Angka itu seperti palu yang menghancurkan dadaku.


Reksa datang tepat jam sembilan pagi, persis seperti yang ia katakan. Aku sudah menyuruh Bi Surti, asisten rumahku, mengantar Kayla ke rumah Rania untuk pagi itu. Rumahku terasa kosong tanpa suara Kayla — kosong seperti yang aku rasakan sejak Prabowo tidak ada.


Reksa duduk di sofa ruang tamuku tanpa menyentuh teh yang aku sajikan. Ia membuka tas kulitnya, mengeluarkan setumpuk dokumen, dan menyusunnya di meja kopi dengan urutan yang tampak sudah ia pikirkan matang-matang.


"Anggraini," ia memulai, suaranya tetap dingin. "Apa Prabowo pernah cerita tentang kondisi keuangan perusahaan?"


"Tidak banyak. Dia bilang semua baik-baik saja. Bahkan dua bulan lalu dia bilang Hartanto Grup baru saja menandatangani kontrak proyek besar."


Reksa mengangguk pelan. Lalu, dengan satu tangan, ia menyodorkan dokumen pertama.


"Baca."


Aku mengambilnya. Surat dari sebuah bank swasta. Ditujukan kepada Prabowo Hartanto. Tertanggal dua minggu lalu. Isinya: pemberitahuan jatuh tempo pinjaman atas nama Hartanto Grup, dengan jaminan personal dari Direktur Operasional. Total kewajiban: tujuh miliar rupiah.


Aku membacanya tiga kali. Setiap kali membaca, angka itu tidak berubah. Tapi setiap kali membaca, dadaku semakin sesak.


"Tujuh miliar?" suaraku pecah. "Kak, ini... ini pasti salah. Prabowo tidak pernah bilang—"


"Tentu saja dia tidak bilang." Reksa memotong tanpa emosi. "Karena kalau dia bilang, kamu akan tahu bahwa pinjaman itu dijaminkan dengan rumah ini, tabungan pendidikan Kayla, dan semua aset atas nama kalian berdua."


"Apa?"


Aku berdiri. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena tubuhku tidak tahu cara lain untuk merespons. Aku berjalan ke jendela, memunggungi Reksa, mencoba bernapas.


Rumah ini — rumah yang Prabowo dan aku beli enam tahun lalu, yang setiap dindingnya kami cat sendiri di akhir pekan, yang halamannya kami tanami pohon mangga karena Kayla suka — rumah ini akan diambil bank.


Dan tabungan pendidikan Kayla. Tabungan yang aku setor setiap bulan dari gajiku sebagai dokter, sejak Kayla berusia satu tahun. Tabungan untuk masa depannya. Hilang.


"Kenapa," aku berbalik, mataku basah lagi, "kenapa Prabowo pinjam uang sebanyak itu?"


Reksa menatapku lama. Lalu menjawab dengan suara yang lebih pelan, "Aku belum tahu pasti. Tapi aku punya dugaan."


"Apa dugaanmu?"


"Anggraini, Prabowo terlibat dalam sesuatu di kantor. Sesuatu yang aku belum bisa buktikan. Pinjaman ini... bukan untuk operasional perusahaan. Aku sudah cek pembukuan resmi. Uang ini tidak pernah masuk ke kas Hartanto Grup."


"Lalu ke mana?"


"Itu yang aku ingin tahu."


Aku duduk lagi di sofa. Tanganku gemetar. Aku menggenggam dokumen-dokumen itu erat, seolah bisa menghapus apa yang tertulis di dalamnya.


"Apa Prabowo punya rekening pribadi yang aku tidak tahu?" tanyaku, suaraku hampir berbisik.


"Ada tiga," jawab Reksa, dan ia menyodorkan dokumen lain. "Aku sudah cek lewat akses internal. Total saldo di tiga rekening itu, per minggu lalu, hanya tiga ratus juta. Tidak cukup untuk membayar bunga sebulan dari pinjaman ini."


"Tiga rekening yang aku tidak tahu," ulangku. Suaraku terdengar asing di telinga sendiri. "Dia punya tiga rekening yang aku tidak tahu."


"Anggraini," Reksa menatapku, "ini bukan saatnya berduka soal seberapa banyak Prabowo menyembunyikan dari kamu. Ini saatnya menyelamatkan Kayla."


Kalimat itu, dingin seperti pisau, justru menyadarkanku.


"Berapa waktu yang aku punya?" tanyaku akhirnya.


"Bank memberi tenggat tiga puluh hari sejak surat ini dikirim. Artinya kamu punya enam belas hari lagi, sebelum mereka mulai prosedur penyitaan."


Enam belas hari.


Untuk membayar tujuh miliar.


Aku tertawa. Bukan tawa yang sebenarnya. Tawa yang keluar karena otak menolak menerima kenyataan.


"Kak Reksa, aku dokter. Gajiku per bulan tidak sampai lima puluh juta. Aku tidak punya uang sebanyak itu. Aku bahkan tidak punya satu persen dari itu."


"Aku tahu."


"Apakah... apakah ada cara untuk memperpanjang tenggat? Negosiasi dengan bank?"


"Aku sudah coba. Aku menelepon direktur bank itu kemarin. Jawabannya tegas: tidak ada perpanjangan. Pinjaman ini sudah dua kali direstrukturisasi sebelumnya. Mereka tidak akan memberikan kesempatan ketiga."


"Dua kali direstrukturisasi?" suaraku pecah. "Berapa lama Prabowo punya pinjaman ini?"


"Dua tahun."


Dua tahun. Dua tahun penuh suamiku hidup dengan tujuh miliar utang di pundaknya, dan setiap pagi ia masih sempat tersenyum padaku di meja makan, masih sempat menggendong Kayla saat anak itu menangis tengah malam, masih sempat berkata "I love you" sebelum berangkat kerja.


Dua tahun penuh kebohongan.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?"


Reksa terdiam. Menatapku dengan tatapan yang akhirnya, untuk pertama kali sejak ia tiba pagi itu, mengandung sesuatu yang bukan sekadar dingin. Sesuatu yang lebih seperti — pertimbangan. Seperti seseorang yang sedang menimbang ucapannya.


"Ada satu cara aku bisa menyelamatkanmu dan Kayla," ucapnya akhirnya. "Tapi kamu tidak akan suka."


Aku menatapnya. Menanti. Hatiku berdegup keras.


Tapi Reksa tidak melanjutkan. Ia berdiri. Memungut tasnya. Berjalan ke pintu.


"Pikirkan dulu seberapa rela kamu kehilangan rumah ini dan tabungan Kayla," ucapnya tanpa berbalik. "Aku akan kembali besok. Jam yang sama. Dan saat itu, aku akan menjelaskan caranya."


Pintu tertutup.


Aku duduk di sofa dengan tujuh miliar rupiah dalam bentuk kertas-kertas di pangkuanku, dan satu kalimat menggantung di udara — kalimat yang akan menentukan masa depanku dan Kayla.


Aku menelepon Rania.


"Ran," suaraku gemetar. "Bisa jemput aku? Aku butuh bicara."


"Anggi, ada apa?"


Aku menatap kertas-kertas itu lagi. Tujuh miliar. Enam belas hari. Satu tawaran yang aku belum tahu isinya — tapi aku sudah merasakan, di dasar perutku, bahwa tawaran itu akan mengubah hidupku selamanya.


"Hidupku baru saja runtuh untuk yang kedua kali dalam empat hari," jawabku. "Dan aku belum tahu apakah aku punya cukup tenaga untuk bangun lagi."


Sambil menunggu Rania datang, aku berjalan ke kamar Kayla. Anakku belum pulang. Tapi aku ingin berada di kamarnya. Aku ingin mengingat bahwa apa pun keputusan yang akan aku ambil dalam beberapa hari ke depan, satu-satunya alasannya hanya satu: anak yang tidur di ranjang ini setiap malam.


Aku duduk di tepi tempat tidurnya. Memandang foto Prabowo di meja kecil sebelah lampu — foto Prabowo menggendong Kayla yang baru lahir, tersenyum lebar, matanya berbinar dengan kebanggaan seorang ayah baru.


"Bo," bisikku pada foto itu, "kenapa kamu tinggalkan kami dengan utang sebanyak ini? Kenapa kamu tidak pernah cerita?"


Foto itu tidak menjawab. Tentu saja tidak.


Tapi untuk pertama kalinya sejak kabar kematiannya, aku merasakan sesuatu yang bukan duka. Sesuatu yang lebih dekat ke kemarahan.


Marah pada Prabowo. Marah pada dirinya yang menyembunyikan tiga rekening dan tujuh miliar utang. Marah pada dirinya yang mati sebelum sempat aku tanyai.


Dan rasa marah itu — anehnya — terasa lebih mudah dipikul daripada duka.