Pagi itu, udara terasa sangat berat, seolah-olah awan mendung tidak hanya menggantung di langit, tetapi juga menyelinap masuk ke dalam rumah kami yang sempit. Aku terbangun bukan karena sinar matahari, melainkan karena suara gesekan kayu yang kasar.
Aku mengucek mataku yang masih sembap, lalu berjalan gontai ke arah ruang tengah. Di sana, aku melihat Bapak sedang memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas kain lusuh. Gerakannya cepat, kasar, dan tanpa suara.
"Bapak mau ke mana?" tanyaku dengan suara serak khas anak kecil yang baru bangun tidur.
Bapak tersentak. Dia menoleh sekilas, matanya merah—entah karena kurang tidur atau sisa amarah semalam—lalu kembali fokus pada tasnya. "Cuma mau cari kerja di kota sebelah, Al. Di sini nggak ada harapan."
"Kenapa bawa tas besar?" aku mendekat, mencoba meraih ujung kemejanya. "Biasanya Bapak nggak bawa tas kalau cari kerja."
Bapak menepis tanganku pelan, lalu berdiri. Dia tidak menatap mataku. "Kerjanya jauh. Mungkin Bapak bakal lama di sana."
"Lama itu berapa hari?" desakku. Hatiku mulai merasa tidak enak. Ada sensasi dingin yang merambat di perutku. "Dua hari? Tiga hari? Alya nanti nggak ada yang temenin main kalau Ibu lagi ke pasar."
"Tanya Ibumu sana," sahut Bapak pendek. Dia menyampirkan tas kain itu ke bahunya.
Tepat saat itu, Ibu keluar dari dapur. Matanya terlihat lelah, wajahnya pucat pasi, tapi dia tampak lebih tenang dibanding semalam. Dia melihat Bapak yang sudah siap pergi, lalu matanya beralih padaku.
"Mas... beneran mau pergi sekarang?" tanya Ibu. Suaranya pelan sekali, hampir tenggelam oleh suara rintik hujan yang mulai turun lagi di luar.
"Kan kamu sendiri yang bilang semalam, buat apa punya suami kalau cuma jadi pecundang?" Bapak membalas dengan nada sinis yang tajam. "Ya sudah, aku pergi. Biar aku buktikan aku bukan pecundang."
"Aku nggak bermaksud begitu, Mas. Itu cuma karena aku capek, aku kalap..." Ibu melangkah mendekat, mencoba memegang lengan Bapak. "Jangan pergi pas lagi hujan begini. Makan dulu, aku sudah masakin nasi goreng pakai sisa semalam."
Bapak tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat pahit di telingaku. "Nasi goreng sisa? Itu makanan untuk orang yang nggak punya masa depan, Tari. Aku mau cari yang lebih dari itu."
Ibu terdiam. Tangannya perlahan turun, terkulai di samping tubuhnya yang kurus. "Terus Alya gimana? Dia masih kecil, Mas. Dia butuh bapaknya."
Bapak akhirnya menoleh padaku. Untuk beberapa detik, aku melihat ada keraguan di matanya. Tapi itu hanya sebentar, sebelum akhirnya tertutup oleh kabut ego yang tebal. Dia mengacak rambutku dengan kasar—bukan sebuah belaian kasih sayang, melainkan sebuah gestur perpisahan yang terburu-buru.
"Jaga diri baik-baik, Al. Jangan rewel sama Ibu," ucapnya singkat.
"Bapak janji pulang, kan?" tanyaku, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang. "Nanti kalau Bapak pulang, bawain Alya boneka yang ada di pasar malam ya?"
Bapak tidak menjawab. Dia hanya berbalik, membuka pintu depan, dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
"Mas! Mas Rendra!" Ibu berlari sampai ke teras, mengabaikan kakinya yang tanpa alas menghantam lantai semen yang dingin.
"Bapak! Bapak!" aku ikut berlari, mencoba mengejar bayangan punggungnya yang semakin menjauh di bawah guyuran hujan.
Langkah kaki Bapak sangat cepat. Dia seolah-olah tidak peduli dengan teriakan kami. Dia terus berjalan menuju ujung gang, tempat pangkalan ojek berada. Aku berdiri di depan pintu, memandangi sosoknya yang perlahan hilang di balik tikungan jalan, tertutup oleh tirai hujan yang semakin lebat.
"Ibu... kenapa Bapak nggak jawab?" tanyaku sambil terisak. Aku menarik-narik daster Ibu. "Bapak bakal pulang kan, Bu? Bapak cuma mau beli boneka kan?"
Ibu berjongkok, memelukku erat-erat. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan. "Iya, sayang. Bapak cuma pergi sebentar. Bapak mau cari uang buat Alya sekolah. Nanti Bapak pulang kok."
Tapi aku tahu, dari cara Ibu memelukku, ada ketakutan yang luar biasa yang sedang ia sembunyikan.
Sepanjang hari itu, aku tidak mau beranjak dari teras rumah. Aku duduk di atas kursi plastik yang sudah retak, mataku terpaku pada ujung gang. Setiap kali ada suara motor atau langkah kaki, kepalaku langsung tegak, berharap itu adalah Bapak yang membawa tas kainnya dan tersenyum padaku.
Sore hari, Bu RT yang tinggal di sebelah rumah mampir. Dia menatapku dengan tatapan kasihan yang sangat kubenci, meski saat itu aku belum tahu kenapa aku membencinya.
"Al, kok duduk di luar terus? Masuk sana, sudah mau magrib," ucap Bu RT lembut.
"Alya nunggu Bapak, Bu," jawabku polos. "Bapak tadi pergi cari kerja."
Bu RT melirik ke dalam rumah, ke arah Ibu yang sedang sibuk menyetrika pakaian tetangga demi upah beberapa ribu rupiah. Bu RT menghela napas panjang, lalu mengusap kepalaku. "Sabar ya, Nduk. Doakan bapakmu selamat."
Malam tiba. Hujan sudah reda, menyisakan bau tanah basah dan udara yang menusuk tulang. Lampu jalan di ujung gang mulai berkedip-kedip, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan bagi anak seusiaku. Tapi aku tetap di sana. Di teras.
"Al, masuk. Makan dulu," panggil Ibu dari dalam. Suaranya terdengar serak.
"Nggak mau, Bu. Alya mau nunggu Bapak. Nanti kalau Bapak pulang Alya nggak lihat gimana?"
"Bapak mungkin pulangnya malam sekali, Al. Kamu tidur saja dulu. Nanti kalau Bapak datang, Ibu bangunin."
Aku menggeleng kuat-kuat. "Nggak mau. Bapak janji mau bawain boneka. Alya mau jadi orang pertama yang lihat bonekanya."
Ibu keluar, membawa piring berisi nasi putih dan sedikit garam. Dia duduk di sampingku, menyuapiku dengan sabar. Kami berdua duduk di sana, dalam diam, hanya ditemani suara jangkrik dan batin yang sama-sama bertanya: kapan dia kembali?
Jam sembilan malam. Jam sepuluh. Jam sebelas.
Mataku mulai terasa berat. Kepalaku berkali-kali terkantuk, tapi aku selalu memaksakan diri untuk bangun kembali setiap kali mendengar suara gonggongan anjing di kejauhan. Ibu sudah berkali-kali membujukku masuk, tapi aku tetap keras kepala.
Sampai akhirnya, aku tertidur di pangkuan Ibu di teras itu. Dalam mimpiku, aku melihat Bapak datang membawa boneka beruang besar berwarna cokelat. Dia menggendongku tinggi-tinggi dan tertawa.
Namun, saat aku terbangun karena kedinginan di tengah malam, aku masih berada di teras. Tapi bukan di pangkuan Ibu. Ibu sedang bersandar di tiang teras, matanya yang sembap menatap kosong ke arah jalanan yang sepi.
Tidak ada Bapak. Tidak ada boneka. Tidak ada tawa.
"Bu... Bapak kok belum datang?" bisikku, suaraku hampir hilang.
Ibu tersentak, lalu menatapku dengan senyum yang paling menyedihkan yang pernah kulihat seumur hidupku. "Mungkin Bapak masih sibuk, Al. Ayo masuk, udara makin dingin. Kita tunggu di dalam saja ya?"
Aku menurut karena badanku sudah terlalu lemas. Malam itu, kami tidur di kamar tanpa Bapak. Dan untuk pertama kalinya, tempat tidur itu terasa begitu luas dan sepi. Aku memeluk bantal gulingku erat-erat, membayangkan itu adalah tangan Bapak.
Hari kedua, aku menunggu lagi di depan rumah.
Hari ketiga, aku masih menunggu.
Seminggu kemudian, aku mulai berhenti bertanya pada Ibu kapan Bapak pulang, karena setiap kali aku bertanya, Ibu akan terdiam lama lalu masuk ke kamar mandi untuk menangis. Aku mulai paham bahwa kata 'sebentar' dari mulut orang dewasa terkadang berarti 'selamanya'.
Di minggu kedua, aku duduk di bangku sekolah dasar kelas satu. Teman-temanku bercerita tentang bapak mereka yang mengajak jalan-jalan ke kebun binatang atau membelikan tas baru. Aku hanya diam, mencoret-coret bukuku dengan gambar seorang anak kecil yang berdiri sendirian di depan pintu rumah.
"Alya, bapakmu mana? Kok tiap hari ibumu terus yang jemput?" tanya seorang temanku, Bayu, suatu hari saat pulang sekolah.
"Bapakku lagi kerja di kota lain," jawabku ketus.
"Kerja apa? Bapakku bilang, bapakmu itu kabur ya?"
Aku terdiam. Dadaku terasa sesak. "Nggak! Bapakku nggak kabur! Dia mau cari uang buat beli boneka!"
"Halah, bohong! Ibuku bilang bapakmu itu orang jahat, suka main judi. Kasihan deh kamu nggak punya bapak!" Bayu tertawa, diikuti teman-teman yang lain.
Aku tidak membalas. Aku tidak memukulnya. Aku hanya berbalik dan lari secepat mungkin menuju rumah. Air mata mengalir deras di pipiku. Aku sampai di rumah dengan napas terengah-engah, langsung menubruk Ibu yang sedang melipat baju.
"Bu! Apa bapak kabur?! Apa bapak orang jahat?!" teriakku histeris.
Ibu menjatuhkan baju yang sedang dipegangnya. Dia memelukku, menenangkan tangisku yang pecah. Dia tidak membantah ucapan Bayu. Dia hanya diam, membiarkan aku menumpahkan seluruh rasa sakitku di dadanya.
Hari itu, aku berhenti menunggu di teras.
Aku masuk ke dalam rumah, menutup pintu depan rapat-rapat, dan menguncinya. Aku bersumpah dalam hati, jika suatu hari pria itu kembali dan mengetuk pintu ini, aku tidak akan pernah membukanya.
Karena bagi Alya yang berusia tujuh tahun, Bapak bukan lagi pahlawan yang pergi mencari kerja. Bapak adalah bayangan gelap yang mencuri kebahagiaan ibunya, dan meninggalkanku dengan luka yang tidak akan pernah bisa sembuh hanya dengan sebuah boneka pasar malam.
Malam itu, hujan kembali turun. Sangat deras. Tapi kali ini, aku tidak lagi menempelkan telingaku di pintu untuk mencari suara langkah kaki. Aku memilih tidur memunggungi pintu, memeluk luka yang kini menjadi kawan setiaku.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar