Suara napas yang memburu dan derap langkah kaki di atas aspal gang yang lembap menjadi satu-satunya irama yang tersisa. Arka memimpin di depan, kunci Inggris di tangan kanannya terasa semakin berat, bukan karena bobot logamnya, melainkan karena darah yang mulai mengering dan membuat telapak tangannya lengket. Di belakangnya, Shila terisak tanpa suara, tangannya dicengkeram kuat oleh Ayah yang terus menggumamkan doa-doa pendek yang tidak putus.
Mereka tiba di ujung gang, tempat mobil SUV perak milik Arka terparkir di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip sekarat. Arka menekan tombol remote kunci. Suara pip-pip yang biasanya terdengar biasa saja, kini terdengar seperti lonceng kematian yang memanggil perhatian makhluk-makhluk di sekitar mereka.
"Masuk! Masuk!" bentak Arka sambil membuka pintu kemudi.
Ayah mendorong Shila ke kursi belakang dan segera menyusul masuk. Arka membanting pintu, mengunci semua lubang akses, dan memutar kunci kontak. Mesin menderu pelanβsebuah suara mekanis yang memberikan sedikit harapan di tengah kekacauan organik yang mengepung mereka.
Saat Arka memundurkan mobil, lampu depan menyinari pemandangan yang akan menghantui mimpinya selamanya. Jalanan perumahan yang biasanya rapi kini penuh dengan tubuh yang tergeletak, dan sosok-sosok yang tadinya adalah tetangga mereka kini sedang berjongkok, merobek daging dengan rakus.
"Jangan lihat, Shila. Tutup matamu," perintah Ayah sambil memeluk kepala putrinya agar tidak menghadap jendela.
Arka menginjak gas. Mobil itu meluncur keluar dari gerbang kompleks, namun harapannya untuk segera sampai ke jalan protokol langsung sirna. Jalan utama sudah berubah menjadi lautan logam dan kaca. Ribuan mobil terjebak dalam kemacetan total. Orang-orang meninggalkan kendaraan mereka, berlari ke arah yang berlawanan, berteriak tentang ledakan di pusat kota dan "orang-orang gila" yang tidak bisa mati.
"Arka, lewat jalur tikus! Kita tidak bisa lewat sini!" teriak Ayah saat melihat sebuah bus kota menghantam deretan mobil di depan mereka, menciptakan kobaran api yang membumbung tinggi.
Arka memutar kemudi dengan kasar, menaiki trotoar dan memotong masuk ke area pemukiman padat penduduk. Di sini, kekacauan jauh lebih intim. Jeritan terdengar dari balik jendela-jendela rumah yang tertutup. Arka melihat seorang polisi mencoba menahan kerumunan massa yang panik, sebelum polisi itu sendiri diterjang oleh lima sosok sekaligus dari arah kegelapan.
"Mas, itu... itu bukannya arah ke sekolahku?" tanya Shila dengan suara parau saat Arka berbelok ke jalan pintas menuju gerbang tol.
"Kita harus keluar dari kota ini, Shila. Ke mana saja, asal bukan di sini," jawab Arka dingin. Matanya terpaku pada spion. Beberapa sosok infected mulai mengejar mobil mereka dengan kecepatan yang mengerikan. Salah satu dari mereka, seorang pria dengan seragam satpam yang sobek, berhasil melompat ke kap mobil.
Wajah makhluk itu menghantam kaca depan. Selaput putih di matanya menatap langsung ke arah Arka. Ia mulai menghantamkan kepalanya ke kaca, meninggalkan noda darah dan retakan halus.
"Mas! Dia mau masuk!" jerit Shila histeris.
Arka tidak mengerem. Sebaliknya, ia memacu kecepatan dan membanting setir ke kiri dan kanan dengan ekstrem. Makhluk itu terlempar, berguling di aspal sebelum langsung bangkit kembali dan mengejar seolah tidak merasakan patah tulang.
"Mereka bukan manusia lagi, Yah. Mereka tidak punya rasa sakit," gumam Arka. Tangannya gemetar di atas kemudi, tapi ia memaksanya untuk tetap stabil.
Saat mereka mendekati gerbang tol, pemandangan menjadi jauh lebih mencekam. Militer telah mendirikan barikade darurat. Kawat berduri dan truk-truk besar menutup jalan masuk. Lampu sorot raksasa menyapu kerumunan ribuan orang yang memohon untuk dibukakan jalan.
"Berhenti! Jangan mendekat!" suara dari pengeras suara militer menggema di udara, bersaing dengan suara helikopter yang berputar-putar di atas kepala.
Arka menghentikan mobilnya sekitar lima puluh meter dari barikade. Ia melihat tentara dengan masker gas lengkap mengarahkan senapan mesin ke arah massa. Bukan ke arah zombie, tapi ke arah massa yang panik.
"Kenapa mereka tidak membiarkan kita lewat?" tanya Ayah, wajahnya memucat.
"Karantina," jawab Arka singkat. "Mereka tidak mau wabah ini keluar dari kota. Siapa pun yang ada di dalam... dianggap sudah terinfeksi."
Tiba-tiba, kekacauan pecah di tengah kerumunan massa di depan barikade. Seseorang di tengah kerumunan mulai berubah. Jeritan pecah, dan massa mulai saling dorong. Barikade yang semula tenang kini menjadi ajang pembantaian. Massa yang ketakutan mencoba memanjat kawat berduri, sementara tentara melepaskan tembakan peringatan ke udara.
"Arka, kita terjebak!" Ayah menunjuk ke arah belakang. Sosok-sosok infected yang tadi mengejar mereka kini mulai berdatangan dari berbagai arah, mengepung deretan mobil yang terjebak di jalur tol.
Arka melihat ke sekeliling dengan cepat. Otak teknisinya bekerja di bawah tekanan maut. Ia melihat sebuah truk tangki bahan bakar yang ditinggalkan di sisi jalan tol, tepat di samping pagar pembatas beton yang memisahkan jalur tol dengan jalan desa di bawahnya.
"Pegang pegangan pintu! Pakai sabuk pengaman!" Arka berteriak.
"Apa yang mau kamu lakukan, Nak?" Ayah bertanya dengan nada ngeri.
"Aku akan membuka jalan kita sendiri."
Arka memindahkan gigi, menginjak gas sedalam mungkin. Mobil SUV itu meraung, menabrak beberapa mobil sedan yang kosong untuk memberi ruang. Ia mengarahkan moncong mobilnya bukan ke barikade militer, melainkan ke arah pagar pembatas beton yang tampak sudah retak akibat kecelakaan sebelumnya.
BRAKK!
Benturan itu mengguncang seluruh isi mobil. Kantung udara meledak di depan Arka, membuatnya pening sejenak. Namun, pagar beton itu runtuh, menyisakan lubang yang cukup untuk dilewati. Mobil mereka terjun bebas sekitar dua meter ke jalan desa yang lebih rendah.
Gubrak!
Mobil menghantam tanah dengan keras. Suspensi mobil menjerit, tapi mesinnya masih menyala. Arka segera membuang kantung udara yang menghalangi pandangannya. Di belakang mereka, suara ledakan terdengar dari arah gerbang tolβmungkin truk tangki tadi terkena percikan api atau sengaja diledakkan oleh militer.
Langit malam kini berubah menjadi oranye kemerahan. Kota yang selama ini memberi mereka kehidupan kini sedang terbakar. Arka melihat ke arah spion sekali lagi. Di kejauhan, ia melihat barikade militer akhirnya jebol, bukan oleh massa, tapi oleh ribuan infected yang tumpah ruah seperti air bah hitam.
"Ayah? Shila? Kalian tidak apa-apa?" tanya Arka dengan napas tersengal.
Ayah mengangguk lemah, memegangi bahunya yang terbentur. Shila hanya diam, menatap keluar jendela ke arah kota yang mulai menjauh. Matanya mencerminkan api yang melahap rumah mereka.
"Kita sudah keluar dari kota," bisik Shila. "Tapi... ke mana kita pergi? Kita tidak punya siapa-siapa lagi."
Arka tidak menjawab. Ia memacu mobilnya menyusuri jalan desa yang gelap dan sepi. Ia teringat radio militer yang ia dengar di awal tadi, tentang koordinat keamanan. Namun, di dalam hatinya, ia tahu bahwa pelarian ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih berat.
Ia telah kehilangan ibunya. Ia telah membunuh sahabatnya. Dan kini, ia adalah satu-satunya pelindung bagi ayah dan adiknya di dunia yang baru saja berakhir. Eksodus ini memang berdarah, tapi Arka bersumpah dalam hati, selama ia masih bisa memegang alat dan senjata, ia tidak akan membiarkan satu tetes darah lagi jatuh dari keluarganya yang tersisa.
Mobil terus melaju menuju kegelapan hutan di pinggiran kota, meninggalkan bara api peradaban yang perlahan memudar di cakrawala.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar