Pagi itu, udara di rumah mewah keluarga Raka terasa lebih sibuk dan menegangkan dari biasanya. Arahan Bu Sari kemarin sore bukanlah gertakan sambal. Sejak matahari belum menampakkan wujud sempurnanya, aku sudah dipaksa bangun untuk membersihkan setiap inci ruang tamu utama. Lampu gantung kristal di tengah ruangan harus kulap satu per satu sambil menaiki tangga lipat yang goyah. Guci-guci porselen antik dari Dinasti Ming peninggalan almarhum ayah mertuaku, kusingkirkan debunya dengan sangat hati-hati.
Bi Inah berkutat di dapur sejak subuh, menyiapkan hidangan yang bahkan jauh lebih mewah daripada makan malam keluarga besar dua hari lalu. Ada salmon panggang, zuppa soup dengan truffle oil, dan dessert berlapis emas edible yang bahan-bahannya secara khusus dikirim oleh kurir premium pagi ini.
Aku menyeka keringat di pelipisku dengan punggung tangan. Napasku terengah. Kakiku gemetar karena terlalu lama berdiri di atas tangga lipat. Di ruang keluarga, Bu Sari sedang merias wajahnya di depan cermin kecil. Ia mengenakan gaun hijau zamrud sutra yang sangat elegan, dipadukan dengan set perhiasan mutiara air laut asli yang berkilau di leher dan telinganya. Ia tampak seperti seorang ratu yang sedang bersiap menyambut kepala negara.
"Alina! Jangan lelet kerjanya!" Suara Bu Sari memecah keheningan, memantul di dinding-dinding marmer ruang tamu. "Bunga mawar putihnya sudah kamu susun di vas meja utama belum? Awas kalau layu satu kelopak pun!"
"Sudah, Ma. Baru saja Alina ganti airnya," jawabku pelan sambil turun dari tangga lipat.
Aku melirik penampilanku sendiri di pantulan kaca jendela besar. Sangat kontras dengan ibu mertuaku. Aku mengenakan kaus katun polos berwarna putih yang sudah sedikit lusuh karena kucuci berkali-kali, dipadukan dengan celana panjang bahan yang nyaman untuk bergerak. Rambutku hanya kuikat cepol ke atas, beberapa helainya jatuh menutupi leher yang berkeringat. Aku tidak terlihat seperti istri seorang manajer tingkat atas, apalagi pewaris tunggal Adhitama Group. Aku benar-benar terlihat seperti asisten rumah tangga tambahan di sini.
"Kamu mau menyambut tamu saya dengan pakaian gembel seperti itu?" Bu Sari mendekatiku, menatapku dari atas ke bawah dengan raut wajah jijik. "Cepat ganti baju. Pakai seragam yang rapi. Saya tidak mau tamu saya ilfeel melihat gembel berkeliaran di rumah ini."
Seragam? Aku menelan ludah. "Maaf, Ma... seragam apa maksudnya?"
Bu Sari mendengus kasar. "Ya ampun, Alina. Kamu ini bodoh atau pura-pura bodoh? Maksud saya, pakai baju yang pantas, tapi jangan coba-coba menyaingi tamu saya! Sana pakai kemeja polosmu saja. Dan ingat, tugasmu nanti hanya menuangkan teh dan membawakan makanan. Setelah itu, kamu menyingkir ke belakang. Jangan ikut campur obrolan kami."
Rasanya seperti ada jarum kasatmata yang menusuk-nusuk rongga dadaku. Aku mengangguk kaku. "Baik, Ma."
Tepat pukul sepuluh pagi, suara klakson mobil mewah terdengar dari arah gerbang utama. Mobil Mercedes-Benz S-Class berwarna hitam metalik meluncur mulus memasuki pelataran rumah. Bu Sari langsung berdiri dari duduknya, wajahnya yang tadi garang dan sinis seketika berubah cerah benderang, dipenuhi senyum semringah yang belum pernah sekalipun kulihat ia tujukan padaku.
"Dia datang! Bi Inah! Alina! Ayo cepat ke depan, bukakan pintunya!" seru Bu Sari kegirangan.
Aku berdiri mematung di dekat pilar ruang tamu, sementara Bi Inah bergegas membukakan pintu utama ganda yang terbuat dari kayu jati berukir tersebut.
Seorang sopir berseragam turun dari mobil, berlari kecil membukakan pintu penumpang bagian belakang. Dan saat sosok itu melangkah keluar, napasku seakan berhenti sejenak.
Sepatu hak tinggi Christian Louboutin dengan sol merah ikonik menyentuh paving block halaman. Diikuti oleh sepasang kaki jenjang yang dibalut pencil skirt berwarna krem elegan. Seorang wanita mudaβmungkin seumurankuβkeluar dari mobil. Ia mengenakan blus sutra dari Dior, dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya yang bangir. Rambut panjang bergelombangnya ditata dengan sangat sempurna, seolah ia baru saja keluar dari salon mahal. Ia melepaskan kacamatanya, memamerkan sepasang mata bulat yang tajam, riasan wajah yang flawless, dan bibir merah merona yang melengkung membentuk senyuman manis nan percaya diri.
Tangannya menjinjing tas Hermes Birkin yang harganya setara dengan sebuah rumah mewah di pinggiran Jakarta.
Aku mengenalnya. Tentu saja aku mengenalnya.
Itu Clara.
Clara Aninditha. Wanita ambisius dari keluarga konglomerat di bidang properti. Dia adalah wanita yang fotonya pernah kutemukan terselip di dalam buku harian lama Raka saat kami baru saja menikah. Wanita yang menjalin hubungan dengan Raka selama empat tahun, sebelum akhirnya mereka putus karena Clara memilih untuk mengejar gelar master dan karirnya di London.
Tubuhku membeku. Tanganku mendadak dingin. Untuk apa dia datang ke sini?
"Ya ampun, Clara sayang! Astaga, kamu makin cantik saja, Nak!" Bu Sari menghambur ke teras, merentangkan kedua tangannya. Ia memeluk Clara dengan sangat erat, seolah Clara adalah anak kandungnya sendiri yang baru pulang dari medan perang. Ia bahkan mencium kedua pipi Clara berkali-kali.
"Tante Sari... apa kabar, Tante? Tante juga makin awet muda, deh. Clara kangen banget sama masakan Tante," balas Clara dengan suara manja yang dibuat-buat, membalas pelukan ibu mertuaku dengan tak kalah hangat.
"Tante kabarnya baik kalau lihat kamu pulang begini, Sayang. Ayo, ayo masuk. Tante sudah siapkan teh chamomile kesukaan kamu, dan makanan-makanan enak. Tante juga pesan dessert dari tempat favorit kamu waktu kuliah dulu," ucap Bu Sari seraya menggandeng lengan Clara dengan penuh kasih sayang, membimbingnya masuk ke dalam rumah.
Aku masih berdiri kaku di dekat pilar, seperti manekin tak bernyawa. Saat Clara melangkah masuk ke ruang tamu, langkahnya terhenti. Mata bulatnya yang dilapisi maskara tebal menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sorot matanya sekilas menyiratkan keterkejutan, namun dengan cepat berubah menjadi tatapan menilai yang sangat merendahkan.
Ia tersenyum tipis ke arahku, lalu menoleh pada Bu Sari. "Tante, ini asisten rumah tangga baru Tante? Kok Clara baru lihat? Bukannya dulu cuma ada Bi Inah ya?" tanyanya dengan nada polos yang sangat menyayat hati.
Darahku mendidih, tapi aku menahannya sekuat tenaga. Aku memejamkan mata sesaat.
Bu Sari tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat dipaksakan dan sinis. Ia melirikku dengan tatapan memperingatkan, seolah mengancamku untuk tidak mengatakan apa pun yang bisa mempermalukannya.
"Oh... ini?" Bu Sari menunjukku dengan dagunya. "Bukan, Sayang. Dia bukan asisten rumah tangga. Sayangnya, statusnya di atas kertas sedikit lebih... rumit dari itu."
Tepat saat Bi Inah datang membawa nampan berisi teko teh dan cangkir-cangkir porselen, Bu Sari menarik Clara untuk duduk di sofa ruang tamu utama yang baru saja kusapu bersih. Ibu mertuaku menatap wajah Clara dengan penuh kekaguman, lalu beralih menatapku yang masih berdiri menahan perih.
Dengan suara yang lantang dan sengaja ditekan pada setiap kata-katanya, Bu Sari menatap tajam ke arahku dan berkata,
"Alina, perkenalkan. Ini Clara... perempuan luar biasa yang dulu hampir menjadi menantuku."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar