Cahaya fajar di ibu kota Stabilitania tidak pernah benar-benar terasa alami. Matahari yang merayap di balik gedung-gedung pencakar langit yang dilapisi kaca antipeluru itu selalu tampak seperti telah difilter oleh lapisan polusi dan ambisi. Di lantai empat puluh sebuah apartemen mewah di pusat distrik pemerintahan, Rian terbangun bukan karena kicau burung, melainkan oleh getaran halus di pergelangan tangan kirinya.
Skor Harmoni Anda pagi ini: 98.4. Stabil.
Rian menghela napas, sebuah ritual kelegaan yang ia lakukan setiap pagi selama lima tahun terakhir. Angka itu adalah napasnya. Angka itu adalah alasan mengapa ia bisa meminum kopi arabika terbaik, mengenakan kemeja katun Mesir yang disetrika sempurna, dan mengendarai mobil listrik senyap melewati barisan orang-orang yang mengantre jatah transportasi umum dengan Skor Harmoni di bawah 60.
Sambil menunggu mesin kopi otomatisnya bekerja, Rian menyentuh permukaan meja makannya yang berupa layar sentuh transparan. Seketika, arus data mengalir di bawah telapak tangannya. Ini adalah "sarapan" aslinya: The Feed.
Trending Topik Nasional:
- #HariSenyumNasional
- #InovasiStabilitas
- Skandal Liburan Artis Tasyi di Maladewa
- Resep Rahasia Bubur Ayam Pejabat
Rian tersenyum tipis, sebuah senyum profesional yang dingin. Ia tahu betul mengapa nomor tiga dan empat ada di sana. Dialah yang memerintahkan timnya untuk menaikkan isu tersebut semalam pukul dua pagi, tepat ketika dokumen bocor mengenai defisit dana pensiun nasional mulai terendus oleh beberapa akun spekulatif di platform X.
"Tenggelamkan dengan sampah," bisiknya pada bayangan dirinya di jendela. Dan berhasil. Rakyat lebih peduli pada apakah Tasyi berselingkuh atau tidak, daripada memikirkan masa tua mereka yang perlahan dirampok oleh sistem.
Perjalanan menuju kantor adalah sebuah pertunjukan teaterikal yang membosankan bagi Rian. Di luar jendela mobilnya yang gelap, ia melihat layar-layar LED raksasa yang menempel di setiap sudut kota. Layar itu menampilkan kampanye "Warga Bahagia". Wajah-wajah model dengan senyum yang terlalu lebar, memegang bendera negara, dengan teks besar di bawahnya: KEDAMAIAN ADALAH HASIL DARI KEPATUHAN.
Rian tiba di gedung Kementerian Harmoni Digital (KHD). Gedung ini adalah monumen beton dan baja yang dirancang untuk mengintimidasi. Tidak ada jendela di lantai-lantai bawah, hanya sensor pemindai retina dan pengenal langkah kaki.
"Selamat pagi, Direktur Rian," sapa suara sintetis dari gerbang keamanan. "Skor Anda memberikan akses prioritas. Lift 1 menunggu."
Di dalam lift yang melesat sunyi, Rian memeriksa jadwalnya. Rapat divisi pukul 09.00: Strategi Mitigasi Isu Gagal Panen di Sektor Selatan. Ia melangkah masuk ke ruang Unit 808, jantung dari pabrik narasi Stabilitania. Ruangan itu luas, gelap, dan hanya diterangi oleh puluhan layar monitor raksasa yang menampilkan grafik pergerakan emosi publik secara real-time. Ada kurva merah untuk "Kemarahan", biru untuk "Kesedihan", dan hijau untuk "Kepuasan". Tugas Unit 808 adalah memastikan warna hijau selalu mendominasi, atau setidaknya, memastikan warna merah tidak pernah berkumpul di satu titik koordinat yang sama.
"Laporan," perintah Rian tanpa menoleh.
Seorang asisten muda bernama Maya, yang Skor Harmoninya masih merangkak di angka 82, bergegas mendekat dengan tablet di tangan. "Isu gagal panen mulai memanas di forum-forum petani, Pak. Mereka mulai mengaitkan ini dengan proyek bendungan baru yang gagal fungsi. Ada risiko mobilisasi massa dalam 48 jam."
Rian duduk di kursi ergonomisnya, menatap grafik merah yang mulai berdenyut di area geografis sektor selatan. "Apa narasi tandingannya?"
"Kami sedang menyiapkan kampanye tentang 'Hama Luar Angkasa', Pak. Mengalihkan kesalahan pada fenomena alam yang tidak bisa dikontrol pemerintah," jawab Maya ragu.
Rian menggelengkan kepala. "Terlalu fiksi. Orang desa tidak bodoh secara teknis, mereka hanya lelah. Jangan gunakan sains palsu. Gunakan kecemburuan sosial."
Ia menyentuh layar, memperbesar peta sektor selatan. "Cari tahu satu petani di sana yang tetap berhasil panen karena ia 'setia' menggunakan pupuk subsidi pemerintah. Jadikan dia pahlawan. Liput rumahnya, liput keluarganya yang makan enak. Judul beritanya: Kerja Keras, Bukan Keluhan: Rahasia Sukses Petani Saleh di Tengah Krisis. Sasar sisi religiusitas mereka. Katakan bahwa gagal panen adalah ujian kesabaran, sementara protes adalah tanda kurangnya rasa syukur."
Maya mencatat dengan cepat. "Lalu bagaimana dengan data bendungan yang bocor itu?"
"Gunakan teknik Red Herring klasik," Rian bersandar. "Rilis video penggerebekan gudang narkoba besar-besaran di pusat kota malam ini. Pastikan visualnya bombastis. Darah, senjata, dan tumpukan uang. Rakyat suka melihat penjahat kelas teri disiksa, itu memberi mereka ilusi bahwa hukum sedang bekerja."
"Baik, Pak. Eksekusi dalam satu jam."
Rian sendirian lagi. Ia memutar kursinya menghadap jendela besar yang menghadap ke arah kota. Di sana, di bawah sana, jutaan orang sedang menggerakkan jempol mereka di atas layar ponsel. Mereka mengira sedang mengekspresikan pikiran mereka sendiri, padahal mereka hanya sedang menari di atas dawai yang ditarik oleh Rian.
Ia adalah seorang konduktor dari orkestra kebohongan. Dan musiknya terdengar sangat merdu bagi mereka yang tidak ingin tahu kebenaran.
Sore harinya, Skor Harmoni Rian naik menjadi 98.6 karena efisiensi kerjanya. Namun, sebuah notifikasi pribadi masuk ke ponsel terenkripsinya. Sebuah pesan yang tidak melewati server KHD.
Aku di tempat biasa. Jam 7. Jangan telat. - G.
Rian mengerutkan kening. Gani. Adiknya yang bebal.
Tempat biasa adalah sebuah kedai kopi tua di pinggiran kota yang sengaja tidak menggunakan Wi-Fi publikβsebuah anomali di Stabilitania. Kedai itu berbau apek dan kayu tua, sangat kontras dengan kantor Rian yang berbau pembersih udara sitrus dan radiasi server.
Gani sudah duduk di pojok, mengenakan hoodie gelap. Wajahnya terlihat kusam, matanya merah karena kurang tidur. Skor Harmoni di pergelangan tangannya ditutupi oleh plester hitam, tapi Rian tahu angkanya pasti mengerikan.
"Kau bermain api lagi, Gan," kata Rian tanpa basa-basi sambil duduk di hadapannya.
Gani menatap kakaknya dengan tatapan yang mencampuradukkan kasih sayang dan penghinaan. "Dan kau sedang membangun ovennya, Kak. Kau lihat apa yang terjadi di sektor selatan? Itu bukan ujian kesabaran. Itu korupsi semen bendungan. Aku punya datanya."
"Simpan datamu," desis Rian. "Dunia tidak bekerja dengan data. Dunia bekerja dengan persepsi. Jika kau menyebarkan itu, kau hanya akan berakhir di kamp rehabilitasi digital. Skor-mu sudah di zona merah, bukan?"
"Skor itu adalah borgol, Rian! Kau bangga memakainya karena borgolmu terbuat dari emas," Gani memajukan tubuhnya, suaranya merendah namun tajam. "Rakyat mulai lapar. Dan ketika perut lapar, algoritma 'Pajak untuk Patriot' atau 'Artis Selingkuh' milikmu tidak akan mempan lagi. Kau hanya menunda ledakan."
"Aku menjaga stabilitas!" Rian membentak pelan. "Tanpaku, negara ini akan perang saudara. Kau ingin melihat orang-orang saling bunuh di jalanan karena memperebutkan liter minyak?"
"Aku ingin mereka tahu siapa yang mencuri minyaknya, Kak!"
Gani berdiri, meninggalkan secarik kertas kecil yang dilipat di bawah cangkir kopinya. "Baca itu jika kau masih punya sisa-sisa otak dari sebelum kau menjualnya pada kementerian. Aku tidak akan memintamu menyelamatkanku, tapi jangan terkejut jika suatu hari kau harus menghapus namaku dari sistemmu."
Gani melangkah keluar ke kegelapan malam, menghilang di antara kerumunan warga yang berjalan menunduk menatap ponsel mereka.
Rian terdiam cukup lama. Ia mengambil kertas itu dan memasukkannya ke saku tanpa membacanya di sana. Di luar, sebuah layar LED besar di seberang jalan menampilkan berita terbaru: Sukses Besar! Polisi Bongkar Bandar Narkoba Terbesar Tahun Ini.
Rian melihat kerumunan orang di trotoar berhenti sejenak, menatap layar itu dengan decak kagum. Beberapa dari mereka bertepuk tangan. Skor Harmoni mereka mungkin naik sedikit malam ini karena merasa bangga pada negaranya.
Rian masuk ke mobilnya. Di dalam kesunyian kabin yang mewah, ia mengeluarkan kertas dari Gani. Di dalamnya hanya tertulis sebuah angka koordinat dan satu kalimat singkat:
SENTINEL tidak hanya memprediksi, ia menciptakan musuh. Dan namaku sudah ada di sana.
Jantung Rian berdegup sedikit lebih kencang. Ia tahu apa itu SENTINEL. Itu adalah proyek rahasia tingkat tinggi yang ia bantu rancangβsebuah kecerdasan buatan yang bertugas mendeteksi benih pemberontakan bahkan sebelum si pelaku menyadarinya.
Jika Gani benar, maka adiknya bukan lagi sekadar aktivis berisik. Di mata sistem yang dibangun Rian, Gani adalah virus yang harus segera dikarantinaβatau dihapus.
Rian menyandarkan kepalanya di kursi. Lampu-lampu kota Stabilitania berkelap-kelip di luar, tampak seperti deretan kode biner yang tidak ada habisnya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Skor Harmoni di pergelangan tangannya sedikit berfluktuasi.
98.6... 98.5... 98.4.
Sistem mulai merasakan keraguan penciptanya. Dan di Stabilitania, keraguan adalah awal dari keruntuhan.
Malam itu, Rian tidak langsung pulang. Ia kembali ke kantornya yang kosong. Di bawah pendar biru monitor Unit 808, ia mengetikkan nama adiknya di kolom pencarian "Potensi Ancaman".
Jari-jarinya gemetar saat menekan tombol Enter.
Layar berubah merah darah. Foto wajah Gani muncul dengan label besar berkedip-kedip: TERMINATE SOCIAL IDENTITY - PENDING PHYSICAL INTERVENTION.
Di bawahnya, terdapat log aktivitas Gani yang sangat detailβbahkan percakapan mereka di kedai kopi tadi sudah terangkum dalam transkrip otomatis. SENTINEL telah mengawasi mereka.
Rian menyadari satu hal yang mengerikan: Sistem ini tidak hanya memantau musuh pemerintah. Sistem ini sedang memantau dirinya juga.
Setiap helaan napasnya, setiap keputusannya di meja kerja, dan setiap pertemuannya dengan "pembangkang" adalah bagian dari data yang sedang diolah oleh kecerdasan buatan yang ia banggakan. Ia mengira dirinya adalah sang masinis, padahal ia hanyalah salah satu komponen mesin yang bisa diganti kapan saja jika ia mulai berkarat.
Rian menutup layar itu dengan cepat saat mendengar langkah kaki penjaga keamanan di koridor. Ia mematikan monitor, meninggalkan ruangan dalam kegelapan yang pekat.
Pagi akan segera datang. Dan di Stabilitania, fajar selalu membawa kebohongan baru yang harus ia sajikan di piring perak publik. Namun pagi ini, Rian tahu, rasa kopinya tidak akan pernah sama lagi.
Ia baru saja menyadari bahwa dinding-dinding "Pabrik Narasi" yang ia bangun untuk melindungi negara, sebenarnya adalah dinding penjara untuk dirinya sendiri. Dan adiknya, Gani, sedang berdiri di luar sana, memegang korek api di dekat gudang mesiu narasi yang selama ini Rian tumpuk.
"Selamat datang di dunia nyata, Rian," bisiknya pada diri sendiri di dalam lift yang turun menuju lantai dasar, menuju dunia yang selama ini ia manipulasi, namun tidak pernah benar-benar ia pahami.
Bab satu berakhir dengan satu angka yang berkedip di jam tangannya.
98.0. Menurun
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar