Ruang Apex berada di lantai paling atas gedung Kementerian Harmoni Digital. Berbeda dengan Unit 808 yang bising oleh derau data dan langkah terburu-buru para analis, ruang ini memiliki keheningan layaknya sebuah katedral. Dinding-dindingnya dilapisi panel kayu mahoni asliβsebuah kemewahan absurd di era di mana pohon adalah barang pameran museum. Meja bundar di tengah ruangan itu terbuat dari marmer hitam, memantulkan wajah-wajah paling berkuasa di Stabilitania: Menteri Harmoni, para jenderal militer, dan elit intelijen negara.
Rian berdiri di ujung meja. Di belakangnya, sebuah layar lengkung raksasa menampilkan logo kementerian yang berputar lambat. Hari ini, ia tidak mengenakan kemeja katun Mesirnya, melainkan setelan jas hitam formal. Tangannya terasa dingin, namun postur tubuhnya adalah representasi sempurna dari seorang teknokrat yang memegang kendali.
"Selamat pagi, Bapak-bapak," suara Rian memecah keheningan, menggema dengan presisi akustik yang dirancang untuk membuat setiap suku kata terdengar berwibawa. "Selama lima tahun terakhir, Unit 808 telah berhasil mengendalikan opini publik. Kita memadamkan api pemberontakan, meredam protes, dan menjaga indeks kebahagiaan semu di angka yang bisa diterima oleh pasar global. Tapi, pendekatan itu pada dasarnya adalah reaktif. Kita bertindak setelah narasi negatif muncul."
Rian menyentuh tablet di tangannya. Layar di belakangnya berubah menjadi lautan titik-titik cahaya yang saling terhubungβrepresentasi dari triliunan gigabita data warga Stabilitania.
"Masalah dari sistem reaktif adalah, kita membuang terlalu banyak sumber daya untuk memadamkan api. Dan terkadang," Rian menatap Menteri Harmoni yang duduk bersandar dengan wajah datar, "asapnya sudah telanjur terhirup oleh publik. Oleh karena itu, saya dan tim R&D telah mengembangkan tahap evolusi berikutnya dari arsitektur informasi negara kita. Bapak-bapak, perkenalkan... SENTINEL."
Tulisan SENTINEL (Social Equilibrium & Neutralization Intelligence Engine) muncul di layar dengan font tebal yang mengintimidasi.
Seorang jenderal bintang tiga dengan dada penuh medali mendengus pelan. "Hanya AI pemantau lain, Direktur Rian? Militer sudah punya sistem penyadap sejak dua dekade lalu."
"Ini bukan penyadap, Jenderal," Rian tersenyum tipis, jenis senyuman patronase yang sering ia gunakan untuk menghadapi orang tua yang gagap teknologi. "Penyadap mencari kata kunci: 'Demo', 'Kudeta', 'Bom'. Kata-kata itu diucapkan oleh orang bodoh yang tidak tahu cara menyembunyikan jejak. SENTINEL tidak mencari kata kunci. SENTINEL mencari anomali kognitif."
Rian mengetuk layar, dan sebuah profil fiktif muncul. Grafik detak jantung, riwayat pencarian web, pola pergerakan bola mata di layar ponsel, dan durasi membaca sebuah artikel.
"Rakyat jelata menelan narasi kita mentah-mentah," Rian mulai menjelaskan mekanismenya. "Saat kita melempar isu bahwa kemiskinan adalah takdir dan bukan akibat kebijakan ekonomi yang bobrok, warga dengan pola pikir standar akan menghabiskan tiga detik membaca judulnya, memberikan 'Like', lalu beralih ke video kucing lucu. Itu normal."
Ia memajukan langkahnya, menatap mata para elit di ruangan itu satu per satu. "Tapi, bagaimana dengan warga yang membaca artikel itu selama tiga menit? Bagaimana dengan mereka yang menghentikan scrolling di paragraf ketiga yang memuat data statistik, lalu membuka tab baru untuk membandingkannya dengan data APBN tahun lalu? Bagaimana dengan mereka yang tidak mengumpat di kolom komentar, melainkan diam, menyimpan artikel tersebut secara offline, dan membaca buku sejarah di akhir pekan?"
Ruangan itu sunyi. Para elit mulai menyadari arah pembicaraan ini.
"Mereka tidak melanggar hukum," lanjut Rian, suaranya merendah menjadi bisikan tajam yang memenuhi ruangan. "Mereka tidak merencanakan terorisme. Tapi mereka sedang berpikir kritis. Dan dalam sistem pemerintahan kita, Bapak-bapak, kemampuan berpikir logis dan kemampuan mengidentifikasi logical fallacy dalam pidato pejabat... adalah embrio dari pengkhianatan."
Rian menampilkan kurva prediksi di layar. "SENTINEL menggunakan miliaran titik dataβmulai dari pilihan buku yang dibaca, kecepatan mengetik, jeda saat membaca berita pemerintah, hingga frekuensi interaksi dengan akun-akun independenβuntuk mengkalkulasi 'Indeks Potensi Pembangkangan'. Algoritma ini bisa memprediksi dengan akurasi 94% siapa yang akan menjadi aktivis, jurnalis investigasi, atau pemimpin demo... enam bulan sebelum mereka melakukan aksi nyata."
Menteri Harmoni akhirnya mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berkilat penuh ketertarikan. "Jadi, kau mengatakan bahwa kita bisa menyingkirkan para pengacau sebelum mereka bahkan tahu bahwa mereka ingin mengacau?"
"Tepat sekali, Pak Menteri. Pre-crime di ranah sosial. Kita tidak perlu menangkap mereka. Menangkap orang hanya akan membuat mereka menjadi martir. SENTINEL secara otomatis akan mengkategorikan mereka ke dalam fase pra-intervensi."
Rian menjelaskan fase-fase brutal dari sistem buatannya dengan nada dingin seolah sedang membacakan resep masakan. "Pertama, penurunan Skor Harmoni secara perlahan tanpa alasan yang jelas. Kredit mereka ditolak, internet mereka melambat, lamaran kerja mereka selalu gagal. Kita buat mereka sibuk bertahan hidup agar mereka tidak punya energi untuk mengkritik negara. Jika mereka tetap gigih, SENTINEL akan masuk ke fase isolasi sosial. Algoritma akan menyembunyikan unggahan mereka dari teman-teman dan keluarga. Mereka akan merasa sendirian, seolah berteriak di ruang hampa. Ruang gema (echo chamber) yang kita buat untuk mereka akan diisi dengan keputusasaan."
Sang Jenderal tampak mengangguk perlahan, senyum sinis terbentuk di wajahnya. "Dan bagaimana jika mereka kebal terhadap keputusasaan? Bagaimana jika mereka seperti kelompok pemberontak yang rutin membuat kerusuhan di Sektor 4?"
Jantung Rian berdegup sedikit lebih cepat saat bayangan Gani, adiknya, melintas di benaknya. Kelompok Sektor 4. Tempat Gani berada. Namun, wajah Rian tetap tidak berekspresi.
"Maka SENTINEL akan meluncurkan fase terakhir: Neutralisasi Naratif," jawab Rian tegas. "Pembunuhan karakter otomatis. Algoritma akan mencari satu kelemahan sekecil apa pun di masa lalu mereka, memelintirnya, dan memobilisasi jutaan bot untuk menghancurkan reputasi mereka dalam hitungan jam. Ketika kita selesai dengan mereka, masyarakat sendirilah yang akan menuntut mereka untuk dihukum."
Rian menekan tombol terakhir di tabletnya. Peta Stabilitania muncul di layar, awalnya berwarna biru damai, lalu ratusan titik merah kecil mulai bermunculan bak virus yang menyebar. Titik-titik itu adalah orang-orang yang telah ditandai oleh SENTINEL pagi ini.
"Ini adalah daftar ancaman kita. Mereka belum melakukan apa-apa. Tapi sistem tahu mereka akan melakukannya," Rian menutup presentasinya. "Dengan SENTINEL, kita tidak lagi memadamkan api. Kita menghilangkan oksigen dari ruangan sebelum percikan pertama terjadi."
Tepuk tangan perlahan bergema di ruang Apex, dipelopori oleh Menteri Harmoni. Itu adalah tepuk tangan kematian bagi kebebasan berpikir. Saat Rian menunduk untuk mengemasi tabletnya, ia melirik layar yang masih menampilkan titik-titik merah tersebut. Salah satu titik itu berkedip terang di Sektor 4.
Ia tahu, salah satu titik koordinat itu adalah alamat apartemen adiknya. Ia baru saja menjual teknologi yang akan membunuh darah dagingnya sendiri kepada iblis, dan iblis itu membayarnya dengan tepuk tangan meriah.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar