Malam merayap pelan, membawa hawa dingin yang menembus hingga ke tulang. Jarum jam antik di ruang keluarga sudah menunjuk ke angka sebelas malam, namun mataku tak kunjung bisa terpejam. Aroma parfum Baccarat milik Clara seolah masih tertinggal dan menempel di setiap sudut rumah ini, menguarkan aroma ancaman yang membuat perutku mual.

β€œIya, Tante. Aku paham kok kesibukan Raka. Apalagi aku dan Raka... kami masih sering komunikasi dan chatting soal masalah kerjaannya kok sampai sekarang.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalaku, berputar seperti kaset rusak yang memekakkan telinga. Suamiku, pria yang berjanji sehidup semati denganku di hadapan Tuhan, ternyata masih menjalin komunikasi dengan mantan kekasihnya. Mantan kekasih yang secara terang-terangan dipuja bak dewi oleh ibu mertuaku sendiri. Dan yang lebih menyakitkan, aku adalah orang terakhir yang mengetahuinya.

Suara gerbang yang dibuka membuyarkan lamunanku. Sinar lampu mobil menyorot masuk dari celah tirai jendela kamar kami. Itu Raka.

Aku segera bangkit dari tepi ranjang, merapikan piyama sutraku yang agak kusut, lalu berjalan ke arah pintu. Saat Raka masuk, wajahnya terlihat sangat lelah. Kemeja kerjanya sedikit berantakan dan dasinya sudah dilonggarkan. Di tangannya, ia menenteng tas kerja dari kulit berwarna cokelat tua.

"Mas, baru pulang?" sapaku pelan. Aku mengulurkan tangan untuk mengambil tas kerjanya, sebuah kebiasaan yang selalu kulakukan setiap kali ia pulang.

Raka hanya bergumam tak jelas. Ia menyerahkan tasnya, lalu berjalan melewatiku begitu saja menuju sofa kecil di sudut kamar. Ia menghempaskan tubuhnya ke sana, memejamkan mata sambil memijat pelipisnya.

"Macet banget dari Sudirman, kepalaku pusing," keluhnya tanpa membuka mata.

Aku meletakkan tasnya di atas meja nakas, lalu berjalan menghampirinya. "Mau aku buatkan teh hangat? Atau air jahe, Mas? Tadi aku juga sisakan makan malamβ€”"

"Nggak usah, Al. Aku udah makan di luar tadi sama klien. Aku cuma mau mandi terus tidur," potongnya cepat. Nada suaranya dingin dan berjarak.

Aku terdiam sejenak. Aku berdiri di depannya, menatap wajah pria yang sangat kucintai ini. Ada badai yang berkecamuk di dalam dadaku. Ada ribuan pertanyaan yang menjejal di tenggorokan, mendesak untuk dikeluarkan. Aku tidak bisa menahannya lagi. Perasaanku hancur seharian ini, dan aku butuh suamiku untuk menyembuhkannya.

"Mas..." panggilku lirih, suaraku sedikit bergetar. "Tadi siang, Clara datang ke sini."

Gerakan tangan Raka yang sedang memijat pelipisnya seketika terhenti. Ia membuka mata perlahan, menatapku dengan sorot yang sulit kuartikan. Bukan sorot terkejut, melainkan... sorot seseorang yang sudah tahu.

"Ya, Mama udah chat aku tadi siang," jawabnya singkat. Ia mulai membuka kancing kemejanya satu per satu. "Mama bilang dia mampir sepulang dari kantornya. Terus kenapa?"

Terus kenapa? Aku menelan ludah yang terasa bagai pecahan kaca.

"Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau kamu masih sering komunikasi sama dia, Mas?" tanyaku. Kali ini aku menatap lurus ke dalam matanya, menuntut kejujuran. "Clara bilang di depan Mama, di depan mataku sendiri, kalau kalian masih sering chatting soal kerjaan. Benar begitu, Mas?"

Raka menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan raut jengkel yang tidak ditutup-tutupi. "Ya ampun, Al. Kamu ini kenapa sih? Baru pulang kerja udah ditanya yang macam-macam. Clara itu sekarang menjabat Direktur Pemasaran di perusahaan papanya. Perusahaanku sedang menjajaki kemungkinan kerja sama dengan mereka. Wajar kan kalau kami ngomongin soal bisnis?"

"Wajar?" Suaraku tanpa sadar meninggi satu oktaf. "Mas, dia mantan kamu! Dan kamu tahu persis gimana perlakuan Mama ke aku selama ini. Hari ini Mama sengaja mengundang dia, menyuruhku melayaninya layaknya pembantu, lalu membanding-bandingkan aku dengan dia! Mama bilang... Mama menyesal kamu menikah denganku, Mas."

Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya luruh membasahi pipi. Aku meremas ujung piyamaku. "Di depan perempuan itu, Mama bilang kalau cuma Clara yang pantas mendampingimu. Dan apa tanggapan Clara? Dia tersenyum, Mas. Dia merendahkan aku. Dan fakta bahwa kalian masih sering berhubungan di belakangku... itu membuatku terlihat seperti orang bodoh!"

"Alina, cukup!" Raka tiba-tiba berdiri. Suaranya menggelegar di dalam kamar yang kedap suara ini, membuat bahuku tersentak kaget.

Ia menatapku dengan tajam, rahangnya mengeras. "Kamu itu terlalu baper, tahu nggak? Kamu selalu membesar-besarkan masalah! Mama itu orang tua, wajar kalau dia punya ekspektasi lebih. Clara datang ke sini sebagai tamu, harusnya kamu jamu dengan baik, bukan malah cemburu buta begini!"

Aku mundur selangkah, seakan baru saja ditampar secara kasatmata. "Aku membesar-besarkan masalah? Mas, istrimu dihina di rumahnya sendiri! Istrimu diperlakukan seperti keset kaki! Tidakkah kamu punya sedikit saja rasa empati untuk membelaku?"

"Membela kamu untuk apa, Al?" Raka membalas tak kalah sengit. "Kamu yang nggak bisa menempatkan diri! Kalau kamu bersikap lebih elegan, lebih pintar mengambil hati Mama, Mama nggak akan membandingkan kamu dengan Clara! Masalah komunikasi, aku cuma profesional kerja. Kenapa kamu jadi se-kekanak-kanakan ini sih?"

Kakiku lemas. Aku menatap pria di hadapanku dengan pandangan nanar. Inikah pria yang rela kubela mati-matian di depan ayahku? Inikah pria yang membuatku rela menanggalkan nama besar Adhitama demi hidup sederhana bersamanya?

"Mas... aku ini istrimu. Aku butuh kamu berdiri di pihakku, setidaknya sekali saja saat Ibumu menghancurkan harga diriku..." isakku parau. Dadaku sesak, rasanya oksigen di kamar ini menipis drastis.

Namun, alih-alih merengkuhku atau meminta maaf, Raka justru mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menatapku dengan pandangan dingin yang seolah menganggap tangisanku adalah hal yang sangat memuakkan.

"Aku capek, Al. Pusing." Raka mengambil handuk dari gantungan. "Besok pagi, aku mau kamu temui Mama. Minta maaf sama Mama karena kamu pasti sudah bersikap ketus dan bikin Mama nggak nyaman pas ada Clara tadi siang."

Aku terbelalak. "Minta maaf? Untuk apa, Mas?! Aku disuruh ngepel, mencuci bajumu pakai tangan, melayani mereka minum, dan mendengarkan hinaan mereka dalam diam. Kesalahan apa yang harus ku-minta-maaf-kan?!"

Raka berhenti di ambang pintu kamar mandi. Ia membalikkan badannya perlahan, menatapku dengan sorot mata yang begitu datar, tanpa sebersit pun rasa cinta yang tersisa.

"Karena bagaimanapun juga, Mama yang melahirkan aku," ucap Raka dengan nada final yang membekukan darahku. "Tolong jangan egois, Alina. Kamu harus ngerti..."

Raka menjeda kalimatnya, menatap lurus ke dalam mataku yang basah oleh air mata, lalu mengucapkan satu kalimat yang menghancurkan sisa-sisa kewarasanku malam itu.

"Mama hanya ingin yang terbaik untukku."