Gerimis tipis mengguyur pelataran gedung rektorat sore itu, seolah ikut meratapi nasibku yang sedang di ujung tanduk. Aku menatap selembar kertas di tanganku dengan tatapan kosong. Angka-angka yang tertera di sana berenang-renang di pelupuk mata, mengabur bersama bulir air mata yang sekuat tenaga kutahan agar tidak jatuh.
Poin Kredit Aktivitas Sosial (PKAS): Kurang 50 poin.
Hanya dua angka. Sederhana, tapi dampaknya mematikan bagi masa depanku. Kurang lima puluh poin berarti beasiswa penuhku terancam diputus. Dan jika itu terjadi, aku harus bangun dari mimpi indahku berkuliah di kampus elit ini dan kembali ke realitas pahit di kampung halaman: membantu Ibu berjualan sayur di pasar, atau lebih buruk lagi, menerima pinangan Pak Kades yang usianya dua kali lipat dariku.
Rongga dadaku menyempit, oksigen seolah mendadak langka. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantung yang menggila. Ini belum berakhir, Ta. Lo harus cari jalan keluar, batinku menyemangati diri sendiri, meski suaranya terdengar cicitan putus asa.
Kaki-kakiku melangkah gontai menuju area kantin, tempat di mana aku biasa menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas atau sekadar menghemat uang makan siang dengan sebungkus biskuit. Namun, suasana kantin sore ini terasa berbeda. Lebih riuh dari biasanya, dengan kasak-kusuk yang berpusat pada papan pengumuman besar di tengah ruangan.
"Gila, lo udah lihat pengumuman baru belum? Kampus lagi buka program 'Beasiswa Pasangan Inspiratif'!" seru seorang mahasiswi berambut keriting dengan antusias, tangannya sibuk menggeser layar ponsel.
"Serius? Syaratnya apaan? Pasti susah banget, kan?" sahut temannya, ikut penasaran.
"Nggak terlalu susah sih kalau menurut gue, tapi... harus punya pacar. Dan pacarannya harus stabil, harmonis, terus bisa jadi contoh buat mahasiswa lain. Pokoknya harus kelihatan 'goals' banget di depan publik."
Aku mendengus pelan mendengar percakapan mereka. Pacaran? Cinta? Hal-hal itu tidak ada dalam kamus hidupku. Bagiku, cinta hanyalah sumber penderitaan, sebuah ilusi yang diciptakan untuk membuat orang lemah. Aku sudah cukup melihat bagaimana Ayah pergi meninggalkan Ibu demi wanita lain, menyisakan luka menganga dan tumpukan utang yang harus kami tanggung. Sejak saat itu, aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan diriku jatuh ke dalam lubang yang sama. Aku harus kuat, mandiri, dan tidak bergantung pada siapa pun.
Tapi, kata "beasiswa" itu terus berdenging di telingaku, seperti tawaran menggiurkan yang sulit ditolak. Beasiswa Pasangan Inspiratif... Poin PKAS-nya pasti besar, bisa menutupi kekuranganku dan bahkan memberikan uang saku tambahan.
Tapi pacaran? Dengan siapa? Aku tertawa miris. Jangankan pacar, teman dekat saja aku tidak punya. Teman-temanku hanya buku-buku tebal di perpustakaan dan laptop tua yang sudah sering hang.
Aku melangkahkan kaki meninggalkan kantin, berharap bisa menemukan tempat yang lebih tenang untuk berpikir. Kakiku membawaku menuju gazebo belakang kampus, tempat yang jarang dikunjungi mahasiswa karena letaknya yang agak terpencil.
Namun, gazebo itu tidak kosong. Seorang pria sedang duduk di sana, menyandarkan punggungnya di tiang kayu dengan mata terpejam. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan kemeja putih yang dikenakannya tampak agak kusut. Di tangannya, ada sebuah botol air mineral yang isinya tinggal separuh.
Irfan.
Siapa yang tidak kenal Irfan? Mahasiswa populer, ketua BEM fakultas, bintang basket kampus, dan pewaris tunggal keluarga kaya raya. Wajahnya yang tampan dan karismatik selalu berhasil membuat para mahasiswi menahan napas setiap kali dia lewat. Dia terlihat sempurna, seperti tokoh utama dalam novel romantis yang hidup di dunia nyata.
Tapi, ada sesuatu yang berbeda dari penampilannya hari ini. Wajahnya yang biasa terlihat cerah dan penuh senyum, kini tampak muram dan lelah. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, dan garis-garis halus kekhawatiran terlihat di dahinya.
Aku bermaksud berbalik dan pergi, tidak ingin mengganggu privasinya. Tapi, langkahku terhenti saat mendengar suara percakapan dari arah semak-semak di belakang gazebo.
"Gue nggak nyangka citra Irfan bisa hancur kayak gini. Rumor tentang masa lalunya mulai nyebar lagi, dan kalau sampai pihak kampus tahu, posisi dia sebagai ketua BEM bisa terancam."
"Iya, kasihan juga ya. Padahal dia kelihatan baik banget selama ini."
Suara-suara itu perlahan menjauh, tapi kata-kata mereka terus terngiang di telingaku. Rumor tentang masa lalunya... Citra Irfan bisa hancur...
Sebuah ide gila tiba-tiba terlintas di benakku. Sebuah rencana nekat yang mungkin bisa menjadi jalan keluar bagi kami berdua.
Aku menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang kupunya. Kaki-kakiku melangkah mendekati gazebo, mencoba tidak menimbulkan suara.
Irfan membuka matanya saat merasakan kehadiranku. Tatapannya dingin dan tajam, seolah memperingatkanku untuk tidak mendekat.
"Ada apa?" tanyanya, suaranya terdengar datar dan tidak bersahabat.
Aku menelan ludah, mencoba menghilangkan rasa gugup yang menjalar ke seluruh tubuh. "Irfan... Gue tahu lo lagi ada masalah."
Alisnya bertaut, ekspresinya berubah menjadi waspada. "Masalah apa maksud lo?"
"Citra lo. Rumor tentang masa lalu lo yang mulai nyebar lagi. Lo butuh sesuatu buat benerin imej lo, kan?"
Irfan menatapku lama, seolah sedang mencoba membaca pikiranku. Senyum sinis tersungging di sudut bibirnya. "Terus? Lo mau nawarin diri jadi mata-mata gue?"
"Bukan," jawabku tegas. "Gue punya penawaran lain. Penawaran yang bisa menguntungkan kita berdua."
Aku berhenti sejenak, memberikan waktu baginya untuk mencerna kata-kataku. "Gue butuh beasiswa. Beasiswa Pasangan Inspiratif."
Irfan tertawa remeh. "Beasiswa Pasangan Inspiratif? Dan lo pikir gue mau jadi pacar lo buat dapetin itu? Lo siapa?"
Hinaan itu terasa seperti tamparan di wajahku, tapi aku tidak boleh menyerah. "Dengar, Irfan. Lo butuh citra yang bersih, citra sebagai pria yang stabil, harmonis, dan bisa jadi contoh. Pacaran dengan mahasiswi pintar, ambisius, dan 'bersih' kayak gue bisa jadi solusi yang tepat. Kampus akan lihat lo udah berubah, lo udah jadi pribadi yang lebih baik. Dan gue... gue bakal dapet beasiswa itu."
Irfan terdiam. Tatapannya mulai melunak, ekspresi sinisnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi berpikir yang serius. Dia menatapku dari ujung kaki hingga ujung rambut, seolah sedang menilai kelayakanku untuk menjadi pasangannya.
"Pacaran kontrak..." gumamnya pelan, seolah sedang menimbang-nimbang ide tersebut.
Rongga dadaku berdenyut kencang, menunggu jawabannya dengan napas tertahan. Tuhan, tolong... Biarkan dia setuju.
Sesaat kemudian, Irfan berdiri dari duduknya. Dia melangkah mendekatiku, jarak di antara kami kini hanya tersisa beberapa sentimeter. Aku bisa mencium aroma parfum maskulin yang samar-samar tercium dari tubuhnya, campuran antara sandalwood dan bergamot.
Irfan menundukkan wajahnya, menatapku tepat di mata. Tatapannya yang tadi dingin, kini terasa hangat dan... sedikit berbahaya.
"Oke," katanya, suaranya terdengar berat dan tegas. "Gue setuju. Kita pacaran kontrak."
Sebuah desahan lega meluncur dari bibirku. Jalan keluar yang kucari akhirnya terbuka, meski dengan cara yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Tapi, kelegaan itu hanya bertahan sesaat. Kalimat Irfan selanjutnya berhasil membuat jantungku kembali berdegup kencang, kali ini dengan alasan yang berbeda.
"Tapi ingat, ini cuma akting. Tanpa perasaan. Tanpa keterlibatan hati. Lo siap dengan aturan itu?"
Aku mengangguk ragu. "Siap."
Irfan tersenyum tipis, sebuah senyum yang sulit diartikan. Dia mengulurkan tangannya ke arahku.
"Kita mulai sekarang—pegang tangan gue."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar