"Menikah denganku."


Dua kata itu mengisi ruang tamuku dengan kekuatan yang lebih mengerikan daripada angka tujuh miliar kemarin.


Reksa duduk di sofa yang sama, memakai kemeja putih dengan lengan terlipat sampai siku — pakaian paling kasual yang pernah aku lihat ia kenakan. Tapi ekspresinya tetap sama. Tidak ada satu otot pun di wajahnya yang bergerak untuk menunjukkan bahwa kalimat yang baru saja ia ucapkan adalah kalimat yang paling absurd dalam hidupku.


Aku tertawa. Kali ini benar-benar tertawa.


"Kak Reksa, kalau ini lelucon, aku tidak sedang dalam mood."


"Aku tidak melucu."


Aku berhenti tertawa.


"Kamu serius."


"Sangat serius."


Aku berdiri. Berjalan ke dapur. Menuangkan air dingin ke gelas dengan tangan yang gemetar. Meneguknya. Lalu menuangkan lagi. Lalu kembali ke ruang tamu, masih memegang gelas itu sebagai semacam tameng simbolis antara aku dan pria di hadapanku.


"Jelaskan," ucapku akhirnya.


Reksa menyilangkan tangannya. Sikapnya berubah — bukan menjadi lebih lembut, tapi menjadi lebih seperti seorang pengacara di ruang sidang. Dan aku ingat bahwa itu memang profesinya.


"Pinjaman tujuh miliar itu atas nama personal Prabowo, dengan jaminan rumah dan aset bersama. Kalau kamu tetap menjadi ahli waris tunggal, semua kewajiban itu jatuh ke kamu, dan bank akan menyita aset dalam dua minggu. Kamu akan kehilangan semuanya, dan Kayla akan terdaftar sebagai anak yang punya catatan utang warisan — sesuatu yang akan mempersulit hidupnya selamanya."


"Aku tahu itu—"


"Tapi," ia memotong, "kalau kamu menikah lagi sebelum proses penyitaan selesai, dengan seseorang yang punya hubungan keluarga dengan Prabowo dan punya kemampuan finansial untuk menanggung utang itu, situasinya berbeda. Utang bisa dialihkan menjadi kewajiban keluarga, bukan kewajiban pribadi. Aset bisa dilindungi. Status warisan Kayla aman."


"Dan orang itu adalah kamu."


"Ya."


Aku menatapnya. Menatapnya dengan campuran kemarahan, kebingungan, dan satu emosi lain yang tidak ingin aku akui — semacam kelegaan tersembunyi bahwa setidaknya ada satu solusi yang nyata. Tapi kelegaan itu langsung ditelan oleh kemarahan, karena bagaimana mungkin aku — istri Prabowo yang baru empat hari menjanda — sedang duduk mendiskusikan pernikahan dengan kakak iparku sendiri?


"Kak Reksa, dengar," kataku, suaraku berusaha tenang. "Aku hargai niatmu. Tapi ini gila. Suamimu... maksudku, adikmu — Prabowo — baru saja meninggal. Aku belum bisa berpikir tentang—"


"Anggraini." Suaranya memotong, tegas. "Aku tidak menawarkan cinta. Aku tidak menawarkan rumah tangga. Aku tidak menawarkan kasih sayang. Yang aku tawarkan adalah perlindungan hukum dan finansial untukmu dan Kayla. Tidak lebih. Tidak kurang."


"Lalu apa? Kita tinggal serumah, pura-pura suami istri di luar, tapi tidak saling menyentuh di dalam?"


"Tepat."


"Dan kamu tidak akan keberatan?"


"Aku tidak akan keberatan."


Ia mengucapkan itu dengan keyakinan yang membuatku entah kenapa, tersinggung. Seolah aku adalah barang yang sangat mudah untuk tidak ia inginkan. Seolah gagasan menyentuhku adalah hal terakhir yang pernah ada di pikirannya.


Aku tidak tahu kenapa itu membuatku marah. Tapi marah.


"Kenapa?" tanyaku. "Kenapa kamu mau melakukan ini? Kamu tidak pernah dekat denganku. Kamu bahkan tidak pernah dekat dengan Kayla. Kenapa tiba-tiba kamu mau mengorbankan tujuh miliar dan kebebasanmu sendiri demi kami?"


Reksa terdiam. Lama. Lebih lama dari yang aku harapkan. Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat sesuatu retak di wajahnya — sesuatu yang sangat halus, sangat cepat, lalu langsung tertutup lagi.


"Karena Prabowo adikku," jawabnya akhirnya. "Dan apa pun yang dia lakukan saat masih hidup — apa pun kesalahannya — dia tetap adikku. Kayla adalah anaknya. Aku tidak akan membiarkan anak itu tumbuh dengan beban dosa ayahnya."


"Itu bukan alasan untuk menikahiku."


"Itu alasan yang paling masuk akal yang akan aku berikan padamu."


Sesuatu dalam jawabannya — sesuatu dalam frase "yang akan aku berikan padamu" — membuatku merasa bahwa ada lapisan lain. Sesuatu yang ia sembunyikan. Tapi aku terlalu lelah untuk menggali.


"Lalu bagaimana di mata orang?" tanyaku, mengganti topik. "Suamiku baru saja meninggal lima hari lalu. Kalau aku menikah lagi minggu depan, dengan kakak iparku sendiri, semua orang akan menggosipkan kami. Mereka akan bilang aku perempuan murahan. Akan bilang aku selingkuhan kamu sejak dulu."


"Mereka akan bilang apa pun yang mereka mau," jawab Reksa datar. "Aku tidak peduli pada gosip."


"Kamu mungkin tidak. Tapi Kayla, suatu hari, akan dengar. Anak-anak kecil tidak peduli kebenaran. Mereka peduli pada apa yang mereka dengar di sekolah."


Reksa terdiam. Untuk pertama kalinya, aku melihat ia mempertimbangkan sesuatu dengan serius. Bukan karena nasihatnya sebagai pengacara, tapi karena pertimbangannya sebagai paman dari Kayla.


"Maka kita lakukan akad sederhana," ucapnya akhirnya. "Tanpa pesta. Tanpa publikasi. Hanya keluarga inti. Cukup untuk legalitas, tidak cukup untuk gosip."


"Mertua aku akan setuju?"


"Ibu sudah aku ajak bicara semalam. Dia setuju."


Aku terkejut. "Sudah?"


"Ya. Karena ibu juga tahu utang ini. Dan ibu juga tahu kalau kita tidak bertindak cepat, nama keluarga Hartanto bisa hancur. Bagi ibu, melindungi nama keluarga lebih penting daripada apa pun."


Aku tertawa pahit. "Termasuk lebih penting daripada perasaan menantunya."


"Termasuk."


Aku berdiri. Berjalan ke jendela. Memandang halaman rumahku — pohon mangga yang Prabowo dan aku tanam. Ayunan kecil Kayla. Tempat Prabowo dan aku duduk minum kopi setiap minggu pagi, membaca koran, menertawakan tingkah Kayla.


Rumah itu akan hilang dalam enam belas hari.


Atau aku menikah dengan kakak iparku.


Sebuah pilihan yang seharusnya tidak pernah harus dibuat oleh siapa pun.


"Aku perlu waktu," ucapku tanpa berbalik.


"Kamu punya tiga hari."


"Tiga hari? Itu—"


"Setelah hari ketiga, bank akan mulai memproses surat penyitaan. Setelah surat itu keluar, transaksi pengalihan utang akan jauh lebih sulit secara hukum. Tiga hari, Anggraini. Itu maksimum yang bisa aku berikan."


Aku berbalik. Reksa sudah berdiri, tasnya sudah di tangan. Ia berjalan ke arahku, dan untuk sesaat, jarak di antara kami menjadi terlalu dekat.


Aku tidak tahu apa yang merasuk ke dalam diriku. Mungkin lelah. Mungkin marah. Mungkin gabungan dari semua yang sudah menumpuk dalam empat hari terakhir.


Tapi tanganku bergerak sebelum otakku sempat menghentikannya.


Tamparan itu keras. Telapak tanganku terbakar. Dan wajah Reksa — wajahnya berputar setengah karena tamparan, lalu kembali menatapku, dengan pipi yang mulai memerah.


Ia tidak bergerak. Tidak marah. Tidak menyentuh pipinya. Hanya menatapku, dengan tatapan yang sama dingin seperti sebelumnya — hanya saja, kali ini, ada sesuatu yang lebih dalam di sana. Seperti seseorang yang sudah memprediksi tamparan itu, dan menerimanya sebagai bagian dari transaksi.


"Kamu punya tiga hari," ulangnya pelan.


Lalu ia berbalik, berjalan ke pintu, dan menutupnya pelan di belakangnya.


Aku terdiam di tengah ruang tamuku. Tanganku masih berdenyut. Dan untuk pertama kalinya sejak Prabowo meninggal, aku sadar bahwa duka bukan satu-satunya emosi yang akan menggerogoti dadaku dalam minggu-minggu mendatang.


Ada sesuatu yang lebih aneh. Lebih membingungkan. Lebih berbahaya.


Sesuatu yang bahkan aku belum berani memberinya nama.