Malam di mana aku merobek foto pernikahan Ibu, adalah malam di mana Alya kecil yang cengeng benar-benar mati.

Pecahan kertas bergambar wajah pria itu kubuang ke tempat sampah, dan bersamaan dengan itu, kubuang juga semua ilusi tentang keluarga yang utuh. Aku ingat dengan jelas menatap pantulan diriku di cermin kamar mandi yang retak saat itu. Mataku merah, tapi tidak ada lagi air mata. Aku membuat sebuah sumpah yang kuukir di dalam nadi: aku tidak akan pernah membiarkan diriku, atau Ibuku, bergantung pada belas kasihan manusia lain. Terutama laki-laki.

Janji itu bukan sekadar kalimat kosong. Janji itu adalah cambuk berdarah yang memaksaku berlari lebih cepat dari siapa pun.

"Kamu yakin mau ambil tiga pekerjaan sekaligus, Al? Kuliahmu gimana?"

Suara Tika, teman kosku dulu saat aku berusia dua puluh tahun, kembali terngiang. Saat itu aku sedang mengikat tali sepatu ketsku yang solnya mulai menipis, bersiap untuk lari ke tempat kerja paruh waktuku yang kedua.

"Kuliahku aman, Tik. Tugasku udah selesai semua dari semalam," jawabku cepat, meraih tas ranselku.

"Iya, tugas selesai, tapi kamu tidur cuma dua jam! Muka kamu udah pucat banget. Kalau kamu sakit, siapa yang repot? Ibumu di kampung pasti sedih dengarnya."

Langkahku terhenti di ambang pintu. Aku menoleh, menatap Tika dengan sorot mata datar. "Justru karena aku nggak mau Ibu sedih, aku harus kerja sekeras ini. Kalau aku cuma ngandelin beasiswa, aku nggak bisa kirim uang buat tebus obat jantungnya Ibu."

"Tapi kan Pakde-mu kemarin nawarin pinjaman—"

"Aku nggak mau berutang sama keluarga sana, Tik," potongku tajam. "Satu sen pun. Mereka cuma akan pakai itu buat ngerendahin Ibu lagi. Aku berangkat dulu."

Aku menutup pintu kamar kos sebelum Tika bisa membalas.

Aku bekerja siang dan malam. Menjadi pelayan kafe, asisten freelance untuk proyek desain, dan mengajar les privat untuk anak-anak orang kaya. Di sanalah aku mulai belajar membaca tabiat manusia. Aku belajar bahwa uang adalah bahasa universal yang membuat orang-orang sombong bersedia menundukkan kepala.

Dua tahun setelahnya, aku membuktikan bahwa kemandirian itu tidak bisa ditawar, bahkan atas nama cinta.

"Aku nggak ngerti jalan pikiran kamu, Al."

Suara Bima, laki-laki yang saat itu menjadi kekasihku, terdengar frustrasi di tengah bisingnya musik di sebuah restoran mahal di kawasan Sudirman. Itu adalah hari ulang tahunku yang kedua puluh empat. Dia baru saja menyodorkan sebuah kotak beludru merah berisi cincin berlian. Dan aku, baru saja menutup kotak itu kembali.

"Bagian mana yang kamu nggak ngerti, Bim?" tanyaku tenang, menyesap sedikit sparkling water dari gelasku. "Aku bilang, aku belum mau menikah."

"Kamu udah dua puluh empat. Perusahaan rintisan kamu itu udah jalan. Kamu mau ngejar apa lagi?" Bima mengusap wajahnya kasar. "Aku udah janji, kan? Setelah kita nikah, aku yang akan biayain semua kebutuhan kamu dan ibumu. Ibumu nggak perlu tinggal di rumah kontrakan lagi. Aku belikan rumah di BSD. Kamu bisa berhenti kerja sekeras ini dan fokus urus keluarga kita."

Aku meletakkan gelasku perlahan. Mataku menatap lurus ke arah Bima. "Lalu apa yang terjadi kalau suatu hari nanti kamu marah padaku?"

Bima mengernyit. "Maksud kamu?"

"Apa yang terjadi kalau suatu hari nanti bisnismu hancur? Atau kamu bosan denganku? Atau kita bertengkar hebat?" Aku mencondongkan tubuh ke depan. "Kamu akan mengungkit rumah di BSD itu. Kamu akan mengingatkan aku bahwa aku makan dari uangmu. Bahwa ibuku hidup dari sedekahmu."

"Alya! Jaga omonganmu!" Nada suara Bima meninggi, menarik perhatian beberapa pengunjung meja sebelah. "Aku ini laki-laki yang bertanggung jawab! Aku bukan bapakmu!"

Suasana di meja kami mendadak beku. Bima langsung menutup mulutnya, menyadari kesalahannya. Matanya melebar penuh penyesalan. "Al... maaf. Aku nggak bermaksud—"

"Terima kasih sudah mengingatkan aku, Bim," ucapku, suaraku sedingin es. Aku berdiri dari kursi, mengambil tasku. "Bapakku dulu juga laki-laki yang bilang dia akan bertanggung jawab seumur hidupnya. Dan lihat di mana dia sekarang."

"Al, please. Duduk dulu. Kita obrolin ini baik-baik," Bima mencoba meraih tanganku, tapi aku menepisnya.

"Kita selesai, Bima. Aku butuh pasangan yang melihatku sebagai rekan yang setara, bukan sebagai piala rapuh yang harus diselamatkan. Cincinmu ini," aku menunjuk kotak beludru itu, "kasih ke perempuan lain yang butuh pahlawan. Aku bisa beli cincinku sendiri."

Aku berjalan keluar dari restoran itu tanpa meneteskan air mata setitik pun. Bima mencoba meneleponku puluhan kali setelah malam itu, tapi nomornya sudah kublokir permanen. Tidak ada kompromi. Tidak ada toleransi untuk siapa pun yang mencoba melemahkan pertahananku.

Setahun setelah kejadian dengan Bima, perusahaanku meledak di pasaran. Nilai valuasinya meroket ratusan persen. Dan hal pertama yang kulakukan bukanlah membeli mobil mewah atau perhiasan. Aku pulang ke rumah kontrakan Ibu.

"Ibu, kemasi barang-barang Ibu sekarang," ucapku saat itu, berdiri di depan pintu dapur sambil melihat Ibu yang sedang memotong sayur.

Ibu menoleh, mengusap tangannya yang basah ke celemek. "Loh, tumben pulang nggak bilang-bilang, Nduk? Mau ke mana kemasi barang? Kontrakannya habis bulan depan."

"Kita pindah, Bu." Aku mengeluarkan sebuah kunci dengan gantungan kulit mahal dari saku blazerku, lalu meletakkannya di atas meja makan kayu yang reyot. "Aku baru beli rumah di kawasan menteng. Dua lantai. Ada taman di belakangnya persis seperti yang Ibu impikan waktu aku kecil dulu."

Ibu terpaku. Pisau di tangannya terlepas dan bergemerincing jatuh ke lantai. Matanya menatap kunci itu, lalu beralih menatap wajahku dengan tidak percaya. "A—Al... kamu bercanda?"

"Aku nggak pernah bercanda soal hidup kita, Bu," jawabku mantap. Aku melangkah maju, memeluk bahu Ibu yang bergetar. "Ibu nggak perlu lagi nyuci baju orang. Ibu nggak perlu lagi kepanasan jualan gorengan. Ibu cuma perlu nikmatin hidup. Semuanya aku yang urus."

Ibu memelukku erat, menangis tersedu-sedu di pundakku. "Ya Allah, Nduk... Ibu bangga sama kamu. Ibu bangga sekali..."

Itu adalah tangisan bahagia pertama yang pernah kudengar dari bibir Ibu sejak bapak pergi. Dan saat itu juga, aku tahu bahwa dinding pertahanan yang kubangun dengan air mata dan darah selama belasan tahun ini, bekerja dengan sempurna. Tidak ada yang bisa menghancurkannya.

Atau setidaknya, itu yang kuyakini sampai dua puluh menit yang lalu.

"Pak Yanto, bisa lebih cepat lagi?"

Suaraku memecah keheningan di dalam mobil Alphard hitam yang melaju membelah jalanan sepi Jakarta di pukul tiga pagi. Aku duduk di jok belakang, mataku terpaku pada layar tablet yang menampilkan rekaman langsung dari CCTV ruang VIP di lantai dua kantorku.

"Baik, Bu. Lima menit lagi kita sampai," jawab Pak Yanto tanpa banyak tanya, langsung menginjak pedal gas lebih dalam.

Aku menekan earpiece bluetooth di telinga kananku. "Rina, kamu masih di sana?"

"Masih, Bu Alya. Saya di control room bersama Pak Jamil," suara Rina terdengar jelas, meski masih menyisakan nada gugup.

"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanyaku dingin, mataku tidak lepas dari sosok pria tua berjaket kulit kusam yang sedang duduk gelisah di sofa kulit mahal di ruang VIP. Dari layar CCTV yang tidak bersuara itu, aku bisa melihat pria itu berkali-kali mengelus lengan sofa, seolah takjub dengan kemewahan ruangan tersebut.

"Pria itu sudah lebih tenang sejak dipindahkan dari lobi, Bu. Tadi dia sempat meminta teh manis dan asbak. Tapi sesuai instruksi Ibu, saya larang satpam memberikan apa pun kepadanya."

"Bagus. Berapa banyak staf yang melihatnya mengamuk di lobi tadi?"

"Hanya tim sekuriti shift malam, empat orang. Dan dua petugas kebersihan. Saya sudah meminta Pak Jamil untuk menyita sementara ponsel mereka dan memberikan non-disclosure agreement dadakan untuk ditandatangani malam ini juga."

"Beri mereka masing-masing bonus satu bulan gaji di luar sistem payroll resmi," perintahku tanpa ragu. "Uangnya transfer langsung dari rekening pibadiku. Pastikan mulut mereka tertutup rapat. Saya tidak mau besok pagi ada akun gosip di Instagram yang menaikkan berita bahwa ayah CEO Maheswari Group mengamuk layaknya gembel di lobi kantornya sendiri."

"Siap, Bu Alya. Akan saya urus sekarang juga."

"Saya sudah sampai di lobi basement. Kosongkan lorong lantai dua. Saya tidak mau ada satu orang pun, termasuk sekuriti, yang berada dalam radius sepuluh meter dari ruang VIP saat saya masuk."

"B—baik, Bu. Tapi apakah aman jika Ibu masuk sendirian bersama pria itu? Pak Jamil khawatir pria itu bertindak agresif—"

"Ini perintah, Rina. Kosongkan lorongnya."

Aku memutus sambungan tepat saat mobil berhenti dengan mulus di depan pintu lift pribadi basement. Pak Yanto bergegas turun untuk membukakan pintu, tapi aku sudah lebih dulu membuka pintuku sendiri dan melangkah keluar dengan cepat.

Suara ketukan hak tinggi sepatuku menggema tajam di area parkir yang sunyi. Udara dingin dari AC sentral menyapu wajahku saat aku melangkah masuk ke dalam lift khusus eksekutif. Aku menekan angka dua.

Saat lift perlahan naik, aku menatap pantulan wajahku di pintu besi yang mengkilap. Aku terlihat sempurna. Riasan wajahku masih rapi, trench coat hitamku membungkus tubuhku dengan elegan. Tidak ada jejak ketakutan. Tidak ada jejak anak kecil berusia tujuh tahun yang menangis memohon di teras rumah.

Alya kecil yang rapuh itu sudah kubunuh. Dan sekarang, monster yang menciptakannyalah yang harus kuhadapi.

Ting.

Pintu lift terbuka. Lorong lantai dua yang biasanya ramai oleh staf eksekutif, kini senyap dan kosong melompong. Rina benar-benar mengikuti instruksiku dengan baik. Lampu-lampu kristal di sepanjang lorong menyala terang, memantulkan cahaya dari lantai marmer putih yang bersih tanpa noda.

Aku melangkah perlahan. Jantungku berdetak dengan ritme yang terlalu stabil—terlalu tenang untuk seseorang yang akan menemui mimpi terburuknya.

Di ujung lorong, pintu kayu mahoni berukir tebal berdiri tertutup rapat. Pintu ruang VIP. Di balik pintu itulah, masa lalu yang paling ingin kukubur dalam-dalam sedang menunggu.

Aku berhenti tepat di depan pintu. Mengambil satu napas panjang yang terakhir, mengunci semua emosiku rapat-rapat di dalam brankas besi di kepalaku, dan meraih gagang pintu yang terasa dingin di tanganku.

Sudah waktunya menyelesaikan apa yang dia mulai dua puluh tahun lalu.