Aku menguburkan suamiku dengan satu pertanyaan yang tidak pernah bisa kutanyakan: kenapa kamu pergi tanpa pamit?
Pemakaman dilakukan dua hari setelah jenazah dibawa pulang. Cuaca pagi itu mendung, tapi tidak sampai hujan — seolah langit sendiri tidak tahu harus menangis atau diam. Aku berdiri di sisi liang lahat dengan Kayla dalam gendonganku, anak tiga tahun yang masih belum benar-benar paham bahwa ayahnya tidak akan pulang lagi.
"Mama, Papa di mana?" tanyanya untuk yang keempat kalinya pagi itu.
"Papa lagi tidur, sayang. Lama."
"Berapa lama?"
Aku tidak menjawab. Aku hanya menciumi rambut Kayla yang berbau sampo strawberry, dan menahan air mataku agar tidak jatuh ke wajahnya.
Bu Hartati — ibu mertuaku — berdiri di sisi lain liang, ditopang oleh seorang asisten. Wanita itu, dalam kebaya hitam, menatap peti anaknya dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Bukan menangis, bukan kosong, tapi seperti seseorang yang sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya. Kami belum saling bicara sejak ia tiba semalam dari Yogyakarta. Hanya anggukan kaku, seolah aku adalah tamu jauh, bukan menantu yang sudah tiga tahun ia kenal.
Dan di seberang sana, agak terpisah dari kerumunan keluarga, berdiri Reksa.
Pria itu mengenakan jas hitam yang sempurna — tidak ada lipatan, tidak ada noda, seolah ia memesannya khusus untuk hari ini. Wajahnya tirus dan pucat. Rahangnya mengeras. Tapi yang paling membuatku sulit untuk tidak terus menatap adalah matanya — mata yang sama dengan Prabowo, hanya saja jauh lebih dingin, jauh lebih dalam, jauh lebih sulit ditembus.
Aku belum sempat berbicara empat mata dengannya sejak ia datang ke kantor polisi dua hari lalu. Saat itu ia mengambil alih semua urusan administrasi. Mengurus jenazah, mengurus pemberitaan media, mengurus laporan polisi. Aku hanya menjadi bayangan di sebelahnya, mengangguk pada setiap dokumen yang ia minta untuk kutandatangani. Ia tidak pernah memandangku langsung. Tidak pernah mengucapkan turut berduka. Tidak pernah menyentuh pundak Kayla, keponakannya satu-satunya.
Pak Penghulu memimpin doa. Aku mendengarkan setengah hati. Kayla mulai gelisah di gendonganku, dan aku menurunkannya, membiarkannya berdiri di sebelahku sambil memegang ujung kebayaku.
"Mama, itu siapa?" Kayla menunjuk ke arah Reksa.
"Itu Om-mu, sayang. Om Reksa."
"Om kok nggak senyum?"
Aku tidak menjawab. Karena aku sendiri tidak punya jawaban yang bisa kuberikan pada anak tiga tahun. Bagaimana cara menjelaskan bahwa Om itu hanya datang dua kali dalam hidup Kayla — sekali saat akikahnya, sekali saat ulang tahunnya yang pertama — dan setelah itu menghilang dari semua perayaan keluarga? Bagaimana cara menjelaskan bahwa di antara dua bersaudara kandung itu, ada jurang yang tidak pernah aku pahami penyebabnya, hanya akibatnya?
Prabowo dulu pernah cerita, suatu malam di tahun pertama pernikahan kami, bahwa ia dan Reksa sebelumnya sangat dekat. Bahwa mereka pernah satu kos di Bandung waktu kuliah. Bahwa mereka pernah liburan ke Bali berdua, naik motor, dengan budget mahasiswa. Tapi setelah satu peristiwa — yang Prabowo tidak pernah mau ceritakan — semua berubah. Reksa pindah ke Singapura. Mengambil firma hukum di sana. Pulang ke Jakarta hanya saat ayah mereka meninggal. Lalu menghilang lagi.
Sampai hari ini. Saat ia berdiri tiga puluh meter dari aku, di pemakaman adiknya sendiri, dengan wajah yang sama dingin dengan yang ia pakai di pernikahan kami dulu.
Liang lahat ditutup perlahan. Setiap sekop tanah terdengar seperti palu di telingaku. Kayla mulai menangis — bukan karena mengerti, tapi karena melihat semua orang dewasa di sekitarnya menangis. Aku berlutut, memeluknya, dan untuk pertama kalinya hari itu, aku membiarkan air mataku mengalir bebas.
Saat semua selesai, dan kerumunan mulai bubar, Bu Hartati mendekatiku. Aku sudah siap menerima pelukan. Atau setidaknya, kata-kata duka.
Tapi yang aku terima adalah ini: "Anggraini, kita akan bicara minggu depan. Tentang banyak hal. Sekarang, jaga Kayla baik-baik."
Lalu ia berbalik. Pergi. Tanpa menyentuh cucunya.
Aku berdiri kaku di sana. Dalam kebudayaan Jawa yang aku tahu, seharusnya ibu mertua memeluk menantu yang baru kehilangan suaminya. Seharusnya ia menggenggam tangan menantunya, menangis bersama, berbagi kepedihan. Tapi Bu Hartati hanya berjalan menjauh, ditopang asistennya, dengan punggung yang lurus sempurna seperti seorang ratu yang menolak menunjukkan kelemahan kepada rakyatnya.
"Bu Anggraini, mari saya antar ke mobil." Pak Hardi, asisten lama keluarga Hartanto yang sudah tiga puluh tahun mengabdi, mendekatiku dengan payung hitam. Wajahnya basah — entah karena gerimis kecil yang mulai turun, atau karena air mata. "Anginnya mulai dingin. Tidak baik untuk Kayla."
Aku mengangguk. Kayla tertidur di pundakku, lelah karena menangis terlalu lama. Berat tubuhnya yang kecil terasa seperti satu-satunya jangkar yang menahan aku tetap berdiri di muka bumi.
Aku berdiri di sana, kebayaku bertabur tanah merah, dengan Kayla yang masih terisak di pelukan. Rania mendekat, menyodorkan tisu, dan berbisik, "Mau aku temani kamu pulang?"
"Sebentar, Ran. Aku mau berdoa lagi sebentar."
Rania mengangguk. Membawa Kayla menjauh.
Aku berlutut di tepi makam yang masih basah. Menutup mata. Mencoba mengingat wajah Prabowo yang tersenyum — bukan wajahnya di ruang identifikasi. Mencoba mengingat suara tawanya saat menggendong Kayla. Mencoba mengingat janjinya tujuh tahun lalu, di pelaminan kami yang sederhana itu, bahwa ia akan menjagaku sampai rambutku memutih.
Janji yang ia patahkan dalam empat detik di Tol Jagorawi.
"Anggraini."
Suara itu dari belakang. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa.
Reksa berdiri tiga langkah di belakangku. Saat aku berbalik, ia tidak menawarkan tangan untuk membantuku berdiri. Ia hanya menatapku, dengan tatapan yang sama dinginnya seperti angin pagi itu.
"Kita perlu bicara," katanya. "Soal utang."
Aku mengernyit. "Utang? Maksudmu?"
"Bukan di sini. Besok pagi, di rumahmu. Aku akan datang jam sembilan."
"Kak Reksa, kalau ini soal biaya pemakaman, aku—"
"Ini bukan soal biaya pemakaman."
Aku menatapnya. Ia menatapku balik. Selama tiga detik, ada sesuatu di matanya yang aku tidak bisa identifikasi. Bukan duka. Bukan juga marah. Sesuatu yang lebih rumit. Sesuatu yang seperti... peringatan.
"Jam sembilan," ulangnya. "Pastikan Kayla tidak ada di rumah."
Lalu ia berbalik. Berjalan menjauh. Jasnya yang sempurna itu tertinggal seperti bayangan di pelataran makam.
Aku berdiri di sana lebih lama dari yang seharusnya. Menatap punggung Reksa yang menjauh. Menatap makam suamiku yang baru saja ditutup. Dan untuk pertama kalinya sejak kabar itu datang, aku merasakan sesuatu yang bahkan lebih dingin daripada duka.
Aku merasa takut.
Dan aku belum tahu kenapa.
Rania mendekatiku, masih menggendong Kayla yang sudah tertidur lelap. "Anggi, kita pulang ya. Kayla butuh ranjangnya."
"Iya, Ran."
Tapi kakiku terasa berat. Aku berdiri satu menit lagi di tepi makam itu, menundukkan kepala, dan membisikkan satu kalimat untuk suamiku — kalimat yang tidak pernah aku ucapkan saat ia masih hidup, karena saat itu aku tidak pernah merasa perlu.
"Bo, apa pun yang kamu sembunyikan dari aku — aku akan menemukannya. Aku janji."
Lalu aku berbalik. Mengikuti Rania ke mobil. Dan sepanjang perjalanan pulang, aku terus memikirkan satu hal: kenapa Reksa, di tengah hari pemakaman adiknya sendiri, lebih khawatir tentang utang daripada tentang duka?
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar