Malam itu, Stabilitania diguyur hujan lebatβsalah satu dari sedikit hal yang belum bisa dikontrol sepenuhnya oleh kementerian, meskipun mereka selalu mengklaim hujan adalah "berkah dari kebijakan lingkungan pemerintah". Rian mengendarai mobilnya menuju sebuah apartemen tua di pinggiran distrik 4. Ini bukan tempat tinggal mewahnya; ini adalah rumah masa kecilnya yang kini ditempati Gani.
Rian harus masuk menggunakan kunci fisik, sebuah barang antik yang terasa janggal di tangannya yang terbiasa dengan pemindai biometrik. Di dalam, ruangan itu berantakan. Tumpukan buku fisikβsesuatu yang ilegal bagi warga dengan skor di bawah 50βberceceran di lantai. Bau kertas tua dan kopi murah menusuk hidung Rian.
Gani sedang duduk di depan sebuah komputer rakitan yang layarnya dipenuhi baris-baris kode hijau. Ia tidak menoleh saat Rian masuk.
"Kau berani datang ke sini? Skor Harmonimu bisa turun lima poin hanya karena berada dalam radius satu meter dariku," suara Gani parau.
"Aku datang sebagai kakakmu, bukan Direktur KHD," kata Rian, meletakkan tas kerjanya di meja yang penuh kabel. "Gani, berhenti. Aku baru saja melihat daftar SENTINEL hari ini. Namamu sudah masuk fase pra-intervensi. Kau tahu apa artinya itu?"
Gani berputar di kursinya, menatap Rian dengan senyum pahit. "Artinya aku melakukan sesuatu yang benar. Artinya kebohonganmu mulai goyah."
"Ini bukan permainan, Gan! Mereka tidak akan mengirim polisi untuk menangkapmu dan memberimu panggung di pengadilan. Mereka akan menghapusmu! Akun bankmu akan dibekukan, namamu akan dihapus dari database kependudukan, dan semua orang yang mengenalmu akan menerima notifikasi bahwa kau adalah pengkhianat negara. Kau akan menjadi hantu di kotamu sendiri!"
Gani berdiri, melangkah mendekati Rian. Meski lebih muda, Gani memiliki api di matanya yang sudah lama padam di mata Rian. "Aku sudah menjadi hantu, Kak. Sejak aku melihat teman-temanku di kampus hilang satu per satu karena mempertanyakan anggaran militer. Sejak aku melihat ayah meninggal karena rumah sakit menolak merawatnya hanya karena skor harmoninya rendah akibat 'terlalu banyak membaca berita alternatif'."
"Ayah meninggal karena sakit, Gani!"
"Ayah meninggal karena sistem yang kau buat!" teriak Gani. "Kau yang mendesain algoritma prioritas layanan kesehatan berdasarkan 'kontribusi sosial digital', kan? Kau menyebutnya inovasi. Aku menyebutnya genosida terencana terhadap orang-orang kritis!"
Rian mundur selangkah, wajahnya pucat. Kenangan tentang kematian ayah mereka adalah luka yang ia bungkus rapat dengan narasi "efisiensi sistem".
"Aku melakukan itu untuk memastikan sumber daya yang terbatas tidak terbuang sia-sia," bisik Rian, suaranya bergetar.
"Kau bicara seperti mesin, Rian," Gani menggelengkan kepala, rasa kasihan terpancar di matanya. "Kau sudah begitu lama berada di dalam pabrik narasi itu sampai kau lupa bagaimana rasanya menjadi manusia. Kau pikir kau aman karena skormu tinggi? Kau hanya seekor domba yang dipelihara lebih baik sebelum disembelih saat kau tak lagi berguna."
Gani kembali ke komputernya, mengetikkan sesuatu dengan cepat. "Aku punya bukti tentang 'Proyek Stultifikasi'. Dokumen asli yang menunjukkan bahwa kurikulum sekolah sengaja diubah untuk menurunkan IQ kolektif bangsa agar lebih mudah digiring. Aku akan menyebarkannya besok pagi."
Rian mendekat, mencoba menyentuh bahu adiknya. "Gani, aku mohon. Berikan datanya padaku. Aku akan mencoba membicarakannya di rapat internal. Aku punya pengaruh. Aku bisa melindungimu."
Gani menepis tangan Rian. "Kau tidak punya pengaruh, Kak. Kau hanya punya naskah. Dan jika kau berani mengubah satu kata pun di naskah itu, SENTINEL akan memakanmu juga."
Rian berdiri mematung di tengah ruangan yang remang-remang itu. Ia melihat adiknya yang keras kepala, yang lebih memilih hancur demi kebenaran daripada hidup nyaman dalam kebohongan. Di satu sisi, ia membenci keberanian Gani karena itu mengancam segalanya. Di sisi lain, ia merasakannyaβsebuah percikan kecil yang sudah lama mati di hatinya: rasa iri.
"Aku tidak bisa menyelamatkanmu jika kau melakukan ini," suara Rian dingin kembali, topeng birokratnya terpasang lagi.
"Jangan selamatkan aku," jawab Gani tanpa menoleh. "Selamatkan dirimu sendiri sebelum kau lupa siapa namamu yang sebenarnya, bukan sekadar angka di pergelangan tanganmu."
Rian keluar dari apartemen itu saat hujan berubah menjadi badai. Di dalam mobil, ia melihat Skor Harmoninya di layar dasbor.
97.8.
Ia baru saja berbicara dengan seorang "ancaman negara". Sistem sudah mulai mencatat percakapan mereka, menganalisis intonasi suaranya, dan mendeteksi keraguan dalam detak jantungnya. Rian tahu, waktu baginya dan Gani sedang berjalan mundur.
Sambil memacu mobilnya kembali ke pusat kota yang gemerlap, Rian menyadari bahwa "Gema" yang selama ini ia ciptakan di Unit 808 mulai memantul kembali padanya, membisikkan satu kenyataan yang paling ia takuti: Gani benar.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar