Pukul satu siang. Kantin KHD adalah ruang steril dengan dinding putih dan musik ambient yang dirancang untuk menurunkan tingkat stres. Di sini, setiap percakapan direkam dan dianalisis oleh AI untuk memastikan tidak ada "polusi pikiran" di antara para pegawai pemerintah.

Rian duduk di meja pojok bersama seorang staf baru berbakat bernama Leo. Leo adalah lulusan terbaik psikologi sosial yang direkrut Rian bulan lalu. Anak itu memiliki mata yang penuh ambisi, namun masih ada sisa-sisa idealisme yang membuat Rian merasa perlu memberikan "pelajaran tambahan".

"Bagaimana progresmu di tim manajemen krisis, Leo?" tanya Rian sambil menyesap jus jeruk organiknya.

Leo meletakkan garpunya, wajahnya tampak serius. "Sejujurnya, Pak, saya masih sedikit terkejut dengan kecepatan kita mengubah opini publik. Kemarin, saat isu kenaikan pajak jalan tol muncul, dalam empat jam publik justru mendiskusikan tentang betapa pentingnya infrastruktur untuk masa depan cucu mereka. Bagaimana kita bisa begitu yakin mereka tidak akan sadar sedang digiring?"

Rian meletakkan gelasnya. Ia mencondongkan tubuh, suaranya pelan namun berat. "Leo, kau harus memahami satu hukum dasar psikologi massa: Rakyat tidak butuh kebenaran. Mereka butuh kenyamanan."

Leo tampak ingin membantah, tapi Rian melanjutkan.

"Coba pikirkan. Kebenaran itu berat. Kebenaran itu pahit. Mengetahui bahwa uang pajaknya dikorupsi untuk membangun vila di luar negeri akan membuat mereka marah, stres, dan tidak bisa tidur. Itu merusak Skor Harmoni mereka. Tapi, jika kita memberi mereka narasi bahwa uang itu digunakan untuk membangun 'Monumen Kebanggaan Nasional', mereka akan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar. Mereka merasa bangga. Kebohongan kita memberikan mereka tidur yang nyenyak. Kita sebenarnya sedang melakukan pelayanan kesehatan mental berskala nasional."

"Tapi itu tidak nyata, Pak," sela Leo pelan.

"Apa itu 'nyata', Leo? Di dunia digital ini, realitas adalah apa yang disepakati oleh mayoritas. Jika sejuta orang percaya bahwa sebuah batu bisa menyembuhkan penyakit karena kita menyebarkan narasinya, maka bagi sejuta orang itu, batu itu nyata. Kita adalah arsitek dari realitas tersebut."

Rian berdiri dan mengajak Leo berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke alun-alun kota di bawah. Di sana, orang-orang tampak seperti semut, sibuk dengan ponsel mereka.

"Lihat mereka," tunjuk Rian. "Mereka tidak ingin bebas. Kebebasan itu menakutkan karena membawa tanggung jawab. Mereka ingin dipimpin. Mereka ingin diberi tahu apa yang harus dibenci dan apa yang harus dipuja. Itulah mengapa Unit 808 ada. Kita memberikan mereka musuh untuk dikambinghitamkan saat mereka merasa gagal, dan kita memberikan mereka pahlawan untuk dipuja saat mereka butuh harapan. Kita menjaga keseimbangan dunia mereka agar tidak hancur oleh kebenaran yang tidak sanggup mereka pikul."

Leo terdiam, matanya menatap kerumunan di bawah dengan cara yang berbeda. Benih keraguan di matanya perlahan berganti dengan kilat pemahaman yang dinginβ€”jenis pemahaman yang diinginkan sistem.

"Lalu, bagaimana dengan mereka yang tetap bersikeras mencari kebenaran?" tanya Leo. "Orang-orang seperti para aktivis itu?"

Rian teringat wajah Gani. Ada rasa perih di dadanya yang segera ia tekan dalam-dalam. "Mereka adalah anomali. Dan anomali harus dikoreksi. Bukan dengan kekerasan fisikβ€”itu cara lama yang menciptakan martir. Kita mengoreksi mereka dengan stultifikasi. Kita buat suara mereka terdengar gila, radikal, atau bahkan fiktif. Kita hancurkan kredibilitas mereka sampai orang tua mereka sendiri pun malu mengakuinya sebagai anak. Kita tidak membunuh mereka, Leo. Kita menghapus eksistensi mereka dari kesadaran publik."

Rian menepuk bahu Leo. "Selamat datang di dunia nyata, Leo. Sekarang kembali ke mejamu. Kita punya skandal baru yang harus disiapkan untuk menutupi laporan polusi udara di sektor industri."

Setelah Leo pergi, Rian tetap berdiri di sana. Kata-katanya sendiri terasa seperti empedu di tenggorokannya. Ia baru saja memberikan kuliah tentang pembunuhan karakter, sementara ia tahu bahwa adiknya, Gani, sedang berada dalam daftar tunggu untuk proses tersebut.

Ia menyentuh plester di pergelangan tangannya sendiri, merasakan detak jantungnya yang tidak sinkron dengan Skor Harmoni yang ditampilkan di sana. Ia menyadari satu hal yang tidak ia katakan pada Leo: psikologi massa juga berlaku bagi para penguasa. Mereka mulai percaya pada kebohongan mereka sendiri, hingga akhirnya mereka tidak tahu lagi mana tembok yang asli dan mana yang hanya proyeksi narasi.