Rania datang membawa kopi dan satu kalimat yang mengubah segalanya: "Aku rasa Prabowo tidak benar-benar kecelakaan."


Sore itu, langit di atas Jakarta sudah berubah jingga. Aku duduk di teras belakang rumahku, kaki dilipat di atas kursi rotan tua peninggalan ayahku. Kayla sedang tidur siang di kamarnya — tidur yang akhir-akhir ini lebih panjang dan lebih sering, seolah tubuh kecilnya tahu bahwa ada sesuatu di rumah ini yang sedang berduka, dan ia memilih untuk menyimpan tenaganya.


Rania duduk di seberangku. Menyodorkan satu cup kopi dari kafe favorit kami di Kemang. Kafe yang biasa kami datangi setiap Sabtu sore sejak SMA. Tradisi yang sudah dua belas tahun kami jaga, sampai aku menikah dan punya Kayla, lalu jadwalnya berubah jadi sebulan sekali.


"Rania, jangan main-main."


"Aku serius, Anggi." Rania menatapku. Mata sahabatku itu — mata yang biasanya jenaka, yang biasanya selalu siap dengan candaan untuk mencairkan suasana — kali ini sangat serius. "Sebagai jurnalis, aku punya naluri. Dan naluriku sejak hari pemakaman terus berteriak bahwa ada yang tidak beres."


"Naluri saja tidak cukup."


"Aku tahu. Makanya aku mulai menggali."


Aku menatapnya tajam. "Kamu menggali apa?"


Rania mengeluarkan tablet dari tasnya. Membuka beberapa folder. Lalu menyodorkannya padaku.


"Pertama: lokasi kecelakaan. Tol Jagorawi KM 28. Di titik itu, tidak ada tikungan tajam, tidak ada lubang, tidak ada konstruksi. Cuaca pagi itu cerah. Tidak ada saksi mata yang melihat mobil lain memotong jalur Prabowo. Polisi menyimpulkan kecelakaan tunggal akibat 'kemungkinan microsleep atau ban pecah'. Tapi ban mobil Prabowo, berdasarkan dokumen forensik yang aku berhasil lihat, tidak menunjukkan tanda-tanda pecah sebelum tabrakan. Pecahnya setelah benturan."


"Dan?"


"Kedua: rekaman CCTV. Aku sudah cek ke pengelola tol. Mereka bilang CCTV di KM 27 sampai KM 30 'sedang dalam perbaikan' tepat di hari kejadian. Convenient."


"Bisa jadi kebetulan."


"Ketiga: Aku coba akses laporan kondisi internal mobil. Mobil Prabowo Mercedes baru, dibeli enam bulan lalu. Sistem keamanannya canggih. Ada fitur emergency call otomatis kalau terjadi tabrakan. Anehnya, sistem itu tidak aktif saat kejadian. Padahal status servis mobil terakhir, dua minggu sebelumnya, semua fitur normal."


Aku terdiam. Meneguk kopi. Pahit.


"Keempat," lanjut Rania, dan ini yang membuat dadaku berdegup paling keras, "ini yang baru aku dapat tadi pagi. Aku punya sumber di kepolisian. Dia bilang, hasil otopsi awal yang akan dirilis ke publik akan menyebutkan 'kematian akibat luka benturan'. Tapi catatan internal, yang tidak akan masuk ke laporan publik, menyebutkan adanya 'tanda-tanda kekerasan pra-kecelakaan' di area leher dan kepala bagian belakang."


"Ya Allah."


Aku menyentuh wajahku dengan tangan dingin. Memar di leher Prabowo. Memar yang aku lihat di kamar identifikasi. Memar yang sejak hari itu terus menggangguku, tapi aku coba abaikan karena terlalu sibuk dengan duka.


"Anggi," Rania menggenggam tanganku. "Aku tidak bilang aku punya bukti. Aku belum punya. Tapi aku punya cukup keanehan untuk yakin bahwa kematian Prabowo bukan kecelakaan biasa."


"Lalu... siapa? Kenapa?"


"Itu yang harus kita cari tahu. Dan aku rasa, jawabannya ada di kantor Hartanto Grup."


Aku diam. Pikiranku berloncatan. Tujuh miliar utang yang Prabowo sembunyikan. Pinjaman yang tidak masuk ke kas perusahaan. Kakak iparku yang tiba-tiba menawarkan pernikahan dengan ketenangan yang mencurigakan. Dan sekarang ini.


"Ran, ada hal lain yang harus aku ceritakan padamu."


Lalu aku ceritakan semuanya. Tentang Reksa. Tentang utang. Tentang tawarannya. Tentang tamparan yang aku berikan dan tatapan dingin yang aku terima sebagai balasan.


Rania mendengarkan tanpa menyela. Saat aku selesai, ia meneguk kopinya sampai habis, lalu menghela napas panjang.


"Anggi, aku akan jujur denganmu, dan kamu jangan marah."


"Bilang saja."


"Tawaran Reksa itu menyelamatkanmu dari satu masalah. Tapi kamu masuk ke masalah baru yang lebih besar."


"Aku tahu."


"Tapi," lanjutnya, "aku juga akan jujur soal yang kedua. Kalau Prabowo memang dibunuh, dan pembunuhnya ada hubungan dengan kantor Hartanto, maka berada di dekat keluarga itu mungkin justru cara tercepat kamu untuk menemukan kebenaran."


Aku menatapnya.


"Maksudmu?"


"Maksudku, kamu punya dua pilihan. Pertama, tolak Reksa, kehilangan rumah dan tabungan Kayla, lalu hidup di pinggir jalan sambil mencoba menyelidiki kematian suamimu sendiri tanpa akses ke informasi internal keluarganya. Atau kedua, terima Reksa, dapatkan akses ke rumah Hartanto, ke dokumen internal, ke orang-orang yang mungkin tahu sesuatu — sambil memastikan Kayla aman secara hukum dan finansial."


"Kamu menyuruhku menikah dengan Reksa."


"Aku menyuruhmu memilih opsi yang lebih memberimu kekuatan untuk balas dendam."


Aku tertawa pahit. "Ini bukan film."


"Tidak. Ini lebih buruk. Ini hidupmu."


"Ran, kamu tidak mengerti. Kamu tidak bertemu Reksa. Kamu tidak melihat tatapannya. Laki-laki itu... ada sesuatu yang dia sembunyikan. Aku bisa merasakannya. Setiap kali dia menatapku, aku merasa seperti dia sedang membaca buku yang sudah dia hafal halamannya, bukan buku baru."


"Justru itu," Rania menatapku tajam. "Justru karena dia menyembunyikan sesuatu, kamu harus dekat dengannya. Karena hanya dengan dekat, kamu bisa tahu apa yang dia sembunyikan."


"Bagaimana kalau yang dia sembunyikan adalah... dia yang membunuh Prabowo?"


Pertanyaan itu keluar dari mulutku sebelum aku sempat menyaringnya. Tapi begitu sudah keluar, aku tidak bisa menariknya. Aku bahkan tidak yakin kapan kecurigaan itu mulai tumbuh di kepalaku — mungkin sejak telepon pertamanya di kantor polisi, mungkin sejak ketenangannya yang aneh saat menawarkan pernikahan, mungkin sejak tatapannya yang dingin di pemakaman.


Rania terdiam lama. Lalu menjawab dengan hati-hati, "Maka itu lebih penting lagi kamu dekat dengan dia. Karena kalau benar dia pelakunya — kamu butuh berada di posisi yang bisa membongkarnya dari dalam."


Aku terdiam lama. Memandang langit yang sudah berubah ungu. Mendengar suara cicadas dari halaman belakang. Mendengar napas Kayla yang samar dari kamarnya melalui jendela yang sedikit terbuka.


Putriku.


Putriku berusia tiga tahun. Putriku yang masih bertanya kapan ayahnya pulang. Putriku yang asmanya bisa kambuh kapan saja, dan butuh akses ke fasilitas kesehatan terbaik. Putriku yang tidak boleh tumbuh dengan cap "anak penunggak utang miliaran".


Putriku layak mendapatkan ibu yang punya kekuatan, bukan ibu yang menangis di pinggir jalan.


"Ran."


"Iya?"


"Aku akan menerima tawaran Reksa."


Rania menatapku lama. Lalu mengangguk pelan. "Aku tahu kamu akan bilang itu. Tapi aku ingin kamu tahu satu hal: aku akan ada di sisimu, sepanjang ini. Apa pun yang terjadi."


"Terima kasih."


"Dan Anggi..."


"Hm?"


"Hati-hati dengan Reksa. Aku belum kenal dia, tapi laki-laki yang menawarkan pernikahan kepada janda adiknya empat hari setelah pemakaman — laki-laki seperti itu punya alasan yang dia sembunyikan. Cari tahu alasannya. Cepat atau lambat."


Aku mengangguk.


Rania pulang sebelum maghrib. Aku masih duduk di teras itu, kopiku sudah dingin, sampai langit berubah benar-benar gelap. Lalu aku berdiri, masuk ke rumah, dan mengambil ponselku.


Mengetik pesan ke nomor Reksa.


*Kak, jawabannya iya. Tapi aku punya beberapa syarat. Kapan kita bisa bicara?*


Pesan terkirim.


Tiga puluh detik kemudian, balasannya masuk.


*Besok. Pukul sembilan pagi. Kantor pengacaraku. Aku akan kirim alamatnya.*


Aku menatap layar ponselku. Lalu, perlahan, aku mematikannya.


Dan untuk pertama kalinya sejak hari kematian Prabowo, aku tidak menangis sebelum tidur.


Karena kali ini, aku bukan lagi janda yang kehilangan suami.


Aku adalah seorang ibu yang baru saja memutuskan untuk berperang.


Bahkan jika perangnya berarti aku harus tidur di rumah musuhku sendiri.