Bau manusia yang terlalu banyak berkumpul di ruang sempit—keringat, kecemasan, dan sisa-sisa antiseptik yang tak lagi mempan—menyapa Arka saat mereka memasuki kompleks GOR Olahraga di pinggiran kota satelit. Ini adalah "Zona Aman Sementara" yang dijanjikan militer lewat siaran radio yang sempat Arka tangkap di tengah jalan sebelum radio mobilnya mati total.

Mobil SUV perak kebanggaan Arka kini terbengkalai di luar gerbang, radiatornya menyerah setelah dipaksa mendaki jalur pegunungan dengan tambalan lakban seadanya. Arka hanya sempat mengambil tas ransel berisi peralatan mekanik, beberapa kaleng kornet, dan botol air terakhir.

"Mas, aku takut," bisik Shila. Tangannya gemetar hebat, mencengkeram ujung kemeja Arka yang sudah kaku karena noda darah kering—darah Ayah dan darah Nicho.

Arka menatap adiknya. Mata Shila sembab, wajahnya pucat pasi, dan ia tampak jauh lebih kecil dari usia empat belas tahunnya di tengah kerumunan orang yang saling sikut demi mendapatkan selembar selimut atau jatah bubur encer.

"Tetap di dekatku, Shila. Jangan lepaskan tas itu," suara Arka terdengar parau. Ia mencoba memberikan keyakinan yang sebenarnya ia sendiri tidak miliki.

Mereka ditempatkan di sudut tribun penonton, beralaskan kardus bekas. Di bawah mereka, di lapangan basket yang luas, ratusan orang terbaring lemas. Petugas medis dengan alat pelindung diri (APD) yang sudah sobek-sobek hilir mudik dengan langkah gontai. Suara batuk dan rintihan kesakitan menggema, memantul di langit-langit gedung yang tinggi, menciptakan simfoni keputusasaan.

"Kita hanya perlu istirahat satu malam, Shila. Besok kita cari jalan ke utara," gumam Arka.

Namun, insting teknisinya mulai menangkap keganjilan. Ia memperhatikan gerbang masuk yang dijaga oleh dua tentara muda yang tampak kelelahan. Prosedur pemeriksaan sangat longgar. Orang-orang masuk tanpa diperiksa suhunya secara teliti. Di sudut lain, Arka melihat seorang pria paruh baya yang terus menunduk, menutupi lengan bajunya yang basah oleh cairan kemerahan.

Arka teringat ibunya. Teringat betapa cepatnya suhu tubuh berubah menjadi dingin yang mematikan.

"Shila, kita harus pergi dari sini. Sekarang," Arka berdiri mendadak, menyampirkan tasnya.

"Tapi Mas, di luar gelap... dan Ayah bilang kita harus cari tempat aman," protes Shila lemah.

"Tempat ini tidak aman, Shila. Ayo!"

Tepat saat Arka menarik tangan Shila, sebuah jeritan melengking memecah kebisingan di lantai bawah. Seorang petugas medis tersungkur. Pasien yang tadi sedang diperiksanya mendadak bangkit dengan gerakan liar, menerjang leher petugas itu.

Dalam hitungan detik, GOR yang sesak itu berubah menjadi neraka.

"Karantina jebol! Ada yang terinfeksi di sektor B!" teriak seseorang lewat pengeras suara yang kemudian disusul oleh suara desis statis yang memilukan.

Massa yang tadinya lemas mendadak meledak dalam kepanikan. Ratusan orang berlari menuju satu gerbang keluar yang sempit. Kursi-kursi tribun terbalik, orang-orang saling injak. Arka memeluk Shila erat, mencoba menahan arus manusia yang mendorong mereka dari segala arah.

"Pegang tanganku, Shila! Jangan lepas!" Arka berteriak di tengah kebisingan jeritan dan suara tembakan peringatan dari arah gerbang.

"Mas! Aku tidak bisa bernapas!" Shila terhimpit di antara kerumunan.

Kekacauan semakin menjadi saat lampu gedung mendadak padam. Byar. Kegelapan total menyelimuti GOR. Jeritan manusia kini bercampur dengan geraman-geraman lapar yang mulai merayap naik ke arah tribun. Wabah itu menyebar seperti api yang disiram bensin di tengah ruang tertutup.

Arka merasakan dorongan hebat dari belakang. Sekelompok orang yang panik menghantam mereka seperti ombak. Pegangan tangan Shila terlepas.

"SHILA!" Arka menjerit, tangannya meraba-raba di kegelapan, mencoba menangkap kain kemeja adiknya.

"MAS ARKA!" suara Shila terdengar menjauh, tertelan oleh suara gemuruh langkah kaki dan jeritan orang lain.

Arka mencoba menerobos kerumunan, menggunakan bahunya untuk membuka jalan, mengabaikan pukulan dan sikutan yang mendarat di tubuhnya. Ia menyalakan senter kecil dari kantongnya. Cahayanya menyapu lautan wajah-wajah yang penuh teror, namun ia tidak menemukan sosok kuncir kuda Shila.

"SHILA! DI MANA KAMU?"

Ia melihat ke bawah tribun. Beberapa orang yang sudah terinfeksi—dengan mata putih yang memantulkan cahaya senternya—mulai merayap naik, menerkam siapa pun yang terjatuh. Arka melihat sebuah tas ransel merah muda yang identik dengan milik Shila tergeletak di lantai, terinjak-injak oleh sepatu bot tentara yang sedang mundur.

Arka melompat turun ke lantai lapangan, mengabaikan rasa sakit di kakinya. Ia memungut tas itu. Kosong. Hanya ada satu gantungan kunci kecil berbentuk obeng—hadiah yang ia berikan pada Shila tahun lalu—yang masih tergantung di sana.

"Shila..." napas Arka memburu.

Di depan gerbang evakuasi, sebuah truk militer mulai bergerak menjauh, menutup pintu belakangnya dengan terburu-buru. Arka melihat siluet tangan-tangan yang menggapai dari dalam truk.

"TUNGGU! ADIKKU DI DALAM!" Arka berlari sekuat tenaga.

Namun, gerbang GOR tiba-tiba ditutup paksa dari luar oleh pasukan pembersih. Mereka tidak lagi mencoba menyelamatkan orang; mereka mencoba mengunci wabah itu di dalam gedung.

"BUKA PINTUNYA! BUKA!" Arka menghantamkan kunci Inggrisnya ke jeruji besi gerbang.

Dari balik kaca gerbang yang kusam, Arka melihat truk itu melaju pergi, membawa beban manusia yang berdesakan. Ia tidak tahu apakah Shila ada di dalam truk itu, atau tertinggal di kegelapan GOR yang kini penuh dengan suara kunyahan dan geraman.

Suara tembakan beruntun terdengar dari luar gedung. Militer mulai membakar area sekitar untuk menciptakan barisan api. Di dalam gedung, sosok-sosok infected mulai mengepung Arka.

Arka berdiri tegak, memunggungi gerbang yang terkunci. Di tangan kirinya, ia mencengkeram tas merah muda Shila yang kosong. Di tangan kanannya, kunci Inggris yang sudah menghitam oleh darah. Matanya menatap kegelapan dengan sorot yang tidak lagi manusiawi. Ia telah gagal. Janjinya pada Ayah, janjinya untuk melindungi adiknya, hancur berkeping-keping di lantai GOR yang kotor ini.

Rasa bersalah itu menghantamnya lebih keras daripada pukulan apa pun. Ia adalah seorang teknisi; ia seharusnya bisa menghitung risiko, ia seharusnya bisa memperbaiki keadaan. Tapi manusia bukan mesin, dan wabah ini bukan sekadar kerusakan sirkuit.

"Jika kamu di sana, Shila... lari sekuatmu," bisik Arka pelan, suaranya hilang ditelan raungan makhluk yang menerjangnya dari bayangan.

Malam itu, Arka tidak mati. Kemarahan dan rasa bencinya pada diri sendiri berubah menjadi bahan bakar yang mengerikan. Ia membantai setiap makhluk yang mendekat dengan presisi mekanis, setiap hantaman senjatanya adalah bentuk penebusan yang sia-sia.

GOR Olahraga itu menjadi kuburan bagi ratusan orang, dan tempat di mana Arka yang penuh kasih sayang terkubur bersama mereka. Saat ia akhirnya berhasil keluar melalui saluran udara beberapa jam kemudian, Arka yang berdiri di bawah rintik hujan abu bukanlah pria yang sama yang merayakan ulang tahun Shila kemarin.

Ia sendirian. Tanpa rumah, tanpa keluarga, tanpa harapan. Hanya ada satu benda yang tersisa di sakunya: gantungan kunci kecil berbentuk obeng milik Shila. Sebuah pengingat abadi tentang janji yang gagal ia tepati.