Kegelapan di dalam dapur terasa lebih pekat daripada malam mana pun yang pernah Arka lalui. Bau kue cokelat yang manis kini bercampur dengan aroma anyir yang tajam—bau besi dari darah yang mulai merembes dari bawah celah pintu depan yang diganjal lemari.

"Mas... Ibu dingin sekali," suara Shila bergetar hebat. Ia memeluk ibunya yang terbaring di lantai dapur yang dingin.

Arka berlutut, menyentuh dahi ibunya. Panas yang tadi membakar kini lenyap, berganti dengan dingin yang membekukan, seolah-olah nyawa di dalamnya telah disedot habis. Napas ibunya terdengar seperti suara kertas yang diremas—pendek, tajam, dan tidak teratur.

"Ibu? Bu, ini Arka," bisik Arka, mencoba mencari sisa-sisa kesadaran di mata wanita itu.

Mata ibunya terbuka lebar, namun pupilnya telah tertutup selaput putih keruh yang mengerikan. Pembuluh darah di lehernya—di sekitar bekas cakaran yang didapatnya di pasar pagi tadi—mulai menghitam dan menonjol, menjalar seperti akar pohon yang busuk menuju rahang dan pelipisnya. Tubuh ibunya mendadak kejang. Tangannya yang biasanya lembut kini mencengkeram lengan Arka dengan kekuatan yang tidak masuk akal, kuku-kukunya membenam ke kulit Arka.

"Arka... lari..." suara itu bukan lagi suara ibunya. Itu adalah bisikan parau yang hancur, sisa terakhir dari kemanusiaannya sebelum hilang sepenuhnya.

"Ibu, bertahanlah! Ayah, kita harus membawanya ke rumah sakit!" seru Arka panik.

Ayah Arka menggeleng lemah, matanya kosong menatap istrinya yang mulai mengeluarkan suara geraman kecil dari tenggorokannya. "Tidak ada rumah sakit lagi, Ka. Kamu dengar di luar? Itu bukan suara ambulans yang menjemput orang sakit. Itu suara akhir dunia."

Tepat saat itu, kaca jendela ruang tamu pecah berantakan. Prang! Suara hantaman keras menyusul, seolah-olah sesuatu yang berat baru saja dilemparkan ke dalam rumah. Nicho dan teman-teman Shila menjerit, meringkuk di sudut dapur yang paling jauh.

"Jangan bersuara!" bentak Arka dengan nada rendah. Ia meraih sebuah kunci Inggris besar dari saku celana kerjanya—senjata mekanik yang biasanya ia gunakan untuk membuka baut mesin yang berkarat.

Arka mengintip ke arah ruang tamu. Sosok yang masuk bukanlah orang asing. Itu adalah Pak RT, tetangga mereka yang ramah. Namun kini, ia merangkak dengan punggung yang melengkung aneh, kepalanya berputar-putar seperti predator yang mencari mangsa.

Kepanikan meledak. Nicho, yang sudah dikuasai teror, gemetar hebat hingga kakinya menyenggol rak piring. Sebuah gelas plastik jatuh ke lantai. Pluk.

Suara kecil itu cukup. Pak RT mengeluarkan geraman yang memekakkan telinga dan melompat dengan kecepatan yang tidak masuk akal menuju dapur.

"Lari ke belakang!" teriak Arka.

Arka berdiri, mengayunkan kunci Inggrisnya dengan tenaga penuh. Logam berat itu menghantam pelipis Pak RT dengan bunyi krak yang memuakkan. Makhluk itu tersungkur, tapi ia langsung mencoba bangkit kembali meski separuh wajahnya sudah hancur. Tidak ada rasa sakit, hanya rasa lapar yang murni.

Di tengah kekacauan itu, Nicho terpeleset di lantai dapur yang licin. Pak RT yang terluka itu menerjang, membenamkan giginya ke betis Nicho.

"ARKA! TOLONG!" jerit Nicho memilukan.

Arka menghujamkan kunci Inggrisnya berkali-kali ke kepala Pak RT hingga makhluk itu tidak bergerak lagi. Darah hitam kental membasahi tangan Arka. Ia segera menarik Nicho berdiri. "Ayo, Cho! Kita harus pergi!"

Mereka semua bergerak menuju pintu belakang, namun langkah Arka terhenti. Ibunya, yang tadi terbaring lemah, kini mulai merangkak bangun dengan gerakan patah-patah. Suara geramannya kini identik dengan makhluk yang baru saja Arka bunuh.

"Ibu..." Shila hendak mendekat, tapi Ayah menariknya mundur dengan paksa.

"Itu bukan ibumu lagi, Shila! Jangan lihat!" teriak Ayah, suaranya pecah oleh tangis.

Arka melihat ibunya menatap mereka—atau lebih tepatnya, menatap leher mereka. Tidak ada lagi cinta di mata itu, hanya insting purba untuk menerkam. Ayah Arka mengambil sebuah kursi kayu, menggunakannya untuk menghalangi jalan istrinya sendiri agar anak-anaknya bisa keluar.

"Pergi! Bawa Shila pergi, Arka! Cepat!" perintah Ayah dengan tegas meski air matanya mengalir deras.

Mereka berhasil keluar ke gang belakang perumahan. Namun, Nicho tertatih-tatih di samping Arka. Napasnya semakin berat, suaranya berubah menjadi rintihan yang menyeramkan. Arka merangkul bahu sahabatnya itu, mencoba memberinya kekuatan. Namun, tangan Nicho yang memegang lengan Arka terasa sangat panas, seolah-olah pemuda itu sedang terbakar dari dalam.

"Arka... kepalaku... rasanya mau pecah," gumam Nicho. Pembuluh darah di lehernya mulai menghitam, persis seperti yang terjadi pada ibunya beberapa menit lalu.

Mereka berhenti sejenak di balik tumpukan tempat sampah besar. Arka menatap wajah Nicho di bawah cahaya bulan yang pucat. Hanya dalam hitungan menit sejak tergigit, transformasi itu terjadi begitu cepat. Mata Nicho mulai memutih, kehilangan warna cokelatnya yang hangat.

"Cho? Bertahanlah, kumohon..." Arka berbisik, suaranya tercekat.

"Rasanya... dingin, Ka. Sangat dingin..." Nicho mencengkeram kemeja Arka. Tiba-tiba, tubuhnya kejang hebat. Ia mulai mengeluarkan suara gurgling dari tenggorokannya.

Nicho mendongak. Tatapan itu kini kosong. Ia mengerang pendek dan mencoba menggigit leher Arka. Refleks Arka menyelamatkannya; ia mendorong Nicho hingga terbentur tembok. Nicho bangkit, tidak lagi mengenal sahabatnya. Ia menerjang maju dengan mulut menganga.

Dengan air mata yang mengalir, Arka mengangkat kunci Inggrisnya. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Saat Nicho hampir menjangkau Shila yang ketakutan, insting pelindung Arka mengambil alih.

Bugh!

Satu hantaman telak. Nicho terjatuh, diam selamanya.

Arka berdiri mematung, menatap tangan dan senjatanya yang kini berlumuran darah sahabatnya sendiri. Ia teringat ibunya yang tertinggal di dalam rumah bersama ayahnya. Dunianya hancur berkeping-keping.

"Arka, kita tidak punya waktu!" Ayah muncul dari kegelapan gang, bajunya sobek namun ia berhasil lolos. "Lihat!"

Dari kedua ujung gang, belasan sosok mulai muncul, tertarik oleh suara keributan. Mereka adalah tetangga-tetangga Arka yang kini telah berubah menjadi predator.

Arka menyeka air matanya dengan kasar, meninggalkan jejak darah di wajahnya. Ia mengeratkan genggaman pada kunci Inggrisnya. Matanya kini tidak lagi menunjukkan ketakutan, melainkan sebuah tekad yang dingin dan tajam.

"Lari ke mobil," perintah Arka, suaranya kini terdengar berbeda—keras dan tanpa ragu. "Jangan menoleh ke belakang. Siapa pun yang mendekat, jangan berhenti."

Mereka berlari menembus kegelapan, meninggalkan jasad Nicho dan rumah mereka yang kini telah menjadi kuburan bagi kenangan indah mereka. Arka menyadari satu hal pahit: di dunia baru ini, kasih sayang adalah kemewahan yang bisa membunuhmu.