Udara di ruang tamu terasa sangat tipis, seakan oksigen telah tersedot habis oleh kehadiran sosok Clara yang begitu mendominasi. Kata-kata Bu Sari masih menggantung di udara, menciptakan gaung yang menyiksa telingaku.
Perempuan yang dulu hampir menjadi menantuku.
Aku menatap Clara. Wanita itu duduk dengan anggun, menyilangkan kakinya, dan tersenyum simpul menatapku. Tidak ada rasa canggung di wajahnya. Sebaliknya, ia tampak sangat menikmati posisinya saat ini. Posisi sebagai ratu tak bermahkota di rumah suamiku.
"Oh... jadi, kamu Alina?" Clara mengulurkan tangannya yang dihiasi cat kuku sempurna berwarna nude dan sebuah cincin berlian mentereng di jari telunjuknya. "Aku sering dengar nama kamu dari Tante Sari. Kenalkan, aku Clara."
Aku ragu-ragu sejenak. Kutatap tanganku yang masih sedikit kasar dan kemerahan akibat menyikat belasan kemeja Raka kemarin. Perlahan, aku menyambut uluran tangannya. "Ya. Saya Alina. Istri Raka."
Aku sengaja menekan kata istri untuk mengingatkannya pada batasan. Bahwa terlepas dari apa pun masa lalu yang ia miliki bersama suamiku, akulah wanita yang sah secara agama dan hukum berdiri di samping Raka saat ini.
Namun Clara hanya tersenyum meremehkan, menarik tangannya dengan cepat seolah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor. "Iya, aku tahu. Tante Sari bilang Raka menikah cukup... terburu-buru. Senang akhirnya bisa bertemu langsung."
"Sudah, sudah. Alina, kamu berdiri saja di situ. Tuangkan tehnya untuk Clara. Jangan sampai tumpah merusak meja, itu kayu jati asli," perintah Bu Sari tajam, memutuskan kontak mataku dengan Clara.
Aku menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Aku melangkah maju, mengambil teko teh dari nampan yang diletakkan Bi Inah, lalu menuangkan cairan keemasan yang mengepulkan aroma chamomile itu ke dalam cangkir Clara. Tanganku sedikit gemetar. Jarak sedekat ini, aku bisa mencium aroma parfum Baccarat yang sangat pekat menguar dari tubuh Clara. Aroma kemewahan yang selalu dipuja-puja oleh ibu mertuaku.
"Terima kasih, Alina. Kamu cekatan juga ya," ucap Clara. Meski terdengar seperti pujian, nada suaranya mengisyaratkan hal lain. Ia memperlakukanku layaknya pelayan yang sedang bekerja di restoran mewahnya.
Aku mundur beberapa langkah, berdiri di sudut ruangan sesuai instruksi Bu Sari. Aku menjadi saksi bisu dari panggung sandiwara menjijikkan yang dimainkan di hadapanku.
"Clara sayang, Tante dengar kamu baru saja dipromosikan jadi Direktur Pemasaran di perusahaan papamu ya? Wah, Tante bangga sekali dengar beritanya," Bu Sari membuka percakapan, matanya berbinar-binar penuh pemujaan.
Clara tertawa kecil, menutupi mulutnya dengan elegan. "Ah, Tante bisa saja. Baru awal bulan kemarin sih, Tante. Papa memang mempercayakan ekspansi proyek perumahan elit di kawasan Selatan ke aku. Tapi ya... namanya juga belajar bisnis, masih banyak yang harus aku eksplor, Tante. Makanya aku pulang ke Indonesia."
"Itu baru namanya perempuan cerdas!" Bu Sari menepuk pelan tangan Clara, lalu dengan sengaja menoleh ke arahku. "Perempuan itu harus punya value, punya nilai jual. Harus berpendidikan tinggi, karirnya cemerlang, dan bisa membawa keuntungan finansial untuk keluarga. Bukan perempuan yang cuma tahu menengadahkan tangan pada suami setiap akhir bulan. Apalagi yang bisanya cuma di dapur, berbau bawang, dan bikin malu kalau diajak ke pertemuan sosialita."
Setiap kata yang keluar dari mulut Bu Sari seperti silet yang menyayat kulitku perlahan. Aku menundukkan kepala, memandangi ujung kakiku. Jika ia ingin bicara soal value dan bisnis, perusahaan papanya Clara itu bahkan baru saja mengajukan proposal pinjaman dana investasi ke Adhitama Group bulan lalu. Proposal yang kertasnya kutandatangani persetujuannya sambil lalu di ruang kerja ayahku. Betapa ironisnya dunia ini.
"Tante nggak boleh bilang gitu, ah," Clara menyahut dengan nada manja, melirikku sekilas. "Setiap perempuan kan beda-beda, Tante. Mungkin Alina memang... passion-nya di rumah. Mengurus suami, beres-beres rumah... itu kan juga mulia, Tante. Lagipula, nggak semua orang punya privilege dan kemampuan untuk bekerja di dunia korporat yang keras. Kita harus maklum."
Aku mengepalkan kedua tanganku di sisi tubuh. Pembelaan Clara justru terasa seperti racun yang dilapisi madu. Ia tidak sedang membelaku; ia sedang mempertegas bahwa kastaku jauh berada di bawahnya. Ia sedang mengasihani ketidakmampuanku, sebuah ketidakmampuan yang sebenarnya adalah ilusi.
"Maklum apanya?" Bu Sari mendengus. "Raka itu karirnya sedang meroket, Cla. Dia butuh pendamping yang selevel dengannya. Kalau ada acara gala dinner perusahaan, apa iya Raka harus menggandeng perempuan yang nggak ngerti apa-apa soal networking? Raka butuh perempuan yang bisa diajak bicara soal investasi, soal saham, soal strategi bisnis. Kayak kamu."
"Tante Sari ini berlebihan..." Clara tersenyum tersipu, rona merah menghiasi pipinya.
"Tante serius, Clara." Suara Bu Sari tiba-tiba melembut, dipenuhi penyesalan yang mendalam. Ia menggenggam kedua tangan Clara erat-erat. "Seandainya saja dulu kamu tidak ke London... seandainya saja kamu tetap di sini menemani Raka... pasti sekarang kamulah yang menjadi Nyonya Raka. Rumah ini pasti akan jauh lebih hidup dan bermartabat. Tante selalu berdoa agar Raka mendapatkan wanita yang sepadan, dan sejujurnya... di mata Tante, cuma kamu yang pantas bersanding dengan putra Tante."
Duniaku runtuh mendengarnya. Di depanku, di depan mataku sendiri, ibu dari pria yang kucintai secara terang-terangan menyesali pernikahanku dan berharap wanita lain yang menjadi menantunya. Aku merasa seperti ditelanjangi di tengah keramaian. Harga diriku diinjak-injak hingga rata dengan tanah marmer tempatku berpijak.
Aku ingin lari. Aku ingin berteriak dan membeberkan siapa diriku yang sebenarnya. Tapi aku menahannya. Air mata sudah menggenang di pelupuk mataku, mengaburkan pandanganku.
Clara menatap Bu Sari dengan tatapan lembut, lalu membalas genggaman tangan wanita paruh baya itu. "Aku juga kadang menyesal, Tante. Keputusanku untuk pergi mungkin memang egois. Tapi... aku senang melihat Raka sekarang sukses."
"Dia sukses karena kerja kerasnya sendiri. Bukan karena dukungan dari orang yang salah," potong Bu Sari cepat, melirik sinis ke arahku yang sedang menahan tangis.
Obrolan mereka berlanjut berjam-jam. Mereka membicarakan masa lalu, liburan bersama yang pernah mereka lalui, dan proyek-proyek bisnis yang sama sekali tidak melibatkanku. Aku dibiarkan berdiri di sana seperti pelayan yang bertugas memastikan cangkir Clara tidak pernah kosong. Setiap kali tehnya tinggal setengah, Bu Sari akan menyuruhku menuangkannya lagi.
Hingga akhirnya, topik obrolan bergeser kembali pada sosok Raka.
"Raka kerjanya pasti sibuk banget ya, Tante? Dulu waktu kita masih sama-sama, dia memang workaholic parah," ucap Clara sambil mengaduk tehnya dengan sendok perak yang berdenting pelan.
"Sangat sibuk. Dia itu tulang punggung keluarga. Perusahaannya sangat mengandalkan dia. Tante kadang kasihan lihat dia pulang malam, stres, dan nggak ada teman ngobrol yang sefrekuensi di rumah ini," jawab Bu Sari sambil melirikku tajam, kembali melemparkan anak panah beracunnya padaku.
"Oh, ya?" Clara menghentikan adukannya. Ia meletakkan cangkirnya di atas tatakan, lalu menatapku dengan senyum yang kali ini tidak bisa lagi disembunyikan kelicikannya. Sebuah senyum kemenangan.
Clara menyisipkan rambutnya ke belakang telinga, lalu menatap lurus ke arah Bu Sari dan berkata dengan nada yang sangat tenang, seringan embusan angin, namun memiliki daya hancur seperti bom nuklir bagi hatiku.
"Iya, Tante. Aku paham kok kesibukan Raka. Apalagi aku dan Raka... kami masih sering komunikasi dan chatting soal masalah kerjaannya kok sampai sekarang."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar