PRANG!
Suara pecahan kaca itu membelah keheningan malam, disusul oleh gemuruh guntur yang menyambar di luar.
Aku, yang saat itu baru berusia tujuh tahun, meringkuk semakin dalam di bawah meja makan kayu yang reyot. Tanganku menutupi kedua telinga rapat-rapat, tapi suara teriakan dari ruang tamu itu tetap menembus masuk, menyayat udara yang berbau obat nyamuk bakar murah.
"Kamu pikir beras bisa dibeli pakai maaf?!" Jeritan Ibu melengking. Suaranya serak, penuh dengan keputusasaan yang tidak bisa dipahami oleh otak kecilku. "Sudah tiga bulan, Mas! Tiga bulan kamu nggak bawa uang sepeser pun ke rumah ini! Kamu mau aku dan anakmu makan apa? Makan batu?!"
"Terus aku harus gimana?!" Suara bapak balas menggelegar, lebih keras, lebih menakutkan. "Aku sudah cari kerja sana-sini, Tari! Kamu pikir aku diam saja di luar?! Bos sialan itu yang memecatku tanpa pesangon!"
"Kalau kamu niat cari kerja, kamu nggak akan pulang bau alkohol tiap malam!" Ibu menangis. Suara isakannya terdengar menyakitkan. "Kamu main judi lagi, kan? Uang simpananku di lemari baju hilang! Kamu yang ambil, kan, Mas?! Ngaku kamu!"
"Itu buat modal, Tari! Modal! Kalau aku menang semalam, kita bisa bayar kontrakan yang udah nunggak dua bulan!"
"Modal apa?! Modal untuk bikin kita makin melarat?!" Suara bantingan benda keras terdengar lagi. Entah asbak atau piring. Aku memejamkan mata kuat-kuat, menggigit bibir bawahku agar tidak mengeluarkan suara tangisan. "Kamu laki-laki, Mas! Kamu kepala keluarga! Kalau kamu cuma mau numpang makan dan tidur, buat apa kita nikah?! Buat apa aku punya suami kalau kerjanya cuma menghancurkan hidupku!"
Keheningan yang mematikan tiba-tiba turun. Hanya suara hujan deras yang memukul atap seng bocor di atas kepala. Lalu, suara bapak terdengar lagi. Kali ini tidak berteriak, tapi rendah, dingin, dan penuh racun.
"Oh, jadi kamu nyesal nikah sama aku? Gitu?!"
"Iya! Aku nyesal!" Ibu membalas tanpa ragu, dipenuhi amarah yang sudah meledak. "Aku nyesal karena anakku harus lihat bapaknya cuma jadi pecundang!"
PLAK!
Bunyi tamparan itu begitu keras hingga membuat bahuku melonjak. Mataku terbuka lebar. Aku merangkak pelan keluar dari bawah meja, mengintip dari celah tirai tipis pemisah ruang tengah dan ruang tamu.
Ibu tersungkur di lantai, memegangi pipi kirinya. Rambutnya berantakan. Sementara bapak berdiri menjulang di atasnya, dadanya naik turun dengan napas memburu, wajahnya merah padam.
"Jaga mulutmu, Tari," desis bapak sambil menunjuk wajah Ibu. "Kalau bukan karena aku, kamu masih jadi babu di rumah majikanmu itu."
Dunia kecilku runtuh melihat ibuku menangis di lantai. Tanpa berpikir panjang, aku berlari keluar dari persembunyianku dan menubruk tubuh bapak, mendorongnya dengan tenaga sekadarku.
"Bapak jahat! Bapak jangan pukul Ibu!" teriakku, memukul-mukul paha bapak sambil menangis tersedu-sedu. "Bapak jahat! Pergi! Alya benci Bapak!"
Bapak menunduk menatapku. Tidak ada kelembutan di matanya. Tidak ada rasa bersalah. Dia hanya menatapku seolah aku adalah pengganggu, beban tambahan yang membuat hidupnya semakin rumit. Dia tidak mendorongku, tapi dia mundur selangkah, melepaskan cengkeraman tangan kecilku dari celananya.
"Mas..." panggil Ibu lirih, berusaha bangkit untuk menarikku ke dalam pelukannya. "Jangan marahi Alya. Jangan, Mas."
Bapak mendengus kasar. Dia menendang pecahan asbak di dekat kakinya hingga terpelanting ke sudut ruangan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tanpa meminta maaf, dia berbalik dan melangkah menuju pintu depan.
"Mas, kamu mau ke mana?!" teriak Ibu panik, melupakan rasa sakit di pipinya. "Mas Rendra! Di luar hujan deras! Mas!"
Brak! Pintu kayu yang lapuk itu dibanting dengan keras, meninggalkan aku dan Ibu dalam keheningan yang lebih mengerikan daripada suara pertengkaran tadi.
Ibu memelukku erat-erat. Tubuhnya bergetar hebat. Wangi keringat dan minyak telon yang biasa ia pakai bercampur dengan aroma keputusasaan. Aku membalas pelukannya, membenamkan wajahku di dadanya yang basah oleh air mata.
"Maafin Ibu ya, Al... maafin Ibu," bisik Ibu berulang-ulang, mengecup puncak kepalaku dengan bibir yang gemetar.
"Bapak mau ke mana, Bu?" tanyaku dengan suara serak, masih sesenggukan. "Bapak marah sama Alya ya? Makanya Bapak pergi?"
Ibu menggeleng kuat-kuat. Ia menarik wajahku, menatapku dengan mata yang sembab dan memerah. "Nggak, sayang. Bapak nggak marah sama Alya. Bapak cuma... butuh waktu sendiri. Besok pagi juga Bapak pulang."
Tapi besok paginya bapak tidak pulang.
Bahkan sampai seminggu kemudian, bapak tidak pernah kembali.
Di rumah kontrakan petakan yang panas dan lembab itu, aku belajar memahami sebuah konsep yang terlalu kejam untuk anak berusia tujuh tahun: bahwa rumah tidak selalu menjadi tempat bernaung, dan ayah tidak selalu menjadi pahlawan yang melindungimu. Kadang, ayah adalah monster yang menorehkan luka pertama di hatimu, lalu pergi begitu saja meninggalkannya menganga.
Sejak malam itu, aku mengerti arti kata 'kehilangan'. Dan aku membencinya. Aku berjanji pada diriku sendiri di sudut kamar yang gelap itu, sambil melihat punggung ibuku yang tertidur karena kelelahan bekerja serabutan seharian; aku tidak akan pernah menangis lagi untuk bapak. Aku tidak akan pernah menunggu siapa pun.
Aku terbangun dengan napas memburu.
Mataku terbuka lebar, menatap langit-langit kamarku yang tinggi dan dihiasi lampu kristal. Cahaya lampu kota dari balik jendela kaca raksasa memantul redup di lantai marmer kamarku. Aku segera bangun, duduk di tepi kasur ukuran king size yang seprainya berbahan sutra mahal.
Tanganku gemetar saat meraih gelas air putih di atas nakas dan menenggaknya rakus. Air dingin mengalir melewati tenggorokanku, tapi gagal memadamkan rasa panas yang membakar dadaku.
Mimpi itu lagi. Kenangan sialan itu lagi.
Aku menyugar rambutku yang berantakan, menghela napas panjang untuk menstabilkan detak jantung. Sudah dua puluh tahun berlalu, tapi sensasi ketakutan dan rasa tidak berdaya dari anak berusia tujuh tahun itu masih sering mengintaiku di malam hari. Terutama di hari-hari ketika ada orang bodoh yang mengingatkanku pada eksistensi pria bernama Rendra.
Aku melirik jam digital di atas nakas. Pukul 02:15 dini hari.
Mencoba kembali tidur adalah hal yang mustahil. Jika aku menutup mata sekarang, bayangan pintu kayu yang dibanting itu akan kembali muncul. Aku menyingkap selimut, turun dari tempat tidur, dan berjalan menuju jendela kaca yang menampilkan pemandangan luar biasa dari pusat kota Jakarta.
Dulu, jangankan membayangkan tinggal di penthouse mewah ini, makan nasi pakai telur saja sudah menjadi kemewahan untukku dan Ibu. Semua yang kumiliki sekarang—perusahaan bernilai triliunan, apartemen miliaran rupiah, mobil sport di basement—adalah hasil dari kerja kerasku mematikan perasaanku sendiri. Aku merangkak dari bawah, menginjak rasa kasihan, membuang jauh-jauh rasa bergantung pada manusia lain.
"Kau tidak butuh siapa-siapa, Alya," bisikku pada bayanganku sendiri di kaca jendela. "Kau yang pegang kendali sekarang."
Tiba-tiba, suara dering ponsel dari atas kasur memecah keheningan apartemenku yang terlalu luas.
Dahiku mengernyit. Siapa yang berani menelepon jam dua pagi? Aku berjalan kembali ke kasur dan mengambil ponselku. Nama 'Rina' berkedip di layar.
Aku segera menggeser tombol hijau. Jika Rina menelepon jam segini, itu artinya ada krisis besar di perusahaan. Entah server aplikasi down, atau ada berita buruk di media.
"Ada apa, Rin?" tanyaku langsung, tanpa basa-basi, suaraku kembali pada mode CEO—tegas, dingin, dan siap berperang.
"Bu Alya, maaf beribu maaf saya mengganggu waktu istirahat Ibu selarut ini," suara Rina dari seberang sana terdengar panik dan terengah-engah.
"Langsung ke intinya saja. Apa yang terjadi? Server kita diretas?"
"Bukan, Bu. Bukan soal server atau perusahaan." Rina menelan ludah, suaranya terdengar ragu sejenak sebelum melanjutkannya. "Ini... ini tentang keamanan di lobi gedung kantor pusat, Bu."
Alisku semakin bertaut. "Lobi kantor? Ada penyusup?"
"Bukan penyusup biasa, Bu. Kepala sekuriti malam, Pak Jamil, baru saja menghubungi saya. Katanya sejak jam dua belas malam tadi, ada seorang bapak tua yang memaksa masuk ke dalam gedung. Dia tidak mau diusir meskipun satpam sudah memintanya pergi baik-baik."
"Kalau dia buat keributan, panggil saja polisi. Kenapa kamu harus lapor ke saya jam dua pagi untuk urusan gelandangan, Rina?" tanyaku tajam, mulai kesal dengan ketidakmampuan bawahanku menangani masalah sepele.
"I—itu masalahnya, Bu," suara Rina bergetar. "Bapak tua itu mengamuk saat mau dibawa polisi. Dia berteriak-teriak menyebut nama Ibu. Dia bilang... dia bilang dia tidak akan pergi sebelum bertemu dengan anaknya."
Jantungku tiba-tiba berdetak satu ketukan lebih lambat. Darah di nadiku terasa membeku. Udara AC di kamar ini mendadak terasa menusuk paru-paru.
"Apa maksudmu?" tanyaku, suaraku turun menjadi bisikan yang berbahaya.
"Bapak itu... dia mengaku sebagai ayah kandung Ibu."
Tanganku yang memegang ponsel mencengkeram kuat hingga buku-buku jariku memutih. Dunia di sekelilingku seolah berhenti berputar. Ingatan tentang pintu kayu yang dibanting dua puluh tahun lalu kembali terlintas dengan kejam di kepalaku.
Orang yang meninggalkanku di tengah badai hujan… kini berdiri di lobi kantorku.
"Suruh sekuriti seret dia keluar," ucapku, suaraku bergetar karena campuran antara amarah yang luar biasa dan luka lama yang kembali robek. "Dan jangan pernah... sebut dia ayahku."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar