Aroma bumbu rendang dan kuah kaldu sapi memenuhi dapur mewah bernuansa monokrom ini. Aku mengusap peluh yang menetes di dahi dengan punggung tanganku, memastikan tidak ada satu pun riasan tipisku yang luntur. Sejak pukul tiga sore, aku sudah berkutat di dapur, menolak bantuan Bi Inah, asisten rumah tangga di rumah ini. Hari ini adalah acara makan malam rutin keluarga besar suamiku, Raka. Dan seperti biasa, aku ingin memberikan yang terbaik.

Aku menata piring-piring porselen berukir emas itu di atas meja makan kayu jati yang panjangnya mencapai tiga meter. Setiap sendok, setiap garpu, kuletakkan dengan presisi. Di rumah ini, kesalahan kecil saja bisa menjadi dosa besar.

"Non Alina, biar Bibi saja yang angkat mangkuk supnya. Panas, Non," tawar Bi Inah, wanita paruh baya yang selalu menatapku dengan sorot mata iba.

Aku tersenyum lembut, menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Bi. Alina bisa sendiri. Bibi tolong siapkan minuman dingin saja untuk Tante Dina dan Om Haris ya, mereka biasanya suka es lemon tea kalau baru datang."

"Baik, Non." Bi Inah berlalu ke belakang.

Aku menarik napas panjang, menatap pantulan diriku di kaca jendela ruang makan. Aku mengenakan gaun selutut berwarna peach yang sederhana namun sopan. Rambut panjangku kuikat rapi. Aku tahu, di mata keluarga Raka, penampilanku selalu dianggap kurang berkelas. Mereka terbiasa dengan barang-barang branded dari kepala hingga ujung kaki. Jika saja mereka tahu bahwa gaun sederhana yang kukenakan ini adalah rancangan desainer eksklusif dari Paris yang dikirimkan khusus oleh asisten ayahku... ah, tidak. Aku segera menepis pikiran itu.

Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku menikah dengan Raka karena cinta. Aku meninggalkan kehidupan sempurnaku, menyembunyikan identitasku sebagai pewaris tunggal Adhitama Group, hanya agar Raka tidak merasa terintimidasi. Aku ingin kami membangun rumah tangga dari nol, berlandaskan ketulusan, bukan karena harta keluargaku. Tapi sayangnya, ketulusan itu sepertinya tidak pernah cukup di mata wanita yang melahirkan suamiku.

Suara deru mesin mobil mewah yang memasuki garasi membuyarkan lamunanku. Jantungku mulai berdebar. Itu pasti keluarga besar Raka.

Tepat pukul tujuh malam, ruang tamu mulai bising oleh suara tawa dan obrolan. Aku melangkah ke depan, menyambut mereka dengan senyum paling tulus yang bisa kuberikan. Raka, suamiku, baru saja turun dari lantai dua. Ia mengenakan kemeja polo berwarna navy yang membuatnya tampak semakin tampan dan berwibawa. Raka adalah manajer tingkat atas di sebuah perusahaan bonafide. Ia sukses, mapan, dan sangat dihormati. Melihatnya tersenyum menyambut paman dan bibinya membuat hatiku sedikit menghangat. Setidaknya, aku memiliki dia.

"Wah, aromanya harum sekali. Masakan Bi Inah memang tidak pernah gagal," seru Tante Dina, adik dari ibu mertuaku, saat ia melangkah memasuki ruang makan. Tangannya dipenuhi perhiasan emas yang bergemerincing setiap kali ia bergerak.

"Bukan Bi Inah yang masak, Tante. Alina yang masak semuanya hari ini," ucapku lembut, berusaha membuka percakapan.

Tante Dina menoleh ke arahku. Senyumnya tertahan, matanya memindai penampilanku dari atas ke bawah. "Oh... kamu yang masak? Pantas saja aromanya agak... berbeda. Mudah-mudahan rasanya bisa masuk di lidah keluarga kita ya."

Kalimat itu diucapkan dengan nada santai, namun tajamnya terasa hingga ke ulu hati. Aku hanya bisa tersenyum kaku dan mengangguk.

Semua orang mulai duduk di kursi masing-masing. Di ujung meja utama, duduklah Bu Sariβ€”ibu mertuaku. Wanita berusia pertengahan lima puluhan itu tampil sangat elegan dengan gaun sutra marun dan kalung berlian yang mencolok. Rambutnya disanggul rapi tanpa cela. Sejak aku masuk ke ruang makan, beliau belum sekalipun menatap wajahku. Matanya hanya tertuju pada Raka, putra kesayangannya.

"Raka, kamu kelihatan capek sekali, Nak. Proyek barumu pasti sangat menyita waktu," ucap Bu Sari dengan nada keibuan yang sangat kental.

Raka tersenyum dan memegang tangan ibunya. "Biasa, Ma. Ada target kuartal ini yang harus dikejar. Tapi melihat Mama dan keluarga kumpul begini, capeknya hilang."

Aku mengambilkan nasi untuk Raka, lalu meletakkan lauk pauk di piringnya. Raka bergumam pelan, "Makasih," tanpa menatapku. Matanya masih sibuk memperhatikan sepupunya yang sedang bercerita tentang liburan mereka ke Eropa.

Makan malam pun dimulai. Suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan porselen terdengar mengiringi obrolan mereka. Aku duduk di kursi paling ujung, mengunyah makananku dalam diam. Aku merasa seperti penonton di tengah pertunjukan teater keluarga yang harmonis ini.

"Ngomong-ngomong, Alina," suara Om Haris tiba-tiba memecah lamunanku. "Kamu sekarang kesibukannya apa? Masih di rumah saja?"

Ruang makan yang tadinya penuh tawa mendadak hening. Semua mata kini tertuju padaku. Aku menelan ludah, merasakan kerongkonganku tiba-tiba mengering.

"Iya, Om. Sementara ini Alina fokus mengurus rumah tangga dan mengurus Raka," jawabku sesopan mungkin.

Terdengar dengusan sinis dari ujung meja. Bu Sari meletakkan sendoknya dengan sedikit kasar, menciptakan bunyi clank yang membuat dadaku berdegup kencang.

"Mengurus rumah tangga?" ulang Bu Sari, suaranya dingin dan menusuk. "Rumah ini sudah ada Bi Inah, ada tukang kebun, ada sopir. Apa yang kamu urus, Alina? Mencuci piring saja kamu masih sering dibantu asisten. Kamu itu cuma duduk-duduk saja seharian menikmati fasilitas yang dibeli pakai keringat anak saya."

Udara di ruang makan terasa menguap. Wajahku memanas. Aku menatap Raka, berharap ia akan membela. Berharap ia akan mengatakan bahwa aku bangun jam empat pagi setiap hari untuk menyiapkan keperluannya. Berharap ia memberitahu ibunya bahwa aku yang menyetrika semua kemejanya karena Raka tidak suka jika asisten yang melakukannya.

Tapi Raka... suamiku itu hanya menunduk, mengaduk-aduk kuah sup di piringnya. Ia tidak mengatakan apa-apa.

"Sari, jangan begitu. Namanya juga istri, tugasnya memang menemani suami," ucap Om Haris mencoba mencairkan suasana, meski nada suaranya terdengar canggung.

"Menemani suami bagaimana, Mas Haris?" Bu Sari menatap tajam ke arah kakak iparnya itu, sebelum kembali menatapku dengan sorot mata penuh kebencian. "Keluarga kita ini keluarga berpendidikan, keluarga pengusaha. Kita terbiasa bekerja keras, punya kelas, punya martabat! Lah dia? Perempuan dari kampung, nggak jelas asal-usul keluarganya, cuma modal tampang pas-pasan dan air mata untuk menjerat Raka."

"Ma, sudah," bisik Raka pelan. Sangat pelan, nyaris tak terdengar.

"Apanya yang sudah, Raka?!" Suara Bu Sari meninggi. Wajahnya memerah karena emosi yang tidak kutahu dari mana asalnya. Mungkin baginya, keberadaanku di rumah ini adalah sebuah aib yang harus terus ia kutuk. "Kamu ini direktur, Raka! Sebentar lagi kamu akan dipromosikan jadi CEO! Kamu butuh istri yang bisa kamu bawa ke lingkaran pergaulan atas. Istri yang bisa jadi rekan diskusi bisnis, yang bisa dibanggakan. Bukan perempuan miskin yang cuma tahu cara menghabiskan uang suaminya dan memalukan keluarga setiap kali dibawa ke acara penting!"

Hatiku hancur berkeping-keping. Kata 'perempuan miskin' dan 'memalukan' bergema di telingaku. Aku meremas ujung taplak meja di bawah meja makan, menahan sekuat tenaga agar air mataku tidak jatuh. Jika mereka tahu siapa ayahku... jika mereka tahu bahwa grup perusahaan tempat Raka bekerja saat ini adalah salah satu anak perusahaan dari jaringan bisnis Adhitama yang kumiliki, mereka pasti akan bersujud di kakiku saat ini juga.

Tapi aku tidak ingin menggunakan kekuasaan itu. Aku hanya ingin diterima. Apakah itu terlalu muluk?

"Alina, kamu dengar kata-kata saya?" Bu Sari menodongku dengan jari telunjuknya yang dihiasi cincin zamrud. "Kamu itu benalu di keluarga ini. Tidak tahu diri. Coba kamu ngaca, apa pantas kamu bersanding dengan anak saya?"

Aku menundukkan kepala. Setetes air mata akhirnya lolos membasahi pipiku. "Maafkan Alina, Ma... Alina akan berusaha jadi lebih baik lagi." Suaraku bergetar hebat.

Tante Dina dan kerabat lainnya hanya diam, beberapa dari mereka bahkan saling berbisik dan tersenyum sinis melihatku dipermalukan habis-habisan di meja makan. Mereka menikmati penderitaanku. Mereka menganggapku parasit.

Aku menatap Raka sekali lagi. Kumohon, Raka. Belalah aku. Aku istrimu. Aku wanita yang kamu janjikan kebahagiaan di depan altar satu tahun yang lalu.

Namun Raka justru mengangkat wajahnya, menatapku dengan sorot mata lelah yang menyiratkan teguran. Seolah-olah, akulah yang memancing keributan ini. Seolah-olah, keberadaanku di ruangan ini adalah sebuah kesalahan.

"Ma, sudah ya. Jangan merusak suasana makan malam," Raka akhirnya bersuara, namun bukan untuk membelaku, melainkan sekadar untuk menenangkan ibunya. Ia menepuk punggung tangan ibunya dengan lembut.

Bu Sari menarik napas panjang, bersandar di kursi mewahnya. Ia mengambil serbet, mengelap sudut bibirnya dengan elegan, lalu menatap semua orang di ruangan itu sebelum akhirnya mengunci pandangannya tepat di manik mataku. Sorot matanya sangat dingin, sedingin es yang membekukan aliran darahku.

"Terkadang..." suara Bu Sari memecah keheningan yang mencekam, tajam dan tanpa belas kasihan. "Aku sangat menyesal membiarkan Raka menikah dengan perempuan seperti dia."