"Al, bangun, Nduk. Sudah jam lima."

Suara lembut Ibu disertai usapan hangat di pipiku adalah alarm harianku sejak Bapak pergi. Aku membuka mata, melihat Ibu sudah rapi dengan kebaya lusuh dan kain jaritnya. Di tangannya ada sebuah nampan kayu berisi gorengan hangat yang masih mengepul.

"Ibu sudah mau ke pasar?" tanyaku sambil mengucek mata.

"Iya. Gorengannya sudah matang. Kamu mandi ya, terus sarapan. Nasi dan tempenya sudah Ibu tutup pakai tudung saji di dapur," jawab Ibu sambil tersenyum. Senyum itu selalu ada, meski garis-garis kelelahan di wajahnya semakin dalam setiap harinya.

Sejak Bapak pergi membawa sisa uang tabungan kami, hidup Ibu berubah menjadi perlombaan melawan waktu. Pagi buta dia menggoreng bakwan dan pisang untuk dititipkan di warung-warung. Siangnya, dia mencuci setumpuk baju tetangga sampai tangannya keriput dan memerah karena deterjen murah. Malamnya, dia masih menyempatkan diri menjahit baju-baju robek atau membuat kerajinan tangan dari barang bekas untuk dijual.

Aku tumbuh dengan melihat punggung Ibu yang selalu membungkuk saat bekerja. Aku tumbuh dengan aroma sabun cuci dan minyak goreng yang menempel di daster Ibu.

Suatu sore, aku pulang sekolah dengan sepatu yang sudah berlubang di bagian depannya. Aku berusaha menyembunyikannya dengan cara berjalan menyeret, tapi Ibu sangat teliti.

"Al, sini sebentar," panggil Ibu saat aku hendak masuk ke kamar.

Aku mendekat dengan ragu. "Iya, Bu?"

"Coba lihat sepatumu."

Aku menunduk, memperlihatkan jempol kakiku yang menyembul dari balik karet sepatu yang sudah jebol. "Cuma lubang sedikit kok, Bu. Masih bisa dipakai. Nanti Alya lem pakai nasi."

Ibu menghela napas, matanya berkaca-kaca. Dia menarikku duduk di amben kayu. "Maafin Ibu ya, Nduk. Ibu belum bisa belikan sepatu baru. Uang hasil nyuci minggu ini harus dipakai buat bayar tunggakan sekolahmu dulu."

"Nggak apa-apa, Bu! Beneran!" aku mencoba menghibur Ibu. "Teman-teman malah bilang sepatu Alya keren, ada ventilasi udaranya jadi nggak gerah."

Ibu tertawa kecil mendengar ocehanku, tapi tawa itu berakhir dengan batuk yang tertahan. Aku tahu Ibu sering sakit-sakitan, tapi dia tidak pernah mau berobat. "Uangnya buat Alya makan saja," selalu itu alasannya.

"Al, kamu jangan pernah ngerasa jadi beban ya," bisik Ibu tiba-tiba sambil mengusap kepalaku. "Ibu kerja begini karena Ibu pengen kamu sukses. Ibu pengen kamu jadi orang hebat supaya nggak ada yang berani ngeremehin kamu. Supaya kamu nggak harus bergantung sama laki-laki... seperti Ibu."

Aku menatap Ibu dalam-dalam. "Laki-laki seperti Bapak ya, Bu?"

Ibu terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan. "Iya. Jadilah perempuan yang kuat, Al. Dunia ini kejam sama perempuan yang lemah."

Kata-kata Ibu itu tertanam kuat di otak kecilku. Aku mulai sadar bahwa rasa bersalah adalah perasaan paling berat yang pernah kupikul. Setiap kali aku melihat Ibu memijat bahunya yang kaku, atau melihatnya makan hanya dengan kerupuk supaya aku bisa makan telur, hatiku perih. Aku merasa akulah penyebab Ibu menderita. Jika aku tidak ada, mungkin Ibu bisa hidup lebih enak.

Rasa bersalah itu perlahan berubah menjadi bahan bakar.

"Ibu, Alya nggak usah ikut karya wisata ke museum ya?" tanyaku suatu hari saat sekolah mengadakan acara jalan-jalan.

"Kenapa? Semua temanmu ikut kan? Ibu sudah sisihkan uangnya kok," sahut Ibu sambil terus menyetrika.

"Alya malas, Bu. Lagian di museum cuma lihat barang tua. Mending Alya di rumah, bantu Ibu nyuci piring di tempat hajatan Bu RT."

"Al, kamu itu tugasnya belajar, bukan kerja."

"Tapi Alya mau bantu Ibu! Alya nggak mau lihat Ibu capek terus!" teriakku, mulai menangis karena frustrasi.

Ibu menghentikan setrikaannya. Dia menatapku tajam, tapi penuh kasih. "Kalau kamu mau bantu Ibu, caranya cuma satu: belajar yang rajin. Jadi nomor satu di kelas. Bawa piala pulang ke rumah. Itu bayaran paling mahal buat capeknya Ibu. Mengerti?"

Aku mengangguk sambil menghapus air mata. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi meminta barang baru. Aku memakai buku tulis bekas yang separuhnya masih kosong. Aku memakai seragam yang sudah menguning dan kekecilan. Tapi di sekolah, tidak ada yang bisa mengalahkanku. Aku menjadi siswa terbaik, pemenang olimpiade, dan selalu juara umum.

Aku ingin membuktikan pada dunia, dan terutama pada pria yang telah membuang kami, bahwa tanpa dia pun, kami bisa berdiri tegak.

Namun, ada satu kejadian yang tidak akan pernah kulupakan. Saat itu aku kelas enam SD. Hari kelulusan. Semua orang tua datang dengan pakaian rapi untuk mengambil ijazah anak-anak mereka. Ibu datang dengan kebaya terbaiknya—kebaya yang sama yang dia pakai saat Bapak pergi—meski warnanya sudah sangat pudar.

Saat namaku dipanggil sebagai lulusan terbaik, aku naik ke panggung dengan bangga. Aku melihat Ibu berdiri di barisan belakang, bertepuk tangan paling keras dengan air mata mengalir di pipinya.

Setelah acara selesai, kami berjalan pulang melewati pangkalan ojek. Di sana, aku melihat seorang pria yang perawakannya mirip dengan Bapak dari belakang. Jantungku berdegup kencang. Apakah dia kembali? Apakah dia ingat hari kelulusanku?

Pria itu berbalik. Ternyata bukan Bapak. Hanya orang asing.

Aku merasakan kekecewaan yang luar biasa, dan segera setelah itu, amarah yang besar meledak di dadaku. Marah pada diriku sendiri karena masih berharap. Marah pada pria itu karena dia tidak ada di sini untuk melihat keberhasilanku.

"Al, kenapa diam saja? Ayo pulang, Ibu masakin ayam goreng buat perayaan," ajak Ibu.

"Bu," aku berhenti melangkah.

"Ya, Nduk?"

"Mulai hari ini, jangan pernah sebut nama Bapak lagi di depan Alya. Dan kalau ada orang yang tanya bapak Alya di mana, bilang saja dia sudah mati."

Ibu tertegun. Matanya membulat menatapku. "Al, kamu nggak boleh ngomong gitu..."

"Dia memang sudah mati buat Alya, Bu!" suaraku meninggi, penuh dengan kepahitan yang sudah menumpuk selama bertahun-tahun. "Dia ninggalin kita pas kita susah. Dia biarin Ibu kerja sampai sakit. Dia nggak berhak punya nama di rumah kita lagi."

Ibu tidak membalas. Dia hanya menunduk, memegang ijazahku dengan tangan yang gemetar. Kami melanjutkan perjalanan dalam keheningan yang menyesakkan.

Malam itu, aku melihat Ibu duduk di sudut dapur, memegang sebuah foto lama yang sudah robek ujungnya. Foto pernikahan mereka. Ibu tidak menangis tersedu-sedu, dia hanya menatap foto itu dengan pandangan hampa.

Aku mendekati Ibu, lalu mengambil foto itu dari tangannya. Tanpa ragu, aku merobek foto itu menjadi kepingan-kepingan kecil di depan matanya.

"Sudah, Bu. Cukup," ucapku tegas. "Ibu punya Alya. Alya akan jadi orang sukses. Alya akan beli rumah besar buat Ibu. Kita nggak butuh dia."

Ibu hanya mengangguk pelan, lalu memelukku. Di dalam pelukan itu, aku membuat sebuah janji suci pada diriku sendiri. Aku akan membangun tembok yang begitu tinggi di sekeliling hidupku dan Ibu. Tembok yang tidak akan bisa ditembus oleh siapapun, terutama oleh pria bernama Rendra.

Dua puluh tahun kemudian.

Janji itu sudah kutepati. Aku memiliki segalanya. Rumah besar, mobil mewah, dan kekuasaan. Ibuku tidak lagi harus menyentuh deterjen atau minyak goreng jika dia tidak mau. Dia hidup seperti ratu di rumah yang kubelikan.

Tapi sekarang, saat aku duduk di kursi kerja CEO-ku yang mahal, tembok itu seolah bergetar.

"Bu Alya? Sekuriti sudah berusaha membujuk pria itu, tapi dia tetap berteriak di lobi," suara Rina kembali terdengar dari ponsel yang masih kugenggam. "Dia bilang... dia punya bukti foto masa kecil Ibu. Dia tidak mau pergi sebelum Ibu keluar."

Aku berdiri, berjalan menuju dinding kaca kantorku yang memperlihatkan jalanan Jakarta yang mulai sibuk. Amarah yang sudah kupendam selama dua puluh tahun itu kini mendidih, siap meluap.

"Rina, panggil Pak Jamil. Suruh dia bawa pria itu ke ruang tunggu privat di lantai dua. Jangan lewat lift umum. Saya akan turun ke sana."

"Baik, Bu."

Aku merapikan blazerku. Menarik napas dalam-dalam untuk mendinginkan kepalaku. Aku bukan lagi anak kecil tujuh tahun yang menangis di depan pintu. Aku adalah Alya Maheswari.

Dan jika pria itu pikir dia bisa kembali ke hidupku setelah apa yang dia lakukan pada Ibuku... dia salah besar.

Aku akan menemuinya. Bukan untuk melepas rindu. Tapi untuk memastikan dia tahu, bahwa bagiku, dia benar-benar sudah mati sejak dua puluh tahun yang lalu.