Kepalaku rasanya mau pecah. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Perpustakaan kampus mulai sepi, hanya menyisakan aroma kertas tua dan suara pendingin ruangan yang mendengung monoton. Aku menenggelamkan wajahku di lipatan tangan di atas meja. Di depanku, layar laptop menampilkan halaman log error berwarna merah terang yang menyakitkan mata.
502 Bad Gateway. Nginx configuration error.
Ini sudah ketiga kalinya aku me-restart server untuk deployment e-commerce novel milik klienku, dan masalahnya belum juga selesai. Jika aku tidak bisa menaikkan website ini ke production malam ini, aku tidak akan dibayar tepat waktu. Dan jika aku tidak dibayar, aku tidak tahu harus makan apa minggu depan sementara menunggu uang beasiswa cair—itu pun jika beasiswanya tidak dicabut.
Tekanan kemiskinan dan beban akting pura-pura menjadi pacar seorang bintang kampus membuatku merasa seperti sedang berjalan di atas seutas tali rapuh yang siap putus kapan saja.
Aku menghela napas panjang, menegakkan tubuh dan memijat pangkal hidungku. Aku kembali mengetikkan baris perintah di terminal, mencoba memperbaiki routing server. Fokus, Regita. Fokus pada kode-kode ini, bukan pada senyum palsu Irfan, bukan pada tatapan sinis teman-temannya, dan jelas bukan pada Bu Rina yang tadi pagi menatapku seperti burung nasar yang siap memangsa.
Tiba-tiba, sebuah gelas plastik berisi kopi Americano dingin diletakkan di atas mejaku. Embun dari gelas itu membasahi permukaan meja kayu.
Aku mendongak, terkejut. Mataku membelalak melihat siapa yang berdiri di samping mejaku.
Irfan. Dia sudah melepas kemeja navy-nya, kini hanya mengenakan kaus hitam polos yang entah bagaimana tetap membuatnya terlihat seperti model majalah. Rambutnya sedikit berantakan, dan untuk pertama kalinya, aku melihat guratan kelelahan yang jelas di wajahnya.
"Lo ngapain di sini?" bisikku panik, sambil celingukan ke sekeliling perpustakaan. Sepi. Hanya ada penjaga di meja depan yang sedang asyik menonton YouTube.
"Ngasih kopi," jawabnya santai. Dia menarik kursi di sebelahku dan duduk, mengabaikan tatapan protesku.
"Irfan, baca lagi kontraknya," desisku, berusaha menjaga suaraku serendah mungkin. "Pasal dua. Di belakang layar, komunikasi kita cuma sebatas koordinasi jadwal. Sekarang nggak ada publik. Nggak ada yang nonton. Lo nggak perlu akting jadi pacar yang perhatian."
Irfan menatapku, matanya terlihat gelap dan sulit dibaca. Dia tidak tersenyum, tapi juga tidak terlihat marah. Dia menopang dagu dengan satu tangan, memperhatikan layar laptopku yang penuh dengan tulisan kode yang rumit.
"Gue nggak lagi akting," jawabnya pelan. "Gue cuma lihat lo dari tadi siang di kantin muka lo pucet banget. Gue kebetulan lewat perpus, lihat lo dari kaca luar lagi frustrasi mukul-mukul meja. Jadi gue beliin kopi. Anggap aja ini CSR (Corporate Social Responsibility) gue buat partner bisnis yang lagi stres. Puas lo?"
Aku terdiam. Penjelasannya terdengar logis, tapi tetap saja, ini melanggar batas yang kubangun di kepalaku. Aku tidak ingin berutang budi padanya di luar kesepakatan kami.
"Gue nggak butuh dikasihani," gumamku, menarik gelas kopi itu mendekat tapi belum meminumnya.
"Gue nggak ngasihani lo, Ta. Berhenti defense berlebihan," Irfan memutar bola matanya. Dia kemudian menunjuk ke arah layar laptopku. "Lo ngerjain apa sih dari tadi? Pusing gue lihat layarnya hitam semua tulisannya warna-warni."
"Kerjaan," jawabku singkat, kembali mengetik di keyboard. "Freelance. Bikin website e-commerce buat baca novel online."
"Lo bisa coding?" Alis Irfan terangkat, nada suaranya menyiratkan keterkejutan yang tulus, bukan ejekan.
"Kalau gue nggak bisa, gue nggak bakal ngerjain ini," balasku sarkastik. "Gue butuh duit, Irfan. Beasiswa aja nggak cukup buat hidup di kota ini. Jadi ya, gue harus kerja sampingan. Bikin aplikasi pakai React, Flutter, ngurusin server yang lagi error sialan ini... semua gue kerjain asal halal."
Tanpa sadar, aku mencurahkan kekesalanku. Kepenatan yang menumpuk membuat pertahananku sedikit jebol. Aku berhenti mengetik, menggigit bibir bawahku, menyesali betapa banyak yang kubicarakan. Aku tidak seharusnya menunjukkan sisi rapuhku padanya.
Namun, bukannya mencemooh atau merasa iba yang merendahkan, Irfan justru bersandar di kursinya, menatapku dengan sorot mata yang berbeda. Bukan tatapan dingin, bukan juga tatapan akting memuja yang dibuat-buat. Ini tatapan... menghargai.
"Lo hebat, Ta," ucapnya pelan. Suaranya serak dan dalam. "Gue beneran bermaksud ngomong gitu. Di saat cewek-cewek lain di kampus ini sibuk mikirin baju apa yang mau dipakai buat ke club malam ini, lo berjuang mati-matian buat hidup lo sendiri."
Rongga dadaku terasa sesak mendengar pujiannya. Ada sesuatu yang aneh berdesir di perutku. Ini berbahaya. Sangat berbahaya. Irfan yang arogan dan menyebalkan jauh lebih mudah kuhadapi daripada Irfan yang terlihat tulus dan memahamiku.
"Jangan ngomong gitu," cicitku, membuang muka kembali ke layar monitor, pura-pura membaca log error padahal pandanganku mulai mengabur. "Ini udah di luar kontrak."
Irfan menghela napas panjang, sebuah senyum tipis yang nyata muncul di wajahnya. Dia tidak mendebatku. Dia hanya duduk di sana, dalam diam, menemaniku mengetik kode selama hampir setengah jam penuh. Dia tidak membuka ponselnya, tidak merasa bosan. Kehadirannya di sampingku yang awalnya membuatku tegang, perlahan-lahan berubah menjadi sebuah kenyamanan yang tak kasat mata.
Nyaman yang mematikan.
"Udah jam lima," tegur Irfan akhirnya, memecah keheningan. "Perpus mau tutup. Error-nya udah beres?"
"Udah. Ternyata cuma masalah di port Nginx-nya yang bentrok," jawabku sambil menutup paksa laptop, mengemasi barang-barangku ke dalam tas ransel.
Kami berjalan keluar dari perpustakaan bersama-sama. Begitu melangkah keluar dari lobi utama gedung, hawa dingin langsung menampar wajah kami. Langit Tasikmalaya yang tadinya mendung kini telah menjatuhkan tirai air yang lebat. Aroma petrikor menguar dari aspal yang basah, sementara rinai hujan menghantam kanopi kaca lobi dengan ritme yang memekakkan telinga. Angin kencang sesekali membawa tempias air hingga membasahi ujung sepatuku.
Aku menghela napas kasar. Sial. Hujan deras begini pasti akan membuat tarif ojek online melambung tiga kali lipat karena surge pricing. Uang di dompetku jelas tidak akan cukup. Opsi satu-satunya adalah menunggu hujan reda, yang melihat dari gelapnya langit, entah kapan akan terjadi.
"Gue anter lo balik," kata Irfan tiba-tiba, suaranya berusaha mengalahkan gemuruh hujan. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan kunci mobil dengan logo Eropa.
Aku langsung menggeleng keras. "Nggak usah. Nggak ada di kontrak gue harus diantar pulang. Lo pulang aja duluan, gue nunggu hujan reda."
"Lo gila? Ini badai, Ta. Kosan lo di daerah mana? Lo mau nunggu sampai jam berapa di sini?" Irfan menatapku tajam. Sifat otoriternya kembali muncul.
"Gue bilang nggak usah ya nggak usah! Kontrak kita cuma pura-pura di depan umum. Sekarang jam akting udah selesai. Di luar sana nggak ada yang bakal peduli gue pulang naik apa," debatku, menatapnya dengan penuh perlawanan. Aku mundur selangkah, mencoba menciptakan jarak. Jarak adalah satu-satunya pelindungku darinya.
Irfan memejamkan mata sesaat, rahangnya mengeras, mencoba mengontrol emosinya. Saat dia membuka matanya lagi, tidak ada amarah di sana, melainkan rasa frustrasi yang mendalam.
"Persetan sama kontraknya," geram Irfan tertahan. Dia melangkah maju, memangkas jarak di antara kami. Tangannya terulur, bukan untuk menggenggam tanganku seperti saat berakting, melainkan langsung meraih pergelangan tanganku dengan cengkeraman yang kuat namun tidak menyakitkan.
"Gue nggak peduli ini bagian dari akting atau bukan. Sebagai laki-laki yang punya akal sehat, gue nggak bakal ninggalin lo sendirian di lobi kampus jam segini waktu hujan badai. Lo masuk ke mobil gue sekarang, atau gue yang bakal gendong lo ke sana."
Mata hitamnya menatapku tanpa kompromi. Ada ketegasan di sana yang membuatku terdiam, lidahku kelu. Aku tahu dia tidak sedang bercanda. Jika aku menolak, dia benar-benar akan membuat keributan.
Dengan berat hati, aku membiarkan diriku ditarik menembus tempias hujan menuju mobil sedan hitamnya yang terparkir tak jauh dari lobi. Begitu masuk ke dalam, kehangatan heater langsung menyelimuti tubuhku yang sempat menggigil. Aroma mobilnya sama dengan aroma parfumnya, sandalwood dan bergamot, bercampur dengan aroma kulit dari jok mobil yang mahal.
Irfan menyalakan mesin. Suara hujan di luar terdengar teredam dari dalam kabin mobil yang kedap suara ini. Suasananya begitu intim, terlalu tertutup.
"Alamat kos lo?" tanyanya tanpa menoleh padaku, pandangannya fokus ke kaca depan yang disapu wiper.
Aku menyebutkan alamat kosanku yang terletak di gang sempit yang cukup jauh dari kawasan elit kampus. Irfan tidak berkomentar, dia hanya menginjak pedal gas, membelah jalanan yang mulai tergenang air.
Perjalanan itu dipenuhi dengan keheningan yang menyesakkan. Aku duduk kaku di jok penumpang, meremas tali tas ranselku. Sesekali aku melirik ke arahnya dari sudut mata. Siluet wajahnya terlihat keras di bawah temaram lampu jalanan yang menembus kaca jendela yang basah.
Kenapa dia melakukan ini? Mengapa dia repot-repot membelikanku kopi? Mengapa dia memaksa mengantarku pulang?
Tiba-tiba mobil berhenti di lampu merah. Irfan menoleh ke arahku. Tatapannya tertuju pada tanganku yang masih pucat karena kedinginan. Tanpa peringatan, dia memutar tombol suhu heater di dasbor, menaikkan suhunya agar lebih hangat.
"Jangan terlalu dipikirin, Ta," ucapnya pelan, memecah kesunyian. Pandangannya kembali lurus ke depan. "Gue cuma nggak mau partner gue sakit dan gagal dapet beasiswa."
Alasan yang sangat rasional. Alasan yang sangat masuk akal. Namun, saat ekor mataku menangkap bagaimana tangan kirinya yang berada di atas kemudi mengetuk-ngetuk setir dengan ritme gelisah, aku sadar ada sesuatu yang mulai retak di antara kami.
Aturan yang kami buat dengan tegas di atas kertas, mulai luntur oleh tindakan-tindakan kecil yang tidak tertulis. Dan hal yang paling mengerikan adalah: jauh di dalam relung hatiku, aku berharap alasan Irfan menolongku hari ini bukanlah sekadar demi beasiswa itu.
Aku memalingkan wajah ke arah jendela, menatap bulir hujan yang berlomba turun di kaca, menyembunyikan wajahku yang mulai terasa memanas.
Bahaya. Ini sangat berbahaya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar