telepon di saku jas dokterku bergetar untuk yang ketiga kalinya. Aku mengabaikannya. Pasienku menangis tanpa suara, matanya terpaku pada langit-langit ruang UGD, dan ibunya di sudut ruangan menggigit ujung kerudung agar tidak ikut menangis. Aku tidak boleh berhenti. Belum.
"Lima jahitan lagi, sayang," bisikku pada anak itu. "Setelah ini selesai, kamu boleh pilih stiker apa pun di laci Tante."
Telepon bergetar lagi. Kali ini lebih lama. Aku melirik perawat, Mbak Nita, dan ia mengerti tanpa kata. Dengan satu anggukan, ia menyelipkan tangan ke saku jasku, mengambil ponselku, dan membaca layarnya.
Wajahnya berubah. Aku melihatnya. Tujuh tahun aku bekerja di IGD Rumah Sakit Citra Medika, dan aku tahu betul wajah seperti apa yang Mbak Nita pasang ketika ada yang sangat tidak beres.
"Dokter Anggi," ucapnya pelan, "ini... dari kantor polisi."
Aku menyelesaikan jahitan terakhir dengan tangan yang masih tenang, tapi telinganya sudah berdenging. Polisi. Pukul setengah dua siang. Suamiku Prabowo seharusnya sedang dalam perjalanan pulang dari Bandung. Pertemuan bisnis biasa, katanya. Ia akan mampir membeli oleh-oleh untuk Kayla. Itu yang ia kirim lewat WhatsApp pukul sepuluh pagi.
"Selesai, ya," kataku pada anak laki-laki itu. Aku mencabut sarung tangan, mencuci tangan dua kali, dan baru kemudian aku berani menatap layar ponselku. Tiga panggilan tak terjawab. Satu pesan. *Mohon ibu segera ke kantor pusat Polres Bogor. Terkait Bapak Prabowo Hartanto.*
Aku tidak tahu bagaimana aku berjalan ke loker. Aku tidak tahu bagaimana aku berganti pakaian. Yang aku ingat hanya bau antiseptik di tanganku — bau yang sama dengan saat aku menutupi mata ayah lima tahun lalu di ruang ICU.
"Anggi." Dokter Hendra, kepala IGD, mencegatku di koridor. "Saya antar."
"Tidak perlu, Dok."
"Anggi, dengarkan saya. Anda jangan menyetir."
Aku menatapnya. Mungkin di mataku ia melihat sesuatu yang bahkan aku sendiri belum sadari. Karena ia mengambil kunci mobilku tanpa meminta izin, lalu menarik lenganku pelan menuju lift.
"Kayla?" tanyaku, tiba-tiba ingat anakku.
"Saya sudah minta Mbak Rania menjemputnya dari sekolah."
Aku mengangguk. Atau mungkin tidak. Aku tidak yakin tubuhku masih bekerja dengan benar.
Sepanjang perjalanan ke Bogor, aku tidak menangis. Aku hanya menatap jendela, menghitung tiang listrik, dan berkata pada diriku sendiri bahwa pasti ada kesalahan. Mungkin Prabowo hanya kena masalah lalu lintas kecil. Mungkin ia hanya saksi sebuah insiden. Mungkin polisi hanya butuh keterangan. Mungkin. Mungkin. Mungkin.
Tapi saat mobil Dokter Hendra masuk ke pelataran kantor polisi, dan aku melihat seorang petugas berseragam menunggu di depan pintu dengan wajah yang sudah mengandung permintaan maaf — saat itu juga aku tahu. Aku tahu, sebelum siapa pun mengucapkan satu kata.
"Ibu Anggraini Wulandari?"
"Iya."
"Mari ikut saya, Bu. Ke ruang identifikasi."
Ruang identifikasi itu dingin. Bukan dingin AC, tapi dingin yang berbeda. Dingin yang berasal dari fakta bahwa di balik tirai biru di hadapanku, ada tubuh yang menunggu. Petugas berdiri di sebelahku. Suaranya pelan, terlatih untuk situasi seperti ini.
"Bu, suami Ibu mengalami kecelakaan tunggal di Tol Jagorawi sekitar pukul sebelas pagi. Mobilnya menabrak pembatas dan terbakar. Kami menemukan dompet, KTP, dan jam tangan beliau. Tapi kami butuh identifikasi resmi dari pihak keluarga."
"Saya dokter," kataku, entah untuk siapa. "Saya pernah lihat jenazah."
"Saya tahu, Bu. Tapi ini berbeda. Ini suami Ibu."
Tirai itu ditarik perlahan. Aku menahan napas.
Tubuh di atas meja itu sebagian besar tertutup kain putih. Hanya kepala yang dibiarkan terlihat. Wajahnya... wajahnya masih bisa dikenali. Sebagian. Ada luka bakar di sisi kanan, tapi sisi kiri masih utuh. Cukup untuk membuat aku berlutut di lantai dingin itu dan menutup mulutku dengan kedua tangan.
Prabowo.
Suamiku.
Ayah Kayla.
"Bu Anggraini, kami sangat menyesal."
Aku tidak bisa bicara. Aku hanya mengangguk, terus mengangguk, sampai petugas itu meraih lenganku dan membantuku berdiri.
Lalu mataku jatuh ke lehernya.
Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang aneh. Sebuah memar memanjang yang tidak konsisten dengan luka kecelakaan. Aku sudah cukup sering melihat korban kecelakaan untuk tahu bahwa luka di leher seperti itu bukan akibat sabuk pengaman, bukan akibat benturan setir.
"Pak," kataku dengan suara yang baru saja kembali. "Memar di leher ini... apakah sudah ada di kondisi awal saat ditemukan?"
Petugas itu terdiam sejenak. Lalu, dengan hati-hati, ia menjawab, "Iya, Bu. Tim forensik sudah mencatatnya. Mungkin akibat pecahan kaca, atau benturan."
Mungkin. Aku benci kata itu. Sebagai dokter, aku tahu perbedaan antara luka yang masuk akal dan luka yang janggal. Dan memar di leher Prabowo, dengan pola seperti itu, dengan warna seperti itu — bukan luka yang sederhana.
"Saya ingin laporan otopsi lengkap," ucapku, suaraku berubah menjadi sesuatu yang dingin dan profesional. "Saya istrinya. Saya berhak."
"Tentu, Bu. Akan kami siapkan."
Aku berdiri di sana lebih lama dari yang seharusnya. Menatap memar itu. Menghafalnya. Lalu menatap wajah Prabowo untuk terakhir kali — wajah yang pagi ini masih mencium kening Kayla sebelum berangkat. Wajah yang tujuh tahun lalu menjanjikan akan menjagaku selamanya.
Lalu aku berbalik. Berjalan keluar. Menelepon Rania dengan tangan yang akhirnya gemetar.
"Ran," ucapku. "Prabowo... Prabowo sudah tidak ada."
Di seberang sana, Rania terdiam selama tiga detik penuh. Lalu suaranya pecah, "Anggi, aku akan ke rumahmu sekarang. Kayla aman bersamaku. Kamu jangan pulang sendirian."
Aku menutup telepon. Berjalan ke parkiran. Lalu — karena tidak ada satu pun bagian dari diriku yang masih kuat — aku duduk di trotoar di depan kantor polisi itu, dan untuk pertama kalinya hari itu, aku menangis tanpa suara.
Ponselku bergetar lagi. Nomor tak dikenal.
Aku mengangkatnya hanya karena tanganku bergerak otomatis.
"Halo?"
Hening sejenak. Lalu suara seorang pria — dingin, dalam, dan terkendali — mengisi telinganya.
"Anggraini. Ini Reksa."
Reksa. Kakak Prabowo. Pria yang sudah tiga tahun aku tidak temui. Pria yang di pernikahan kami dulu hanya datang lima belas menit, mengucapkan selamat tanpa senyum, lalu pergi.
"Aku sudah tahu," lanjutnya. "Aku akan datang ke kantor polisi sekarang."
"Kak..." aku tidak tahu harus mengatakan apa.
"Anggraini, dengarkan aku baik-baik. Jangan bicara dengan siapa pun tentang detail kematian Prabowo. Bukan dengan polisi, bukan dengan media, bukan dengan siapa pun. Sampai aku tiba di sana. Mengerti?"
Aku tidak mengerti.
Tapi aku menjawab, "Iya."
Karena ada sesuatu dalam suaranya. Sesuatu yang membuat aku, di tengah duka yang baru saja kuterima, mendadak merasakan rasa takut yang sama sekali baru.
Apa yang Reksa tahu, yang aku tidak tahu?
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar