Mesin SUV Arka mengeluarkan suara ngelitik yang mengkhawatirkan. Hantaman keras saat terjun dari jalur tol tadi malam rupanya merusak dudukan radiator atau mungkin membengkokkan poros roda. Namun, Arka tidak berani berhenti. Cahaya fajar yang abu-abu mulai menyapu perbukitan di pinggiran kota, menyingkap hamparan kabut tebal yang menyelimuti sawah-sawah yang terbengkalai.
Di kursi belakang, Shila tertidur karena kelelahan yang luar biasa, kepalanya bersandar di bahu Ayah. Wajah Ayah tampak sepuluh tahun lebih tua hanya dalam semalam. Matanya merah, menatap kosong ke luar jendela, ke arah pepohonan yang meluncur lewat.
"Arka," suara Ayah serak, hampir tenggelam oleh deru mesin.
"Iya, Yah?"
"Ibumu... dia selalu bilang kalau kamu itu seperti kakekmu. Keras kepala, tapi tanganmu bisa menghidupkan benda mati." Ayah menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang terdengar berat dan sakit. "Jaga adikmu, ya? Apapun yang terjadi."
Arka mengerutkan kening, tangannya mencengkeram kemudi lebih erat. "Tentu saja, Yah. Kita akan sampai di kamp pengungsian. Aku dengar ada zona aman di daerah perbukitan utara. Kita hanya butuh bahan bakar dan sedikit perbaikan pada mobil ini."
Arka mencoba bersikap optimis, namun otaknya terus memutar ulang memori tentang gigitan di leher ibunya dan bagaimana Nicho berubah dalam hitungan menit. Ia melirik spion, melihat jalanan desa yang sepi di belakang mereka. Tidak ada pengejar, tapi keheningan ini justru terasa lebih mengancam daripada teriakan massa di kota.
Tiba-tiba, mobil itu tersentak hebat. Asap putih mulai mengepul dari kap mesin. Arka mengumpat pelan dan terpaksa meminggirkan kendaraan di depan sebuah gerbang desa yang bertuliskan "Desa Sukamaju". Di sana terdapat sebuah pom bensin mini milik warga yang tampak sudah dijarah.
"Kita harus turun," kata Arka pendek.
Mereka keluar dari mobil. Udara pagi itu terasa dingin dan berbau tanah basah, tapi ada aroma lain yang menusukβbau menyengat seperti sampah yang membusuk. Arka segera membuka kap mesin. Uap panas menyembur keluar. Radiatornya bocor parah.
"Aku butuh air dan selotip kabel," gumam Arka pada dirinya sendiri. Ia menoleh ke arah toko kelontong kecil di samping pom bensin tersebut. Pintu tokonya terbuka setengah, bergoyang tertiup angin.
"Ayah, Shila, tetap di dekat mobil. Aku akan masuk sebentar," instruksi Arka. Ia menggenggam kunci Inggrisnya, senjatanya yang kini menjadi bagian dari identitas barunya.
Saat Arka masuk ke dalam toko, ia menemukan kekacauan. Rak-rak terguling, sisa-sisa makanan berserakan. Namun, ia berhasil menemukan apa yang ia cari di gudang belakang: beberapa botol air mineral besar dan gulungan lakban industri.
Namun, saat ia hendak keluar, ia mendengar suara gaduh dari arah luar. Bukan suara zombie, melainkan suara mesin motor dan teriakan kasar.
Arka berlari ke depan. Jantungnya mencelos. Tiga orang pria dengan jaket kulit kusam dan parang di tangan telah mengepung Ayah dan Shila. Mereka adalah scavengersβorang-orang yang memanfaatkan kiamat untuk menjadi predator bagi sesama manusia.
"Mobil bagus, Pak Tua," kata salah satu pria yang bertato di lehernya. "Kunci kontaknya, sekarang. Atau gadis kecil ini ikut kami."
Pria itu menarik lengan Shila. Shila menjerit, mencoba meronta. Ayah segera pasang badan, mendorong pria itu dengan tenaga sisa yang ia miliki.
"Jangan sentuh putriku!" teriak Ayah.
"Berhenti!" Arka muncul dari balik pintu toko, mengangkat kunci Inggrisnya. "Lepaskan mereka!"
Para preman itu tertawa. "Lihat ini, anak bengkel mau jadi pahlawan? Kami punya parang, Nak. Kamu cuma punya mainan berkarat."
Situasi memanas dalam sekejap. Arka bersiap untuk menerjang, namun ia tidak menyadari ada satu orang lagi yang keluar dari balik bayangan bangunan di sampingnya. Pria keempat itu membawa senapan angin yang sudah dimodifikasi untuk menembakkan paku besi.
Joss!
Terdengar suara letupan udara. Arka merasakan desingan di dekat telinganya. Namun, targetnya bukan Arka.
Ayah, yang melihat moncong senjata itu mengarah ke Arka, melakukan satu hal yang selalu ia lakukan sepanjang hidupnya: melindungi anaknya. Ia melompat ke depan Arka tepat saat paku besi itu meluncur.
Paku itu menghantam dada bagian atas Ayah. Ayah terjerembap, memegangi dadanya.
"AYAH!" jerit Arka.
Amarah yang murni meledak di dalam dada Arka. Ia tidak lagi peduli pada keselamatannya sendiri. Ia menerjang pria terdekat, menghantamkan kunci Inggrisnya ke rahang pria itu hingga terdengar bunyi tulang yang remuk. Pria bertato mencoba mengayunkan parang, tapi Arka menghindar dengan lincahβinsting bertahan hidupnya mencapai puncaknya. Ia menendang lutut preman itu dan menghantamkan senjatanya ke tengkuknya.
Melihat dua teman mereka tumbang dengan cepat oleh kemarahan Arka yang mengerikan, dua preman sisanya memilih lari ke arah motor mereka dan tancap gas meninggalkan tempat itu.
Arka tidak mengejar. Ia menjatuhkan senjatanya dan berlutut di samping Ayah. Shila sudah menangis histeris, mencoba menahan pendarahan di dada Ayah dengan kerudungnya.
"Yah... Yah, bertahanlah. Aku akan memperbaikinya. Aku akan mencari obat," isak Arka. Tangannya yang biasanya stabil saat memegang mesin, kini gemetar hebat.
Ayah tersenyum tipis, darah mulai keluar dari sudut bibirnya. Wajahnya semakin pucat, namun matanya menatap Arka dengan kejelasan yang menakutkan.
"Arka... tidak perlu," bisik Ayah parah. "Ingat janji tadi... Jaga... Shila."
Ayah menggenggam tangan Arka dan tangan Shila, menyatukan keduanya. "Dunia ini... sudah rusak, Ka. Tapi jangan biarkan... hatimu ikut rusak."
Napas Ayah semakin pendek. Di saat-saat terakhirnya, ia menoleh ke arah kota yang tertutup kabut di kejauhan, seolah sedang melihat bayangan istrinya yang menunggu di sana. Perlahan, genggaman tangan Ayah melonggar. Matanya tetap terbuka, namun cahayanya telah padam.
"Ayah? Ayah bangun!" Shila mengguncang bahu ayahnya, namun tidak ada jawaban.
Arka terdiam seribu bahasa. Langit pagi yang seharusnya membawa harapan kini terasa seperti penghinaan. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, ia telah kehilangan segalanya. Ibunya, sahabatnya, rumahnya, dan kini... sang pelindung, pria yang mengajarinya cara menjadi laki-laki.
Ia merasakan kekosongan yang sangat dalam, sebuah lubang hitam di dadanya yang mengancam akan menelannya bulat-bulat. Namun, tangis Shila yang semakin kencang menariknya kembali ke realita.
Arka berdiri perlahan. Ia tidak menangis lagi. Air matanya seolah sudah kering, menguap oleh api amarah dan keputusasaan. Ia menutup mata Ayahnya dengan lembut.
"Kita harus pergi, Shila," kata Arka. Suaranya datar, dingin, dan kosong dari emosi.
"Tapi Ayah, Mas... kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja!"
"Kita tidak punya waktu. Mereka mungkin akan kembali membawa teman-temannya. Dan bau darah ini... akan mengundang mereka," Arka menunjuk ke arah pinggiran desa di mana beberapa sosok mulai bergerak keluar dari balik semak-semak, tertarik oleh suara keributan dan bau kematian.
Dengan kekuatan yang dipaksakan, Arka mengangkat jenazah ayahnya dan meletakkannya di bagian belakang toko kelontong, menutupinya dengan terpal plastik yang ia temukan. Ia tidak bisa memberikan pemakaman yang layak, tapi ia bersumpah akan kembali suatu hari nanti.
Ia kembali ke mobil, bekerja seperti robot. Ia menuangkan air ke radiator, melilitkan lakban ke selang yang pecah dengan kecepatan yang luar biasa. Pikirannya tidak lagi memikirkan kesedihan; ia hanya memikirkan survival.
"Masuk, Shila," perintah Arka tanpa menoleh.
Shila masuk ke mobil dengan bahu yang terguncang hebat. Arka masuk ke kursi kemudi, menghidupkan mesin yang terbatuk sejenak sebelum akhirnya menyala.
Saat mobil itu bergerak meninggalkan Desa Sukamaju, Arka melihat melalui kaca spion. Sosok Ayah yang tertutup terpal semakin menjauh, hilang di balik debu jalanan. Arka mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Sang Pelindung telah tiada. Kini, tanggung jawab itu sepenuhnya ada di bahu Arka. Ia bukan lagi sekadar mekanik dari pinggiran kota; ia adalah seorang penyintas yang tidak memiliki apa-apa lagi untuk dilepaskan kecuali nyawanya sendiri.
Di depan mereka, jalanan menanjak menuju pegunungan yang diselimuti kabut gelap. Arka menginjak gas, membiarkan masa lalunya terbakar di belakang, dan memacu mobilnya menuju masa depan yang penuh dengan darah dan ketidakpastian.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar