Malam itu aku tidak bisa memejamkan mata. Kata-kata Bu Sari terus berputar di kepalaku layaknya kaset rusak yang memutar lagu bernada kematian. Aku sangat menyesal membiarkan Raka menikah dengan perempuan seperti dia.
Aku menatap langit-langit kamar yang temaram. Di sampingku, Raka tertidur pulas. Napasnya teratur. Ia bahkan tidak mencoba memelukku atau mengucapkan satu kata maaf pun setelah insiden di meja makan. Begitu keluarga besarnya pulang, Raka langsung masuk ke kamar, mandi, dan tidur dengan alasan besok ada rapat penting pagi-pagi sekali.
Aku merasa sangat sendirian di ranjang berukuran king size ini. Perlahan, aku menyibakkan selimut dan turun dari ranjang. Jam di dinding menunjukkan pukul empat pagi. Aku mengikat rambutku asal-asalan, mencuci muka di kamar mandi, dan melangkah keluar kamar.
Udara pagi di rumah mewah ini selalu terasa sangat dingin. Aku menuruni tangga marmer yang melingkar elegan di tengah rumah. Begitu sampai di lantai bawah, lampu dapur sudah menyala. Bi Inah sedang memotong sayuran.
"Loh, Non Alina? Kok sudah bangun? Matanya sembap, Non... kurang tidur ya?" sapa Bi Inah dengan nada khawatir.
Aku memaksakan senyum, mengambil celemek yang tergantung di dinding. "Biar Alina bantu, Bi. Nyonya minta sarapan apa hari ini?"
"Nggak usah, Non. Non Alina istirahat saja. Biar Bibi yang kerja. Bibi nggak enak hati lihat Non Alina terus-terusan yang repot. Lagian Nyonya..." Bi Inah ragu-ragu untuk meneruskan kalimatnya.
"Nyonya kenapa, Bi?"
"Nyonya semalam pesan ke Bibi, katanya mulai hari ini, tugas membersihkan lantai satu dan mencuci baju Tuan Raka biar Non Alina yang kerjakan. Katanya... biar Non Alina ada 'kegiatan' dan nggak cuma numpang makan." Suara Bi Inah memelan di akhir kalimat, kentara sekali ia merasa tidak enak menyampaikannya kepadaku.
Tanganku yang sedang memegang pisau perlahan terhenti. Dadaku terasa dipalu dengan godam raksasa. Mencuci baju Raka? Mengepel seluruh lantai satu? Lantai satu rumah ini luasnya hampir empat ratus meter persegi. Dan pakaian Raka... kemeja kerjanya menggunakan bahan-bahan mahal yang perawatannya sangat rumit.
Namun, alih-alih menangis, aku justru menarik napas dalam-dalam. "Oh, begitu. Ya sudah, nggak apa-apa, Bi. Nanti habis masak, Alina yang kerjakan semuanya. Bibi urus bagian taman dan lantai dua saja ya."
"Tapi, Non..."
"Nggak apa-apa, Bi. Sungguh." Aku memotong cepat, lalu mulai mengiris bawang dengan ritme yang cepat, menyembunyikan getaran di tanganku. Aku adalah Alina Adhitama. Aku pernah diajarkan untuk tidak pernah menyerah pada tekanan apa pun. Jika Bu Sari pikir ia bisa mematahkan mentalku dengan menjadikanku pembantu di rumah suamiku sendiri, ia salah besar. Aku bertahan demi cintaku pada Raka. Aku ingin melihat, seberapa jauh suamiku itu akan membiarkan ibunya menyiksaku.
Pukul enam pagi, sarapan telah terhidang. Aku mengambil kain pel dan ember, lalu mulai mengepel lantai marmer di ruang keluarga. Punggungku terasa pegal, namun aku terus bergerak. Saat itulah terdengar langkah kaki menuruni tangga. Bu Sari.
Ia sudah tampil rapi dengan riasan paripurna. Beliau berhenti di anak tangga terakhir, melipat tangannya di dada, dan menatapku yang sedang berlutut memeras kain pel. Tidak ada sedikit pun rasa kasihan di matanya. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum meremehkan.
"Bagus," ucapnya dingin. "Ternyata kamu masih punya sedikit telinga untuk mendengar. Memang sudah seharusnya kamu tahu diri. Di rumah ini, tidak ada yang makan gratis."
Aku berdiri, menundukkan kepala. "Selamat pagi, Ma. Sarapan sudah Alina siapkan di meja."
Bu Sari melangkah melewatiku tanpa menjawab sapaanku. Ia menuju meja makan, menuangkan kopi ke dalam cangkirnya. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku mengepel lantai.
Tak lama kemudian, Raka turun. Ia merapikan dasinya sambil berjalan. "Pagi, Ma," sapanya ceria, mencium pipi ibunya.
"Pagi, Sayang. Ayo sarapan. Mama sudah suruh Inah masakin nasi goreng seafood kesukaanmu," balas Bu Sari dengan nada yang langsung berubah menjadi sangat lembut dan penuh kasih.
Raka duduk. Matanya menyapu ruangan dan menemukanku di sudut ruang keluarga, sedang mengepel lantai dengan peluh di dahi. Dahi Raka berkerut. "Alina? Kamu ngapain ngepel? Bukannya ada Bi Inah?"
Aku menghentikan gerakanku, menatap Raka. Berharap ia akan memintaku berhenti.
Namun sebelum aku sempat menjawab, Bu Sari sudah menyela. "Mama yang suruh. Kenapa? Istrimu itu butuh olahraga, Raka. Biar tubuhnya sehat. Lagipula, masak tugas gampang begitu saja harus selalu nyuruh pembantu? Dia kan nyonya muda di sini, harus belajar mengurus rumah tangga."
Raka menatap ibunya sebentar, lalu beralih menatapku. Alih-alih menyuruhku berhenti dan ikut sarapan bersamanya, Raka justru mengangguk pelan. "Ya sudah, tapi jangan terlalu capek ya, Al. Nanti kalau sudah selesai, kamu ikut sarapan."
Setelah mengucapkan kalimat basa-basi itu, Raka mulai menyantap nasi gorengnya dengan lahap, mengobrol dengan ibunya tentang saham dan investasi perusahaan. Sementara aku dibiarkan menyapu dan mengepel lantai di dekat mereka, seolah aku adalah makhluk tak kasat mata yang derajatnya memang hanya pantas berada di bawah telapak kaki mereka.
Rasanya pedih. Cinta yang dulu menggebu-gebu kini perlahan mulai terkikis oleh kekecewaan yang bertumpuk. Pria yang dulu berjanji akan menjadikanku ratu, kini membiarkanku menjadi jongos di istananya sendiri.
Pukul tujuh lewat, Raka berpamitan. Ia menghampiriku yang sedang mencuci piring di wastafel dapur. Ia mengecup keningku sekilasβsebuah rutinitas yang kini terasa hampa, tanpa jiwa. "Aku berangkat ya, Al. Kamu baik-baik di rumah."
"Hati-hati, Mas," jawabku parau.
Begitu mobil Raka keluar dari gerbang, siksaan yang sesungguhnya dimulai. Bu Sari masuk ke dapur membawa keranjang cucian yang sangat penuh. Ia melemparkan keranjang itu ke lantai keramik dapur hingga menimbulkan suara bedebuk yang keras.
Aku terperanjat dan membalikkan badan.
"Cuci semua kemeja kerja Raka. Dan ingat, jangan pakai mesin cuci! Kainnya mahal, bisa rusak kalau digiling mesin. Kamu cuci pakai tangan. Sikat bagian kerah dan ujung lengannya sampai bersih tak bernoda," perintahnya dengan nada diktator.
Aku menatap keranjang yang berisi belasan kemeja sutra dan katun mahal itu. Mencuci semuanya dengan tangan? Itu akan memakan waktu berjam-jam dan membuat tanganku lecet.
"Ma... kemeja Mas Raka biasanya di-laundry basah dan disetrika khusus karena bahannya..."
"Kamu berani membantah saya?!" bentak Bu Sari. Matanya melotot tajam. "Kamu pikir saya tidak tahu kalau kamu cuma malas? Kalau kamu kirim ke laundry, siapa yang bayar? Raka kan?! Uang anak saya bukan untuk membiayai kemalasan istrinya! Cuci sekarang!"
Aku menunduk, menggigit bibir bawahku kuat-kuat hingga terasa rasa anyir darah. "Baik, Ma."
"Bagus. Ingat posisimu di rumah ini, Alina. Kamu diizinkan tinggal di sini saja sudah merupakan keajaiban," desisnya tajam.
Dengan susah payah, aku membawa keranjang cucian itu ke area belakang. Aku duduk di dingklik kayu kecil, mulai merendam kemeja-kemeja mahal itu, dan menyikatnya satu per satu dengan tangan kosong. Sabun cuci yang keras membuat telapak tanganku yang terbiasa dirawat dengan losion mahal kini memerah dan perih. Air mataku menetes berjatuhan membasahi busa sabun. Aku menangis dalam diam, meratapi kebodohanku sendiri.
Ayah... Ibu... maafkan Alina. batinku menjerit. Kalau saja kalian melihat bagaimana putri kecil kalian diperlakukan seperti anjing jalanan di sini, kalian pasti akan meratakan rumah ini dengan tanah.
Menjelang siang, semua pekerjaan rumah akhirnya selesai. Aku memijat pinggangku yang terasa mau patah. Aku baru saja hendak merebahkan diri di sofa ruang tengah untuk sekadar meluruskan kaki ketika tiba-tiba Bu Sari datang dari kamarnya dengan langkah tergesa-gesa.
"Alina! Bangun kamu! Jangan seenaknya tiduran di situ, kotor sofa saya nanti!" serunya sambil menendang pelan ujung kakiku.
Aku segera bangkit berdiri. "Ada apa, Ma?"
"Bersihkan ruang tamu utama sekarang juga. Lap semua guci antik dan ganti bunga di vas meja dengan mawar putih segar. Bilang ke Bi Inah untuk masak menu spesial yang mewah. Keluarkan peralatan makan perak yang ada di lemari kaca," perintahnya bertubi-tubi dengan wajah berseri-seri, berbanding terbalik dengan nada bicaranya padaku.
Aku mengernyitkan dahi. Peralatan makan perak itu hanya dikeluarkan setahun sekali saat ada klien bisnis Raka yang paling penting berkunjung, atau saat perayaan besar keluarga.
"Memangnya... mau ada acara apa, Ma? Mas Raka mengundang klien penting ke rumah?" tanyaku hati-hati.
Bu Sari merapikan syal sutranya, menatapku dengan senyum miring yang penuh arti. Sebuah senyum yang membuat perasaanku tiba-tiba tidak enak.
"Bukan klien," jawab Bu Sari. Matanya berkilat meremehkan saat menatap wajahku yang lelah dan berantakan. "Besok akan ada tamu yang sangat penting. Seseorang yang jauh lebih berkelas, lebih berpendidikan, dan lebih pantas berada di rumah ini dibandingkan kamu."
Bu Sari melangkah mendekatiku, membisikkan sesuatu yang membuat darahku berdesir hebat.
"Tamu itu adalah masa depan Raka yang sebenarnya."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar