Gedung Kementerian Harmoni Digital (KHD) adalah sebuah labirin kaca dan baja yang tidak menyisakan ruang bagi bayangan. Di lantai 32, di dalam ruangan yang dikenal sebagai Unit 808, udara terasa dinginβ€”selalu dijaga pada suhu 18Β°C untuk memastikan ribuan server yang tertanam di dinding tidak mengalami overheat. Rian melangkah masuk, suara sepatunya bergema di atas lantai polimer hitam yang mengkilap.

"Direktur di koridor," bisik seorang staf muda, memicu gelombang aktivitas instan. Puluhan analis data segera memperbaiki posisi duduk mereka, mata mereka terpaku pada layar lengkung yang menampilkan aliran data sensorik dari seluruh penjuru Stabilitania.

Rian menuju podium pusat. Di depannya, layar raksasa setinggi lima meter menampilkan peta panas emosi publik. Pagi ini, ada denyut oranye yang mengkhawatirkan di sektor pemukiman buruh. Isu kenaikan harga bahan pokok mulai bocor ke permukaan, mengalahkan narasi "Festival Bunga Nasional" yang mereka suntikkan kemarin.

"Lapor, Pak," suara Arya, kepala analis konten, memecah keheningan. "Isunya bukan lagi sekadar harga beras. Ada video amatir yang viral pagi ini. Seorang ibu pingsan di antrean pasar murah, dan warga mulai meneriakkan nama menteri kita. Engagement-nya naik 400% dalam dua jam. Algoritma menyarankan status Siaga 2."

Rian menatap video yang diputar di pojok layar. Gambaran itu kasar, goyang, dan penuh emosi mentahβ€”jenis konten yang paling ditakuti oleh Unit 808 karena "kejujurannya" sulit dilawan dengan grafik statistik.

"Siapa yang mengunggahnya pertama kali?" tanya Rian dingin.

"Akun anonim, Pak. Kami sudah men- take down videonya lima kali, tapi muncul lagi di platform mirror. Skor Harmoni pengunggah asli sudah otomatis kami nol-kan, tapi efek dominonya sudah menyebar."

Rian terdiam sejenak, otaknya bekerja seperti prosesor. "Jangan hanya di- take down. Jika kau mematikan api, orang akan mencari asapnya. Kita butuh pengalihan. Arya, apa stok skandal yang kita punya?"

Arya menggeser layar. "Kita punya rekaman CCTV artis Tasyi yang sedang bertengkar di klub malam, atau rekaman suara bocor seorang pemain bola nasional yang menghina penggemarnya."

"Terlalu kecil," potong Rian. "Gunakan Tasyi, tapi tambahkan bumbu. Buat narasi bahwa dia tertangkap menggunakan narkoba jenis baru. Tugaskan Tim Kreatif untuk membuat foto 'bukti' bungkusan putih di tasnya. Gunakan bot level 4 untuk menyebarkan ini di grup-grup WhatsApp ibu-ibu. Pastikan narasinya adalah: 'Tasyi yang Terlihat Sempurna Ternyata Pemakai, Bagaimana Nasib Generasi Kita?'."

"Lalu bagaimana dengan ibu yang pingsan di pasar?" tanya seorang analis lain.

Rian tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat bulu kuduk Maya meremang. "Kirim tim lapangan. Berikan ibu itu bantuan finansial pribadi dari 'donatur anonim'. Rekam momen itu dengan kamera kualitas tinggi. Buat cerita bahwa dia sebenarnya pingsan karena kelelahan setelah bekerja keras demi keluarganya, bukan karena lapar. Judulnya: Kisah Haru Ibu Tangguh: Pemerintah Segera Turun Tangan. Ubah kemarahan menjadi rasa haru. Rakyat Stabilitania lebih suka menangis karena simpati daripada marah karena ketidakadilan."

Instruksi Rian segera menjadi gerakan kinetik. Di ruangan itu, narasi diciptakan seperti barang di pabrik. Kalimat-kalimat disusun untuk memicu dopamin, gambar disunting untuk memanipulasi empati, dan algoritma diperintahkan untuk membungkam siapapun yang mencoba memberikan konteks yang berbeda.

Rian berjalan keliling ruangan, memperhatikan para stafnya. Mereka adalah anak-anak muda terpintar di negeri iniβ€”ahli bahasa, psikolog, dan insinyur perangkat lunak. Namun di sini, mereka hanya buruh digital. Mereka tidak sedang membangun peradaban; mereka sedang menjahit kain penutup mata untuk jutaan orang.

"Ingat," suara Rian meninggi, memastikan semua orang mendengar. "Tugas kita bukan mencari kebenaran. Kebenaran adalah variabel yang tidak stabil. Tugas kita adalah menciptakan stabilitas. Dan stabilitas hanya bisa dicapai jika publik melihat apa yang kita ingin mereka lihat. Unit 808 adalah retina mata bangsa ini. Jika retinanya rusak, bangsanya buta. Mengerti?"

"Siap, Pak!" jawaban serempak itu mengguncang ruangan.

Rian kembali ke mejanya, tapi pikirannya melayang pada peringatan Gani semalam. Ia membuka jendela privat di monitornya, mencari akses ke data SENTINEL. Unit 808 adalah sisi kreatif dari penindasan, sementara SENTINEL adalah sisi algojonya. Rian tahu, di balik kemegahan narasi yang ia buat hari ini, ada mesin yang sedang bekerja menghitung berapa banyak orang yang harus "dilenyapkan" secara digital agar narasi Tasyi dan Ibu Tangguh tetap menjadi satu-satunya realita yang dipercaya publik.

Ia merasa seperti seorang tuhan kecil di dalam kotak kaca. Namun, saat ia melihat pantulan wajahnya di monitor, ia melihat seorang pria yang matanya mulai kehilangan cahaya, sama seperti rakyat yang sedang ia bodohi.