Suara bising mesin bor listrik biasanya adalah musik paling merdu bagi Arka. Di bengkel kecilnya yang terletak di bagian belakang rumah, aroma oli mesin, logam yang terpotong, dan solder panas adalah wewangian yang jauh lebih ia sukai daripada parfum mahal mana pun. Pagi itu, Arka sedang fokus memperbaiki sebuah modul kontrol ekskavator milik klien setianya. Jemarinya yang kasar namun cekatan menari di atas papan sirkuit, mengganti kapasitor yang meledak dengan presisi seorang dokter bedah.
"Arka! Kamu masih di sana?" suara melengking itu memecah konsentrasinya.
Arka mendongak, menarik kacamata pelindungnya ke dahi. Sosok gadis remaja dengan kuncir kuda berdiri di ambang pintu bengkel. Itu Shila, adiknya. Wajahnya yang ceria tampak sedikit kesal, tangannya berkacak pinggang.
"Hari ini ulang tahunku, Mas. Ingat? Ibu sudah beli kue, dan teman-temanku akan datang jam empat sore. Kamu belum mandi, bajumu penuh oli, dan baumu... seperti knalpot tua," gerutu Shila sambil menutup hidungnya.
Arka terkekeh, suara tawanya serak. Ia melirik jam dinding tua yang berdetak di atas meja kerjanya. Pukul dua siang. "Iya, tuan putri. Beri aku sepuluh menit lagi untuk membereskan ini. Aku tidak akan melewatkan kue cokelat buatan Ibu."
"Janji ya?" Shila menunjuknya dengan jari telunjuk. "Jangan sampai aku harus menyeretmu keluar dari sini."
Setelah Shila pergi, Arka kembali menatap papan sirkuitnya sejenak. Namun, sesuatu di sudut meja kerjanya menarik perhatiannya. Sebuah televisi kecil berukuran 14 inci yang ia modifikasi agar bisa menangkap sinyal digital sedang menyala tanpa suara. Ia biasanya menyalakannya hanya untuk kebisingan latar belakang.
Matanya terpaku pada running text di bagian bawah layar berita nasional: “Jumlah Korban Flu Misterius di Kota Pelabuhan Meningkat Tajam, Pemerintah Pertimbangkan Karantina Wilayah.”
Arka mengerutkan kening. Berita itu sudah terdengar sejak seminggu lalu, tapi awalnya hanya dianggap sebagai wabah flu musiman biasa. Ia meraih remot, menaikkan volumenya sedikit.
"...dilaporkan bahwa pasien menunjukkan gejala agresivitas yang tidak wajar setelah fase demam tinggi. Pihak rumah sakit kewalahan menangani lonjakan pasien yang tiba-tiba menyerang staf medis. Kami mengimbau warga untuk tetap di rumah dan..."
Suara berita itu tiba-tiba terputus oleh suara keras dari dapur. Prang!
Arka tersentak. Ia segera meletakkan alat soldernya dan berlari menuju sumber suara. Di dapur, ia menemukan ibunya sedang memunguti pecahan piring porselen.
"Ibu tidak apa-apa?" Arka segera membantu.
"Tidak apa-apa, Ka. Tangan Ibu sedikit gemetar saja. Entah kenapa, sejak pagi tadi rasanya udara sangat sesak," jawab ibunya dengan senyum tipis yang dipaksakan. Wajahnya tampak sedikit pucat.
"Ibu istirahat saja di depan. Biar Arka yang bereskan," ujar Arka khawatir. Ia memperhatikan bahwa ibunya tampak sangat lelah, sesuatu yang ia anggap karena kesibukan menyiapkan pesta Shila sejak subuh.
Sore harinya, rumah sederhana mereka mulai ramai. Lima orang teman dekat Shila datang membawa kado dan tawa yang memenuhi ruang tamu. Ada Nicho, sahabat Shila yang paling berisik, dan beberapa teman sekolah lainnya. Ayah Arka, seorang pensiunan guru yang selalu rapi, duduk di kursi goyangnya sambil membaca koran, sesekali tersenyum melihat kegembiraan putri bungsunya.
Arka sudah berganti pakaian. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak bersih, meski aroma oli masih samar tertinggal di sela-sela kukunya. Ia duduk di pojok ruangan, memperhatikan adik perempuannya yang sedang bersiap meniup lilin di atas kue cokelat yang menggoda.
"Ayo, Shila! Buat permohonan!" teriak Nicho semangat.
Shila memejamkan mata, menggenggam tangannya di depan dada. Ruangan itu terasa hangat dan penuh cinta. Arka merasa damai. Ini adalah kehidupan yang ia perjuangkan—kehidupan yang tenang sebagai seorang teknisi yang dicukupi oleh rasa syukur keluarga kecilnya.
Namun, di tengah keriuhan itu, Arka menyadari sesuatu yang janggal. Di luar jendela, jalanan perumahan mereka terasa terlalu sunyi. Tidak ada suara tukang bakso yang biasa lewat, tidak ada suara anak-anak kecil bermain bola. Hanya ada suara sirene ambulans yang melolong jauh di kejauhan—suara yang frekuensinya meningkat sejak satu jam terakhir.
Fuuu... Shila meniup lilinnya. Tepuk tangan pecah.
"Potong kuenya! Potong kuenya!"
Saat Shila hendak memotong kue, televisi di ruang tamu yang sedang menyiarkan acara musik tiba-tiba berubah menjadi layar statis, lalu beralih ke siaran darurat. Seorang pembawa berita pria muncul dengan dasi yang miring dan keringat bercucuran di pelipisnya. Wajahnya penuh ketakutan.
"...kami memperingatkan seluruh warga untuk segera mengunci pintu dan jendela! Jangan mendekati siapa pun yang menunjukkan gejala demam atau luka gigitan! Ini bukan flu biasa! Saya ulangi, ini bukan—"
Tayangan itu mendadak berguncang hebat. Terdengar suara jeritan melengking di latar belakang studio, disusul suara benda berat yang menghantam kamera. Layar berubah menjadi hitam.
Seluruh ruangan mendadak hening. Nicho tertawa canggung. "Wah, promosi film horor baru ya? Keren banget efeknya."
"Itu bukan film, Nicho," gumam Arka. Bulu kuduknya berdiri. Insting teknisinya yang selalu waspada terhadap tanda-tanda kerusakan mulai bergejolak. Sesuatu yang sangat besar sedang rusak di luar sana.
Ayah Arka berdiri dari kursinya, wajahnya berubah serius. "Arka, kunci pintu depan sekarang."
"Yah? Ini kan pesta Shila," protes Shila bingung.
Sebelum Arka sempat melangkah ke pintu, sebuah suara benturan keras menghantam pagar besi depan rumah mereka. Duar! Disusul oleh suara gesekan logam yang memilukan.
Arka berlari ke jendela dan menyibak tirai. Di bawah lampu jalan yang mulai temaram, ia melihat sebuah mobil sedan menabrak pagar rumah tetangga depan. Pengemudinya keluar dari mobil, tapi gerakannya tidak manusiawi. Pria itu—Pak RT yang biasanya ramah—berjalan dengan tubuh yang miring, kepalanya terkulai ke samping. Ia mengeluarkan suara geraman yang lebih mirip seperti binatang buas yang sedang tercekik.
Kemudian, dari kegelapan gang, muncul sosok-sosok lain. Mereka berlari dengan kecepatan yang mengerikan menuju kerumunan orang di ujung jalan yang sedang panik. Jeritan mulai pecah di mana-mana. Jeritan yang bukan karena terkejut, melainkan jeritan penderitaan murni.
"Mas... itu apa?" Shila mendekat ke arah Arka, wajahnya pucat pasi.
Arka melihat Pak RT mendadak menerkam seorang pejalan kaki yang lewat. Tanpa peringatan, ia membenamkan giginya ke leher korban tersebut. Darah menyemprot ke kaca jendela rumah Arka.
"Semuanya masuk ke dapur! Sekarang!" teriak Arka. Suaranya menggelegar, tidak lagi seperti kakaknya yang lembut.
Kepanikan meledak di dalam ruang tamu. Teman-teman Shila mulai berteriak histeris. Ayah Arka segera menarik Ibu yang tampak semakin lemas ke arah koridor belakang.
"Nicho! Bantu aku geser lemari ini ke pintu!" perintah Arka sambil mendorong lemari jati berat di ruang tamu. Nicho yang ketakutan mencoba membantu dengan tangan gemetar.
Saat mereka berhasil menutup pintu depan dengan lemari, suara cakaran mulai terdengar dari luar. Sret... sret... Kuku-kuku yang tajam menggores kayu pintu. Geraman-geraman haus darah berkumpul di teras rumah mereka.
"Arka, apa yang terjadi di luar sana?" tanya ibunya dengan suara parau. Ia terduduk di lantai dapur, memegangi kepalanya.
Arka berlutut di depan ibunya, memeriksa suhunya. Panas sekali. Jantung Arka seakan berhenti berdetak. Ia melihat ke arah leher ibunya yang tertutup kerah daster. Ada bekas luka kecil di sana, seperti cakaran atau gigitan yang mulai menghitam.
"Ibu... sejak kapan luka ini ada?" bisik Arka, suaranya bergetar.
"Tadi pagi... saat Ibu belanja di pasar. Ada orang yang tampak sakit menyenggol Ibu," jawab ibunya dengan napas yang mulai tersengal. "Ibu pikir... hanya luka kecil."
Arka menatap ke arah Shila yang sedang memeluk lututnya di pojok dapur, dikelilingi teman-temannya yang menangis. Ia lalu menatap ayahnya yang juga baru menyadari luka di leher istrinya. Mata ayahnya berkaca-kaca, penuh keputusasaan yang mendalam.
Di luar, suara sirene ambulans kini tenggelam oleh suara ledakan dan teriakan ribuan orang. Listrik mendadak padam, melempar rumah mereka ke dalam kegelapan yang pekat. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui ventilasi, memberikan bayangan mengerikan pada sosok-sosok di luar yang terus menghantam pintu mereka.
Pesta ulang tahun itu berakhir. Lilin-lilin di atas kue cokelat Shila sudah padam, namun kegelapan yang sebenarnya baru saja dimulai. Arka menyadari bahwa dunia yang ia kenal—dunia di mana ia bisa memperbaiki segala sesuatu dengan alat-alatnya—telah mati. Dan sekarang, ia harus belajar memperbaiki satu-satunya hal yang tidak pernah ia pelajari: cara untuk tetap hidup saat semua yang ia cintai mulai hancur.
"Pegang tanganku, Shila," bisik Arka di kegelapan. "Jangan pernah lepas."
Malam itu, hening yang menyakitkan menyelimuti mereka, hanya diinterupsi oleh suara detak jantung Arka yang berpacu melawan kiamat yang sedang mengetuk pintu rumahnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar